Tuesday, October 30, 2012

Menghimpun 12 Elemen Ksatria Nusantara



         Di era zaman edan, di tengah jahiliyah-barbar-homo homini lupus-nya sistem masyarakat-negara-bangsa, kita berharap dan sangat merindukan bersatunya para ksatria nusantara. Mereka adalah manusia pilihan, anak bangsa berkeunggulan karakter dan berkeadaban, para priyayi otentik bernurani, putra-putra terbaik yang tersisa di negeri ini.

     Hanya mereka yang masih waras eling-mindfull, berkesadaran pandangan terang, berparadigma kombinasi trilogi “kebangsaan-sosial-religius,” yang dalam bahasa  Bung Karno disebut sebagai “Nasakom.” Hanya mereka yang bisa mendobrak tembok kemandegan, mengelupasi lumut kebosanan dan memecah batu kesunyian perjuangan.

     Adalah mereka yang bervisi menegakkan daulat res-publica-kepentingan umum-publik-rakyat yang mampu mengkonstruksikannya menjadi “haluan pedoman” membangun MWSI (Masyarakat Warga Sejati Indonesia) sekaligus RKRI (Rumah Keselamatan Republik Indonesia) wadah resmi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

     Kita merindukan berhimpunnya 12 elemen “Kaum Terbaik Bangsa, Khairu Ummah, The Best People” para pemimpin bangsa berkelas dunia, yang oleh Plato dikatakan sebagai The Philosofer King-sang raja filsuf, dan dikatakan oleh Mahatma Gandhi sebagai sosok ideal manusia yang mampu menyelaraskan pikiran, ucapan dan perbuatan.

Ke-12 elemen itu adalah:


  1. Filosofi Kemanunggalan Esoteris “Semua Satu, Satu Semua”-Bhinneka Tunggal Ika: Mathius Ali, K.H. Sahal Makkfudz-K.H. Ilyas Rukyat, Romo Pandit J. Kaharuddin, Kardinal Indonesia, Pemimpin Parisada Hindu Indonesia, Pdt. Yewanggo, Bante Kheminda, Ki Grangsang ‘Suryo Mentaram’, Muhaji Fikriono, Romo Magnis Suseno, Haidar Baqir, Muhammad Munir Mulkan, KH Lukman Hakim ‘Hikmah Sufi’, Agus Abubakar Arsal, Alwi Shihab, Media Zainul Bahri.
  2. Ideologi Pancataqwa-Pancasila yang aktual dan kontekstual memberdayakan dan  menghidupkan ruang publik: Ikhlasul Amal, Pusat Studi Pancasila Universitas Gajahmada, Yogyakarta, Yuwono Sudarsono, KH Hasyim Muzadi, Saefuddin (antropolog UI), Syafii Maarif.
  3. Kebangsaan: Sri Sultan HB X, Tri Sutrisno, Sayidiman, Kiki Syakhnakri, Saurip Kadi, Permadi, Siswono Yudo Husodo.
  4. Pendidikan: Soedjijarto, KH Said Agil Siraj, HAR Tilaar, Connie Semiawan, Romo Mardiatmadja, Sesepuh Taman Siswa, Romo J Sudarminta, Daud Joesoef, Utomo Dananjaya, Yusuf HR.
  5. Ekonomi ‘Syariah’-Kerakyatan: Kwik Kian Gie, Bambang Ismawan, Amin Azis, Rizal Ramli, Romo Heri Priyono, Sri Edi Swasono, Budi Wiyono, Faisal Basri.
  6. Masyarakat Warga Sejati yang Madani Berkeadaban: Paulus Wirutomo, Budi Munawarrahman, Rahmawati Soekarno, Pimpinan Buddha Zsuci, Pimpinan Sokka Gakai, Komunitas Lintas Agama Yogya, Deffri Chaniago (Perhimpunan Pedagang Kaki Lima Indonesia), Wardah Hafidz (Konsorsium Kaum Miskin Kota), Bambang Ismawan (LSM), KH Masdar Mas’udi (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Pesantren), Yenny Wahid (Masyarakat Gusdurian), Komunitas Akar dan Sayap, Komunitas Ciliwung – Institut Ilmu Sosial-nya Romo Sandyawan, Habib Lutfi Yahya dengan Jam’iyyah Ahli Toriqoh Muktabaroh Annahdliyah, Jaringan ‘Ekonomi Syariah’ PIN-BUK beserta ICMI-nya, Masyarakat Slankers, Masyarakat ‘OI-Orang Indonesia’ Iwan Fals, Imam Prasodjo (Komunitas Nurani Dunia), Komunitas ‘Diversity’ Warna Warni, Komunitas Media Ramah Keluarga (MARKA), Hendra Guo (Komunitas Musik Klasik), Muhaji Fikriono (Komunitas Sadari-Ma’rifat Jawa), Ki Grangsang (Komunitas ‘Kawruh Begja’), Robertus Robert, F. Budi Hardiman, Yudhi Latif, Komaruddin Hidayat, Tamrin Amal Tomagola, Soegeng Sarjadi, Ade Armando, Meuthia Ganie Rahman, serta saudara-saudara pejuang kemanusiaan transenden yang otentik beserta komunitasnya, yang maaf tak bisa disebutkan satu persatu.
  7. Politikus Negarawan yang Bernurani dan Pembangun Akhlak Peradaban: Sayuti Assyatri, Romo Sandyawan, Budiman Sujatmiko, Romo Beni Susetio, Djoko Widodo, K.H. Syamsuri Badawi, Pupung Suharis, Sri Lustriningsih (mantan Bupati Karanganyar), Soemarsono Soemarsaid, Rocky Gerung, Sutrisno Bachir, J. Kristiadi, Rieke Dyah Pitaloka.
  8. Kebudayaan: Mohammad Sobari, Emha Ainun Madjid, KH Mustofa Bisri, Al Zastrow, Komunitas Lima Gunung, Iwan Fals, Slank, Slamet Rahardjo, Jen Akadir, Taufik Ismail, Sutardji Kalsoum Bachri.
  9. Hukum: Mahfud MD, Yusuf Manggabarani, Abdurrahaman Saleh (mantan Jaksa Agung), Taufikurrahman Ruki (mantan ketua KPK), Putera Astaman, Abraham Samad (Ketua KPK), J.E. Sahetapi.
  10. Roh Pluralisme-Kemajemukan :Muhammad Arifin, K.H. Masdar Mas’udi, Romo Sastra Prateja, Yenny Wahid, Azzumardi Azra.
  11. Administrasi Publik-Negara ‘Good Governance’ :Eko Prasodjo, Riyas Rasyid.
  12. Iptek: B.J. Habibie, Karlina Supeli, AS Hikam.

Dan masih banyak putra-putra terbaik bangsa yang berintegritas “Kebangsaan-Sosial-Relijius” yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 

     Selama putra-putra terbaik bangsa para ksatria nusantara masih ada, maka masih ada pula masa depan bagi Indonesia. Kita mengharap, merindukan bersatunya mereka, berhimpun dalam satu tujuan bersama membangun MWSI, RKRI dalam NKRI.

     Namun jika masih tetap terpecah-pecah, terbelah-belah dan terpisah-pisah, maka rakyat akan tetap terkurung dalam penderitaan sepanjang sejarah. Seperti yang pernah diwasiatkan oleh pemimpin besar revolusioner-visioner, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah Belanda, tapi perjuangkanmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Maka hanya dengan berhimpun dalam satu barisan perjuangan, sekokoh-kokohnya tiran akan sanggup dirobohkan.

Salam pembaharuan...
El Jeffry

Sumber inspirasi: Achmad Badhawi (kontributor nafaspembaharuan.blogspot.com)

Gagal Ginjal, Tak Sefatal Gagal Mental



      Apa jadinya jika seseorang mengalami gagal ginjal? Kematian adalah hal pasti, sebab ginjal adalah salah satu organ vital. Gagal ginjal, berakibat fatal dengan kematian raga manusia. Namun, dalam hal harkat dan martabat manusia dan kemanusiaan, fatalnya gagal ginjal, tak sefatal gagal mental. Sebab bila gagal ginjal yang berpuncak pada kematian raga-jasad-fisik-material, setelah itu, urusan selesai, dan tidak serta merta menurunkan harkat-martabat citra manusia.

    Namun bila gagal mental, yang mengalami kematian adalah mentalitas, jiwa-ruh-psikis-spiritual. Manusia gagal mental ibarat mati dalam hidup, mayat berjalan, atau dalam legenda dikenal sebagai zombie, hantu teror penebar horor. Manusia gagal mental kehilangan seluruh harkat-martabat-citra manusia sebagai makhluk mulia. Kerusakan dan gangguan mental yang berujung pada tahap gagal (kematian mental), gila. Ia bisa berupa edan, sinting, atau kenthir. Semua sama saja, hilangnya logika dan nurani (akal sehat dan akal budi), yang menjadi indikator kewarasan manusia berperadaban dan berkeadaban.

     Apa jadinya jika orang gila berkeliaran di lingkungan orang-orang waras? Sudah tentu menjadi hantu pengganggu kenyamanan suasana. Lalu bagaimana jika orang gila yang bertabiat merusak? Horor dan teror jelas menjadi petaka. Mati tidak, hidup tidak. Mau di”non aktif”kan alias dimatikan, melanggar hak asasi manusia, karena orang gila juga masih dianggap sebagai bagian dari manusia. Pengobatan untuk memulihkan kewarasan adalah solusi yang   tak bisa ditawar.

     Masalahnya, bila dalam satu komunitas didominasi oleh kelompok orang gila, manusia yang gagal mental, sementara yang masih waras menjadi minoritas. Lha ini baru namanya zaman edan. Bila nggak ikut-ikutanngedan nggak keduman (yang tak ikut menggila tak kebagian). Fatal dan fatal akibatnya. Dan bila orang gila sudah mendominasi suatu komunitas bangsa, bersiaplah menghadapi kiamat negara.

      Gila, sebagai bentuk kegagalan mental manusia, bisa juga berbentuk lain dalam kegagalan mental dewasa. Bangsa autis (keterbelakangan mental) akan terlihat tua dengan usia yang seolah dewasa, namun (seperti sikatakan Gus Dur), mentalnya masih TK, childish-kekanak-kanakan. Seperti bangsa ini, raga nampaknyabongsor dewasa, bahkan kadang seolah sudah tua renta, namun jiwa masih jauh tertinggal di belakang. Gerak paralel jiwa dan raga bangsa ini, bagai perbandingan deret angka dan deret ukur. Maka kita selalau tertinggal dalam dinamika kompetisi peradaban zaman.

      “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya...” Wage Rudolf Supratman telah mengingatkan dengan lagu kebangsaan. Namun 67 tahun lagu dikumandangkan, paduan suara hanya membumbung ke angkasa, gagal merasuk ke dalam dada manusia Indonesia. Bangunan badan menjadi berhala, bangunan jiwa terkubur dalam pemakaman massal kosa kata. Geriap pembangunan materialistik-hedonik-kapitalistik dalam teknologi menggerus dan memberangus spirit pembangunan mental-spiritual bangsa. Tumbuhlah kita menjadi bangsa bermental kurcaci di balik badan kurcaca. Bangsa bermental banci di balik badan ksatria. Bangsa bermental kerdil di ablik badan raksasa.

     Mungkin akan lebih baik bila bangsa ini gagal ginjal. Mati satu, lalu bisa terganti seribu oleh generasi baru, pelanjut manusia Indonesia baru yang lebih sehat, waras, normal. Tapi karena bangsa ini sudah terlanjur gagal mental, regenerasi terhambat, terapi penyembuhan tersumbat, jalan pembaharuan tercegat. Kiamat. Gagal mental juga menjadi penyebab gagalnya regenerasi kepemimpinan negeri. Krisis kepemimpinan nasional, konsekuensi logis dari bangsa gagal mental.

      Sayang seribu sayang. Potensi surgawi yang semestinya menghantarkan bangsa nusantara menjadi raja perkasa “mati sebelum sempat tumbuh berkecambah,” terbekap oleh “kekuatan lama” yang masih dahaga oleh magnet dunia, yang terangkum dalam harta-tahta-wanita. Rumah-ramah-rahmah surga zamrud khatulistiwa, berubah menjadi rumah kaca panas membakar bagai neraka. Gemah ripah loh jinawi tinggal mimpi. Jangankan bermimpi menjadi “adi daya” dunia, menjadi raja di Asia pun hanya fatamorgana.

     Kemiskinan dan pemiskinan, kebodohan dan pembodohan, kehancuran dan penghancuran, penjajahan baru terkordinasi rapi dalam “Nekolim-Korporatokrasi lokal-global.” Potret terkini bangsa gagal mental. Republik zombie, sesama anak negeri saling kanibal. Bangsa kering kerontang dari nilai-nilai adiluhung norma-etika-moral. Gagal mental menjadi epidemi nasional, dengan daya rusak ribuan kali lipat dari gagal ginjal. Sayang seribu sayang, yang terawariskan dari setiap generasi hanya daya pandir dan daya bebal.

    Bung Karno pernah berpesan, “Jasmerah,” jangan sekali-kali melupakan sejarah. Namun pesan luhur dianggap pepesan bubur. Generasi reformasi durhaka pada sejarah dan ibu pertiwi, lupa pada lagu kebangsaannya sendiri. Karma suci dari hukum kekekalan energi, hari ini kita sebagai bangsa menanggung “penyakit” warisan kerusakan fatal organ vital tubuh negara-bangsa, gagal mental.

     Dan kini kita harus berpikir keras untuk membalikkan karma bansga, menyulam kembali kain sejarah yang terkoyak robek sana-sini, terapi mental nasional. Jika hari ini kita masih juga gagal menangkap pesan-pesan alam yang langit kirimkan dalam ragam peristiwa Indonesiana, maka kita akan gagal menjadi bangsa sejati berharkat-martabat-citra layaknya manusia, dan kita mesti rela menjadi bangsa mainan, palsu, imitasi, aliasabal-abal.

Salam...
El Jeffry

Monday, October 29, 2012

Dahlan Iskan, “Ahlan Wa Sahlan” di Negeri Kemunafikan




     Meskipun agak terlambat, kami, rakyat Indonesia yang masih merindukan kejujur-polosan kepemimpinan apa adanya, mengucapkan kepada Anda, “ Ahlan wa sahlan,” selamat datang di negeri kemunafikan. Sebagai keluarga besar bangsa-negara, kami rindu figur pemimpin yang berlaku sebagai ahlun, layaknya keluarga. Kami juga rindu pada sahlun, kemudahan dalam segala urusan.

     Dahlan Iskan, salah satu anak negeri yang telah sekian lama berkelana dalam dunia pewartaan berita, menyusup ke setiap relung-relung peristiwa, menggali ke dalam kejadian bumi pertiwi, menangkap kabar dalam jutaan permasalahan bangsa, lalu merangkumnya dalam kitab kejadian Indonesia. Tentu lebih memahami cara membaca raut wajah Indonesia, sehingga kini dipercaya sebagai menteri BUMN di kabinet SBY.

      Ahlan wa sahlan yang Dahlan Iskan, selamat datang di kenyataan. Belum lama Dahlan melemparkan bola panas, pernyataan yang membuat kuping anggota dewan memanas. Konon kabarnya, anggota DPR adalah komunitas para pemeras. BUMN, Badan Usaha Milik Negara, yang nota bene adalah pilar utama ekonomi hak milik rakyat, menjadi pelengkap penderita dari keganasan insting hedonis-kapital wakil rakyat.

    DPR memeras BUMN. Pantas saja, negara ini kering kerontang bak kain kasa dijemur kepanasan, habis diperas lalu dikeringkan. Pantas saja, BUMN menjadi sapi perah yang kurus kering tinggal tulang, setelah susunya dieksploitasi oleh negara, lalu hasil dijadikan bancakan bersama, para anggota dewan yang (konon) terhormat, wakil rakyat. Pantas saja, ya pantas saja, yaa pantas saja.

     Karena bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, (yang) dikuasai oleh negara dan (seharusnya) digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, kini jauh dari arah memakmurkan rakyat. Melainkan menggemburkan pundi-pundi pejabat, termasuk wakil rakyat. Energi bumi pertiwi dikhianati, rakyat dikhianati, negara dikhianati, apatah arti amanat bagi negeri ini?

    Tapi kejujur-polosan seorang Dahlan tak urung membuat DPR berang. Tuduhan Dahlan menyinggung perasaan DPR, itu yang diucapkan Kang Juki (Marzuki Ali-Ketua DPR). Kami baru tahu, ternyata DPR juga punya perasaan. Aneh tapi nyata, pemerasan ternyata bertalian erat dengan perasaan. Tapi ketersinggungan menjadi semakin aneh, karena yang tersinggung bukan rakyat (BUMN) sebagai korban pemerasan, tapi justru wakil rakyat (DPR) yang menjadi pelaku pemerasan.

   Kang Juki lupa, bahwa perasaan kami jauh lebih tersinggung, bahkan dipuncak ketersinggungan, kalau tidak dikatakan kemarahan, atau lebih sopan bila kami katakan kemuakan berkepanjangan. Bahwa wakil rakyat yang telah kami titipi amanat, justru dibalas dengan khianat. Berapa banyak anggota dewan yang (konon) terhormat justru berperilaku selayaknya manusia tanpa harkat-martabat. Kong kalikong, pat gulipat, di balik surat-surat menyikat hak-hak rakyat. Berapa banyak anggota DPR yang terlibat mafia anggaran, main proyek, objek sana-sini, suap menyuap, hingga terseret kejahatan luar biasa, korupsi. 

     Sebagiannya masih dalam tahap pendugaan, pengejaran, penyidikan. Sebagian lainnya sudah menjadi tersangka, terdakwa dan terpidana mendekam di balik jeruji penjara.
Tapi Kang Juki, yang kami anggap sebagai representasi wakil rakyat, telah tersinggung. Kami jadi bingung, atau memang Kang Juki yang linglung? Kok dia masih berani-beraninya bertanya, “Pernah tidak saya minta-minta?” Lebih hebatnya lagi, Kang Juki menantang, “Kalau ada, saya ganti sejuta kali, atau mending bunuh diri! (jika terbukti)” Luar biasa. Jadi ingat tantangan Anas (Ketum PD) untuk digantung di Monas jika terbukti terlibat kasus korupsi Hambalang. Blaiii...!

    Oalaaah,,, memang ternyata inilah potret kelam negeri penuh kemunafikan. Apa hendak dikata? Retorika menjadi senjata utama untuk para pemimpin negeri ini bekerja, tak peduli hingga mulut berbisa tak ada rakyat yang percaya. Mungkin ini yang namanya “Sindroma B3” stadium lima. Budeg-Buta-Bindeng. Malfungsi telinga, disfungsi mata, dan infeksi organ bicara sehingga gagal bertata bahasa dengan sempurna.

      Sepertinya Kang Juki dan anggotanya sedang tertidur pulas di gedung Senayan. Mungkin karena kelelahan pelesiran seharian, kelewat penat habis berdagelan debat di rapat-rapat. Atau memang bisa dan tahunya cuma begitu, wakil rakyat itu ya datang, duduk, tidur. Bukankah ada anekdot rakyat, bahwa tidur juga adalah sebagian dari pekerjaan? Sayangnya, gaji tidur tak lebih baik dari gaji buta, sama-sama sebagai profesi pekerja, tapi suatu pengingkaran akan harkat manusia, bahwa “Rezeki terbaikmu adalah yang kauperoleh dari cucuran keringatmu!”

     Etos kerja minimalis, mental pesimis-apatis, moral kembang-kempis, namun overdosis syahwat keserakahan-kemewahan-kesenangan materialistik. Akhirnya ambil jalan pintas, cari puas asal terabas, mumpung posisi di atas, apapun dilibas hingga tuntas tanpa tersisa ampas. Bablas. Tak terkecuali DPR, anggota dewan yang (konon) terhormat. Meraih kekuasaan sebagai “penumpang gelap” kendaraan partai politik “abal-abal” dan ogah “berdarah-darah” memperjuangkan aspirasi rakyat.

    Suap sana suap sini untuk beli suara waktu pemilu, dengan uang curian pula. Obral sumpah-janji dalam kampanye-orasi, tebar fitnah sana-sini, sikut kanan-kiri, untuk satu tiket terhormat, wakil rakyat. Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa. Bila sejak dari bawah melangkah dengan cara tak bermartabat, tentu setelah berhasil duduk di atas juga mustahil bisa bermartabat. Parodi wakil rakyat, parade buto cakil pengkhianat.

     Kita tak memungkiri, di antara lumpur hitam masih ada mutiara terpendam. Pun dengan wakil rakyat, diantara mereka yang telah berkhianat, tentu masih ada para anggota dewan yang benar-benar terhormat, menunaikan amanat, berpegang erat-erat pada perjanjian suci dengan rakyat. Namun sayangnya, jumlah anggota dewan yang masih ma’shum (terjaga fitrahnya) dengan yang sudah tercemar perilaku mesum (ternoda-dosa), tidak proporsional untuk dikatakan sebagai dewan yang sehat sebagai representasi dari suara rakyat.

     Seribu satu, dalam seribu, mungkin hanya ada satu. Lalu jika yang satu baik ini terdeteksi, ramai-ramai dikeroyok, disingkirkan, karena hanya akan menjadi “duri dalam daging” bagi syahwat pengkhianatan wakil rakyat. Sudah menjadi nasib kami, rakyat Indonesia terkini, mau apa lagi? Konsekuensi dari hukum wolak-walik zaman edan.

     Yang amanat terhadap rakyat dianggap sebagai pengkhianat. Dan yang berkhianat terhadap rakyat, dianggat sebagai amanat. Resiko hidup di negara gila, sebab akal sehat telah terkelupas dari kepala. Tak ada akal sehat di kepala wakil rakyat di Senayan. Tak beda dengan orang tidur, pulas sepulas-pulasnya hingga hilang kesadaran dan kedap suara. Karena itu jika ingin membangunkan, tamparan adalah cara terbaik.

      Pernyataan Dahlan Iskan tentang DPR yang kerap memeras BUMN, mungkin memang telah menampar wajah DPR yang tertidur. Terasa menyengat, panas dan pedas. Dan kemarahan adalah reaksi alami dari orang yang tertampar, meski sang penampar beritikad baik, berangkat dari ikatan emosional nasional sebagai sesama anggota keluarga besar bangsa, hendak membangunkan kesadaran dari kemunafikan. Bahwa banyak urusan negara-bangsa yang harus diselesaikan, dan semua berharap agar dimudahkan, ahlan wa sahlan.

    Dan bagi Dahlan Iskan, kembali kami ucapkan salam penghormatan untuk sebuah tamparan kejujur-polosan atas DPR yang tertidur lelap dalam kemunafikan. Selamat datang di dunia zaman edan gedung Senayan. Kami di sini masih merindukan tamparan-tamparan lanjutan yang lebih menyengat, lebih panas dan lebih pedas, sampai para wakil kami yang tertidur di Senayan benar-benar terbangun, bangkit dalam kesadaran. Sebagai ahlun-keluarga besar bangsa-negara, agar sahlun-urusan dimudahkan dengan semudah-mudahnya, ahlan wa sahlan ya Dahlan Iskan.

Salam...
El Jeffry


Sunday, October 28, 2012

Spirit Pemuda dan Industri Politik Lansia



      Gelaran ”Republik kethoprak setengah babak” belumlah usai. Hari ini, kita baru memasuki fase kedua dari berpuluh-puluh fase perjalanan sejarah bangsa dalam bertata negara-kota. Fase pertama, telah berlalu. “Bayi merah” nusantara, cikal-bakal seorang bocah yang kelak bernama NKRI, sejatinya baru terlahir 84 tahun silam. Sumpah pemuda 28 Oktober 1928, sebuah ikrar berkumandang, seumpama suara azan daniqamat di dua telinga saat kelahiran seorang anak manusia. 

      Nafas berhembus, gerak kehidupan bertanah air-bangsa-bahasa dalam satu ikatan. Sintesa-sinergi dari seluruh komponen negeri, putra dan putri bumi pertiwi dalam satu nama Indonesia, manifestasi dari embrio yang tersimpan selama 20 tahun di rahim suci, ketika ruh kebangkitan pertama kali ditiupkan pada 1908. 

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. “Bayi merah nusantara” tumbuh sehat menjadi bocah bangsa bersemangat hidup menggelora. Sedikit binal dan nakal namun tetap fenomenal, tumbuh remaja dalam penindasan zaman sebagai korban “kerakusan” imperial-kolonial Eropa-Belanda. Sang bocah jatuh bangun “berdarah-darah” hingga megerti arti kata “merdeka” tepat memasuki usai dewasa. Selang 17 tahun setelah lahir lewat Sumpah Pemuda, gerbang akil-baligh bangsa terbuka dengan proklamasi merdeka 17 Agustus 1945.

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen perisitiwa. Dua dasa warsa di era orde lama kembali menggodog bangsa dewasa-merdeka. Kawah candradimuka menempa, bangsa ini kembali “berdarah-darah” jatuh-bangun tertatih-tatih untuk sekadar lulus dari seleksi alam eksistensi negara-kota republik hingga 1965. Paruh pertama fase sejarah baru saja dilalui. Lalu bangsa ini mengulang penderitaan, terbenam dalam kawah candradimuka “model baru.” Orde baru merentang waktu 33 tahun. Seperti biasa, jatuh-bangun, tertatih-tatih dalam derita pedih-perih, “berdarah-darah” untuk ke sekian kalinya.

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. Berkat tuah angka 7, tepat 70 tahun pasca kelahiran “bayi merah” nusantara 1928, bangsa ini membuka lembar sejarah baru. Siklus renaissancenusantara pasca 90 tahun ruh kebangkitan pertama pada 1908. Orde reformasi, 1998 menjadi tongak sejarah terindah bangsa dewasa merdeka. Gegap gempita, euforia, pesta “dansa” demokrasi extravagansa. Tsunami kebebasan kebebasan berekspresi-kreasi atas nama demokrasi menjebol tembok batasan-batasan. 

        Gelora spirit reformasi, seperti geloranya spirit Sumpah Pemuda 1928 pada 70 tahun silam, seperti geloranya spirit kemerdekaan 1945 pada 53 tahun silam, seperti geloranya spirit penghancuran ideologi komunisme 1965 pada 33 tahun silam. Prolog ”Republik kethoprak setengah babak” menjadi pertanda fase kedua “trial and error” sejarah tata negara-kota. Spirit pembaharuan, dengan pemuda dan kepemudaan menjadi pilar kekuatan utama pendobrak tiran penderitaan berkepanjangan. Mahasiswa sebagai simbol protagonisme manusia terajar-berkecerdasan-berpendidikan, selalu menjadi godam pendobrak tembok baja “zona nyaman kekuasaan,” dari Boedi Oetomo 1908, “Jong-Jong entitas” elemen nusantara 1928, pasukan “merdeka atau mati” 1945, HMI 1965, hingga mahasiswa Trisakti 1998.

        Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. ”Republik kethoprak setengah babak” belum usai, meski 14 tahun telah lewat dari monumen bersejarah “kelabu” reformasi 1998. Tiba-tiba hari ini bangsa ini seakan kehilangan spirit pemuda dan kepemudaan dan spirit kecerdasan terdidik-terajar kemahasiswaan. Bendera setengah tiang berkibar di tiang panjang, ditengah lapang. Negara ini masi setengah matang, kalau tidak dikatakan bantet, atau gagal tanak dalam proses ramu masak. 

        Krisis kepemimpinan nasional menjadi lingkaran setan kegagalan total pembaharuan. Tak jelas ujung atau pangkal, hulu atau muara, krisis kepemimpinan bisa sebagai sebab dari seluruh sebab lanjutan, bisa juga sebagai akibat dari alur sesat sejarah silam. Yang pasti, spirit kepemudaan seperti ditunjukkan pada sumpah pemuda 1928 kini makin sayup-sayup terdengar. Tepat 84 tahun berselang, kini bangsa ini sunyi senyap dari geriap gelombang perjuangan “berdarah-darah” heroisme protagonis pemuda dan kepemudaan khas nusantara.

      Bendera setengah tiang, kita layak berbelasungkawa atas mati surinya “bayi merah nusantara” yang sejatinya telah tumbuh dewasa-perkasa sebagai jejaka-ksatria-prawira tumpuan kejayaan bangsa. Tawaran berujung tawuran. Gagal berdiplomasi berkeadaban tinggi, logika-hati mati, akal sehat dan akal budi terkunci, kekerasan fisik menjadi solusi. Negara hilang bentuk, dan remuk. 

      Korban nyawa sia-sia pelajar dan mahasiswa akibat tawuran primitif tak jua menggugah kesadaran jiwa bersama. Padahal setiap tahun peristiwa yang sama selalu berulang, persis, sama dan sebangun, kurikulum pendidikan nasional selalu mengalami penyempurnaan. Tapi paradoksal,  kontradiktif dan kontraproduktif dengan hasil di lapangan. Hingga kita tak percaya bahwa sejatinya dalam usia yang semakin dewasa, kita telah gagal sebagai bangsa, negara-kota, keluarga, dan bahkan gagal sebagai manusia.

        Di mana Indonesia? Di mana persatuan tumpah darah-tanah air, bangsa dan bahasa yang di-azan-iqamat-kan sebagai ikrar tali pengikat negara-kota saat “bayi merah nusantara” dilahirkan pada 1928? Hari ini kita terjebak hidup di “negeri zombie.” Eksodus mayat hidup bergentayangan, menuju satu pusaran jahiliyyahkekuasaan dalam industri politik lansia (lanjut usia). Kita yang sudah defisit leader berkarakter, diperparah dengan over stock dealer dan broker, di hampir seluruh elemen politik, kepartaian, kelembagaan, instansi dan institusi kenegaraan dan kemasyarakatan.

      Para pemimpin berkeadaban bersukma kerakyatan negarawan sejati yang diteladankan oleh 3 generasi 1908, 1928 dan 1945 menguap ke langit tinggi, gagal bertranformasi dalam proses regenerasi anak negeri. Pemimpin produk terkini, pasca 1998 didominasi oleh kaum kurcaca-buto-raksasa ala batara kala, dengan syahwat klasik kebinatangan serigala. Homo homini lupus, saling terkam, saling tikam dan saling makan hanya untuk pemenuhan naluri kekuasaan, pelampiasan ego primordial partikular sempit-pendek.

        Lihatlah di sana, elit-elit politik yang berparade akrobatik layaknya parodi topeng monyet, bangunan negara-bangsa makin rusak dengan dalam dan berlipat-lipat. Fitnah zaman edan, fitnal dajjal-iblis atas nama demokrasi, namun berkhianat terhadap ruh suci demos-cratein. Daulat rakyat sirna, pertarungan berebut tahta dan kemenangan penuh muslihat ala sihir antek-antek Fir’aun membudaya. Sayang seribu sayang, kegagalan regenarasi kepemimpinan ksatria-prawira nusantara melahirkan produk gagal kepemimpinan lansia.

        Bukalah lembar wacana pemilu-pilpres 214, maka akan terlihat “muka-muka lama” yang berkamuflase dengan casing baru dipenuhi oleh generasi lansia. Contoh kecil, lihatlah berita beberapa lembaga survei akhir-akhir ini. Tiga nama mencuat sebagai kandidat terkuat capres 2014, Prabowo Subianto (Gerindra), Megawati Soekarnoputri-Mega (PDI-P), Prabowo Subianto (Gerindra) dan Aburizal Bakrie-Ical (Golkar). Ketiganya adalah produk pemimpin lansia. Bukankah memasuki masa-masa pasca 60 tahun adalah fase-fase akhir usia senja, kalau tidak dikatakan tua atau renta?

         Hari ini, Mega memasuki usia ke-65 (lahir 23 Januari 1947), Ical 66 (lahir 15 November 1946), dan Prabowo 61 (lahir 17 Oktober 1951). Pertanyaannya, dapatkah negeri dengan lebih dari 240 juta jiwa yang tengah carut-marut dengan “sejuta satu problema” dapat diatasi dengan spirit dan energi manusia, kecuali hanya sisa-sisa belaka? Di mana spirit perjuangan kepemudaan PDI-P yang “berdarah-darah” melawan tiran kekuasaan orde baru? Di mana pula spirit kekaryaan kepemudaan Golkar yang “berpayah-payah” menumbangkan orde lama untuk membangun Indonessia baru? Di mana pula spirit kerakyatan Gerindra yang “bersusah-susah” merebut dukungan rakyat untuk Indonesia baru?

      Industri politik telah menggusur cita-cita mulia dan makna suci politik republik sejati. Bahwa politik adalah,polis (πόλις) , politika (Πολιτικά)policypolitics-polite, kearif-bijaksanaan bertata negara-kota demi kemalahatan publik-rakyat, strategi memegang amanat kakuasaan yang dilandasi etika-moral-kesopanan berkedaban. Industri politik telah menggeser arah tata negara-kota yang otentik menjadi lahan niaga liberal kapitalistik yang menempatkan insting buas keserakahan manusia dalam simbiosis iblis  harta-tahta. 

    Kepentingan, kebutuhan dan keinginan ego partikular-kelompok memberangus kepentingan, kebutuhan dan keinginan yang lebih besar dan mulia sebagai tujuan bersama berdirinya negara-kota Indonesia. Maka ketika politik di negeri ini telah menjadi komoditi dan transaksi untung rugi ala dagang sapi, generasi lansia niscaya akan selalu buas dan nggragas untuk tetap tampil berkuasa. Hukum klasik spesies manusia, kompetisi mengeruk harta merebut tahta tak akan pernah sirna sebelum liang lahat menjadi kuburnya.

       Waktu berputar membentuk fragmen-fragmen peristiwa. Dan hari ini kita sebagai bangsa perlu sejenak mengingat kembali sejarah 84 tahun silam. Ikrar Sumpah Pemuda menjadi tonggak pertama persatuan kebangsaan demi cita-cita bersama negara merdeka, 28 Oktober 1928. Sedikit flashback, 7 abad silam Mahapatih Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara di bawah bendera Majapahit lewat Sumpah Palapa pada 1336. Jika masih tersisa cita-cita meraih kembali kejayaan bangsa nusantara, mungkin kita perlu membuat ikrar baru dengan spirit kepemudaan sejati. Sumpah paripurna, lebih dari dua legenda sumpah sebelumnya, dengan “Sumpah Ketiga Nusantara.”

Salam...
El Jeffry

Saturday, October 27, 2012

Koruptor, Peradaban dan Hantu Monas




    Alkisah, suatu hari sekelompok makhluk luar angkasa yang berasal dari planet antah berantah berperadaban dan teknologi super tinggi, tengah mengadakan observasi ke planet primitif yang masih eksis di jagad raya. Ketemulah bumi sebagai objek yang pas. Setelah melewati berbagai seleksi negara mana yang akan dipilih, jatuhlah Indonesia sebagai sample terbaik dari kehidupan peradaban manusia di bumi. 


     Observasi dilakukan selama 8 abad (padahal hanya berkisar antara 8 pekan dalam hitungan teknologi mereka). Dirangkumlah pigmen-pigmen peristiwa dalam rangkaian sejarah nusantara. Dan dijadwalkan dalam rentang waktu berdirinya kerajaan Singasari pada tahun 1222, tepatnya sejak peristiwa legendaris”Mpu Gandring Gate” dan baru akan berakhir pada tahun 2022. 

     Dari grafik yang tercatat dari tahun ke tahun, ada fenomena yang menarik, unik dan eksentrik dari gerak perjalanan sejarah nusantara ini, sebagai sebuah anomali. Pertanyaan misterius yang masih belum terjawab, bagaimana grafik peradaban “tanah surga dunia” ini menunjukkan fluktuasi. Secara umum, dalam rentang 790 tahun (hingga hari ini, Sabtu, 27 Oktober 2012) setidaknya nusantara telah mengalami 2 periode fluktuasi peradaban.

    Periode pertama adalah ketika Majapahit, yang berdiri hampir 200 tahun (1292-1500) mengalami puncak kejayaan pada abad ke 14, pada era Raja Hayam Wuruk, ditandai ketika Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa pada 1336. Wilayah nusantara berhasil disatukan di bawah panji-panji kerajaan Majapahit. 

    Periode kedua baru berulang 6 abad kemudian, tepatnya 609 tahun ditandai dengan proklamasi kemerdekaan NKRI pada 17 Agustus 1945. Tentu setelah melewati rangkaian panjang gerak perjalanan sejarah pasca runtuhnya Majapahit pada awal abad 16, seiring dengan kedatangan bangsa Eropa dengan imperialisme dan kolonialismenya. Berbarengan pula dengan menguatnya pengaruh Islam dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam nusantara yang masing-masing sempat berjaya secara bergantian dalam wilayah regional.

     Puncak peradaban periode ke-2 dalam 800 tahun ini dikenali dengan duet proklamator Soekarno-Hatta, presiden dan wakil presiden pertama, nyaris mengulang kejayaan Majapahit era duet Hayam Wuruk-Gajah Mada sebagai Maharaja dan Mahapatih. Nusantara berhasil dipersatukan di bawah panji-panji NKRI, dan generasi 45 (yang rata-rata dilahirkan tahun 1900-an) dinilai sebagai generasi terbaik bangsa nusantara. Generasi ini pula yang mampu menggugah kebangkitan Indonesia pada 1908, menggugah kesadaran kebangsaan pada 1928, dan berpuncak pada proklamasi 1945.

    Era 1945 dinilai sebagai puncak peradaban nusantara karena menghasilkan manusia-manusia terbaik, pilihan, hasil “seleksi alam” kawah candradimuka penderitaan bangsa selama 3,5 abad di bawah penindasan Kompeni Belanda. Kesadaran kebangsaan, spirit pembebasan, menggeliatnya pendidikan, gelora perjuangan yang didasarkan pada semangat persatuan dalam kebhinnekaan. Di era inilah berhasil dibangun formula khusus ideologi nasionalisme-humanisme universal rahmat metta karunia “satu untuk semua semua untuk satu” Bhinneka Tunggal Ika. Konstitusi adiluhung UUD 45 dan falsafah agung Pancasila menjadi fondasi sempurna bagi bangunan peradaban negara-bangsa.

    Sayangnya, 1945 menjadi antiklimaks dari gerak pendakian peradaban nusantara. Grafik peradaban justru kembali turun secara teratur dari tahun ke tahun, dari dekade ke dekade, dari orde ke orde. Orde lama, lalu orde baru. Dan orde reformasi menjadi titik nadir peradaban bangsa ini. Sangat kontradiktif dengan cita-cita dan perjuangan yang digulirkan rakyat dan mahasiswa. Alih-alih hendak membukan gerbang kemerdekaan yang masih terkunci selama 53 tahun, reformasi 1998 justru semakin membenamkan peradaban nusantara ke dalam kubangan terhina.

     Pembusukan, perusakan, pencideraan, pemiskinan dan pembodohan berjalan secara sistemik dan sistematik. Alhasil, dalam kurun 14 tahun sejak 1998 hingga 2012, nusantara seakan menjadi negara-bangsa yang kehilangan peradaban terbaiknya. Potret hitam kelam wajah bangsa berpenduduk terbesar ke-4 di dunia sejumlah lebih 240 juta jiwa. Sekilas dari luar terlihat gagah perkasa, namun negara-bangsa ibarat raga tanpa nyawa, jasad tanpa ruh, bangunan materi tanpa ruh penghuni.

     Indonesia terkini adalah paradoks dan ironi. Apa yang nampak di luar, berbanding terbalik dengan apa yang tersembunyi di dalam. Negara yang penduduknya taat dalam agama, namun lebih buruk dari negara kafir-komunis atheis. Padahal agama adalah jalan bagi pengenalan Tuhan. Dan Tuhan, dengan segala kesempurnaan adalah pemilik bumi yang tentunya berkehendak mengunggulkan umat-bangsa yang mempercayai-Nya ketimbang mereka yang mengingkari-Nya. Ambivalensi, wajah ganda, ketaksaan makna, kemunafikan ternyata menjadi sumber penyebabnya.

     Negara hilang bentuk dengan tatanan yang remuk. Negara tanpa arah dan berkhianat dari amanat sejarah. Habibie berkata, ”Quo Vadis Indonesia?” Ibarat aura hitam raksasa Dasamuka, setidaknya ada paradoks 5 wajah ganda Indonesia. Kaya tapi miskin (kaya sumber daya alam, miskin penghasilan). Besar tapi kerdil (besar wilayah dan penduduk, kerdil produktivitas dan daya saingnya). Merdeka tapi terjajah (merdeka secara politik, terjajah secara ekonomi). Kuat tapi lemah (kuat dalam anarkisme, lemah dalam menghadapi tantangan global). Indah tapi jelek (indah potensi dan prospeknya, jelek dan korup dalam pengelolaannya).

     Akhir kisah, para ahli makhluk luar angkasa tersebut menemukan sebuah jawaban atas anomali fenomena bangsa ini. Carut-marut, tumpang-tindih, silang-sengketa, dan kerusakan sistemik-sistematik tatanan kehidupan multi dimensial menjadi penyebab runtuhnya peradaban mulia nusantara. Dan semua bermula dari wabah endemik “korupsi.” Celakanya, korupsi nusantara (yang sejatinya tak pernah lepas sebagai penggoda peradaban manusia) telah mahir beradaptasi dalam segala situasi. Ia juga sukses bermutasi dan ber-evolusi menjadi “gurita raksasa” yang imun terhadap segala terapi. 

     Ia juga kadang berubah bentuk dalam bentuk virus, kuman, baksil dan bakteri sehingga nyaris tak pernah gagal menginvasi dan menginfeksi organ tubuh bangsa, hingga mengakuisisi hak prerogatif akal sehat manusia berperadaban Indonesia. Dari hasil observasi 790 tahun makhluk luar angkasa ini, akhirnya disimpulkan kenapa “korupsi” menjadi kejahatan luar biasa. Ternyata korupsi adalah reinkarnasi dari setan yang menyerang perilaku manusia, tak peduli ia percaya atau tidak kepada Tuhan pencipta setan itu sendiri.

Tak mengherankan jika korupsi bekerja super misterius bagai siluman atau hantu yang menteror peradaban manusia Indonesia. Jika ingin meringkus koruptor (spesies manusia yang membelot menjadi antek-antek hantu korupsi), maka cobalah untuk menangkap “Hantu Monas.” KPK kini menjadi senjata pamungkas “perang abadi” melawan korupsi. Tidak ada salahnya jika digagas sebuah ide gila “ruwatan nasional” untuk merubah nama lembaga ini menjadi KPH, alias Komisi Pemburu Hantu. Mekanisme kerjanya, bisa meniru film pemburu hantu Ghost Buster, tinggal improvisasi sesuai situasi dan kondisi terkini.

Dan sambil observasi kapan momentum yang tepat kemunculan “Hantu Monas” kita bisa menunggu hari saatnya tiba seorang tokoh yang akhir-akhir ini tengah meramaikan desas-desus perkorupsian negeri, untuk memenuhi tantangan “berani mati” digantung di Monas. Siapa lagi kalau bukan Anas? Bila Anas terbukti terlibat korupsi, maka hukum karma niscaya terjadi, hukuman mati bagi koruptor, di gantung di Monas. Hampir bisa dipastikan, penggantungan mati koruptor di Monas akan jadi monumen maha penting bagi pembongkaran massal “komunitas hantu korupsi” dari negeri ini. 

Dan KPK (yang jika berubah menjadi KPH) akan bisa memburu para koruptor setelah “Hantu-hantu Monas” lain mulai gentayangan pasca penggantungan Anas. Kapankah itu terjadi? Tunggu saja hingga sekelompok makhluk antariksa menyelesaikan observasinya atas peradaban nusantara hingga 10 tahun mendatang pada 2022. Semoga peradaban yang hilang dari nusantara masih bisa kembali dibangkitkan seperti pada 1908, dan semoga saja Tuhan masih “bersabar” untuk tidak bersegera membenamkan negeri ini ke perut bumi pertiwi, hanya karena selalu terlambat menangkap makna di balik pesan-pesan suci.


Salam...
El Jeffry


Friday, October 26, 2012

Altruisme Idul Adha dan Banalitas Politik Rimba



       Membaca wajah Indonesia di dasawarsa awal abad 21, seperti membaca rangkaian gerbong kereta kosa kata. Satu tubuh berkepala dua dengan arah saling berlawanan. Satu ke kiri, satu ke kanan. Satu di depan, satu di belakang. Kepala dan ekor sama dan serupa, maju dan mundur tak berbeda, ujung dan pangkal sama bentuknya. Ironis, paradoksal dan saling menegasikan kutub satu dengan lainnya.

      Umat-bangsa sebagai penumpang kereta yang absah terpenjara dalam gerbong masa, tanpa tahu ke mana arah tujuan masinis menuju stasiun akhir bertata nagara-kota. BJ. Habibie memotretkan dalam 5 tanda tanya tebal pekat, kebingungan rakyat,  rakyat, parpol dan bekas presidenku. Mau di bawa ke mana negara-bangsa? Quo vadis Indonesia?

     Quo vadis, dilema anak negeri karena epidemi ambivalensi tingkat tinggi, kegandaan wajah umat-bangsa, ketimpangan menganga antara nilai-nilai ideal dan nilai-nilai aktual. Kita berkaca di depan cermin cekung. Atas menjadi bawah, benar menjadi salah, kehina-dina-nistaan menjadi kemuliaan-karamah.

     Persis nubuah Jangka Jayabaya, kita memasuki era zaman edan, wolak-walike zaman, pembalikan terstruktur dan terkultur logika fitrah manusia. Ketika akal sehat hilang dari kepala, maka ikhlaskanlah untuk berjamaah hidup di “negara gila.” Kegilaan sebuah komunitas telah membalik bangsa beradab menjadi bangsa biadab, bangsa berbudaya menjadi bangsa terpedaya. Ruh agama menghilang dari raga negara. Negara tinggal sebongkah bangunan mewah rumah kaca tanpa penghuni, pembanguan materialisme wadag-kasar, fakir cita rasa, miskin estetika.

     Potret kelam wajah bangsa terkini, Paradoks Negeri “Sejuta Satu Haji.” Dalam sejuta haji hanya ada satu haji sejati. Seperti negeri “Sejuta Satu Janji,” dalam sejuta hanya ada satu janji sejati. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan sisanya belum paripurna menunaikan haji. Seperti belum paripurnanya negeri ini dalam menunaikan janji. Janji pada Tuhan, janji pada agama, janji pada negara, janji pada manusia, dan janji pada diri sendiri.

     Sebagai umat-bangsa, kita telah memasuki fase gagal agama dan gagal negara, muara dari gagal keluarga dan gagal manusia. Keberagamaan (baca: keislaman) hanya sebatas kesalehan simbol-simbol pagan, casing dan ritual-seremonial, dan belum sanggup menembus kesalehan esensial, fitur dan sosial komunal. Zuhijjah bulan haji yang berpuncak dalam hari raya Idul Adha di hari ini menjadi saksi paradoks dan ironi.

     Negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan 85% penduduk muslim sebagai mayoritas dari 240 juta jiwa manusia Indonesia, praktis Islam hanya terlihat indah dan sempurna di atas lembaran teks, terma, dogma dan wacana, namun gagal mentransformasi dalam perilaku keseharian secara nyata.

     Lebih miris dan tragis, ketika sebuah penelitian sosial tentang Keislaman Indonesia bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menempatkan negara ini dalam urutan ke-140 sebagai islami di antara 108 negara. Ironisnya, ranking pertama negara islami justru ditempati oleh negara non muslim Selandia Baru. Sedangkan negara Barat yang juga non muslim, justru dinilai lebih islami, diantaranya adalah Kanada yang berada di ranking ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25). 

      Sebuah tamparan panas yang seharusnya tidak mengejutkan, terutama bila kita benar-benar mencermati keislaman umat-bangsa ini dari sudut pandang sejarah dengan hati bening tanpa syakwasangka. Paradoks dan ironi yang sejatinya nyata-nyata mencolok mata, hanya saja kita telah terlanjur terjangkiti sindroma “tuding kambing.” Cari kambing hitam atas suatu kesalahan, kelemahan dan kegagalan.

      “Buruk muka, cermin dibanting” kerap menjadi jawaban atas “peringatan alam.” Jika ada kritikan tajam menyerang Islam, kita sebagai muslim cenderung melihatnya sebagai permusuhan dan tindakan pendiskretidan Islam. Dan kita hampir tak terpikir untuk mengambilanya sebagai bahan pelajaran dan peringatan untuk evaluasi diri, refleksi dan introspeksi.

      Potret kelam wajah Islam akan terlihat gamblang jika kita mencermati dunia perpolitikan negeri ini, khususnya pasca reformasi 1998. Meski pertalian sejarah dan sebab akibat berjalan seiring dan saling berkaitan dalam perjalanan keislaman umat-bangsa ini. Namun era pasca reformasi tak bisa diingkari sebagai “titik nadir” peradaban bangsa ini. Carut marut kehidupan di segenap lini, ideologi, ekonomi, sosial budaya dan politik, bagaimanapun tertuju pada satu titik umat muslim sebagai “kekuatan mayoritas” tiang penyangga negara-bangsa.


       Satu hal yang hilang dari bangunan bangsa ini adalah ruh altruisme, pengorbanan yang menjadi intisari dari ajaran universal agama-agama di dunia. Dan baru bisa mengikat Islam dalam label “agama sempurna-terbaik di dunia” yang telah Tuhan menangkan atas segala agama. Namun kita gagal meng-ejawantah-kan ajaran agama paripurna dalam realita, sehingga akhirnya gagal pula menjadi “The Best Community”-khairu ummah-umat bangsa-komunitas terbaik. Lebih ekstrem dikatakan sebagai umat terbelakang dan tertinggal, kalau tidak sebagai umat terburuk.


     Dalam ranah perpolitikan terkini, spirit altruisme yang telah diteladankan oleh “Bapak Para Nabi” Ibrahim as. abad 19 SM (yang menjadi inti sari dari ritual tahunan ibadah haji berabad-abad hingga hari ini), nyaris tak dijumpai lagi. Panggung politik, terlebih menjelang pemilu 2014, hanyalah serial drama parodi dan parade kebinalan dan kebanalan antar serigala yang saling memangsa dalam kejamnya hukum rimba.


     Syahwat dahaga tahta-kuasa elit politik (politikus-politisi) telah menggerus sedemikian menggila nilai-nilai fitrah bertata-agama tata-negara. Daulat rakyat res-publica sebagai agama public bonum publicum terkebiri. Pemerintahan (dari-oleh-untuk) rakyat demos-cratein terabrasi. Kemaslahatan umat-rakyat salus populi suprema lex tererosi. Falsafah adiluhung kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika termutilasi. Ruh Konstitusi mati suri, Pancasila hilang arti. Kita sebagai umat-bangsa-negara telah mati suri.


      Banalitas politik menggila. Politik rimba “manusia serigala” homo homini lupus menjadi berhala. Saling tikam, saling terkam dan saling hantam antar para pencari dan pencuri kekuasaan. Partai dijadikan kendaraan legal-formal untuk saling membantai. Elit-elit politik, dan kini merambah pula pada tataran alit-alit politik (aktor figuran politik amatiran yang baru belajar berpolitik ‘kasta’ wong cilik), bergumul dalam arena adu domba di antara para serigala. Alhasil, “bangsa surga” nusantara kini menjelma menjadi “belantara neraka.”

      Padamnya api altruisme pengorbanan menjadi pertanda alam akan datangnya kehancuran sebuah peradaban. Kita di ambang kegagalan menjalani peran sebagai khalifah bumi, setidaknya di wilayah bumi pertiwi. Krisis kepemimpinan nasional, sirnanya para pemimpin negarawan bersukma kerakyatan, gagal melahirkan pemimpin agung “Philosopher King”-raja filsuf arif bijaksana, pudarnya jiwa penguasa pengayom, pemimpin berkarakter luhur pandhita-waskita-sasmita-sujana.

       Kini kita berdiri di bibir tebing fenomena gagal negara, gagal bangsa, gagal umat dan gagal masyarakat bermartabat. Semua bermula dari kegagalan kita (khususnya umat muslim) dalam menangkap mutiara hikmah ajaran agama. Padahal keparipurnaan dari agama adalah ketika seseorang memasuki tahapan penyembelihan ego-pribadi-kelompok-parsial-golongan dan syahwat kepemilikan menuju penghambaan sejati pada Allah, satu-satunya Tuhan sejati.

     Ibrahim as. telah menjadi prototip manusia terbaik yang telah mampu “menyembelih” ego kepemilikan dirinya atas kecintaan anaknya, Ismail, untuk menjadikan Tuhan sebagai Tuhan, di atas segala kepentingan, kebutuhan dan keinginan. Lalu peristiwa ujian legendaris itu telah diabadikan sebagai hari raya Idul Adha, puncak ritual keparipurnaan umat Islam dengan simbol pemotongan hewan kurban dan ibadah haji ke tanah suci Mekkah di bulan Zulhijjah ini. Namun bila kita bebal dan pandir dalam beragama, maka kita tak pernah memasuki wilayah agama dengan sebenar-benarnya.

      Indonesia, meski bukan negara agama, namun agama adalah ruh dari bangunan fisik materi negara. Maka jika ruh itu telah padam dari umat muslim di negeri ini, negara tak lebih dari seonggok materi mati tanpa nyawa. Memang ada jutaan haji di negeri ini, dan ritual pemotongan hewan kurban setiap tahun semakin menggelora. Namun tanpa altruisme dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka kita hanya sekumpulan binatang berpolitik yang hidup binal dan banal di arena kejamnya rimba nusantara, dalam wujud badan dan rupa muka sebagai manusia.

Salam...
El Jeffry

Monday, October 22, 2012

Ical, Satrio Piningit, Catur Dosa dan Bangsa Amnesia


13508919681917624285
ABURIZAL BAKRIE (ICAL). Sumber photo: http://nasional.kompas.com

   Genderang perang pertarungan perebutan kekuasaan negeri ini kian lantang berkumandang. Langit perpolitikan nusantara kian membara, aroma laga kian menyengat syahwat hidung dengan grafik meningkat berlipat-lipat. Nuansa panas, keras dan pedas mengipas-ngipas peta pertarungan politik banal berkendaraan partai abal-abal. Parade kental parodi pertempuran ala bar-bar  berpola kanibal dengan nilai-nilai kasar-vulgar nir moral. Tahta di pusaran belantara noto nagoro demi pemenuhan insting dasar makhluk melata manusia Indonesia, dalam satu kursi nomor satu NKRI, RI1 2014.

     Adalah Aburizal Bakrie, yang lebih dikenal dengan Ical, The richest man Indonesia 2007” ala Forbes, seorang petualang yang malang-melintang di panggung bisnis dan kekuasaan. Bukti kepiawaian anak negeri yang brilian mengkolaborasi “dwi kasta” waisya-ksatria dalam satu cawan frasa. Peleburan paksa penuh rekayasa unsur pengusaha-penguasa lewat reaksi kimia anti logika dan anti etika, maka oligarki menjadi senyawa buto-raksasa, kerusakan fitrah tata-negara-kota yang sejatinya mulia pun semakin terancam.  

      Membaca gerak perjalanan Ical, seperti membaca goresan-goresan warna cat lukisan Von Gogh. Kadang nampak begitu indah dan mempesona. Namun bagi mata telanjang rakyat yang masih tertutup hijab kedangkalan visi dan kemiskinan cita rasa, lukisan tak berguna apa-apa, kecuali hanya kebingungan dan kehampaan makna. Bahkan kadang bisa membawa alam kesadaran-pikir tersihir hingga amnesia. Sebagaimana bangsa ini dengan mata telanjang dangkal cita rasa gagal menyimpan memori rekam jejak sejarah. Sehingga bangsa ini mungkin memang nyaris terjangkiti tahap kronis amnesia.

      Terlalu banyak menghadapi kegelisahan dan memikul beban berat “dosa warisan” dengan milyaran piksel himpitan penderitaan. Skeptis, permisif, pesimis dan apatis, lalu bermuara pada penyakit alam kaum lansia, pikun, pandir dan pelupa. Hingga kita lupa pada rekam jejak perjalanan “saudara-saudara sebangsa dan setanah air,” termasuk lupa pada spirit liberatif reformasi. Mungkin roda buldozer waktu telah sukses menggilas dengan buas spiritualitas dan moralitas, sehingga 14 tahun kita tak sadar telah menyia-nyiakan altruisme pejuang pembaharuan 1998 yang telah mengucurkan bergalon-galon darah untuk sebuah pembebasan dari tiran Orde Baru.

         Membaca Ical, tentu tak lepas dari ikatan Orde Baru. Dan membaca Orde Baru tentu tak bisa telepas dari Golongan Karya-sekarang Partai Golkar-yang bersama dwifungsi ABRI-sekarang TNI-menjadi dua kaki-tangan Pak Harto dalam menghegemoni kekuasaan NKRI selama 3 dekade.  Keamnesiaan kita, suka tak suka terbukti hari ini, ketika beberapa lembaga survei menyuguhkan berita hasil jajak pendapat rakyat tentang tingkat keterpilihan (elektabilitas), tingkat keterkenalan (popularitas) dan tingkat penerimaan (akseptabilitas) partai politik dan tokoh politik yang berpeluang menjadi calon Presiden RI 2014.

      Setidaknya, LSI (Lingkaran Survei Indonesia) dan Political Weather Station (PWS) menunjukkan, Golkar menempati ranking pertama diikuti PDI-P dan Partai Demokrat. Meskipun hasil suvei ini belum merepresentasikan suara rakyat Indonesia yang sesungguhnya, namun darinya kita bisa sedikit membaca-atau sekadar waspada- bahwa kita terancam amnesia sebagai bangsa. Dan bagi seorang Ical yang tengah memacu langkah untuk memuluskan ambisi dan obsesi mencetak sejarah tahta tertinggi di republik ini, “berita gembira” ini semakin memacu adrenalin politik untuk menyihir kesadaran (suara) rakyat.

       Tak salah jika Ical akhirnya meyakini-kalau tidak dikatakan terlalu dini-bahwa ini adalah bukti shahih-otentik rakyat ingin kembali dipimpin partai berlambang beringin tersebut. Rakyat rindu atas kejayaan Golkar yang membawa kemakmuran di masa Orde Baru, yang di bawah pimpinan “Jenderal Senyum” Presiden Soeharto selama 34 tahun memperlihatkan hidup yang lebih baik. Achivement luar biasa, bukti nyata rakyat ingin ”rakyat ingin Golkar memimpin  Indonesia. Golkar masih dicintai rakyat, dan dengan “cinta buta” ini maka Pemilu 2014 mendatang dipastikan Golkar akan menang!

      Keyakinan Ical-atau bisa ditafsir sebagai kejumawaan-sah-sah saja, apalagi hidup di rimba perpolitikan banal di antara partai abal-abal republik aktual. Dengan kejeniusan bisnis dan ketajaman insting kanibal di dunia kapital Ical tentu jeli melihat celah lebar dari kepandiran rakyat bangsa amnesia. Dan sah-sah pula jika ia bermimpi sebagai “Satrio Piningit” Jilid 7 untuk menduduki kursi RI1 pada 2014Pertanyaannya, layakkah Ical menyandang tuah “satrio piningit” itu?

      Bila bertolak dari paradigma Ronggowarsito, pemimpin bangsa yang mestinya duduk di atas singgasana RI1-7 haruslah seorang satrio pinandhito sinisihan wahyu. Dia haruslah seorang ksatria berkeagamaan kuat (religius) layaknya karakter para pendhito (pendeta, ulama, biksu-rohaniwan) sehingga perilakunya senantiasa bertindak atas dasar kebenaran hukum Tuhan (wahyu-kitab suci).  Sedikit meminjam filosofi catur warna dalam ajaran Hindu, hidup seseorang adalah “rangkaian perjalanan spiritual” pendakian kasta (kelas), dari sudra (budak-pekerja), waisya (pedagang-pengusaha), ksatriya (pemimpin lembaga) dan brahmana (rohaniwan). (boleh baca: Sudra Berkuasa, Kiamat Negara!)

      Untuk membaca Ical sebagai kaum ber”kasta” waisya, tentu kita tak memungkirinya dengan bukti kedigdayaan kerajaan bisnisnya, yang diwarisi dari sang ayahanda Achmad Bakrie dan telah digelutinya selama 4 dekade. Sedang di “kasta” ksatria, Ical telah berpengalan mengecap kekuasaan sebagai Menteri Perekonomian dan Menko Kesra di kabinet SBY pada 2005-2009.  Namun untuk membaca seorang Aburizal Bakrie sebagai presiden RI, sepertinya kita butuh kaca mata baru yang lebih bening, atau bila perlu, mikroskop etika-nurani berdaya pandang tinggi. Karena justru di sinilah kunci utama untuk kita merdeka dari gagal baca dan penyakit amnesia. 

     Golkar sendiri, sebagai “kendaraan politik” yang melahirkan eksistensi Ical di panggung eksklusif ekonomi dan politik di negeri ini, secara historis memiliki beban dosa sejarah-bersama rezim orde baru Pak Harto-yang oleh Wimanjaya babarkan dengan “prima-dosa” dan Prima-Dusta.” Dan Ical adalah produk turunannya yang tak bisa berlepas total dari tanggung jawab etika dan moral terhadap kegagalan sejarah nasional, termasuk kegagalan reformasi 1998. Justru di sinilah pusaran kesalahan Ical layak dikuliti hingga jelas, gamblang dan tuntas sampai terurai benang merah kesucian sejarah.

     Maka kita perlu sedikit membabar lembar-lembar yang terlipat dari mata rakyat, berkaca dari terma makna “Catur Warna.” Bahwa “dosa terbesar” Ical adalah ketika merusak tatanan nilai-nilai spiritual waisya dan ksatria, yang dengan syahwat buto-raksasa. Ical telah memaksakan “pencampuran ilegal” bisnis dan politis, kepengusahaan dan kepenguasaan yang turut membentuk carut-marut bangsa lewat lingkar oligarki kekuasaan nir-keadaban dan nir-keadilan sosial.

       Rekam jejak terburamnya adalah 4 kesalahan besar Ical pada bangsa yang terangkum dalam ”Catur Dosa.”“Dosa Pertama,” bencara Lumpur Lapindo-Porong, Sidoarjo (2006) akibat kelalaian PT Lapindo Brantas dalam usaha pengeboran minyak. Karena pemilik usaha Lapindo Brantas berada dalam jajaran kabinet SBY, maka pada tahun 2007 SBY-JK mengeluarkan PP Nomor 14/2007 yang berisi negara (melalui APBN) membiayai dana sosial kemasyarakatan yang timbul di luar peta area dan biaya-biaya penanganan masalah infrastruktur lumpur Lapindo. Negara dirugikan hingga 2 triliun rupiah dan Lapindo Brantas (Ical) “untung besar” berkat kebijakan “kliennya” Pak SBY-JK.

        “Dosa Ke-2” Ical adalah Kasus Tender Jaringan SLI oleh Bakrie Telecom (2007)
Departemen Komunikasi dan Informatika 2007 yang hanya memilih Bakrie Telecom dalam seleksi tender Sambungan Langsung Internasional (SLI). Dalam hal ini, pihak XL dirugikan (jaringan lebih luas dan bagus dibanding Bakrie Telecom), karena pemerintah tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai seleksi tender ini.. Tentunya Bakrie Telecom mendapat informasi yang lebih rinci dari Kabinetnya SBY, sehingga memudahkan untuk lolos tender.

     “Dosa Ke-3” Ical adalah kasus tunggakan royalti batubara 2008 di mana Menkeu menguak kasus tunggakan yang mencapai Rp 7 triliun atau Rp 16 triliun (ICW). Dan terkuak bahwa sebagian besar perusahaan penunggak (Adaro, Kaltim Prima Coal, Arutmin, Berau Coal, Kideco) dimiliki oleh Keluarga Bakrie.

        Dan “Dosa Ke-4” adalah Kemelut Suspensi Saham Bakrie, ketika krisis finansial global yang diikuti anjloknya harga bursa saham regional termasuk BEI, turut menyumbang kebijakan pemerintah yang kontroversial. Untuk melindungi saham-saham Bakrie agar tidak anjlok di bursa saham, pemerintah secara tidak langsung mengintervensi untuk mensuspen saham-saham utama Bakrie (PT Bakrie & Brothers, PT Bumi Resources dan PT Energi Mega Persada).

        Akhir kata, seorang satrio pinandhito sinisihan wahyu sebagai sebuah mitos dan filosofi agung warisan nusantara tetaplah tak bisa diabaikan begitu saja. Ia adalah nilai-nilai luhur yang-seharusnya-menjadi landasan berpijak dan melangkah para ksatria otentik berkeadaban-kemanusiaan-keadilan. Kita merindukan sosok negarawan sejati, pemimpin bersukma kerakyatan dengan rekam jejak “berdarah-darah” memperjuangkan kemaslahatan rakyat banyak sebagai hukum tertinggi. Manifestasi hakiki salus populi suprema lex, dan bukan sosok kontroversi wajah-wajah lama Orde Baru yang sukses bermutasi di era reformasi dengan kamuflase kelas tinggi, atas nama partai politik dan demokrasi. Jika kita, rakyat Indonesia gagal membaca sejarah bangsa, maka hari ini dan selamanya kita akan selalu menjadi bangsa pelupa, bangsa amnesia.

Salam...
El Jeffry