Thursday, October 18, 2012

Parpol Islam: Arogansi, Konfidensi atau Halusinasi?



1350553645111763143
sumber photo: http://foto.detik.com

      “Buruk muka cermin dibanting!” Sepertinya pepatah itu layak disematkan kepada partai politik Islam. Menyikapi hasil survei yang dirilis sepekan teakhir oleh beberapa lembaga survei, alih-alih berbenah memperbaiki tata rias wajah, jajaran elit politik parpol-parpol Islam justru berang dan ‘kebakaran jenggot.’ Bayangan buruk tentang “kuburan massal” yang dinampakkan, namun ‘kejujuran cermin’ dipersalahkan. Cermin pun dibanting dan dipecahkan!

     Apa hendak dikata? Mungkin itulah potret nyata wajah asli terkini perpolitikan anak bangsa ini. Hanya saja, kebetulan yang ‘ketiban sial’ adalah partai-partai politik bernuansa Islam, yang dikenal sebagai parpol Islam. Seperti diberitakan di berbagai media, setidaknya tiga lembaga survei baru saja meng-up date hasil survei mengenai tingkat kepercayaan masyarakat pada partai politik.

    Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang merilis hasilnya pada Minggu (14/10/ 2012), mewartakan “Makin Suramnya Partai dan Capres Islam di Pemilu 2014.” Lembaga Survei Nasional (LSN) yang merilis pada Senin (15/10/2012), juga menunjukkan parpol Islam bakal terpuruk pada Pemilu 2014. Sementara Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang merilis pada Senin (15/10/2012), menyuguhkan data, hanya 4 parpol (nasionalis) yang suaranya melewati angka PT 3,5%, yaitu Golkar, PDI-P, Demokrat dan NasDem.

      Dengan data yang tak jauh berbeda, ketiganya sepakat menempatkan empat parpol Islam terbesar saat ini, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di peringkat terbawah dengan angka elektabilitas di bawah ambang batas parlemen (Parliamentary Treshold-PT) 3,5%. 

     Artinya, jika Pemilu di gelar hari ini (saat rilis hasil jajak pendapat), hanya partai nasionalis yang tergabung dalam The Big Five, Golkar, PDI-P, Demokrat, Nasdem dan Gerindra yang memenangi pemilu. Sedang parpol-parpol Islam ‘berjamaah’ masuk ke liang “kuburan massal” karena ditinggalkan pemilihnya. Atau dengan kata lain, jika parpol-parpol Islam tidak berbenah, maka diprediksikan bakal ancur-ancuran dalam ‘kiamat kubro’ kekuasaan dan mesti ikhlas legowo tereliminasi dari seleksi alam percaturan politik negeri.

       Namanya prediksi, bisa benar bisa salah. Jika salah, tentu bisa dimaklumi. Namanya juga manusia, kan tiada yang sempurna, karena memang manusia tempatnya salah dan dosa. Tapi bila benar, tentu baru jadi masalah sebenarnya. Se-ngawur-ngawur-nya prediksi, ramalan, bahkan tebak-tebakan, lembaga survei telah teruji dalam pengalaman, bekerja secara metodologis dan bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Sekadar perbandingan, bagaimana hasil hitung cepat bisa nyaris mendekati hasil hitung secara manual, padahal juga menggunakan cara kerja yang sama?

      Jika mau sedikit lebih bijak dan mengedepankan “kepala dingin” bukan menonjolkan “hati panas,” mestinya parpol Islam (baca: elit politik) berterima kasih kepada lembaga survei yang suka rela memberikan ‘warning’ dengan mewartakan secara luas hasil jajak pendapat. Meski ada sebagian dari lembaga survei yang diragukan independensinya karena kepentingan bisnis, kontrak dan pesanan dari partai tertentu.

     Namun mestinya jangan di-gebyah uyah dengan serta merta menuding miring dan membantah mentah-mentah tanpa sama sekali menelaah. Nyatanya, sikap gebyah uyah dan bantah mentah-mentah ini ditunjukkan oleh ‘beliau-beliau’ yang merasa ‘dirugikan’ hasil jajak pedapat. Paling kentara adalah respon dari kubu PKS. Sebagai partai yang sempat di(besar)kan oleh perubahan zaman pasca reformasi, tentu ‘berita duka’ ini seakan petir di siang bolong. 

     Antara keheranan, kebingungan, ketersinggungan, kesombongan dan kecemburuan,  ‘jagoan nomor wahid’ PKS Hidayat Nur Wahid menuding miring akan adanya kepentingan politik yang menunggangi survei dengan menggiring opini publik untuk menyudutkan partai Islam. Ia juga menolak dikotomi partai nasionalis dan partai Islam diwacanakan, karena tidak mencerminkan kedewasaan berpolitik dan cederung menyesatkan.

    Di sisi lain, ada kesan arogansi dengan keyakinan bahwa PKS bakal meraup banyak suara dan tidak menurun pada Pemilu nanti. PKS juga menyatakan tidak takut akan hasil survei yang ada, karena survei bukan hantu yang harus ditakuti, survei juga pula Tuhan. Keheranan bercampur kecemburuan dilontarkan Ketua Fraksi PKS ini dengan alasan ketidaklogisan dan inkonsistensi survei dengan realita. “Kenapa justru publik seolah berminat dengan partai yang kader-kadernya banyak melakukan korupsi? PKS yang kadernya lebih sedikit korupsi, kok malah miskin apresiasi?” 

     Bantahan senada dilontarkan kubu PKB. Ketua DPP PKB, Marwan Ja'far menilai survei (LSI) tidak objektif dan patut dipertanyakan, karena survei tersebut tidak melihat langsung kondisi sesungguhnya parpol-parpol Islam. Ketua DPP PKB Hanif Dhakiri juga menyatakan, bahwa kesimpulan survei tidak cukup memadai untuk menggambarkan konfigurasi politik 2014.

     Dulu PKB juga disurvei dan hasilnya di bawah 2% sehingga dikatakan tak akan lolos Pemilu 2009, lalu faktanya ternyata sebaliknya, PKB lolos ke parlemen. Lagi pula, kata Hanif, menegaskan pernyataan Ketua Umum Muhaimin Iskandar sebelumnya, PKB bukanlah partai Islam, melainkan partai nasionalis religius. Muhaimin masih meyakini, bahwa gerak politik PKB tak akan melambat di 2014. Maka apapun hasil survei, biar saja, tak perlu diacuhkan.

     Bantahan yang mirip dikemukakan oleh kubu PAN. Ketua DPP Bima Arya setidaknya melontarkan tiga bantahan terkait hasil survei. Pertama, hasil survei (LSI) tentang rendahnya elektabilitas partai Islam belum bisa dijadikan representasi dari Pemilu 2014. Kedua, tidak tepat menyimpulkan bahwa parpol Islam hanyalah sebagai pelengkapDan ketiga, PAN bukan partai Islam, namun partai nasionalis terbuka, meskipun ada hubungan sejarah dengan Muhammadiyyah.

     Masih senada dengan PKS, PAN dan PKB, Ketua Umum PPP Suryadharma Ali juga membantah ‘mentah-mentah’ kemerosotan parpol Islam dari hasil survei. Alih-alih menutupi kegalauan hasil pemberitaan yang ‘menakutkan,’ saat ini, PPP justru tengah memperkuat diri dengan menyiapkan kaderisasi rekrutmen 12 juta kader pemberdayaan desa di seluruh Indonesia, sebagai bagian untuk menghadapi pemilu 2014.

     Dari respon keempat kubu parpol Islam, sepertinya bisa ditarik kesimpulan senada-seirama. Meskipun secara sekilas menyatakan akan menjadikan hasil survei sebagai bahan evaluasi, namun tak bisa ditutupi adanya ‘keburaman visi’ elit politik parpol Islam. Masih terlalu jauh dari kearifan bersikap dalam membaca dinamika politik kekinian. Label partai Islam, meskipun masih layak kaji kembali, mulai nampak memberi beban kepada elit politik.

    Seperti biasanya perilaku oportunistis, ketika label keislaman dirasakan tidak menguntungkan, serta merta mereka rame-rame ‘melarikan diri’ dengan tidak mengakui sebagai partai Islam, dan lebih merasa (bahkan mengklaim) sebagai nasionalis. Sebaliknya, jika label keislaman menguntungkan, mereka tak segan berbalik arah dengan meng-klaim diri dan partai sebagai yang paling islami.

      Perilaku pragmatis-oportunistis ini yang justru tidak disadari oleh (elit politik) parpol Islam sebagai salah satu sumber kemerosotan elektabilitas mereka. Sebagaimana diungkapkan oleh cendekiawan Islam Azyumardi Azra, bahwa ada tiga hal yang menjadi penyebab kemerosotan elektabilitas parpol Islam. Pertama, tiadanya distingsi yang khas dari parpol-parpol Islam dari berbagai segi, khususnya dalam perilaku politik yang membedakan dengan partai-partai non-Islam (nasionalis).

