Friday, September 7, 2012

Jumat Keramat Dan Aksi “Save Hartati”



     Jumat ini, 07/09/2012, adalah Jumat keramat yang tidak bersahabat, kelabu, meresahkan, setidaknya bagi seorang Hartati Murdaya. Pasalnya, di hari ini ia mesti menghadapi pemeriksaan perdana memenuhi panggilan penyidik KPK sebagai tersangka dalam kasus suap untuk Bupati Buol Amran Batalipu. KPK menyangka mantan anggota dewan pembina Partai Demokrat itu sebagai penganjur suap untuk Amran, yang dilakukan oleh Yani Ansori dan Gondo Sudjono.


     Tak pelak, Hartati pun akhirnya terserang ‘penyakit pasaran’ orang yang berurusan dengan hukum. Hartati kejang-kejang. Ia terpaksa absen dan dirawat di RS Medistra. ‘Penyakit mendadak’ ini menyerang sejak dua hari lalu, dan konon, kata pengacara Hartati, Tumbur, penyakit itu sebenarnya sudah mulai terasa sejak Hartati diperiksa sebagai saksi dahulu. (news.detik.com/07/09/2012/09/07).

      Hartati mungkin memang sakit. Dan kita menghargai hak orang untuk sakit. Dan kita juga menghargai hak orang sakit untuk ‘menunda urusan,’ apalagi hukum juga menjamin hal demikian. Dan kita juga tak perlu heran. Penyakit memang mudah menyerang manusia khususnya bila tiba-tiba berurusan dengan hukum dan pengadilan.


    Siapa orangnya yang tidak terganggu pikiran dan mentalnya jika ketenangan dan kebebasannya terancam, terlepas dari bersalah atau tidak? Siapa orangnya yang tidak tertekan menghadapi tuduhan kejahatan, apalagi kasus korupsi, terlebih seorang pejabat tinggi, konglomerat atau politisi? Badan sehat wal afiat dan segar bugar pun bisa tiba-tiba lemah lunglai. Daya tahan tubuh menurun, segala penyakit jenis apapun bisa saja berebut menyerang tubuh.


     Tak ada bedanya dengan seorang anak remaja yang putus cinta lalu kehilangan nafsu makan, demam, pilek, masuk angin, sampai meriang panas, bahkan bisa berakhir tragis di rumah sakit jiwa. ‘Sakit mendadak’ adalah manusiawi dan naluri akibat mental-emosional yang terganggu, tak terkecuali para batari durga Indonesia, termasuk pengusaha terkaya Indonesia no. 13 versi Majalah Forbes 2008, Hartati Murdaya Poo.

      Sakit mendadak juga sudah menjadi alasan klasik bahkan meski tak benar-benar sakit, hanya untuk menunda urusan menakutkan di kursi pesakitan, sambil mengulur waktu untuk mencari cara agar lolos dari jerat hukum menyakitkan. Bahkan bila telah kehabisan akal, kadang bila perlu ‘sakit ingatan,’ lupa, tak sadar hingga gejala gila, yang penting ‘selamat’ dari tuduhan. Sudah biasa terjadi di negeri ini, lagipula hukum dan ‘oknum-oknum’ pelaku hukum kadang ‘terlalu berani’ bersinergi memanfaatkan celah-celah kelemahan hukum.


     Toh Hartati cuma kejang-kejang, entah jenis kejang-kejang apa, hanya dokter dan ahli medis yang tahu pasti. Entah itu kejang otot, kejang urat atau kejang saraf, hanya menjadi suatu kebetulan dengan ‘kejang-galan’ peristiwa yang mengiringi jadwal pemeriksaan Hartati di lembaga anti korupsi. Hari ini, lebih dari 1.000 orang yang merupakan kumpulan karyawan-karyawan Hartati membawa spanduk ”Save Hartati” memadati depan gedung KPK. Sejak pertama kali datang pukul 08.30 WIB tadi, massa yang mengenakan pita kuning itu jumlahnya semakin bertambah saja.

    Begitu mereka turun dari bus, sudah ada tiga orang yang menyambut mereka dan memberikan pita kuning. Mereka berdiri berjubel mulai dari pintu selatan gedung KPK, hingga ujung gedung KPK di utara yang panjangnya sekitar 100 meter. Selain mengenakan kaos putih bertuliskan ”Save Hartati”, massa yang menamakan dirinya AMAN (Aliansi Masyarakat Anti Pemerasan) ini juga sama-sama mengenakan pita warna kuning di lengan kanan.


    Hartati memang luar biasa. Bukan hanya dengan kekayaannya mampu membayar pengacara hebat untuk menyelamatkannya, namun juga mampu menggerakkan simpati massa untuk mengawal ‘keselamatan’ dirinya. Aksi ”Save Hartati” mirip dongeng Robinhood yang ‘mencuri’ harta orang kaya untuk menyelamatkan hak orang-orang miskin, sehingga ketika sang pejuang berperang dan keselamatannya terancam, dukungan dan balas budi akan berdatangan. Kejang-kejang Hartati bercampur kejanggalan simpati dan kejanggalan semangat anti korupsi di negeri ini.


     Jumat keramat, bisa jadi Hartati sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk dalam pemeriksaan perdana sebagai tersangka. Tuah Jum’at yang menakutkan dan ‘tren penahanan’ usai pemeriksaan perdana bisa jadi menjadi alasan kejang-kejang dan kejanggalan sekelumit aksi massa. Lagi pula Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas beberapa waktu lalu, menyatakan pihaknya memang kemungkinan besar akan menahan tersangka di pemeriksaan pertama.

    Di Jumat keramat ini, ada pula ‘rekan seperjuangan’ Hartati yang juga dijadwalkan menjalani pemeriksaan, yaitu Zulkarnaen Djabar, tersangka kasus suap pembahasan anggaran Al-Quran di Komisi VIII pada 2010-2011. Selain itu, sejauh ini sudah cukup banyak tersangka yang ditahan KPK pada hari Jumat. Di antaranya adalah Wali Kota Cilegon Aat Syafaat, Angelina Patricia Sondakh, Wali Kota Semarang Soemarmo Hadi Saputro, tersangka kasus suap anggota DPRD Kota Semarang juga langsung ditahan setelah diperiksa Jumat.

      Kelabu di hari Jumat bagi tersangka kasus pengadaan alat kesehatan Rustam Syarifudin Pakaya. Ia masuk sel pada Jumat, 20 April 2012. Sial di hari Jumat juga terjadi pada Bupati Siak Arwin A.S. yang terlibat kasus korupsi hutan, dan bekas Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno yang tersangkut kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran. Keduanya sama-sama ditahan pada Jumat, 25 Maret 2011. Hal yang sama menimpa, sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Sutedjo Yuwono yang tersandung kasus alkes rumah sakit rujukan flu burung tahun 2006. Ia ditahan Jumat, 7 Februari 2011.

      Jumat keramat, kejang-kejang Hartati dan kejanggalan spirit anti korupsi dalam aksi ”Save Hartati”, bagaimanapun menjadi potret kelabu terkini negeri yang sedang mengumandangkan perang besar anti korupsi. Kita yang kebetulan masih berada di luar arena, hanya bisa bertanya-tanya dengan mulut menganga tanpa paham dalam-dalam inti sari pati makna di balik semua itu. Mencoba membeber dan membabar makna ”Save Hartati” dengan “Save The Country.” Bukan hanya Hartati yang perlu diselamatkan, namun juga negara ini sudah di ambang kehancuran.

      Dan mungkin tak ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya berusaha membacanya dengan hati jernih agar tidak keliru beropini, sedikit menyampaikan kabar berita dan secuil pesan, bahwa penegakan hukum dan keadilan seringkali hanya dijadikan “serial permainan” di panggung korupsi negeri. Ada sutradara, perancang skenario, kru penata panggung, para aktor utama dan figuran. Dan paling beruntung jika tak terlibat di dalam lingkaran, cukup sebagai penonton, pengamat dan penyampai berita, lewat tulisan, gambar dan suara.

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://foto.detik.com/readfoto/2012/09/07/125736/2011180/157/2/massa-save-hartati-gelar-demonstrasi-di-kpk



2 comments:

  1. nice post, ulasannya mantap dan mudah di mengerti

    ReplyDelete
  2. terima kasih bila mudah dimengerti sdr. Sang Bocah. Salam pembaharuan...

    ReplyDelete