Thursday, September 6, 2012

Teror, Tipikor Dan Politik Kotor


     Alkisah, di negeri antah berantah tindak kekerasan semakin mewabah. Toleransi terancam punah, radikalisme tak tercegah, tata krama bangsa ramah tamah terkubur di makam sejarah. Sopan-santun budi pekerti, lemah-lembut penghuni bumi pertiwi, di hari-hari terakhir ini semakin menjauh pergi.

     Salah siapa, dosa siapa, lingkaran pertanyaan dan jawaban dalam satu rangkaian. Telur dan ayam, tanya dan jawab, akibat dan sebab, keduanya bisa berbolak-balik sesuka kata. Salah dan dosa bangsa bisa menjadi sebab, salah dan dosa bisa menjadi akibat.

     Teror, tipikor dan politik kotor, salah dan dosa sebagai hulu, sekaligus pula bisa sebagai muara. Setali tiga uang, satu paket tiga alasan, saling berkait, saling bersilang, saling menghubungkan. Teror menggedor. Polisi menjadi sasaran. Solo menjadi awalan. Mungkinkah ini kebetulan? Jakarta lautan api. Kebakaran menjadi-jadi. 1.000 nyawa melayang di jalan saat lebaran. Mungkinkah ini kebetulan?

      Hutan terbakar. Status Gunung Tangkuban Parahu dan Anak Krakatau meningkat waspada. Kekeringan melanda. Mungkinkah ini kebetulan? Koruptor makin menggila. Penegak hukum kehilangan tongkatnya. Duel pilkada DKI putaran dua mendekati masanya. Partai-partai politik berebut mendaftar. Pemilu 2014 akan menjadi pesta.

       Teroris marah. Rakyat marah. Alam Indonesia marah. Hutan, gunung, sungai dan waduk marah. Air, angin, api dan kayu-kayu kehilangan harmonisasi, enggan bersahabat dengan anak-anak negeri, di mana arti gemah ripah loh jinawi? Indonesia kotor, KPK terlalu berat bersih-bersih negara. Korupsi semakin menggurita. Menjerat hampir 250 juta manusia Indonesia.

    Keadilan dipermainkan penegak keadilan. Di koran-koran, televisi, radio dan jejaring sosial, kejahatan menjadi komoditi dagangan. Orang kecil terkucil, wong cilik tercekik, marjinal terjungkal, proletar terlempar. Para pejuang pembebasan satu persatu menghilang. Sabagian mati dimakan usia, sebagian mati ditikam peristiwa, sebagian mati terbunuh pemikirannya.

    Brahmana-pendeta-ulama semakin langka. Suara keadilan tergadaikan, suara Tuhan diperjual-belikan, suara ayat suci dikorupsi, suara rakyat dimanipulasi. Orang tak berdaya tetap tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya marah dalam sabar tanpa batas. Teror menggedor. Negara tergedor. Seperti biasa kita lebih suka aksi-reaksi ketimbang introspeksi-retrospeksi. Kita lebih suka menganalisis "bagaimana" ketimbang "mengapa."

      Teror, tipikor dan politik kotor, setali tiga uang, tiga sinergi dalam ruang. Tindak pidana korupsi masih terus mentradisi. Politisasi menjadi-jadi. Polisi dan politisi bersindikasi, hukum tinggal dongeng basa-basi. Koruptor membuat politik kotor. Korupsi dan polisi seperti suami isteri. Korupsi dan politisi ‘nikah siri’ silih berganti. Tak ada agama di istana, tak ada Tuhan di Senayan, tak ada hukum di jalanan. Negara hilang bentuk, remuk.

     Di mana etika nurani dan budi pekerti? Bangsa ramah telah menjadi bangsa pemarah. Rakyat dan pemimpin gemar bertarung bagai serigala rimba, homo homini lupus, dengan cara dan karakter masing-masing. Tanpa rasa bersalah, tanpa rasa berdosa. Maka alam yang semula ramah pun kini marah. Api membakar hutan dan ibukota. Tanah kering, lebih sering basah oleh keringat, darah dan air mata. Tapi manusia telah kehilangan cita rasa.

     Teror, koruptor dan politik kotor, sebab atau akibat, awal atau akhir, hulu atau muara, sebuah lingkaran setan blunder keblinger. Bangsa besar kehilangan kebesarannya, terpuruk tanpa daya, dehidrasi nasional, kepandiran massal, kegagalan sejarah fundamental. Di sini, saat ini, aku tertawa terpingkal-pingkal hingga perutku mual, tanpa pernah tahu mana ujung mana pangkal.

Salam...

El Jeffry

No comments:

Post a Comment