     Kedua, parpol-parpol Islam tidak menampilkan integritas dan karakter yang kuat, namun justru masuk ke dalam persekutuan politik lewat berbagai koalisi untuk mengamankan status quo kekuasaan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat. Dan yang ketiga, parpol-parpol Islam dalam banyak kasus lebih menempuh politik pragmatis dan bahkan oportunistis daripada politik idealistis untuk tidak mengatakan politik ideologis.

     Secara historis, kecenderungan penurunan parpol Islam secara signifikan menjadi tren dari tahun ke tahun.Sejak Pemilu digelar pertama kali pada tahun 1955 hingga saat ini perolehan suara partai Islam tidak pernah mencapai lebih dari 50%dari total suara yang ada. Perolehan tertinggi hanya pada Pemilu 1955, sebesar 43% yang diperoleh Masyumi. Kemudian menurun pasca reformasi, menjadi 35%  pada 1999, sedikit naik menjadi 38 % pada 2004 dan menurun kembali ke titik terendah menjadi 23% pada 2009. 

     Data yang menunjukkan fenomena aneh dan abnormal, jika melihat muslim Indonesia secara demografis mencapai 88% dari jumlah total suara dalam setiap pemilu. Terlebih lagi, parpol Islam jumlahnya kian terbatas dan fenomena meningkatnya kedekatan kepada Islam di kalangan kaum muslimin Indonesia. Berkaca dari tiga hal di atas seharusnya perolehan suara parpol Islam mengalami peningkatan, atau setidaknya bertahan. Ironisnya angka politik suara umat Islam dari setiap Pemilu tidak mencapai 40% dari angka total suara dan bahkan cenderung mengalami penurunan.

     Ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai, salah satu penyebabnya adalah bahwa parpol Islam gagal menampilkan isu Islam secara substantif, baru hanya secara simbolistk formalistik. Senada dengan pendapat Azyumardi Azra, Din meyakini  persepsi publik tidak berbeda dalam melihat partai berbasis massa Islam (partai-islam) dengan partai-partai sekuler (nasionalis). Padahal, masyarakat menginginkan perbaikan riil dalam persoalan ekonomi, pendidikan, kemiskinan, kebodohan, dan membutuhkan perubahan struktural baik di tataran legislatif dan eksekutif. 

     Secara lebih ektrem Din manganggap adanya ‘pola kanibalisme’ antar saling memakan antar parpol. Jika ada penambahan suara yang diperoleh partai Islam itu pasti mengambil milik saudaranya. Pendapat Din dipertegas oleh Direktur eksekutif LSN Umar S Bakry, bahwa keterpurukan parpol Islam adalah karena over confidence, terlalu percaya diri dan  egosentris, sehingga “tak ada solusi untuk memperbaiki elektabilitas partai Islam.” Mustahil bagi parpol Islam untuk bersatu (berkoalisi) karena ego mereka gede-gede.

      Adagium politik klasik homo homini lupus-serigala saling memangsa-agaknya tak pelak menjangkiti seluruh parpol terkini di republik ini. Tak ada yang abadi dalam politik, kawan dan lawan hanya solusi instan berdasarkan kepentingan sesaat. Mantan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir yang sempat ‘beberapa saat’ terjun ke politik mengatakan dengan tegas, “Terjun ke politik (republik saat ini), sama saja masuk ke pusaran jahiliyyah.” Keluar dari politik, seperti keluar dari kegelapan menuju cahaya.

      Maka, survei atau jajak pendapat sejatinya adalah kacabenggala-cermin kehidupan. Baik atau buruk hasil yang diwartakan, biasanya ia membawa kejujuran untuk menampilkan bayangan kehidupan. Baik atau buruknya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bila pun ia menampilkan wajah buruk, maka akan menghasilkan hal baik jika kita yang berkaca menyikapinya dengan baik. Menjadikannya sebagai refleksi, evaluasi dan introspeksi untuk membenahi diri dan memperbaiki.

     Namun jika kita menyikapi dengan buruk, maka ia akan memantulkan keburukan pula dan berakibat buruk, hanya karena ego kesombongan diri-arogansi. Kekeliruan pemaknaan kepercayaan diri menjadi terlalu percaya diri-overconfidence. Lalu akhirnya akan terseret pada bayangan semu, menipu diri, berhalusinasi. Hanya karena ketakutan menerima realita, kacabenggala akan menjadi sia-sia. Lalu untuk menutupinya kita serta-merta lari dari kenyataan, menyalahkan sang cermin kehidupan. Semoga kita tidak menyikapi dengan pilihan terakhir ini, “Buruk muka, cermin dibanting!”

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment