Friday, October 5, 2012

Djoko Susilo Pun Lolos Dari “Jumat Keramat”


13494405561410517710
Irjen Djoko Susilo Usai Diperiksa KPK. (sumber photo: http://nasional.news.viva.co.id)

     Irjen Djoko Susilo lolos dari mitos "Jumat Keramat." Setelah diperiksa selama 9 jam di KPK hari ini, mantan Gubernur Akpol itu pulang dengan menumpang mobil Range Rover hitam. Istilah "Jumat Keramat" itu muncul sebab sejumlah tersangka kasus korupsi yang diperiksa pada hari Jumat, tak pulang lagi alias langsung masuk kamar tahanan. Namun sepertinya tuah “Jumat Keramat” hari ini tak mampu menandingi ‘kesaktian’ jenderal berbintang dua ini.

     Kabar bahwa tersangka kasus Simulator SIM ini tidak ditahan, sesungguhnya sudah berhembus semenjak siang tadi, meski Kamis kemarin, Ketua KPK Abraham Samad menegaskan bahwa akan menandatangani surat penahanan Djoko. Kabar soal tidak bakal ditahan itu beredar sebab sejumlah pimpinan KPK sedang tidak berada di tempat.
Abraham Samad  sendiri berada di Makasar karena kakak iparnya meninggal dunia. Sedang Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu sedang dinas keluar kota. Praktis hanya ada dua pimpinan yang ada di KPK, Busyro Muqoddas dan Zulkarnaen. 

     Meski untuk menandatangani penahanan seseorang hanya dibutuhkan satu tanda tangan pimpinan, tapi setidaknya pimpinan KPK lainnya ikut menyetujui sebagai  bagian dari prinsip kepemimpinan kolektif kolegial. Sumber VIVAnews di KPK mengatakan bahwa memang sebelumnya KPK  tidak  berencana menahan Djoko pada pemeriksaan perdananya sebagai tersangka hari ini. Ada beberapa alasan, salah satunya mengenai hasil audit yang belum rampung. 
Akhirnya, untuk sementara Irjen Djoko Susilo pun lolos dari “Jumat Keramat.”

     Apakah ini ‘pertanda buruk’ bahwa KPK akan benar-benar menjadi ‘macan ompong’ yang hanya ‘menggeram-geram’ dalam geram namun suaranya tak lagi seram, lalu karam oleh buasnya gelombang kekuasaan setan di lautan hitam hukum NKRI? Padahal, harapan rakyat sudah nyaris tiada lagi selain menggantungkannya pada satu-satunya lembaga yang dianggap paling “bergigi” dalam memberantas korupsi di negeri ini?

    Ataukah ada ‘hitung-hitungan’ lain yang “tak terjangkau awam” yang bakal menjadi misteri abadi dalam berbagai upaya “pihak tertentu” untuk menggembosi KPK hingga benar-benar gembos-bos tak berdaya? Atau mungkin kita, rakyat Indonesia harus mulai relaistis menyikapi eksistensi “gurita korupsi” di negeri ini sebagai “monster buto-raksasa” abadi yang nggak bakalan mati di bumi pertiwi. Atau mungkinkah benar kata Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, bahwa “Sampai Kiamat pun, (polisi) korupsi akan tetap ada,” karena polisi bukan malaikat, bukan pula Robocop?

     Aah... lagi-lagi kita mesti bersabar hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Meminjam bait lagu Iwan Fals dalam lagu Asyik Nggak Asyik, itulah dunia politik. Ibarat nyolong mangga, kalau nggak nyolong nggak asyik... buah mangga entah ke mana, tinggal biji tinggal kulitnya, rakyat kecil hanya menganga, tinggal mimpi ambil hikmahnya. Hikmah adalah kebaikan yang tak ada habisnya, khazanah berharga yang tak ada bandingannya. Sayangnya hanya rakyat kecil yang senantiasa jadi korban ketidakadilan yang lebih sering memetik dan panen raya hikmah itu, bukan penguasa, bukan pengusaha kaya, bukan polisi, bukan politisi, dan yang pasti, bukan koruptor.

Salam...
El Jeffry 

Sumber: Vivanews 06/10/2012

No comments:

Post a Comment