Friday, October 26, 2012

Altruisme Idul Adha dan Banalitas Politik Rimba



       Membaca wajah Indonesia di dasawarsa awal abad 21, seperti membaca rangkaian gerbong kereta kosa kata. Satu tubuh berkepala dua dengan arah saling berlawanan. Satu ke kiri, satu ke kanan. Satu di depan, satu di belakang. Kepala dan ekor sama dan serupa, maju dan mundur tak berbeda, ujung dan pangkal sama bentuknya. Ironis, paradoksal dan saling menegasikan kutub satu dengan lainnya.

      Umat-bangsa sebagai penumpang kereta yang absah terpenjara dalam gerbong masa, tanpa tahu ke mana arah tujuan masinis menuju stasiun akhir bertata nagara-kota. BJ. Habibie memotretkan dalam 5 tanda tanya tebal pekat, kebingungan rakyat,  rakyat, parpol dan bekas presidenku. Mau di bawa ke mana negara-bangsa? Quo vadis Indonesia?

     Quo vadis, dilema anak negeri karena epidemi ambivalensi tingkat tinggi, kegandaan wajah umat-bangsa, ketimpangan menganga antara nilai-nilai ideal dan nilai-nilai aktual. Kita berkaca di depan cermin cekung. Atas menjadi bawah, benar menjadi salah, kehina-dina-nistaan menjadi kemuliaan-karamah.

     Persis nubuah Jangka Jayabaya, kita memasuki era zaman edan, wolak-walike zaman, pembalikan terstruktur dan terkultur logika fitrah manusia. Ketika akal sehat hilang dari kepala, maka ikhlaskanlah untuk berjamaah hidup di “negara gila.” Kegilaan sebuah komunitas telah membalik bangsa beradab menjadi bangsa biadab, bangsa berbudaya menjadi bangsa terpedaya. Ruh agama menghilang dari raga negara. Negara tinggal sebongkah bangunan mewah rumah kaca tanpa penghuni, pembanguan materialisme wadag-kasar, fakir cita rasa, miskin estetika.

     Potret kelam wajah bangsa terkini, Paradoks Negeri “Sejuta Satu Haji.” Dalam sejuta haji hanya ada satu haji sejati. Seperti negeri “Sejuta Satu Janji,” dalam sejuta hanya ada satu janji sejati. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan sisanya belum paripurna menunaikan haji. Seperti belum paripurnanya negeri ini dalam menunaikan janji. Janji pada Tuhan, janji pada agama, janji pada negara, janji pada manusia, dan janji pada diri sendiri.

     Sebagai umat-bangsa, kita telah memasuki fase gagal agama dan gagal negara, muara dari gagal keluarga dan gagal manusia. Keberagamaan (baca: keislaman) hanya sebatas kesalehan simbol-simbol pagan, casing dan ritual-seremonial, dan belum sanggup menembus kesalehan esensial, fitur dan sosial komunal. Zuhijjah bulan haji yang berpuncak dalam hari raya Idul Adha di hari ini menjadi saksi paradoks dan ironi.

     Negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan 85% penduduk muslim sebagai mayoritas dari 240 juta jiwa manusia Indonesia, praktis Islam hanya terlihat indah dan sempurna di atas lembaran teks, terma, dogma dan wacana, namun gagal mentransformasi dalam perilaku keseharian secara nyata.

     Lebih miris dan tragis, ketika sebuah penelitian sosial tentang Keislaman Indonesia bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menempatkan negara ini dalam urutan ke-140 sebagai islami di antara 108 negara. Ironisnya, ranking pertama negara islami justru ditempati oleh negara non muslim Selandia Baru. Sedangkan negara Barat yang juga non muslim, justru dinilai lebih islami, diantaranya adalah Kanada yang berada di ranking ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25). 

      Sebuah tamparan panas yang seharusnya tidak mengejutkan, terutama bila kita benar-benar mencermati keislaman umat-bangsa ini dari sudut pandang sejarah dengan hati bening tanpa syakwasangka. Paradoks dan ironi yang sejatinya nyata-nyata mencolok mata, hanya saja kita telah terlanjur terjangkiti sindroma “tuding kambing.” Cari kambing hitam atas suatu kesalahan, kelemahan dan kegagalan.

      “Buruk muka, cermin dibanting” kerap menjadi jawaban atas “peringatan alam.” Jika ada kritikan tajam menyerang Islam, kita sebagai muslim cenderung melihatnya sebagai permusuhan dan tindakan pendiskretidan Islam. Dan kita hampir tak terpikir untuk mengambilanya sebagai bahan pelajaran dan peringatan untuk evaluasi diri, refleksi dan introspeksi.

      Potret kelam wajah Islam akan terlihat gamblang jika kita mencermati dunia perpolitikan negeri ini, khususnya pasca reformasi 1998. Meski pertalian sejarah dan sebab akibat berjalan seiring dan saling berkaitan dalam perjalanan keislaman umat-bangsa ini. Namun era pasca reformasi tak bisa diingkari sebagai “titik nadir” peradaban bangsa ini. Carut marut kehidupan di segenap lini, ideologi, ekonomi, sosial budaya dan politik, bagaimanapun tertuju pada satu titik umat muslim sebagai “kekuatan mayoritas” tiang penyangga negara-bangsa.


       Satu hal yang hilang dari bangunan bangsa ini adalah ruh altruisme, pengorbanan yang menjadi intisari dari ajaran universal agama-agama di dunia. Dan baru bisa mengikat Islam dalam label “agama sempurna-terbaik di dunia” yang telah Tuhan menangkan atas segala agama. Namun kita gagal meng-ejawantah-kan ajaran agama paripurna dalam realita, sehingga akhirnya gagal pula menjadi “The Best Community”-khairu ummah-umat bangsa-komunitas terbaik. Lebih ekstrem dikatakan sebagai umat terbelakang dan tertinggal, kalau tidak sebagai umat terburuk.


     Dalam ranah perpolitikan terkini, spirit altruisme yang telah diteladankan oleh “Bapak Para Nabi” Ibrahim as. abad 19 SM (yang menjadi inti sari dari ritual tahunan ibadah haji berabad-abad hingga hari ini), nyaris tak dijumpai lagi. Panggung politik, terlebih menjelang pemilu 2014, hanyalah serial drama parodi dan parade kebinalan dan kebanalan antar serigala yang saling memangsa dalam kejamnya hukum rimba.


     Syahwat dahaga tahta-kuasa elit politik (politikus-politisi) telah menggerus sedemikian menggila nilai-nilai fitrah bertata-agama tata-negara. Daulat rakyat res-publica sebagai agama public bonum publicum terkebiri. Pemerintahan (dari-oleh-untuk) rakyat demos-cratein terabrasi. Kemaslahatan umat-rakyat salus populi suprema lex tererosi. Falsafah adiluhung kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika termutilasi. Ruh Konstitusi mati suri, Pancasila hilang arti. Kita sebagai umat-bangsa-negara telah mati suri.


      Banalitas politik menggila. Politik rimba “manusia serigala” homo homini lupus menjadi berhala. Saling tikam, saling terkam dan saling hantam antar para pencari dan pencuri kekuasaan. Partai dijadikan kendaraan legal-formal untuk saling membantai. Elit-elit politik, dan kini merambah pula pada tataran alit-alit politik (aktor figuran politik amatiran yang baru belajar berpolitik ‘kasta’ wong cilik), bergumul dalam arena adu domba di antara para serigala. Alhasil, “bangsa surga” nusantara kini menjelma menjadi “belantara neraka.”

      Padamnya api altruisme pengorbanan menjadi pertanda alam akan datangnya kehancuran sebuah peradaban. Kita di ambang kegagalan menjalani peran sebagai khalifah bumi, setidaknya di wilayah bumi pertiwi. Krisis kepemimpinan nasional, sirnanya para pemimpin negarawan bersukma kerakyatan, gagal melahirkan pemimpin agung “Philosopher King”-raja filsuf arif bijaksana, pudarnya jiwa penguasa pengayom, pemimpin berkarakter luhur pandhita-waskita-sasmita-sujana.

       Kini kita berdiri di bibir tebing fenomena gagal negara, gagal bangsa, gagal umat dan gagal masyarakat bermartabat. Semua bermula dari kegagalan kita (khususnya umat muslim) dalam menangkap mutiara hikmah ajaran agama. Padahal keparipurnaan dari agama adalah ketika seseorang memasuki tahapan penyembelihan ego-pribadi-kelompok-parsial-golongan dan syahwat kepemilikan menuju penghambaan sejati pada Allah, satu-satunya Tuhan sejati.

     Ibrahim as. telah menjadi prototip manusia terbaik yang telah mampu “menyembelih” ego kepemilikan dirinya atas kecintaan anaknya, Ismail, untuk menjadikan Tuhan sebagai Tuhan, di atas segala kepentingan, kebutuhan dan keinginan. Lalu peristiwa ujian legendaris itu telah diabadikan sebagai hari raya Idul Adha, puncak ritual keparipurnaan umat Islam dengan simbol pemotongan hewan kurban dan ibadah haji ke tanah suci Mekkah di bulan Zulhijjah ini. Namun bila kita bebal dan pandir dalam beragama, maka kita tak pernah memasuki wilayah agama dengan sebenar-benarnya.

      Indonesia, meski bukan negara agama, namun agama adalah ruh dari bangunan fisik materi negara. Maka jika ruh itu telah padam dari umat muslim di negeri ini, negara tak lebih dari seonggok materi mati tanpa nyawa. Memang ada jutaan haji di negeri ini, dan ritual pemotongan hewan kurban setiap tahun semakin menggelora. Namun tanpa altruisme dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka kita hanya sekumpulan binatang berpolitik yang hidup binal dan banal di arena kejamnya rimba nusantara, dalam wujud badan dan rupa muka sebagai manusia.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment