Monday, October 8, 2012

Kisruh KPK-Polri: Setetes Madu Meruntuhkan Istana?



13496678902123207918
KETUA KPK,  PRESIDEN dan KAPOLRI. (sumber photo: http://www.tempo.co)


    Kisah bermula dari ‘penyanderaan’ penyidik KPK oleh Polri dalam kasus simulator SIM awal Agustus silam. Lalu ketegangan antar kedua lembaga mencuat hingga ke ranah publik, terutama dengan ditetapkannya Irjen Djoko Susilo, sang jenderal aktif berbitang dua sebagai tersangka oleh KPK. Bola panas menggelinding begitu keras, membesar dan menggilas. Semakin lama semakin panas, “kompetisi konyol” dua lembaga penegak hukum, motor utama “perang suci” pemberantasan korupsi, KPK versus Polri tiba-tiba “bertarung hidup mati’ saling bunuh atas nama hukum.

    Konflik terus meruncing dan mencapai puncak ketajaman ketika di pekan pertama bulan Oktober terjadi “serangan dini hari” Polri dengan misi menangkap seorang penyidik KPK atas kasus 8 tahun silam. Celakanya, kebetulan “sang penyidik” adalah “otak penting” dari penyidikan tersangka KPK Djoko Susilo, yang lebih celakanya lagi, baru saja ‘lolos dari maut’ penahanan tuah “Jumat Keramat.” Padahal sebelumnya banyak pihak, termasuk Sang Ketua KPK Abraham Samad telah ‘berikrar’ bakal “menjerat” sang jenderal di “Jumat Keramat.”

    Jangan salahkan bila akhirnya bola panas pun pecah bak lahar tumpah di benak publik. Akumulasi kekecewaan, kegeraman, kegelisahan dan kekhawatiran hingga muncul kecurigaan ekstra kuat di benak rakyat. Kriminalisasi KPK menjadi puncak dari upaya pelemahan-penggembosan-pengebirian KPK  yang dilakukan oleh “pihak pro koruptor” secara sistemik-sistematik. Logika gamblang terang-benderang di tengah matahari siang, siapa yang paling diuntungkan dari “perang saudara” sesama lembaga pemberantasan anti korupsi KPK dan Polri? Koruptor!

    Sesama aparat hukum yang seharusnya saling bersinergi, kini justru bertarung saling menguras energi. Setan koruptor tertawa, menari dan bernyanyi, pesta pora gembira-ria, bertepuk tangan sambil berdo’a, “Bunuh! Bunuh! Bunuh! Jangan berhenti!” Kepandiran mana yang lebih pandir dari “Opera Tragedi Hukum” terkini di negeri ini?

    Semua terjebak dalam konflik saling tuduh-saling bersikukuh, opini terbelah-terpisah saling tegang-saling regang. Lalu semua menanti sebuah “sabda pandhito-ratu” untuk sigap meredakan konflik secepatnya. Hanya presiden yang punya “kalimat sakti” atas konflik, kisruh, perseteruan anak negeri, yang niscaya “suara kenegarawanannya” mampu meredam segenting apapun peristiwa dalam wilayah negara.

    Namun sang raja hanya diam seribu bahasa dalam seribu tafsir yang tak pernah dimengerti oleh rakyatnya. Ah, sudah seperti biasanya, sudah menjadi tabiat ‘dari sono-nya’ sebagai ciri khas watak yang mungkin tak akan berubah oleh kematangan usia dan pengalaman berkuasa. Sang presiden masih diam sampai hari ini, mungkin jangkauan alam pikirnya ‘terlalu besar’ bagi masalah ‘terlalu sepele’ ini. Mungkin beliau hendak menunjukkan pada dunia, terinspirasi pada ucapan Presiden Soekarno yang melegenda, “Ini hanya riak kecil dari besarnya gelombang revolusi Indonesia.”

    Mungkin bagi SBY konflik KPK-Polri memang hanya jari kelingking yang tak perlu dihadapi dengan reaksioner, toh posisinya sebagai eksekutif ‘tak elok’ intevensi ranah hukum, karena memang kita negara hukum yang menjunjung tinggi supremasi hukum. Mungkin beliau benar, dan tak ingin dengan “sabdo pandhito ratu” yang diucapkannya justru semakin memperkeruh suasana dan mempetajam konflik. Mungkin pula beliau khawatir, karena semakin hari segala instruksi, wejangan, petuah, sabda dan firmannya semakin sulit diterima oleh kebanyakan anak bangsa.

    Berhati-hati bicara, berhati-hati bekerja, berhati-hati dalam segalanya, untuk menghindari kesalahan yang lebih fatal. Mungkin beliau hendak berusaha religius dengan mengamalkan pesan Nabi, “falyaqul khairan au liyashmut” (hendaklah berkata baik, atau diam) sehingga kini lebih banyak memilih diam karena sudah semakin sulit berkata-kata dengan baik, dalam kebaikan demi kebaikan. Bahkan dalam situasi genting (menurut rakyat), dia memilih sementara untuk diam, karena memang menurutnya belum genting.

    Yah, biarlah waktu yang berbicara, sambil menunggu waktu yang tepat untuk bicara, tapi tidak hari ini atau malam ini, mungkin esok atau lusa, seperti yang dikatakan oleh Menko Polkam Djoko Suyanto, karena hari ini sang presiden sedang menjalani kegiatan di istana Cipanas dan meninjau lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional. Padahal sebelumnya, Mensesneg Sudi Silalahi menyampaikan bahwa Presiden SBY akan menyampaikan bahwa Presiden akan segera mengambil alih dan memberikan penjelasan kepada masyarakat besok, hari Senin, 8 Oktober atau paling lambat Selasa siang 9 Oktober.

     Biarlah “sang raja” melakukan aktivitasnya sesuka hatinya. Apa daya kita sebagai rakyat jelata, hanya bisa berharap dan berharap ada “Tangan Tuhan” menyelamatkan negara dari efek domino kisruh KPK-Polri, seperti halnya “Tangan Tuhan” menyelamatkan sepakbola “tim tango” lewat gol curang paling fenomenal dan kontroversial Maradona sehingga Argentina berjaya menjuarai Piala Dunia pada 1986.

     Mungkin SBY adalah raja yang tergadai, atau meminjam istilah kompasianer Ninoy L Karundeng, “tersandera” oleh tiga kepentingan berbeda. 1) kepentingan pribadi SBY dan keluarganya berupa safe exitdan (2) berkawan dengan pengusaha, (3) adanya tentangan pelemahan KPK oleh orang ‘tidak waras’ yang bercokol di LSM atau NGO, organisasi keagamaan, tokoh agama, para seniman, budayawan dan akademisi putih, serta rakyat yang mulai tidak sabar. Maka wajar jika “sang raja” tengah “dirundung bingung-linglung” tak kepalang tanggung, karena semua hal kini semakin kusut semrawut bak lingkaran setan tanpa pangkal tanpa ujung.

    Namun yang pasti, seharusnya sebagai seorang “raja diraja” republik Indonesia dengan kekuasaan yang nyaris tak terbatas, SBY punya banyak stok cara untuk menyelamatkan negara ini dari konflik berkepanjangan “dua saudara” lembaga penegak hukum KPK dan Polri. Jangan pernah menunda-nunda persoalan, dan jangan sekali-kali menganggap remeh masalah, karena kisruh KPK-Polri adalah masalah inti-sari-pati dari masalah terbesar negeri ini, korupsi.  Dan kisruh KPK-Polri juga bisa menjadi pemicu bom waktu yang kita semua tak pernah inginkan akibatnya jika sudah terlanjur meledak akibat penanganan yang terlambat.

       Sebagai penutup, ada sebuah dongeng lama dari sebuah tulisan di blog ini. “Setetes Madu Meruntuhkan Istana”

    “Alkisah, pada suatu masa berkuasa seorang raja yang zalim kepada rakyatnya. Bertahun-tahun lamanya rakyat berada dalam penindasan dan penderitaan tanpa daya. Sampai pada suatu hari setetes madu mengubah segalanya, hanya dalam satu hari.

    Cerita dimulai pada suatu pagi, setetes madu jatuh dari bibir gelas ke lantai istana ketika sang raja sedang meneguknya. Seekor lalat hinggap, rejeki sedap di pagi hari. Tanpa disadari lalat, seekor cicak di dinding mengendap-endap, lalu, ‘hap’, rejeki bagi cicak yang lapar mencari mangsa.

     Ternyata di balik dinding seekor kucing melihatnya, hal yang sama bagi kucing, makanan yang sedap, cicakpun disergap. Ketika sedang asyiknya si kucing melahap mangsanya, seekor anjing datang. Bisa ditebak, anjing dengan galaknya mengejar si kucing tanpa basa-basi. Kucingpun berlari lintang pukang.

    Kejar mengejar dua ekor musuh bebuyutan berlangsung hingga ke luar istana, kucing berlari menuju rumah tuannya. Sesampainya di rumah, sang tuan marah atas kelakuan si anjing yang hendak melukai kucing yang tak bersalah. Anjing itupun dipukulnya dengan sebatang kayu sampai ‘mengaing-ngaing’ kesakitan. Tak terlalu jauh di sana, ternyata si empunya anjing melihat kejadian itu, ia pun datang dengan marah.

     Pertengkaran terjadi. Tak henti di situ, kerabat dua kubu berdatangan saling membela, menambah kisruh sengketa. Tak bisa dicegah, sengketa meluas melibatkan seluruh keluarga dan famili keduanya, perkelahian massalpun terjadi, bentrokan antar warga meluas sampai hampir seluruh wilayah kerajaan, antar dua kelompok keluarga yang berbeda. Hingga akhirnya terdengar oleh raja, bagindapun mengutus pasukan untuk meredakan suasana.

    Pasukan istana yang memang kejam datang dan mengatasi kericuhan dengan brutal, hingga akhirnya memancing warga berbalik melawan. Tanpa sadar kedatangan pasukan istana menyadarkan rakyat, bahwa kubu raja lah musuh bersama mereka sesungguhnya, kezaliman yang dirasakan bertahun-tahun lamanya. Kedua kubu yang semula bersengketa pun akhirnya bersatu melawan pasukan istana.

    Raja gusar, dikerahkan seluruh pasukan kerajaan. Terjadilah perang antara kubu kerajaan dengan rakyat. Tapi rakyat di seluruh kerajaan sudah terlanjur bersatu. Tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan yang telah berpadu. Rakyatpun berhasil mengalahkan pasukan kerajaan, tepat sore hari. Sang raja pun tumbang, tak berdaya meredam perlawanan rakyat.
Hanya satu hari, mulai di waktu pagi, berakhir di sore hari, kekuasan tiran, kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa bertahun-tahun runtuh dihancurkan oleh rakyat yang selama ini lemah, hanya karena “persatuan,” dan hanya bermula dari hal sepele, setetes madu.”

     Semoga dongeng ini bisa menginspirasi untuk tidak menganggap remeh kisurh KPK-Polri, dan bahwa sudah saatnya rakyat “bersatu-padu” melawan tiran kemunafikan dalam satu musuh bersama “K-O-R-U-P-S-I.” Siapa dan pihak mana yang berdiri di belakang barisan koruptor, maka “wajib hukumnya” untuk kita, rakyat Indonesia menumbangkan bersama-sama. Tak peduli ia wakil rakyat atau pejabat, pengusaha atau penguasa, politisi atau bisrokrasi,  polisi atau jaksa, hulubalang, punggawa atau raja, di jalanan, di sudut rimba, di dasar lautan, di gedung senayan, atau bahkan di balairung istana.

Salam pembaharuan...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment