Saturday, October 13, 2012

Di Balik Kemenangan “Duo Edan” Jokowi-Abraham


1350225565181638237
ABRAHAM SAMAD DAN JOKO WIDODO: (sumber photo: http://www.jpnn.com/picture/watermark)

     Di tengah kebuntuan zaman edan republik terkini, dalam carut-marut kekuasaan tak kunjung teratasi, dua ksatria nusantara datang tanpa di sangka. Dengan langkah tak lumrah seakan menyimpang dari pakem klasik sejarah, Joko Widodo dan Abraham Samad seperti oase di tengah sahara. Muncul dari dua tempat berbeda, dengan pola dan gaya berbeda, kedua sosok ini hijrah menyusup ke ibukota.

     Menusuk dengan gerakan ganda menggunting dari dua arah menuju pusaran dalam momentum sama, ”Duo edan” Jokowi-Abraham robek “zona nyaman.” Jokowi “joko edan” datang dari ‘kasta’ waisya-pedagang, dengan kepemimpinan stylish khas wong ndeso Walikota Solo menjadi mata gunting pertama. Lewat jalur politik dalam perhelatan akbar pilkada DKI Jakarta, dalam pergulatan panjang yang panas dan melelahkan. Jokowi mendobrak zona nyaman kekuasaan, kini bersiap menunggu hari pelantikan sebagai gubernur baru ibukota.
       
       Sedang Abraham Samad dengan semangat jihad dan “meledak-ledak” tanpa kompromi menjadi mata gunting kedua. Lewat jalur hukum dalam perhelatan akbar perang suci melawan gurita korupsi, “sang Abra-kadabra” meningalkan Makassar untuk menyulap KPK agar menjadi lembaga yang berdaya paksa. Abraham pun mendobrak zona nyaman “kekuasaan koruptif” dalam pertarungan panjang yang juga panas dan melelahkan melawan institusi, DPR hingga Polri.

      Duo edan Jokowi-Abaraham menjadi mimpi buruk penjahat ekstra kuat di barisan koruptor dan kekuasaan. Kekumuhan politik dan hukum nyaris saja membuat negeri ini tenggelam dalam keputus-asaan, karena seperti mengurai benang kusut dan basah di tengah malam buta, semakin diurai, semakin rumit semakin sulit. Dengan cara apa memutus siklus politik homo homini lupus? Serigala politikus saling memangsa, lalu domba-domba rakyat jelata yang paling empuk sebagai korban terhimpit tak berdaya.

       Hukum semakin vakum. Politik memperkuat imperium. Politisasi dan hukumisasi tumpang tindih. Bagi penganut paham Lord Actonis semakin skeptis dan pesimis, karena kekuasaan yang cenderung korup akan menelikung jalan di balik jubah hukum. Politik-hukum, hukum-politik, terbolak-balik membingungkan penuh polemik, intrik dan konflik. Orang Jawa menyebutnya goro-goro, sebuah momentum situasional pertanda alam harapan berakhirnya zaman edan.     

       Sedikit flashback, kehadiran “duo edan” tak semulus yang dibayangkan. Ibarat satrio piningit, mereka seakan disembunyikan oleh zaman, tak diperhitungkan untuk menang, muncul sebagai kuda hitam. Jokowi, pada awalnya muncul dengan elektabilitas level bawah, jauh dari sang incumbent yang diunggulkan. Seiring waktu berlalu, zaman mulai membuka tabirnya, itupun tak serta-merta diterima. Gelombang pembendungan kesempatan dilakukan “kubu zona nyaman” bahkan terkesan menghalalkan segala cara termasuk hembusan isu SARA. Dalam istilah mbalelo, dekoberisasi. Naluri mendasar kekuasaan, jangan sampai orang baru kober (berkesempatan) untuk tampil memimpin dan berkuasa.

       Hal serupa dialami pula oleh Abraham. Muncul sebagai kuda hitam dalam seleksi uji kelayaka dan kepatutan oleh DPR, Abraham tidak direkomendasikan oleh Pansel KPK karena hanya menempati peringkat ke-5 dari 8 calon ketua KPK. Namun melalui voting pada 3 Desember 2011 pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham memenanginya dengan suara mutlak mengalahkan kandidat lainnya yang jauh lebih senior dan berpengalaman.

      Mungkin Abraham sengaja dimenangkan oleh DPR dengan harapan akan lebih mudah dikendalikan dibanding calon-calon lain yang sudah ketahuan sepak terjang dan lebih experience. Mungkin mereka hanya menganggap ‘ikrar’ Abraham untuk menggantung saudara sendiri bila korupsi hanyalah pepesan kosong belaka. Atau menganggap ‘janji’ komitmen Abraham untuk ‘jihad’ memerangi korupsi hingga ajal sebagai bukti mewakafkan diri untuk bangsa hanyalah celotehan wong edan semata.

       Hingga akhirnya keedanan Abraham baru terbukti. Ber-‘konfrontasi’ dengan DPR ketika mengajukan anggaran gedung baru, lalu ‘perang terbuka’ dengan Polri dalam kasus simulator SIM. Sama seperti Jokowi yang akhirnya memenangi pertarungan pilkada untuk memimpin ibukota, Abraham pun akhirnya memenangi pertarungan dengan turunnya panca-sabda Presiden SBY. Mutlak menangani kasus simulator menyingkirkan telikungan Polri, dan disetujuinya pembangunan gedung baru oleh DPR.

        Dunia butuh pemimpin ‘gila’! Negara butuh pemimpin ‘gila’! Jokowi datang dari Solo dengan gaya ‘gila.’ Abraham datang dari Makassar dengan spirit ‘gila.’ Mereka berdua datang untuk mewaraskan Indonesia, lewat sebuah titik di ibukota, dalam pentas politik dan hukum semestinya. Di zaman edan negara edan, yang waras dianggap edan, yang edan mengklaim diri sebagai waras. Maka hanya ‘orang edan’ yang bisa mewaraskan negara edan. Dua manusia dari 13 elemen ksatria nusantara telah menggedor paksa hegemoni kekuasaan dan menciptakan terapi kejut bagi ‘supremasi korupsi’ di negeri ini.

        Satu hal yang penting diingat, kekuatan dahsyat yang menjadi inti sumber energi Jokowi dan Abraham adalah suara rakyat. Hanya dukungan suara rakyat yang mampu meruntuhkan tembok baja kekuatan jahat yang berlindung di balik kekuasaan, khususnya dalam ranah wilayah politik dan hukum. Hukum alam, sunnatullah, segaris dengan diktum klasik vox populi vox dei sebagai filosofi demokrasi. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Mengkhianati amanat rakyat sama saja mengkhianati amanat Tuhan. Keberpihakan terhadap kepentingan rakyat berarti keberpihakan terhadap Tuhan dan kebenaran.

         Kini Pemilu 2014 semakin dekat. Regenerasi kepemimpinan adalah keniscayaan. Omne vivum ex ovo, omen ovum ex vivo. Seperti siklus telur dan ayam, pemimpin dan rakyat adalah kesatuan yang saling melahirkan. Pemimpin lahir dari rahim rakyat, dan rakyat sejahtera oleh pemimpin bijaksana. Ovum-telur adalah pemimpin, dan vivum-ayam adalah rakyat yang menjadi kausa pertama. Negara butuh pemimpin berkebangsaan bersukma kerakyatan.  Dan rakyat pula yang memegang peran sentral untuk menentukan, tentu lewat kecerdasan dan kesadaran kritis-emansipatoris bersuara yang benar dalam memilih pemimpin.

        Semoga secuil peristiwa kemenangan Jokowi di pilkada DKI dan Abraham Samad di KPK dalam perang anti korupsi menjadi pelajaran berharga. Bahwa dengan segala pertaruhan, mengembalikan fitrah “politik dan hukum” adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. “Duo edan” Jokowi-Abraham telah datang mengusik “zona nyaman” politik-hukum dan kekuasaan. Semoga energi sample dua ksatria akan bersinergi dan beresonansi membahana di bumi nusantara. Mengembalikan paradigma zaman edan agar benar-waras seperti sedia kala, sesuai dengan cita-cita founding fathers-para pendiri bangsa.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment