Wednesday, September 26, 2012

Menulis Untuk Membebaskan Energi


Malam ini aku ingin menulis, tapi menulis apa. Malam ini aku ingin membaca, tapi membaca apa. Malam ini aku ingin berpikir, tapi berpikir apa. Mengulas, mengupas, membahas, tapi mengulas, mengupas dan membahas apa? Aku sedang tak ingin membaca apa-apa, menulis apa-apa, mengulas, mengupas dan membahas apa-apa.

   Aku sedang tak ingin bicara tentang logika. Aku sedang ingin bicara tentang apa saja, menulis apa saja, asal tidak menguras pikiran hingga berkerut dahi yang semakin keriput sebelum waktunya, Atau rambut beruban di usia relatif muda.

   Aku hanya ingin menulis apa yang hati ini inginkan, lewat jari-jari di atas papan ketik. Apa saja hingga berakhir di titik terakhir. Aku hanya ingin mengalirkan energi yang lama tersumbat di saraf seluruh anatomi, dari kepala hingga kaki.

   Malam ini, tepat di tengah malam, aku ingin membiarkan emosi mengalir sendiri, dari benak hingga ujung jari. Tanpa tema, tanpa rekayasa, tanpa arah seperti biasanya, tanpa pilihan kosa kata, tanpa banyak tanya, tanpa ragam problema.

    Emosi, emosi, emosi. Biarlah kebencian yang mengisi hari-hari belakangan ini rehat barang sesaat. Biarlah keresahan akan keadaan kuhempaskan barang sebentar. Biarlah perasaan beban dan tanggung jawab kehidupan kusampirkan sementara. Biarlah emosi berganti.

    Aku ingin menuangkan dengan emosi malam ini. Emosi cinta dan keberserahan jiwa atas segala yang ada. Rasa lelah memaksa kepala untuk pasrah. Tidurlah benak, tidurlah otak, tidurlah angka-angka dan kalkulasi, analisis dan statistik, prediksi dan memori.

   Tengah malam, 26 September 2012, emosi mengalir dalam diriku, tertuang dalam tulisanku, tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa keinginan, kecuali hanya menulis. Apa yang kutulis, apa yang kubaca, apa kuulas, kukupas dan kubahas, sudah tak penting lagi.

   Aku hanya ingin membebaskan energi yang lama tersumbat di dalam diri, merusak sebagian fungsi anatomi beberapa bulan terakhir ini. Aku hanya ingin mengikuti saran seorang teman, “Bila engkau sedang tak berdaya, jadikanlah aktivitas menulis sebagai terapi, niscaya engkau akan kembali memperoleh energi yang sempat pergi.”

    Dan ternyata memang aku mulai merasakan hingga paragraf terakhir tulisanku ini, pada saat titik terakhir memaksaku harus berhenti, mungkin esok atau lusa masih ada daya untuk mengulang lagi, itupun bila hari-hari, hati dan emosi masih sanggup memberi inspirasi.

Salam...
El Jeffry  

No comments:

Post a Comment