Thursday, September 20, 2012

“Ramalan” 6 Agustus: Jokowi Menang 54: 46!



13481359371923229258
JOKOWI-AHOK: Siap Memimpin DKI Jakarta. (sumber photo: http://www.rimanews.com)

    Enam pekan silam, tepatnya 42 hari lalu, pada 9 Agustus 2012, saya menulis sebuah artikel ‘ramalan’ bahwa pada putaran kedua pilkada DKI 20 September, Jokowi-Ahok bakal menciptakan sensasi memenangi ‘kwartuel’ (baca: duel 4 ksatria) atas Foke-Nara dengan angka tipis 54:46.


    Di paragraf kedua saya tulis: ”Ini analisis memang hanya sembarang analisis, tapi inilah analisis cara praktis, ekonomis dan higienis. Tanpa perlu banyak pertimbangan kotak-katik angka matematis dan uji klinis. Bolehlah kalau dibilang rada mistis, yang penting optimis dan sedikit realistis. Pasalnya, yang sudah-sudah, banyak analisis para ahli secara metodologis, tetap saja keblinger dan terjungkir balik habis.” (boleh baca: sensasi Jokowi: menang tipis 54:46).

    Hari ini, dari hasil hitung cepat (quick count) beberapa lembaga survei sepertinya menunjukkan kenyataan yang nyaris tepat dengan ‘ramalan’ saya. Sampai berita ini saya tulis, dari empat lembaga survei telah mencapai perhitungan yang hampir 100%, dan diyakini sudah cukup signifikan untuk menyimpulkan hasil akhir dari hitung cepat. Dari informasi siaran televisi, keempatnya menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda dengan kisaran angka ‘ramalan’ saya dan semuanya memenangkan pasangan Jokowi-Ahok.

       MNC Media-SMRC yang menjadi rujukan RCTI, Global TV dan MNC Teve, memberikan angka 47,09% suara untuk Foke-Nara dan 52,91% suara untuk Jokowi-Ahok. Lingkaran Survei Indonesia yang bekerja sama dengan TV One melaporkan perolehan suara 46,32% untuk Foke-Nara dan 53,68 untuk Jokowi-Ahok. Lembaga Survei Indonesia bersama SCTV dan Indosiar melaporkan angka 46,19% untuk Foke-Nara dan 53,81% untuk Jokowi-Ahok. Sedang Litbang Kompas bersama Kompas TV dan TVRI menyuguhkan angka 47,03% untuk Foke-Nara dan 52,97% untuk Jokowi-Ahok.

    Dengan pembulatan, maka hasil hitung cepat keempat lembaga survei menyuguhkan angka perolehan Foke-Nara: Jokowi-Ahok dengan angka 47: 53, 46: 54, 46: 54 dan 47: 53. Tentu boleh dikatakan, hasil ramalan saya praktis nyaris mendekati tepat, dalam angka 46: 54. Dengan kata lain, Jokowi berhasil menciptakan sensasi dengan kemenangan angka tipis 54:46.

    Kebetulan? Ya, memang bisa jadi memang kebetulan, namanya juga ramalan. Tebak-tebakan cuma sekadar meramaikan suasana pemilihan agar kita tidak jenuh dalam mengikuti pemberitaan. Analisis praktis, ekonomis dan higienis, hanya saya membungkus bahasa agar tidak terlalu terlihat ngawur dalam menebak-nebak angka. Padahal, kalaupun dikatakan analisis, pedoman analisis ini sederhana saja, malah bisa dikatakan asal dan dangkal.

     Dasar ‘ramalan’ suara saya sederhana. Jokowi punya modal 42% suara di putaran pertama, Foke punya 34% suara, saya ‘ramal’ tak berkurang atau bertambah. Koalisi partai tak berpengaruh pada pilihan warga, DPT baru diabaikan, golput diasumsikan tak ada perubahan (pada kenyataannya memang suara golput relatif tak berubah). Penentuan pemenang tergantung dari sisa suara 24% dari 4 pendukung pasangan yang gugur di putaran pertama, terbelah dua secara merata, 12% lari ke Jokowi-Ahok sehingga menjadi 54, 12% lari ke Foke-Nara sehingga menjadi 46. Jadilah kemenangan sensasional Jokowi dengan angka 54:46.  

     Sensasi kemenangan Jokowi, memang hanya sementara, baru pada hasil survei hitung cepat. Karena kemenangan sesungguhnya tetap harus menunggu hasil resmi penghitungan KPU DKI beberapa hari ke depan. Namun berdasarkan pengalaman, hasil hitung cepat sudah terbukti secara akurat dan biasanya tak ada perbedaan signifikan dengan hasil penghitungan manual. Karena itu tak ada salahnya, sebagai salah satu pendukung Jokowi-Ahok untuk menjadi pemimpin ibukota, saya mengucapkan selamat atas kemenangan sementara ini.

    Tulisan ini, secara kebetulan menjadi tulisan ke-22 dari rangkaian tulisan saya mengenai pilkada DKI Jakarta, yang kebetulan pula kali ini saya turut mendukung Ir. H. Joko Widodo untuk menjadi gubernur DKI. Saya sendiri bukan analis, bukan pula menulis untuk kajian akademis, karena saya memang bukan akademisi. Rangkaian tulisan tentang Pilkada DKI yang mulai saya tulis di blog ini pada 7 Juli 2012 dengan tajuk Gubernur DKI Jokowi? ngimpi!!!, tak lebih dari ekspresi hati nurani orang pinggiran yang ingin keluar dari ‘gua kegelapan’ dan mengelupasi ‘lumut kebosanan.’

Mimpi Jokowi adalah wakil dari mimpi saya, mungkin mimpi warga Dki, dan tak mustahil mimpi warga NKRI yang ingin melihat harapan ke depan dengan momentum perubahan. DKI Jakarta adalah ibukota negara yang sangat secara simbolik diharapkan menjadi prototip dari Indonesia. Karena saya hanya sekadar berbagi pemikiran, pendapat, dan pandangan yang mungkin dalam banyak hal berbeda dengan Anda yang selama ini telah berkenan menjalin interaksi sebagai teman, sahabat, saudara dan guru saya secara pribadi.

Karena itu sekadar berbagi, di bawah ini saya ikutkan 20 artikel yang terkait dengan Pilkada DKI, jika Anda berkenan menengok ‘penglihatan dan mata’ saya dalam memandang Jokowi dan Pilkada DKI Jakarta. Apapun hasilnya, siapapun yang terpilih sebagai gubernur DKI periode 2012-2017, kita semua patut bersyukur. Sebagai bangsa yang tengah belajar bertata-negara lewat demokrasi Pancasila, satu tahap kita ‘lulus’ sempurna dengan gelaran pilkada damai tanpa halangan berarti, meski sempat diguncang prahara sana-sini.

Siapapun yang terpilih dan secara legitimasi diakui setelah keputusan resmi PKU DKI nanti, kita berharap, jika Jokowi digariskan untuk menjadi pemimpin ibukota, semoga menjadi spirit dan momentum kebangkitan dan kesadaran anak bangsa untuk hari esok yang lebih baik baik. Bukan hanya warga ibukota, tapi untuk semua warga negara Indonesia.

Salam...
El Jeffry



No comments:

Post a Comment