Saturday, October 20, 2012

Politik Sastra Dan Sastra Politik




    Bukan politisi, politikus atau ahli ilmu politik. Bukan pula penyair, sastrawan atau ahli sastra. Tapi kali ini saya mencoba menulis tentang sinergi dan ‘kolaborasi’ politik dan sastra dengan cara ala kadarnya dan sudut pandang sekenanya. Katakanlah mbalelo, gaya ndeso, hasil dari penyelamanan pengalaman ‘laduni,’ atau dalam bahasa agak intelek, otodidak.

     Judul yang tertulis juga memang asal tulis, karena itu harap dimaklumi karena memang bukan hasil dari kajian akademis. Jika kurang relevan, direlevan-relevankan saja dengan isinya. Sesuai dengan filosofi ndeso saya, bahwa “Menulis adalah terapi kecil pembebasan energi yang menyumbat pikiran dan mesti dilepaskan demi kesehatan badan.”

     Sastrawan amatiran, lebih tepatnya begitu dikatakan, karena saya memang sedikit suka sastra, tapi khusus puisi saja. Pun dengan politik, saya hanya pengamat politik kampungan yang hanya mengandalkan perasaan dan pengamatan sekelumit kejadian, lalu sejenak ‘bermeditasi’ merenungi arah dan maksudnya, untuk kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan sekeluar-keluarnya.

    Politik sastra dalam bahasa saya adalah memasuki ‘dunia politik’ lewat sastra. Mungkin agak berbeda dengan frasa yang memaksudkan sastra sebagai jalan dan jembatan berpolitik. Karena itu saya ciutkan pembahasan ke dalam tema penulisan semata. Bahwa politik sastra adalah menulis politik dengan sentuhan bahasa sastra.

    Mungkin Anda yang pernah sempat membaca tulisan-tulisan saya, di blog Kompasiana ini maupun di blog pribadi akan sedikit mengenali ciri khas gaya tulisan saya. Sejujurnya, menulis bagi saya lebih sebagai ekspresi (ungkapan rasa) ketimbang kreasi (karya cipta). Atau kalau boleh diibaratkan sebagai adonan, proporsi ekspresi dibanding ekspresi dalam kisaran 70:30.

    Entahlah, sebagai seorang penulis amatiran yang lebih mengandalkan sense and sensibility, mungkin dalam menulis saya lebih didominasi oleh energi emosi. Tentu bercampur antara emosi positif dan negatif dengan proporsi yang kurang lebih sama, 70:30.  Maka Anda mungkin tak heran jika dalam tulisan saya Anda akan menemukan energi kesemangatan, kadang hingga meledak-ledak tak terkontrol, luapan kegembiraan, ungkapan kekecewaan, bakan mungkin dalam keadaan tertentu dapat dirasakan luapan kemarahan tak tertahankan.

    Kembali ke politik sastra, Anda mungkin sedikit heran jika tulisan saya ‘remang-remang’ dalam ketidakjelasan antara fakta-ilmiah atau fiksi-rekaan, melanggar kaidah-kaidah penulisan yang benar, tak fokus pada tema khusus, kadang bertele-tele dan tak mustahil membosankan. Tapi itulah produk orisinil yang baik-buruk dan lemah-unggulnya akhirnya menjadi ciri khas tulisan saya. Apa hendak dikata, semua mengalir begitu saja ketika jiwa ini mulai mengalami fase ‘matang hormon’ menulis.

    Entah karena nggak bakat atau memang tidak mampu, atau memang saya sendiri kurang suka, tulisan dengan ‘cara yang benar’ rasanya membosankan dan terlalu memaksa dahi berkerut. Maka keluarlah ‘energi tersembunyi’ menulis (yang seharusnya) ilmiah namun suka terbawa bahasa sastra mencampur aduki isinya. Ulasan politik kok isinya bahasa puisi? Saya pun kadang bertanya-tanya sendiri. Atau kadang mengkaji hukum kok kebanyakan filsafat?

    Politik sastra,  bakan kadang saya suka membaliknya sebagai sastra politik. Masih dari bahasa saya, sastra politik adalah sebuah karya sastra yang berisi dunia politik. Sebenarnya mungkin sudah banyak sastrawan besar yang memiliki gaya ini, syair atau puisi tentang politik. Kalau yang ini sejujurnya saya banyak terinspirasi dari lagu-lagu Iwan Fals yang liriknya banyak berisi ‘pemberontakan’ dan protes sosial.

    Terlebih album (yang bagi saya pribadi) paling fenomenal “SWAMI” yang sempat melambungkan Bento dan Bongkar di era 90-an. Wajar saja, para seniman besar turut andil, WS. Rendra di antaranya, yang sedikit banyak telah saya kenal sejak bangku sekolah SMA. Sampai saya pernah berangan-angan untuk menjadi penyair besar seperti “si burung merak” yang legendaris itu.

    Kali ini kembali saya akan menciutkan tema sastra politik sebagai menulis puisi tentang politik. Tak seperti karya (tulisan) ilmiah yang terikat oleh banyak kaidah dan batasan-batasan, puisi sebagai salah satu karya (tulisan) sastra adalah ekspresi bebas merdeka. Dalam puisi, titik utamanya adalah diksi (pemilihan kata) yang bisa memiliki kedalaman makna. Seorang teman lama yang semenjak SMA saya juluki sebagai penyair pernah berkata, “Puisi yang baik harus memiliki ruh.” Dan ruh puisi adalah kosa kata.

    Lalu bagaimana cara menulis puisi politik ala saya? Silahkan kalau Anda berkenan menengok beberapa puisi politik yang saya tulis di Kompasiana ini. KPK sekarat, rakyat menggugat, Undang-Undang Kemaluan, Menanti Presiden Harakiri, Mencari Tuhan di Senayan.

   Sebagai contoh sederhana, ada sebuah puisi yang saya buat dengan mencuplik artikel politik. Atau boleh dikatakan saduran atau puitisasi politik (bukan politisasi puisi). Tragedi Kejujuran Tanpa Kemunafikan. Anda boleh ikut mengkaji, memberikan masukan, kritik dan saran dengan contoh kecil ini. Selamat berpuisi dan bersastra politik.


Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment