Friday, September 14, 2012

Ketika Mega Kritik KPK



1347555217328695338
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI. (sumber photo: http://news.detik.com)

    Di tengah berbagai kepungan problema tiada habisnya yang membuat tertatih-tatih kekurangan daya, KPK masih saja tetap menjadi sasaran empuk kritikan para elit politik, baik dari kalangan pemerintah yang berkuasa maupun dari kalangan oposisi. Tak terkecuali kritikan itu terlontar dari mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

      Seperti dilansir detik.com, Kamis, 13/109/2012, disamping mengemukakan rasa bangga sebagai presiden yang berjasa menelurkan lembaga KPK, Mega merasa langkah KPK terkesan mengejar orang-orang partainya. Kritikan Mega tentu tak lepas dari sejumlah politikus PDIP yang diseret KPK terkait kasus pemilihan suap DGS BI, dan  yang terakhir, politisi senior Emir Moeis telah menjadi tersangka kasus dugaan suap PLTU Tarahan.

      Mungkinkah Mega juga ‘cemburu buta’ sebagaimana SBY juga merasakan hal yang sama ketika ‘membongkar rahasia’ bahwa bukan hanya Demokrat yang ‘kebagian jatah kue’ korupsi, melainkan partai-partai lain, bahkan dengan ‘porsi’ yang lebih besar? 

     Bisa jadi, sebab dalam dunia korupsi, soal iri hati hingga cemburu buta itu adalah hal biasa. Naluri politisi kadang memang menggiring persepsi untuk membela diri, apalagi bila merugikan kepentingan partai. Apalagi jika memposisikan KPK di antara tiga kekuatan parpol terbesar saat ini, PDI-P, Golkar dan Demokrat, keberadaan lembaga ad hoc ini ibarat pelanduk di tengah-tengah pertarungan para gajah. 

     Kadang kita melihat KPK seakan siswa yang menghadapi ujian sebelum mencapai kelasnya. Bila melihat dengan ‘kaca bening’ dan ‘kewarasan logika’ Mega pun semestinya bisa memahami dilema KPK, bahwa KPK terjebak di tengah perang politik segitiga. Masalahnya, penerus dinasti Bung Karno yang sedikit banyak masih memiliki ‘tuah sejarah’ untuk kembali berlaga di pilpres 2014, atau setidaknya memperkuat elektabilitas PDI-P agar bisa mengusung presiden di masa mendatang, layakkah seorang Mega mengungkapkan pernyataan demikian?

Coba simak pernyataan lanjutannya, “Tapi KPK-nya sendiri kok susah-susah amat, yang gede-gede dulu saja diangkat." 

    Pernyataan Mega memang benar, pertanyaan bernada ‘keheranan’ juga benar, sama dengan keheranan kita semua, sekaligus sama juga dengan kemahfuman kita semua, bahwa itulah namanya dilema. Gampang-gampang susah, kelihatannya gampang tapi susah. Bukan hanya KPK-nya yang susah, tapi ada seribu satu alasan untuk membuat yang gampang jadi susah. Tentunya Mega dengan segunung pengalamannya lebih paham, tentu jika benar-benar beritikad untuk paham.

     Mengkritik KPK, menyalahkan,  apalagi mengkambinghitamkan sebagai tumbal kesalahan dan kelemahan diri dan partai sendiri rasanya tidak mencerminkan kedewasaan dan kematangan seorang negarawan. Lontaran kecemburuan atas perlakuan KPK adalah pernyataan wong cilik yang tak paham seluk beluk politik kecuali hanya ngitik (membebek), yang kesehariannya hanya berkutat memeras keringat demi mempertahankan nyawa agar tidak sekarat. 

       Sama halnya ketika seorang pencuri ayam yang digebuki orang lalu mendekam tiga bulan dalam kurungan, kemudian menyalahkan penegak hukum. “Kenapa pencuri kere diurusin, sementara yang gede-gede, koruptor milyaran rupiah dibiarkan melenggang.” Si pencuri ayam memang ‘cemburu buta’ terhadap penegakan hukum yang jauh dari keadilan, lalu nalurinya mengajak untuk membenarkan pencurian ayam, membela diri karena iri hati, meskipun nyata-nyata ia telah mencuri.

     Kecemburuan hukum dan keadilan, iri hati karena beda porsi, itu semua sudah lumrah dan manusiawi. Tak hanya wong cilik kalangan pencuri ayam, tapi juga ternyata masih hinggap di dada orang-orang besar, politisi-politikus, elit pemimpin, bahkan termasuk presiden, calon presiden dan mantan presiden. Lalu kriteria apalagi yang bisa membedakannya?

    Rasanya kita sebagai bangsa perlu belajar lebih keras untuk meraih kearifan dan kebijaksanaan,  hal yang hilang dari jiwa manusia Indonesia kebanggaan sejarah nusantara. Carut-marut hukum dan ragam problematika bangsa yang mencengkeram sedemikian kuatnya sehingga bangsa ini terpuruk dalam muliti dimensional, adalah kesalahan massal-nasional, tanggung jawab seluruh komponen bangsa. 

     Usia dan status sosial belum jaminan untuk kita bisa bersikap dewasa. Realitanya, justru mayoritas elit politik dan para pemimpin negeri ini masih terpenjara dalam ‘paradigma TK,’ bermental childish-kekanak-kanakan, dan lebih parahnya, terkurung sindrom kepandiran massal.  Sedikit sekali ditemui pemimpin sejati layaknya ksatria-pinandhita-waskita-sasmita-sujana yang berkesadaran kebangsaan dan berkedewasaan hikmah kebijaksanaan.

     Seperti kata pepatah, “Jika ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. “ Kata-kata manusia terekam dalam tulisan, darinya ia dibaca dan dikenal. Dan bagi tokoh penting yang sedang punya urusan penting, kata-kata menjadi senjata yang bisa menghancurkan musuh-musuhnya, sekaligus bisa membinasakan diri sendiri, senjata makan tuan. Mereka yang berada di dalam lingkaran politik kepentingan, pernyataan dan pertanyaan sepele bisa menjadi besar, bahkan lebih besar dari yang diduga, tak terkecuali seorang Mega.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment