Sunday, October 21, 2012

Paradoks Negeri “Sejuta Satu Haji”


     Ada sejuta haji di negeri ini. Maklum saja, dari seluruh negeri di dunia, umat muslim mendominasi jumlah penduduknya. Qoola wa qiila, katanya dan katanya, Islam adalah agama terbaik di dunia. Tentu saja hanya bagi yang percaya, lalu meyakini ajarannya, lalu mengamalkan dalam kehidupan nyata secara paripurna. Dan haji menjadi puncak keislaman sempurna.

     Ada sejuta haji di negeri ini. Dengan peci khas atau sorban putih. Lebih afdhol berjubah sambil memutar-mutar tasbih. Cermin kesucian jiwa-jiwa tersucikan. Sebab telah jauh berjalan ke negeri seberang, Arab Saudi. Sebab telah bertandang ke masjid terlarang, Masjidil Haram. Sebab telah bertamu ke kota suci Makkah al Mukarramah. Sebab telah berkunjung ke rumah Tuhan, Ka’bah.

     Ada sejuta haji di negeri ini, namun hanya ada satu haji sejati. Negeri “Sejuta Satu Haji.” Di antara sejuta haji hanya ada satu haji sejati. Dari dua ratus juta muslim, mungkin pula hanya ada dua ratus muslim sejati. Penjaga dan pengguna agama sebenarnya. Manusia pilihan dengan jiwa-jiwa tersucikan layaknya nabi-nabi. Dengan rahmat metta karunia jalan pertengahan millah Ibrahim. Dengan altruisme pengorbanan sempurna, memenuhi seruan Tuhannya.

      “Labbaika Allahumma labbaika.” Aku penuhi seruanmu ya Allah. “Labbaika laa syariika laka labbaika.” Aku penuhi seruanMu, yang tiada serikat bagiMu.” Seorang hamba telah meninggalkan dunia, datang sendiri menemui Tuhannya tanpa embel-embel segala perkara. Di tanah suci. Di bulan haji. Pengorbanan yang tak hanya sebatas daging hewan.

     Negeri “Sejuta Satu Haji.” Dalam sejuta haji hanya ada satu haji sejati. Seperti negeri “Sejuta Satu Janji,” dalam sejuta hanya ada satu janji sejati. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan sisanya belum paripurna menunaikan haji. Seperti belum paripurnanya negeri ini dalam menunaikan janji. Janji pada Tuhan, janji pada agama, janji pada negara, janji pada manusia, dan janji pada diri sendiri.

      Negeri “sejuta satu muslim,” dalam sejuta hanya ada satu muslim sejati. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan sisanya belum ber-Islam secara paripurna. Islam-Islaman, Islam KTP, Islam abal-abal, Islam imitasi. Hanya kulit tanpa isi, simbol tanpa esensi, tekstual tanpa konseptual, kemasan tanpa kandungan, zhahir tanpa bathin, syari’at tanpa hakikat, eksoteris tanpa esoteris.

     Kalimat syahadat gagal meredam gejolak syahwat khianat. Disiplin membayar zakat, namun disiplin pula main sikat dan main embat hak-hak orang, teman, kolega hingga kerabat dekat. Sembahyang tumbang-tumbang pisang, badan sembahyang namun jiwa kering kerontang, laksana bangunan tanpa tiang. Berlapar-lapar dan dahaga berpuasa, namun keserakahan masih meraja lela. Dan pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji, tak sanggup mengelupasi najis bathin, apalagi meng-esakan Tuhan, karena gagal mengejawantahkan nilai pengorbanan.

       Ada sejuta haji di negeri ini, bahkan berjuta-juta haji yang pulang pergi dari dan ke tanah suci silih berganti. Ada berpuluh-puluh juta haji di negeri ini, bahkan beratus-ratus juta bila terakumulasi dari hari lalu, hari ini dan hari esok. Karena orang-orang kaya di negeri ini belum shahih sebagai si kaya jika belum menjadi haji. Maka kuota terus ditambah, sementara peminat haji lebih bertambah, bahkan mesti rela mengantre 5-10 tahun untuk bisa berhaji.

      Terlalu banyak haji di negeri ini, padahal kemiskinan masih menjerat sebagian besar leher rakyat. Padahal kezaliman masih mengikat sendi-sendi kehidupan bangsa berharkat. Padahal kejahatan masih menggeriap ekstra kuat, pengkhianatan kemanusiaan, kemungkaran dan kemaksiatan, pencurian dan penggarongan, pemiskinan dan pembodohan, pelanggaran besar-besaran dan terorganisir hak-hak daulat rakyat.

        Negeri “Sejuta Satu Haji,” sejuta satu muslim, sejuta satu janji. Dalam sejuta hanya ada satu haji, muslim dan janji sejati. Sisanya 999.999 masih belum paripurna. Mungkin kita sebagai umat-bangsa telah memang telah menjadi “Sejuta Satu Manusia.” Dalam sejuta hanya ada satu manusia sejati. Jika total manusia Indonesia hari ini ada 250 juta jiwa, maka manusia sejati Indonesia mungkin hanya ada 250 saja. Dan mereka itulah pewaris sejati ajaran nabi-nabi, dan salah satunya ajaran Nabi Muhammad saw, dalam sebuah agama bernama Islam, dengan ibadah haji sebagai puncak kesempurnaan.

Salam...
El Jeffry 

No comments:

Post a Comment