Saturday, October 27, 2012

Koruptor, Peradaban dan Hantu Monas




    Alkisah, suatu hari sekelompok makhluk luar angkasa yang berasal dari planet antah berantah berperadaban dan teknologi super tinggi, tengah mengadakan observasi ke planet primitif yang masih eksis di jagad raya. Ketemulah bumi sebagai objek yang pas. Setelah melewati berbagai seleksi negara mana yang akan dipilih, jatuhlah Indonesia sebagai sample terbaik dari kehidupan peradaban manusia di bumi. 


     Observasi dilakukan selama 8 abad (padahal hanya berkisar antara 8 pekan dalam hitungan teknologi mereka). Dirangkumlah pigmen-pigmen peristiwa dalam rangkaian sejarah nusantara. Dan dijadwalkan dalam rentang waktu berdirinya kerajaan Singasari pada tahun 1222, tepatnya sejak peristiwa legendaris”Mpu Gandring Gate” dan baru akan berakhir pada tahun 2022. 

     Dari grafik yang tercatat dari tahun ke tahun, ada fenomena yang menarik, unik dan eksentrik dari gerak perjalanan sejarah nusantara ini, sebagai sebuah anomali. Pertanyaan misterius yang masih belum terjawab, bagaimana grafik peradaban “tanah surga dunia” ini menunjukkan fluktuasi. Secara umum, dalam rentang 790 tahun (hingga hari ini, Sabtu, 27 Oktober 2012) setidaknya nusantara telah mengalami 2 periode fluktuasi peradaban.

    Periode pertama adalah ketika Majapahit, yang berdiri hampir 200 tahun (1292-1500) mengalami puncak kejayaan pada abad ke 14, pada era Raja Hayam Wuruk, ditandai ketika Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa pada 1336. Wilayah nusantara berhasil disatukan di bawah panji-panji kerajaan Majapahit. 

    Periode kedua baru berulang 6 abad kemudian, tepatnya 609 tahun ditandai dengan proklamasi kemerdekaan NKRI pada 17 Agustus 1945. Tentu setelah melewati rangkaian panjang gerak perjalanan sejarah pasca runtuhnya Majapahit pada awal abad 16, seiring dengan kedatangan bangsa Eropa dengan imperialisme dan kolonialismenya. Berbarengan pula dengan menguatnya pengaruh Islam dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam nusantara yang masing-masing sempat berjaya secara bergantian dalam wilayah regional.

     Puncak peradaban periode ke-2 dalam 800 tahun ini dikenali dengan duet proklamator Soekarno-Hatta, presiden dan wakil presiden pertama, nyaris mengulang kejayaan Majapahit era duet Hayam Wuruk-Gajah Mada sebagai Maharaja dan Mahapatih. Nusantara berhasil dipersatukan di bawah panji-panji NKRI, dan generasi 45 (yang rata-rata dilahirkan tahun 1900-an) dinilai sebagai generasi terbaik bangsa nusantara. Generasi ini pula yang mampu menggugah kebangkitan Indonesia pada 1908, menggugah kesadaran kebangsaan pada 1928, dan berpuncak pada proklamasi 1945.

    Era 1945 dinilai sebagai puncak peradaban nusantara karena menghasilkan manusia-manusia terbaik, pilihan, hasil “seleksi alam” kawah candradimuka penderitaan bangsa selama 3,5 abad di bawah penindasan Kompeni Belanda. Kesadaran kebangsaan, spirit pembebasan, menggeliatnya pendidikan, gelora perjuangan yang didasarkan pada semangat persatuan dalam kebhinnekaan. Di era inilah berhasil dibangun formula khusus ideologi nasionalisme-humanisme universal rahmat metta karunia “satu untuk semua semua untuk satu” Bhinneka Tunggal Ika. Konstitusi adiluhung UUD 45 dan falsafah agung Pancasila menjadi fondasi sempurna bagi bangunan peradaban negara-bangsa.

    Sayangnya, 1945 menjadi antiklimaks dari gerak pendakian peradaban nusantara. Grafik peradaban justru kembali turun secara teratur dari tahun ke tahun, dari dekade ke dekade, dari orde ke orde. Orde lama, lalu orde baru. Dan orde reformasi menjadi titik nadir peradaban bangsa ini. Sangat kontradiktif dengan cita-cita dan perjuangan yang digulirkan rakyat dan mahasiswa. Alih-alih hendak membukan gerbang kemerdekaan yang masih terkunci selama 53 tahun, reformasi 1998 justru semakin membenamkan peradaban nusantara ke dalam kubangan terhina.

     Pembusukan, perusakan, pencideraan, pemiskinan dan pembodohan berjalan secara sistemik dan sistematik. Alhasil, dalam kurun 14 tahun sejak 1998 hingga 2012, nusantara seakan menjadi negara-bangsa yang kehilangan peradaban terbaiknya. Potret hitam kelam wajah bangsa berpenduduk terbesar ke-4 di dunia sejumlah lebih 240 juta jiwa. Sekilas dari luar terlihat gagah perkasa, namun negara-bangsa ibarat raga tanpa nyawa, jasad tanpa ruh, bangunan materi tanpa ruh penghuni.

     Indonesia terkini adalah paradoks dan ironi. Apa yang nampak di luar, berbanding terbalik dengan apa yang tersembunyi di dalam. Negara yang penduduknya taat dalam agama, namun lebih buruk dari negara kafir-komunis atheis. Padahal agama adalah jalan bagi pengenalan Tuhan. Dan Tuhan, dengan segala kesempurnaan adalah pemilik bumi yang tentunya berkehendak mengunggulkan umat-bangsa yang mempercayai-Nya ketimbang mereka yang mengingkari-Nya. Ambivalensi, wajah ganda, ketaksaan makna, kemunafikan ternyata menjadi sumber penyebabnya.

     Negara hilang bentuk dengan tatanan yang remuk. Negara tanpa arah dan berkhianat dari amanat sejarah. Habibie berkata, ”Quo Vadis Indonesia?” Ibarat aura hitam raksasa Dasamuka, setidaknya ada paradoks 5 wajah ganda Indonesia. Kaya tapi miskin (kaya sumber daya alam, miskin penghasilan). Besar tapi kerdil (besar wilayah dan penduduk, kerdil produktivitas dan daya saingnya). Merdeka tapi terjajah (merdeka secara politik, terjajah secara ekonomi). Kuat tapi lemah (kuat dalam anarkisme, lemah dalam menghadapi tantangan global). Indah tapi jelek (indah potensi dan prospeknya, jelek dan korup dalam pengelolaannya).

     Akhir kisah, para ahli makhluk luar angkasa tersebut menemukan sebuah jawaban atas anomali fenomena bangsa ini. Carut-marut, tumpang-tindih, silang-sengketa, dan kerusakan sistemik-sistematik tatanan kehidupan multi dimensial menjadi penyebab runtuhnya peradaban mulia nusantara. Dan semua bermula dari wabah endemik “korupsi.” Celakanya, korupsi nusantara (yang sejatinya tak pernah lepas sebagai penggoda peradaban manusia) telah mahir beradaptasi dalam segala situasi. Ia juga sukses bermutasi dan ber-evolusi menjadi “gurita raksasa” yang imun terhadap segala terapi. 

     Ia juga kadang berubah bentuk dalam bentuk virus, kuman, baksil dan bakteri sehingga nyaris tak pernah gagal menginvasi dan menginfeksi organ tubuh bangsa, hingga mengakuisisi hak prerogatif akal sehat manusia berperadaban Indonesia. Dari hasil observasi 790 tahun makhluk luar angkasa ini, akhirnya disimpulkan kenapa “korupsi” menjadi kejahatan luar biasa. Ternyata korupsi adalah reinkarnasi dari setan yang menyerang perilaku manusia, tak peduli ia percaya atau tidak kepada Tuhan pencipta setan itu sendiri.

Tak mengherankan jika korupsi bekerja super misterius bagai siluman atau hantu yang menteror peradaban manusia Indonesia. Jika ingin meringkus koruptor (spesies manusia yang membelot menjadi antek-antek hantu korupsi), maka cobalah untuk menangkap “Hantu Monas.” KPK kini menjadi senjata pamungkas “perang abadi” melawan korupsi. Tidak ada salahnya jika digagas sebuah ide gila “ruwatan nasional” untuk merubah nama lembaga ini menjadi KPH, alias Komisi Pemburu Hantu. Mekanisme kerjanya, bisa meniru film pemburu hantu Ghost Buster, tinggal improvisasi sesuai situasi dan kondisi terkini.

Dan sambil observasi kapan momentum yang tepat kemunculan “Hantu Monas” kita bisa menunggu hari saatnya tiba seorang tokoh yang akhir-akhir ini tengah meramaikan desas-desus perkorupsian negeri, untuk memenuhi tantangan “berani mati” digantung di Monas. Siapa lagi kalau bukan Anas? Bila Anas terbukti terlibat korupsi, maka hukum karma niscaya terjadi, hukuman mati bagi koruptor, di gantung di Monas. Hampir bisa dipastikan, penggantungan mati koruptor di Monas akan jadi monumen maha penting bagi pembongkaran massal “komunitas hantu korupsi” dari negeri ini. 

Dan KPK (yang jika berubah menjadi KPH) akan bisa memburu para koruptor setelah “Hantu-hantu Monas” lain mulai gentayangan pasca penggantungan Anas. Kapankah itu terjadi? Tunggu saja hingga sekelompok makhluk antariksa menyelesaikan observasinya atas peradaban nusantara hingga 10 tahun mendatang pada 2022. Semoga peradaban yang hilang dari nusantara masih bisa kembali dibangkitkan seperti pada 1908, dan semoga saja Tuhan masih “bersabar” untuk tidak bersegera membenamkan negeri ini ke perut bumi pertiwi, hanya karena selalu terlambat menangkap makna di balik pesan-pesan suci.


Salam...
El Jeffry


2 comments:

  1. nanti bakal ada kelompok pecinta monas yg tidak terima kalau monas kotor oleh darah calon hantu koruptor...
    :)

    ReplyDelete
  2. hehehe...benar juga sdr Dihas...
    Salam... :)

    ReplyDelete