Friday, September 14, 2012

Survei Sepi, INES dan SSSG Unggulkan Jokowi


1347630483702531938
Foke-Jokowi Jilid II: Survei Sepihttp://pilkada.kompas.com


    Pilkada DKI putaran kedua tinggal hitungan hari, tepatnya sepekan lagi. Namun, berbeda dengan putaran pertama yang bertebaran hasil survei dari berbagai lembaga, putaran kedua kali ini benar-benar sepi survei.Aktivitas lembaga survei dalam memetakan calon yang berpeluang memenangkan Pilkada tidak setajam saat putaran pertama lalu.

    Banyak faktor yang menjadi penyebab sepinya survei kali ini. Pengalaman traumatik survei putaran pertama sepertinya masih menghantui. ketika itu, pada putaran pertama lalu, hampir semua survei memprediksi pasangan Foke-Nara dapat melenggang pasti meraih kursi DKI 1 dan DKI 2 hanya dalam satu putaran.

   Kenyataannya, hasil pada pemungutan suara 11 Juli itu menunjukkan hasil berbeda. keunggulan pasangan Jokowi-Ahok benar-benar menjungkir-balikkan hampir seluruh ‘ramalan’ sehingga membuat berbagai lembaga survei kapokSetidaknya hal itu disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit yang mengatakan bahwa ada kemungkinan berbagai lembaga survei ini tidak mau lagi mengulang kesalahan putaran pertama lalu. Disamping itu, kondisi pada putaran kedua jauh lebih rumit daripada putaran pertama.

     Arbi Sanit juga mengatakan, sepinya survei ini dapat disebabkan turunnya kepercayaan pasangan calon dan partai politik yang biasanya menjadi klien. Jadi, ternyata tidak hanya lembaganya yang ‘kapok’ tapi mereka yang memanfaatkan jasa lembaga survei juga mengalami ‘kekapokan’ yang sama.

    Salah satunya dari yang ‘kapok’ adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI), yang pada putaran pertama lalu berani memprediksi petahana Fauzi Bowo akan menang mudah hanya dalam satu putaran, lebih memilih ‘aman’ untuk tidak merilis hasil surveinya pada putaran kedua ini. Namun, peneliti senior LSI, Toto Izzul Fatah, mengatakan bahwa pihaknya tetap akan melakukan survei pada putaran kedua ini, tetapi hanya untuk keperluan kajian internal.

    Sementara itu, Direktur Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, mengemukakan alasan ‘kekapokannya’ sebagai suatu kehati-hatian saja, mengingat dinamika masyarakat Jakarta kelihatannya sangat tidak terukur. Senasib dengan LSI, Indo Barometer pun sempat ‘kehilangan muka’, karena sebelumnya juga memprediksi Foke-Nara bakal memenangi putaran pertama. Ia menegaskan hanya akan cari aman dengan memilih quick count saja, karena merupakan perhitungan cepat yang validitasnya selama ini teruji.

    Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro mengemukakan kontrasnya suasana lembaga-lembaga survei kali ini dengan waktu menjelang putaran pertama sebagai pukulan telak, klimaks dari perjalanan survei di Indonesia mengenai Pilkada. Survei yang dilakukan selama ini memang dianggap mengarahkan masyarakat kepada calon tertentu. Namun ketika sebagian besar survei memprediksi kemenangan Fauzi Bowo (Foke) di putaran pertama Pilgub DKI dan ternyata gagal, hal tersebut telah membuat lembaga survei ketakutan. Kekecewaan tidak hanya dari pihak Foke, tidak hanya LSI tapi juga lembaga survei secara umum. Artinya kalau sampai metodologi dan akurasinya dipertanyakan itu sudah secara akademis batal demi hukum, karena itu dia takut dibatalkan dua kali demi hukum.

    Namun, di sela-sela ‘kekapokan’ lembaga survei, ternyata masih juga ada yang nekad mengeluarkan hasil survei, yaitu Indonesia Network Election Survey (INES) dan Soegeng Sarjadi School for Government (SSSG).

    Dari hasil survei INES, Jokowi-Basuki Ungguli Foke-Nara"Survei ini mencakup warga Jakarta dengan beragam latar belakang. Hasilnya, 72,48 persen akan memilih pasangan Joko Widodo dan Basuki. Sementara yang memilih pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli hanya 27,52 persen," ujar Sutisna Tri Sasono, Direktur Eksekutive INES, dalam rilis yang diterima, Jumat (14/9/2012). 

    Survei tersebut dilakukan sejak 28 Agustus hingga 9 September lalu, yang meliputi 10.000 responden. Dari jumlah tersebut, yang memberikan tanggapan sebanyak 9.720 responden. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 98 persen.

    Dari hasil survei tersebut, INES menyimpulkan, mayoritas warga Jakarta mengharapkan munculnya pemimpin baru di Ibu Kota. Dengan kata lain, kebanyakan warga juga sudah tidak percaya dengan kepemimpinan saat ini.

    Menanggapi hasil survei tersebut, Budi Purnomo Karjodihardjo, Koordinator Bidang Komunikasi dan Media Center Tim Kampanye Jokowi-Basuki, menyatakan kepuasannya. Budi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada warga Jakarta yang mengharapkan figur baru dalam memimpin Jakarta lima tahun ke depan.

   "Dengan hasil survei ini, mewujudkan Jakarta baru, hanya tinggal selangkah lagi. Warga Jakarta ternyata juga sudah cerdas memilih, tidak terpecah belah dengan isu-isu provokasi yang terjadi. Terima kasih para responden, kepada warga Betawi yang telah jujur dalam menentukan pilihannya," ujar Budi.

    Di lain pihak, Wakil Sekjen PD, Saan Mustopa menaggapi hasil survei sebagai bahan masukan dan bahan untuk melakukan evaluasi dalam merumuskan langkah-langkah ke depan. Menurut Saan, semua hasil survei dan masukan yang selama ini ada, akan dijadikan bahan bagi partainya untuk melakukan perbaikan kinerja mendukung Foke. Namun Saan masih yakin Foke bisa mempertahankan posisinya di DKI 1.

"Dari semua aspek yang kita survei, kalau dirata-rata, pasangan Jokowi-Ahok menang telak dengan 72,48% suara, sementara Foke-Nara hanya mendapatkan 27,52%," kata Direktur Eksekutif INES, Sutisna.

    Sedangkan h
asil survei SSSG tak jauh beda dengan INES, Jokowi mengungguli Foke. Namun, ada 22% responden yang belum menentukan pilihan. Inti dari hasil survei SSSG hampir sama dengan survei INES: Jokowi menang. Namun, terjadi perbedaan jumlah prosentase suara, karena SSSG memasukkan unsur jumlah responden yang belum memutuskan memilih kandidat, responden yang golput dan responden yang tidak menjawab. 

    "Kesimpulannya, siapakah yang akan dipilih pada 20 September mendatang, menurut survei dari SSSG, pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama memperoleh 36,74%. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli 29,47%," ujar Direktur Eksekutif SSSG, Fadjoel Rahman dalam jumpa pers di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakpus, Jumat (14/9/2012).

   Dari survei itu, diketahui bahwa 22,04% responden masih belum memutuskan, 2,72% responden memilih golongan putih (golput) alias tidak memilih, dan 9,03% responden tidak menjawab. 

    Survei SSSG dilakukan sejak 4 hingga 12 September 2012 dengan metode pengumpulan data melalui wawancara via telepon dan analisa survei menggunakan google document. Survei dilakukan di lima wilayah DKI Jakarta terhadap 1.250 responden dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin error kurang lebih 3 persen.

    Dari rilis yang dikeluarkan Telesurvei SSSG, 70 persen responden mengaku akan menentukan calon pemimpin DKI Jakarta pada pilkada putaran dua berdasarkan hati nurani. Delapan persen respon memilih berdasarkan agama, dan satu persen memilih berdasarkan uang, instruksi partai politik, suku, dan instruksi tokoh masyarakat. 

    Sementara itu, ketika ditanyai alasan responden memilih cagub dan cawagub tertentu, mayoritas responden memilih berdasarkan figur, yakni 85 persen. Sedangkan responden yang memilih berdasarkan partai politik hanya 4 persen. 

      Menanggapi hasil telesurvei ini, pengamat politik dari CSIS J Kristiadi menyatakan, kajian ini dapat mewakili pandangan kelas menengah. Keberhasilan sistem demokrasi dalam penentuan pemimpin Jakarta pun sangat ditentukan oleh kelas menengah. 

   "Kenapa selisih hasil surveinya nggak jauh? Incumbent tingkat kepercayaan dari masyarakat dibilang kecil. Sementara Jokowi lebih unggul. Ini soal trust. Ia berhasil memimpin di Solo. Belum tentu dia mampu memimpin di Jakarta, tapi dari pengalamannya, rakyat akhirnya menaruh harapan," jelas Kristiadi.

    Apapun hasil dari lembaga survei, yang pasti hasil sebenarnya akan terlihat nyata tujuh hari lagi. Dan siapapun yang kelak duduk di DKI1 dan DKI2, itu adalah pilihan warga ibukota. Baik buruknya menjadi tanggung jawab bersama dalam lima tahun ke depan. Dan bagi lembaga survei, kesalahan adalah hal biasa. Bagaimanapun, lembaga survei, dibalik kekurangan dan kelemahannya, tetap dibutuhkan, setidaknya sebagai wacana pembelajaran dan pencerdasan bersama untuk mengikuti setiap dinamika pilkada Jakarta. Kita tunggu saja kelanjutan ceritanya.

(dari berbagai sumber)

Salam...El Jeffry

No comments:

Post a Comment