Saturday, October 20, 2012

Ketika Jokowi Menjadi Selebriti


1350667589288320000
BUERNUR DKI JOKOWI: sumber photo: http://wolipop.detik.com

    Belum sepekan menjadi Gubernur DKI, Jokowi sepertinya layak menjadi selebriti. Popularitas Jokowi bisa dikatakan menandingi popularitas korupsi, kalau tidak dikatakan melewati, setidaknya di media jejaring sosial, khususnya media on line. Tak terkecuali di Kompas on line dan Kompasiana.

     Jika semula kita mengenal “Tiada hari tanpa berita korupsi,” kini agaknya mulai tergeser “Tiada hari tanpa berita Jokowi.” Pernak-pernik keseharian Jokowi menjadi magnet fenomenal lewat ragam reportase dan opini yang tak kurang-kurang diwartakan, tak habis-habis di analisis tak puas-puas diulas dan tak tuntas-tuntas dikupas.  

     Tak hanya DKI, tapi negeri ini nampaknya tengah demam Jokowi. Jokowi jadi komoditi bernilai jual ektra tinggi. Kasarnya, kalau tulisan Anda ingin dibaca banyak orang, sertakan 6 huruf sebagai judulnya, J-o-k-o-w-i. Atau bukan tidak mungkin, jika sedikit kreatif, kita mungkin bisa laris manis bisnis roti kismis dengan merk “Jokowi.” 

    Kalau sudah begini, bolehkah kiranya kita menganggapnya sebagai “Jokowi effect” yang sebenarnya? Efek jokowi padahal belum nampak riil terlihat di percaturan “panggung politik,” meskipun dari “dunia politik”lah nama Jokowi terkatrol. Tapi itu tak mengapa. Suatu hal yang wajar bila Jokowi lebih ngefek di wilayah sosial. Bukankah segalanya berawal dari sosialisasi lebih dahulu? 
  
    Popularitas Jokowi setidaknya bisa terihat dari Kompas.com hari ini. Dari 20 artikel terpopuler,  praktis 16 berita tentang Jokowi, 2 berita tentang Basuki, dan sisanya 2 berita sisipan tentang Model Panas Novie.



      Amboi, dunia demam Jokowi. Dunia mabuk Jokowi. Dunia tergila-gila pada Jokowi. Aneh tapi nyata.Nyeleneh tapi realita. Apa hendak dikata? Kadang hidup memang perlu euforia. Kadang hidup perlu sejenak bernafas lega dan sedikit bersuka cita. Dan kadang hidup perlu bercita-cita.

     Jokowi menjadi fenomena, dari dulu sampai  sekarang, dari Solo sampai Jakarta, dari walikota sampai gubernur. Wajar saja, mungkin negeri ini memang lapar dan dahaga akibat krisis kepemimpinan terlalu lama. Lalu Jokowi yang muncul tiba-tiba menjadi oase di tengah sahara. Bak pungguk merindukan bulan. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

     Jokowi menjadi komoditi berdaya jual tinggi, selebriti dalam seleberita. Sampai di ujung kesadaran rakyat, akankah Jokowi berpotensi membuat kita lupa. Wong namanya demam, mabuk dan gila, tentu di balik itu ada potensi yang mungkin berbahaya. Demikian pula ketika  kita demam, mabuk dan gila Jokowi, ada saatnya kita menjadi lupa dengan isu permasalahan bangsa yang sesungguhnya. Salah satunya, isu korupsi.

     Dan satu lagi, ada kabar burung, Jokowi kemungkinan bakal tersandera. Oleh siapa? Tentu oleh “aktor panggung politik” alias parpol dan elitnya. Sayangnya, namanya juga kabar burung, tentu saja belum jelas apa maksud dan tujuannya, juga kesahihan beritanya. Remang-remang, bahkan mungkin gelap. Karena katanya, ada penumpang gelap yang berusaha mengambil keuntungan dari loncatan karier politik Jokowi.

     Apa hendak dikata? Namanya juga selebriti. Tentu mesti siap digoyang kanan-kiri. Sudah konsekuensi. Apalagi berkecimpung di kubangan politik republik terkini. Tubuh demokrasi penuh dengan bakteri, virus dan kuman yang telah akut menginfeksi. Hanya konsistensi tingkat tinggi yang bisa menjadi antibodi, menjaga diri dari terjangkitnya penyakit klasik selebriti-politisi.

     Ngomong-ngomong, di balik harapan yang membumbung tinggi akan keberhasilan Jokowi (bersama Basuki) ‘menyihir’ kota megapolitan DKI Jakarta, ada sedikit kerisauan di hati, andai semua benar-benar menjadi nyata. Di satu sisi kita puas dan suka dengan keberhasilan Jakarta, sesuai dengan program-program yang telah dikampanyekannya.

     Tapi di sisi lain, jika ibukota maju pesat dan warganya sejahtera gemah ripah loh jinawi, pasti akan semakin menjadi magnet cahaya yang menyedot laron-laron orang-orang desa. Urbanisasi menjadi keniscayaan. Mungkin eksodus besar-besaran. Sudah sewajarnya, ada gula ada semut. Hidup miskin-susah di desa, sopasti akan berbondong-bondong ke kota Jakarta. Hak asasi manusia. Tidakkah akan menjadi problem baru yang tak kalah rumitnya?

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment