Saturday, October 20, 2012

Mega: Srikandi Tua (Masih) Dahaga Tahta?



13507182512128965706
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI: sumber photo: http://jokowicentre.wordpress.com


     Dunia mayapada adalah kehidupan sementara. Bolehlah manusia mencintai dengan secinta-cintanya. Namun tak boleh lupa, bahwa ada saatnya berpisah dengannya. Semeriah-meriah gegap gempita gembira ria, “pesta pasti berakhir.” Maut adalah niscaya. Kalau tidak oleh musibah, kecelakaan atau tertimpa penyakit, maka usia lah yang akan memotong hidup manusia. Lahir, remaja, dewasa, tua, lalu mati, habis perkara.

     Pesona dunia memang menyilaukan mata. Bagi para pemujanya, dunia adalah cahaya bagi laron-laron yang beterbangan di gelapnya malam. Kecintaan berlebihan akan membutakan nurani-akal budi dan logika-akal sehat. “Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua berubah tidak?” Bila sedari kecil sudah terbiasa, maka sampai tua jangan harap akan berubah. “Kecintaan berlebihan” bila sudah menjadi karakter, maka ujung jalan jadi keblingerAdde parvum parvo, manus acervus erit. “Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.”

    Namun trisula magnet dunia yang terangkum dalam “harta-tahta-wanita” memang begitu menggoda nyaris seluruh spesies manusia. Harta-materi membentuk pola kapitalis, hedonis dan konsumeris. Tahta-kekuasaan men-suplai energi korupsi. Wanita-sex memasok kejahatan perkelaminan. Ketika trisula itu menyerang jiwa dengan “kecintaan berlebihan” maka akan berkolaborasi-konspirasi-korporatokrasi dalam satu simpul perselingkuhan, padanan pas dari korupsi.

    Negara Kesatuan Republik Indonesia 2014. Godaan klasik manusia republik-demokratik. Tahta-kekuasaan negara-kota menjadi medan laga yang menyedot totalitas energi para ksatria. Kursi presiden RI menjadi kunci preseden buruk abadi. Keburukan perilaku berpolitik dahaga kuasa menggusur fitrah otentik cita-cita negara-kota. Pengkhianatan kosa kata demos-cratos-demos-cratein, res-publica, daulat rakyat terbabat.

    Pembengkokan frasa vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan tergadaikan. Pemancungan makna salus populi supreme lex, kemaslahatan rakyat hukum tertinggi termutilasi. Impor tata negara-kota dari Barat-Yunani, namun negeri ini gagal mentransformasi nilai-nilai adiluhung filosofi agung. Seperti puncak sesal syair Chairil Anwar, “Negaraku hilang bentuk, remuk!”

    Di antara para ksatria nusantara yang warming up bersiap dalam laga perebutan tahta RI1 jilid 7 di pilpres 2014, terselip seorang srikandi veteran uzur-tua ikut meramaikan bursa. Berita santer di berbagai media, Megawati Soekarnoputri masuk dalam daftar kandidat kuat berelektabilitas tinggi. Ada yang aneh dan unik dengan fenomena terkini negeri ini.

    Bukan menghalang-halangi kebebasan seseorang untuk berpolitik atau dengan alasan gender, karena semua telah dijamin oleh negara. Bahwa setiap dari manusia Indonesai bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Namun sepertinya kita sebagai bangsa agak sedikit amnesia. Padahal kita-sebagian besar mungkin-masih begitu mengagungkan sang proklamator, Bung Karno, yang juga ayahanda Mega.

    Tapi kita lupa dengan pesan Jasmerah, “Jangan sekali kali melupakan sejarah!” Dan sejarah Bung Karno tak pernah lepas dari ruh api revolusi. Salah satu kalimatnya yang melegenda adalah “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!” Sebuah pesan gamblang terang-benderang, bahwa hanya pemudalah yang menjadi sumber energi berkalori  tertinggi penggerak revolusi, pergerakan, inti sari perjuangan.

     Sekadar mengingatkan, Bung Karno sendiri tampil menjadi presiden di usia 44. Suatu usia ideal bagi manusia untuk mengerahkan kemampuan secara optimal. Meskipun pada prakteknya ada sedikit penyimpangan ‘manhaj’ sejarah Pemimpin Besar Revolusi ini sehingga berkuasa hingga usia 64 tahun. Namun banyak kalangan menilai bahwa kepemimpinan terbaik putra sang fajar ini ada dalam rentang satu dekade antara 1945-1955.

    Tanpa bermaksud memperdebatkan sejarah, mungkin cerita akan berbeda jika beliau diregenerasi pada 1955, lengser keprabon di usia ke-55. Meminjam filosofi dari para juara olah raga, “Turunlah pada puncak prestasimu!” Sayangnya sejarah bicara berbeda. Sebagian kalangan meyakini, gagalnya regenerasi kepemimpinan saat itu, disamping karena sebagai negara merdeka kita masih ‘bayi merah,’ salah satu penyebabnya adalah sosok Bung Karno yang terlalu agung tak tertandingi anak bangsa, layaknya “manusia setengah dewa.”

     Sebagian malah mungkin meyakini bahwa Bung Karno adalah ‘makhluk masa depan’ yang tak terjangkau zaman. Percampuran mitos, legenda dan logika akhirnya menjadi kultus individu, blunder sejarah bangsa yang berkelanjutan hingga hari ini. Krisis kepemimpinan nasional akhirnya menjadi sumber kegagalan terbesar bangsa ini, bahkan sejak bergulirnya reformasi 1998.

    Tapi tetap jangan sekali kali melupakan sejarah! Sejarah adalah kacabenggala untuk melangkah lebih baik ke depan. Dan sejarah Indonesia selalu digerakkan oleh spirit pemuda dan kepemudaan. Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 adalah bukti otentik bahwa perjalanan bangsa ini masih tergantung kepada kekuatan pemuda dan kepemudaan.
1350718367933907341
PRABOWO SUBIANTO: sumber photo: http://petapolitik.com
Berkaca dari cermin perpolitikan kekinian, kemenangan Jokowi dalam pertarungan panjang dan paling bersejarah dalam pilkada DKI tak lepas dari figur sentral ksatria ndeso asal Solo ini. Jokowi naik tahta menjadi Gubernur Jakarta pada usia ke-51, 13 tahun lebih muda ketimbangFauzi Bowo yang berusia 64 tahun.

    Karena pertarungan ini terpusat pada Jokowi-Fauzi, sebagian menilai kemenangan Jokowi adalah kemenangan generasi muda atas generasi tua. Dan bila dikaitkan dengan sisi kemenangan pembaharuan atas kemapanan (status quo), maka spirit kepemudaan bertalian erat dengan spirit pembaharuan. Sebaliknya spirit ‘ketuaan’ pun boleh diidentikkan dengan spirit kemapanan, kemandegan, kebuntuan, kebosanan alias stagnan.

    Megawati, yang lahir 23 Januari 1947, kini memasuki usia ke-65, dan pada 2014 genap memasuki usia ke-67, dan berusia 72 tahun pada 2019. Pertanyaannya, apa yang tersisa dari energi seorang wanita lansia, kalau tidak dikatakan uzur atau renta? Bagaimana sebuah negara besar dipimpin oleh seorang nenek tua, kecuali diharapkan kearifan-kebijaksanaan layaknya negarawan yang sarat kematangan dari 7 dekade pengalaman?

   Rantai pertanyaan berikutnya, sudahkan Mega bisa dikatakan sebagai seorang negarawan arif-bijaksana-waskita-sasmita-pinandhita dengan kematangan usianya? Nampaknya kita mesti sedikit berani melakukan loncatan-hijrah dari paradigma primordial-puritan yang mengandalkan mitos dan legenda dalam menilai seorang pemimpin negara.

   Belum lama ini, sedikit blunder lidah Mega sempat menghangatkan ruang hatchery pembenihan politik dan kepemimpinan negeri. Pernyataan, kalau tidak dikatakan sebagai tudingan atau tuduhan tentang banyaknya “penumpang gelap” yang ikut menikmati sukses kemenangan Jokowi-Basuki di pilkada DKI, tanpa terganggu sedikitpun secara moral. “Pesan lidah” yang tajam dan menusuk jantung politik. Isu berkembang, menjalar dan melebar bagai ular lapar.

    Beberapa tokoh, yang mungkin merasa diserang tak urung meradang, bukan mustahil bakal berbalik menyerang. Mega menebar isu “kegelapan” tanpa sedikitpun membuka titik terang. Alhasil, dalam ranah pertarungan kekuasaan ‘kecerobohan statemen’ ini bakal bisa memukul balik ke badan. Sampai ada yang secara ekstrem menilai, justru tak lain Mega sendirilah ‘penumpang gelap’ itu.

    Keniscayaan hukum dasar politik, bahwa politik adalah strategi meraih amanat kekuasaan berdasarkan kepentingan untuk mencapai tujuan. Selama tujuan itu adalah rakyat sebagai implementasi salus populi supreme lex, dan manifestasi vox populi vox dei, hakikatnya sah-sah saja. Tapi jika sebaliknya, itu adalah pengkhianatan nyata pada negara atas nama kendaraan politik semata.

    Sepertinya Mega masih butuh waktu lebih lama untuk bijak berbicara, atau kembali seperti semula sebagai ibu rumah tangga dengan filosofi “diam seribu bahasa” untuk menghindari petaka akibat salah kosa kata. Pengalaman berharga selama 4 tahun menjadi presiden pada 2001-2004 nampaknya belum cukup bagi seorang Mega untuk mewarisi tuah ayahanda. Pemimpin besar revolusi yang visioner-revolusioner yang dengan kematangan mengedepankan nasionalisme kebangsaan di atas kepentingan sempit kepartaian dan sekadar menjaga trah sejarah.

    Akhir kata, selain Mega, masih panjang daftar para ksatria yang sudah terlanjur ‘jatuh cinta kepada tahta’ dan enggan berlepas hingga di ujung usia. Dari hasil survei LSI 14 Oktober 2012, setidaknya ada tiga nama yang santer dijagokan maju pada pilpres 2012 dengan elektabilitas tertinggi, yaitu Mega (PDI-P- 20,2%), Prabowo (Gerindra-19,3 %), dan Aburizal Bakrie (Golkar-18,1%).

13507184931239937108
ABURICAL BAKRIE: sumber photo: http://www.hongsui.net
   Andaikata satu dari ketiga ‘jagoan’ itu menjadi pemimpin tertinggi di republik ini, alhasil NKRI bakal dipimpin oleh “generasi lansia.” Sekadar informasi, Prabowo yang lahir pada 17 Oktober 1951 hari ini memasuki usia ke-61, menjadi 63 pada 2014 dan 68 pada 2019. Aburizal Bakrie yang lahir pada 15 November 1946, hari ini memasuki usia ke-66, menjadi 68 pada 2014 dan 73 pada 2019.

    Pepatah Latin berkata, fide sed qui vide. “Percayalah, tapi berhati-hatilah memilih orang yang kau percayai.” Kita percayai bahwa mereka bertiga ada orang baik, tapi kita juga mesti percaya bahwa mereka bukan yang terbaik, bila melihat masih banyaknya potensi tersembunyi calon pemimpin dari kalangan pemuda. Lebih bertenaga, lebih perkasa, dan lebih berani mendobrak ruitinitas dengan gagasan-gasasan gila.

    Dan bagi Mega, sebaiknya berani legowo danpinandhito dengan memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk tampil, seperti telah dicontohkan dengan kesuksesan mengantar pemuda-jejaka Joko Widodo menaklukkan ibukota. Akan terlalu berat bagi srikandi veteran untuk mendobrak kebuntuan noto-nagoro dengan sisa-sisa energi di usia senja.
Dan untuk belajar menjadi seorang negarawan sejati, ada satu pelajaran dari Yunani, audi vide tace si tu vis vivere. “Dengar, lihat dan diamlah jika engkau ingin hidup.” Sebagaimana pesan Nabi Muhammad saw bagi kita yang masih meyakini kebenaran agama Islam, falyaqul khoiron au liyashmut. “Hendaklah dia berkata-kata baik, atau diam.”

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment