Saturday, October 6, 2012

Merindukan Gus Dur



13495054712045939853
GUS DUR: (sumber photo: http://www.antaranews.com)


     Gus Dur adalah ‘sultan-nya para kyai’, pewaris sah basis massa dan budaya kasatrian-pesantren gembala-umat NU dari kakek dan ayahnya, K.H. Wahid Hasyim dan K.H. Hasyim Asyari. Juga pewaris kesufian yang jenaka dan Jalal gagah perkasa dari Abu Nawas, pewaris resi-kepanditaan dari Kyai Semar yang dengan altruis pengorbanannya telah sanggup ‘menyembelih’ ego-keakuannya menjelma dalam cahaya cinta-kasih bertekstur penegak ideologi keadilannya Ibrahim as dan Isa-Yesus Sang Ruh Allah’ as.

     Spirit Gus Dur menggelora seperti nyala spirit Ernesto Che Guevara, Fidel Castro, Nelson Mandela dan Mahatma Gandi, raja diraja kasih yang sejati yang merahmat-cinta kasih-welas-asihi segenap semesta publik-rahmatan lil alamin dengan ruh pluralisme-Jalaluddin Rumi.

    Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gus Dur adalah sosok scientia sacra-cendekiawan organik-ber-hikmah muta’aliyahthe highlander-penghuni tanah ketinggian, yang tak sekedar menguasai akal dan buku, bahkan melampauinya, menukik kedalam ‘kerajaan diri’ yang sejati, sebagai grand master ‘tasawuf irfan’.

    Mengingat Gus Dur, seperti mengingat Bung Karno. Visinya terlalu maju bagi bangsa dengan mentalitas budaya terbelakang yang masih berkesadaran ‘banal magis’, bermental budak-kuli inlander, belum memiliki tradisi sistem fikir rasional dan civic culture-demokrasi’ yang matang, dengan elit-elit bangsa yang masih TK-kekanak-kanakan-childish-individualis-feodalis, namun inlander pula’ menjadi budak-kuli-pelayan’ dari kaum penjajah baru-sistem kuasa gelap-jahiliyyah dajjali iblisi: Nekolim: Neo Kolonialisme Dan Imperialisme, KKG-KKL: Kekaisaran Korporatokrasi Global dan Lokal’ dengan strategi makarnya berlipat-lipat menghancurkan peradaban nusantara.

    Dalam wilayah kerendahan kesadaran dan kekotoran-najis batin bangsa ini, patutlah kita tegakkan panji-panji bendera kesejatian para priyayi sejati.
Syahdan, ketika Jalaluddin Rumi meninggal, kucing di rumahnya terlihat sedih berhari-hari, dan lalu meninggal pula. Dan ketika Gus Dur wafat, hal yang sama terjadi, beberapa hari kemudian kucing di rumahnya meninggal, kata Kiai Husein Muhammad.

    Dalam acara bedah bukunya yang berjudul “Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur” yang diselenggarakan Intelektual Muhajirin NU (IMNU) Cirebon, di Yayasan Khatulistiwa Kempek pada 16/9/2012, ia membandingkan Gus Dur dengan Jalaluddin Rumi. 

    Kiai Husein mengatakan, situasi yang sosial politik yang melingkupi saat wafatnya wali besar Jalaluddin Rumi, dimana waktu itu banyak konflik, dimana keragaman terus diperjuangkan, tetapi konflik sosial juga sangat rawan. Ini sama persis dengan situasi sosial politik di saat Gus Dur wafat.

     Pernyataan Kiai Husein ini dilontarkannya untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan Gus Dur selama ini memiliki dasar yang kuat dalam Islam, khususnya spiritualitas Islam.

“Buku Sang Zahid ini, sesungguhnya hasil refleksi saya atas kebersamaan saya dengan Gus Dur sejak 1997. Saat itu beliau mulai sakit-sakitan, stroke, saya paling tidak waktu itu dua kali sekali dalam sebulan berkunjung ke rumah beliau. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Gus Dur berperilaku setiap hari,” demikian jelas Kiai Husein. 

      “Gus Dur bukanlah budayawan, bukan seorang pembela HAM, bukan pembela minoritas, bukan politikus, bukan pemikir Islam dan bukan ulama, tetapi Gus Dur adalah menjadi semuanya itu. Gus Dur selama ini banyak bergerak di berbagai bidang, dan memiliki effek bagi orang banyak. Apakah yang melandasi semua gerakan itu. Yang menggerakkannya adalah spiritualitas Gus Dur, yang memiliki rujukan pada spritualitas Islam (tasawuf),” katanya.

      Gus Dur sering dianggap aneh, dan ucapannya baru dianggap benar, karena ternyata di kemudian hari ucapan Gus Dur malah terbukti. Hal ini sesuai dengan spiritualitas Ibnu Athaillah Sakandari dalam kitab Hikamnya yang mengatakan bahwa bagi orang-orang suci yang dekat dengan Tuhannya, kata-katanya bisa mendahului zamannya.
Rektor IAIN Syeikh Nurdjati Cirebon, Prof. Dr. Maksum Mochtar, menyampaikan, tidak cukup untuk hanya mengagumi Gus Dur. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menjadi seperti Gus Dur.

     “Dan ini bisa saja, melalui pendidikan dengan basis penguatan neurosains mungkin saja kecerdasan kita bisa meningkat sebagaimana Gus Dur. Kita jangan lihat Gus Dur sekarang, tetapi lihatlah prosesnya menjadi sebesar itu.”

     Kini Gus Dur telah pergi, lebih dari 1000 hari, dan negeri ini semakin lengang dan sepi dari pemimpin jenaka-polos-pengayom sejati. Kita merindukan Dus Dur, rindu seridnu-rindunya, rindu segala-galanya, ketika ‘kerongkongan’ bangsa-negara tercekat terlalu lama dalam dahaga, badai carut-marut problema yang tak kunjung reda.

      Semoga Allah Swt, Tuhan YME, Sang Ilahi, lahirkan ‘Gus Dur-Gus Dur’ baru, yang dengan kesadaran kekuasaannya mengayomi, memberi perlindungan kepada mereka yang lemah, minoritas dan terpinggirkan oleh ‘struktur’ dan ‘kultur’, menegakkan keadilan serta mampu beragama dengan 'rileks'-bening-bahagia. 

    Semoga pula Allah Swt. berikan panjang umur kepada para begawan sejati, putra-putra terbaik bangsa ini, yang 'bening', cerdas, bernas, berintegritas, bertungku api kebangsaan-berkegelisahan republik “rumah-rahmah” surga nusantara pada kedalaman hikmah. 

    Semoga matahari ajaran purifikasi ma'rifat Jawa-Nusantara’ dari para leluhur dan Gus Dur dapat menerangi relung-relung hati anak-anak bangsa yang kini tengah gelap gulita dinista-siksa ruang kehidupannya. 

Salam...
El Jeffry

referensi: NU Online /nu.or.id

No comments:

Post a Comment