Sunday, September 9, 2012

Tuah 20 September: Duel Bersejarah Pilkada


1347174109364315706
TUAH 20 EPTEMBER Di Pilkada DKI. (sumber: http://kabarjakarta.com)


    Duel putaran dua Pilkada DKI tinggal sebelas hari lagi. Aroma panas membara semakin panas terasa di kedua kubu yang ‘berseteru,’ lebih panas dari kobaran api yang membakar beberapa pemukiman warga ibukota.Sport jantung, adrenalin berpacu, rongga dada dag-dig-dug, lebih mendebarkan dari suara berondongan petasan saat lebaran kemarin, dan lebih menggetarkan urat saraf dari berita teror bom yang menyentakkan kota Solo dan beberapa daerah lain.  

   Jokowi dan Foke, dua aktor utama ksatria yang sejak beberapa bulan silam telah mengerahkan segala upaya pasang kuda-kuda, sepak terjang penuh tenaga di arena ‘perang Bharatayudha,’ masih menampakkan stamina prima, optimisme dan konfidensi sempurna, seberapa pun besar ‘gonjang-ganjing’ dan prahara yang menimpa keduanya. Pertarungan akbar, laga bersejarah, duel putaran dua bakal menjadi puncak dalam hitungan hari, tepatnya sebelas hari lagi, tepat 20 September 2012.

    Aroma duel putaran dua pilkada ibukota, saat ini bagi Indonesia, mungkin untuk sebagian kalangan lebih dahsyat dari final laga sepakbola di Piala Dunia. Berbagai prediksi, analisis, ramalan, dan ‘tebak-tebakan’ menjadi ‘hiburan’ tersendiri, seni percaturan politik memang selalu menjadi magnet mempesona. Ragam cerita, ragam berita, dari isu murahan hingga rumor kotor dan fitnah penuh rekayasa sudah biasa mesti ada.

    Masih seperti pertandingan sepakbola, selama Panwaslu masih dipercaya sebagai wasit terpercaya, para pemain ‘dihalalkan’ untuk adu taktik dan teknik, strategi dan trik, hingga tipuan gerakan ‘diving’ untuk mengelabui wasit . Semua sah-sah saja, yang penting bila ketahuan wasit, harus berani menanggung konsekuensi pelanggaran yang telah dilakukannya.

   Sejenak lupakan aktor utama Jokowi dan Foke, juga Ahok dan Nara, kita tengok sejenak sejarah, mungkin di sana ada sedikit ‘faktor X’ yang menjadi tuah, 20 September, hari H pemungutan suara warga ibukota untuk melabuhkan pilihan atas pemimpinnya. Mungkin kebetulan, atau memang dibetul-betulkan, faktanya KPU DKI Jakarta telah menetapkan jadwal pilkada puataran dua pada 20 September 2012. Tanggal yang sama ketika pemilihan presiden secara langsung dalam sejarah NKRI digelar pada 2004.

    Pada putaran pertama pilkada 11 Juli 2012 memang sedikit berbeda hari dengan putaran pertama pada pilpres 2004 yang digelar pada 5 Juli 2004. Saat itu, 8 tahun yang lalu meloloskan dua pasangan yang berhak maju ke putaran dua, SBY-JK dengan perolehan 33,58% suara dan Mega-Hasyim dengan 26,24% suara. Setelah bertarung di “duel putaran dua” sejarah mencatat kemenangan SBY-JK dengan 60,62% suara, mengalahkan Mega-Hasyim dengan 39,38% suara. Alhasil, SBY-JK secara fenomenal dan mengejutkan berhasil meraih tahta RI1 dan RI2 sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI ke-6 sejak Indonesia merdeka.

    Kemenangan sejarah SBY-JK pada 20 September 2004, meski terbantu oleh Golkar dan figur Jusuf Kalla, namun ‘pusaran kekuatan’ tak lepas dari peran ‘satrio piningit’ SBY dan Demokrat yang secara tak terduga muncul karena ‘keberpihakan zaman’ dan arus pembaharuan. Sebagian pengamat melihatnya sebagai ‘kutukan sejarah’ atas sang incumbent Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri yang dinilai gagal mengemban amanat reformasi selama menjadi RI1 pada 2001-2004 pasca ‘tergusurnya’ Gus Dur.

     20 September 2004 membawa tuah SBY, yang konon sebagai bulan weton kelahiran turut mendongkrak energi dan aura tersendiri, berakumulasi dengan ‘mustajab’nya do’a ‘orang teraniaya’ oleh ‘arogansi’ Mega semasa menjadi ‘abdi dalem’nya. 20 September juga menjadi tuah bagi terkelupasnya ‘lumut kebosanan’ rakyat atas tokoh-tokoh dan parpol-parpol lama yang tak kunjung mampu membawa perubahan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Pahlawan adalah produk sejarah, seringkali datang pada awalnya bagai air bah yang tumpah ruah tak tercegah, meski seringkali pula pada akhirnya menjadi banjir bandang yang menenggelamkan bagai wabah dan musibah. Setidaknya itu terlihat lima tahun setelahnya di pilpres 2009 yang tak lagi digelar pada bulan September. Pada pilpres 8 Juli 2009, SBY yang berpasangan dengan Boediono mampu menang mutlak dalam satu putaran mengalahkan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto.

    Kemenangan spektakuler yang mungkin tak terduga, karena mestinya jika pilpres berlangsung dua putaran mungkin akan jatuh pula pada bulan September, dan tak mustahil jika ‘duel putaran dua’ bakal jatuh pada 20 September 2009. Bisa jadi, karena tak melewati tuah 20 September inilah SBY dan Demokrat yang kini memasuki tahun ke-3 kekuasaan mulai menumbuhkan ‘lumut kebosanan’ rakyat. Prototipe SBY-Demokrat terlihat jelas pada ‘anak cabang’-kepanjangan tangan di pilkada DKI dengan ‘wayang politik’ incumbent Fauzi Bowo, lengkap bersama koalisi 10 parpol pengawal, termasuk di dalamnya Golkar.

    Nuansa ‘duel legendaris’ 20 September 2004 semakin terasa karena kembali menghadirkan PDIP sebagai seteru utama Demokrat, dengan Mega di belakang Jokowi. SBY-Mega tak bisa dipungkiri punya kepentingan besar di balik pertarungan Foke-Jokowi. Mungkin lebih besar dari pertarungan pilkada sendiri. Aroma dendam,  semangat pembalasan, adu kekuatan, berpadu dengan ‘pemberontakan’ wong-cilik-ndeso dan kipasan sentimen SARA, seni peperangan para ksatria bergumul dengan figuran-figuran politik para buto-raksasa, panggung percaturan politik memang selalu menjadi magnet mempesona.

      Memang banyak kalangan yang membaca pilkada DKI sebagai pertarungan antara “koalisi rakyat dan koalisi parpol,” antara “perubahan dan status quo,” antara “rasioanal dan primordial,” antara “percobaan dan pengalaman,” antara “lumut kebosanan dan zona nyaman,” antara “nasionalis dan Islamis. Namun tuah 20 September pada duel putaran dua pilkada DKI 2012 bisa jadi akan tetap menyajikan ‘pertarungan bayangan’ antara Demokrat dan PDI-P, SBY dan Mega.

    Lalu, siapakah yang bakal menjadi pemenang? Jika mengacu pada sejarah kemenangan SBY-JK dengan tuah 20 September 2004, maka tuah mestinya berpihak kepada ‘satrio piningit,’ calon yang tak terduga, kalah secara hitungan matematis di atas kertas. Sang pemenang akan mendapat ‘pusaran kekuatan’ dari kutukan sejarah incumbent, figur dan partainya, sebagaimana kutukan Mega dan PDI-P pada 2004. Ia yang secara politis ‘teraniaya,’ terganjal dan terjegal oleh kezaliman lawan yang menghantam dengan segala cara, dan ia harus memenuhi kriteria yang dipercaya bakal menguliti ‘lumut kebosanan’ rakyat dengan pembaharuan dan spirit reformasi.

   Siklus sejarah selalu berulang. Sewindu sudah 20 September 2004 berselang. Tuah, karma, upah alam, kutukan sejarah, mitos, legenda dan gugon tuhon akan selalu ada dalam setiap peristiwa dunia. Kadang semua itu tak bisa dijelaskan secara logika, apalagi hanya kalkulasi matematis dan analisis dangkal di atas teori-teori tekstual. Karena semua itu sebagian dari misteri hikmah-ibrah, pelajaran penuh falsafah, pitutur luhur warisan leluhur, kacabenggala-cermin kehidupan, refleksi yang hanya bisa dirasakan dengan hati nurani.

     Siapa yang akan membuat sejarah baru di bawah tuah 20 September, Jokowi, atau Foke, silahkan tebak sendiri jawabannya. Yang pasti warga ibukota yang secara teori di atas kertas demokrasi yang menentukannya. Yang lebih utama, janganlah warga DKI rela dijadikan jangkrik-jangkrik politik dan domba-domba aduan para elit buto-raksasa-batara kala dalam pilkada.

     Pilkada bukan sekadar kilik-kilik politik untuk saling nyaring mengerik dan saling cekik, jungkir balik abai norma dan kode etik, arena konflik demi kepentingan sempit dan pendek. Pilkada juga bukan pesta adu domba para penguasa, demi kesenangan, demi kemenangan, demi kekuasaan, lalu setelah pesta usai, serigala-serigala memangsa domba-domba aduan yang berdarah-darah kelelahan, raja dan para bangsawan berpesta pora layaknya binatang, rakyat kecil selalu menjadi tumbal dikorbankan.

     Selama masih tersisa kesadaran, semua kita selalu punya harapan. Jika tuah 20 September 2012 belum sesuai kenyataan, mungkin pilkada DKI kali ini hanya pembukaan. Dan perhelatan sesungguhnya akan terhidang dua tahun mendatang. Di Pemilu 2012, jika masih berulang kebetulan, bisa saja jadwal pilpres kembali jatuh pada Juli di putaran pertama, lalu 20 September 2014 menjadi putaran kedua. Mungkin saja. Kenapa tidak?

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment