Wednesday, September 12, 2012

Di Balik Air Mata Hartati Murdaya


1347462014626949056
HARTATI MENANGIS. (sumber photo: http://www.antaranews.com)

    Setelah tertunda pada Jumat-keramat pekan kemarin, Hartati Murdaya Poo, tersangka kasus suap Bupati Buol Amran Batalipu untuk penerbitan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan di Buol, Sulawesi Tengah senilai Rp. 3 miliar, akhirnya hari ini resmi ditahan KPK. Sindroma penahanan tersangka pada pemeriksaan perdana dan tuah Jumat keramat kelabu bagi dugaan perbuatan jahat, konon sempat membuat bos PT Hardaya Inti Plantation ini diserang penyakit mendadak, sehingga terpaksa jadwal pemeriksaan pun ditunda.

    Diberitakan Hartati kejang-kejang, lalu butuh perawatan dokter dan penundaan pemeriksaan hingga kesehatannya memungkinkan. Sesuai janji bersama, di hari ini, Rabu, 12 September 2912 tepat pukul 09.42 pagi, mantan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini, meski ‘berpayah-payah’ telah memenuhi janji tiba dengan mobil ambulans RS Medistra.

    Dengan mengenakan blus putih dengan rok warna hitam dan berselop, sempat melambaikan tangan kepada para wartawan.Di atas kursi rodanya, Hartati terus menangis. Dia tampak menyeka air matanya berkali-kali dengan tisu di tangannya. Matanya sembab dan terlihat merah. Dia kemudian didorong terus masuk lift untuk dibawa ke ruang penyidik KPK.
     Setelah dicecar 15 pertanyaan selama sekitar 8,5 jam oleh penyidik KPK, selepas maghrib, sekitar pukul 18.25, Hartati keluar dengan kursi rodanya, mengenakan seragam tahanan KPK. Alhasil, salah satupengusaha terkaya Indoensia yang juga politisi penting ini mesti tunduk pada hukum, resmi sebagai tahananKPK.  Sejumlah kerabat dan kolega Hartati pun menyambutnya keluar dari Kantor KPK.

    Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, Hartati ditahan di Rumah Tahanan Klas I Jakarta Timur cabang KPK, selama 20 hari pertama, untuk kepentingan penyidikan. Ada apa di balik air mata seorang Hartati Murdaya? Ada banyak tanya, ada banyak tanda, ada banyak berita sekaligus cerita, sebagian suka, sebagian duka, sebagian tak dikenal artinya, kecuali hanya mereka-reka sebisanya. Air mata mata selalu mengundang tanya, sudah lumrah saja.

     Bagaimanapun juga, Hartati juga manusia, selain juga seorang wanita. Air mata adalah jawaban nyata, mana kala jawaban kata-kata terlalu sulit menjelaskan kebenaran sebuah peristiwa. Air mata adalah kode rahasia, rangkaian aksara dan tanda baca yang seringkali terlihat berbeda, tergantung dari sisi mana manusia melihatnya. Bagi Hartati, sebagaimana berulangkali ditegaskan oleh kuasa hukumnya, ia lebih merasa sebagai korban pemerasan, bukan pelaku kejahatan suap dan sejenisnya.

    Hartati merasa tak bersalah, dan memang setiap orang berhak memiliki perasaan, bahkan meski perasaan kerap kali berbeda dengan kebenaran. Air mata Hartati adalah air mata kekecewaan dan kesedihan telah dikhianati anak buahnya sendiri. Seperti dikatakannya saat digiring ke ruang tahanan KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, "Saya tidak bersalah, difitnah, saya terima. Saya tidak sedih untuk memikirkan diri saya, tapi saya hanya sedih begitu banyak orang yang hidupnya tergantung pada saya."  

    Yang pasti air mata Hartati bukan air mata ketakutan akan beredarnya kabar akan adanya penahanan usai pemeriksaan. Setidaknya itu ditegaskan oleh salah satu pengacara Hartati Tumbur Simanjuntak, bahwa jangankan hanya ditahan, bahkan untuk menghadapi hukuman ditembak mati Hartati pun berani.

    Air mata Hartati, menetes bak air mata pahlawan. Untuk satu hal mungkin ia adalah seorang pejuang pembangunan, penyedia lapangan pekerjaan, mengangkat ekonomi daerah tertinggal, menyelamatkan ribuan pekerja lewat dunia usaha. Bagi sebagian orang, mungkin memang Hartati benar-benar sebagai pahlawan, terlebih mereka yang menggantungkan nasib diri dan keluarga pada perusahaannya.

13474621651090502531
AKSI "SAVE HARTATI" hari ini. (sumber photo: http://foto.news.viva.co.id)

      Karena itulah mereka yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Anti Pemerasan (Aman) dan Aliansi Kepedulian Rakyat untuk Bangsa (Akrab), pada  jumat-keramat kemarin saat jadwal pemeriksaan perdana yang akhirnya tertunda, lebih dari seribu orang beraksi di gedung KPK demi ”Save Hartati”.

     Aksi yang sama digelar hari ini, sekitar 200 orang berdemo di depan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jalan HR Rasuna Said, Jaksel.  Berbeda dengan Jumat yang mengenakan pita warna kuning, hari ini mereka mengenakan mereka memakai pita hijau, masih lengkap dengan poster yang sama bertuliskan ”Save Hartati”, memadati trotoar jalan sekitar pukul 11.45 WIB. Keselamatan dan masa depan mereka mungkin tergantung dari keselamatan Hartati dari ‘keberanian’ KPK.

    Air mata Hartati, mungkin pula sebagai air mata penderitaan rasanya terhina karena duduk di kursi pesakitan, disangka sebagia pelaku kejahatan, dan terancam bakal dihukum dalam penjara, hilangnya kemerdekaan dan martabat manusia. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sebagai seorang “srikandi negara” yang berkedudukan setara bangsawan dan raja-raja. Hartati adalah salah satu dari segelintir manusia dengan 'pakaian kebesaran' rangkap tiga, menghimpun tiga kasta dalam satu jiwa, waisya, ksatria dan bramana.

    Sebagai waisya, pengusaha terkaya Indonesia ke-13 versi majalah forbes 2008, merangkap ksatria sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, sekaligus brahmana sebagai Ketua Umum DPP Walubi (Persatuan Umat Budha Indonesia). Namun, jika akhirnya terbukti bersalah dalam kejahatan suap dan dihukum pidana, maka meski simbol waisya-nya masih ada sebagai pengusaha, namun derajat hakikinya telah lebih rendah dari kasta sudra. Air mata akan menjadi simbol derita yang tiada tara, bagi seorang Hartati Murdaya. Air mata brahmana turun kasta.

     Air mata Hartati mungkin juga menjadi luapan kecemasan 'syahwat  batari durga, 'kutukan sejarah laku-karma, dhamma manusia, hukum alam semesta. Tak ada manusia yang tak berdosa, dan tak ada dosa yang tetap menjadi dosa, selama taubat masih ada dalam jiwa. Dan air mata akan menjadi syafaat yang menggugurkan setiap dosa manusia, jika ia menetes dan mengalir dari hati bening di balik dada.

     Namun air mata selalu menjadi misteri, tak ada yang bisa tahu pasti, kecuali yang melakukan dan merasakannya sendiri. Di negeri ini air mata sudah terlalu banyak tumpah ruah di atas tanah, tanah air mata, tanah air lautan duka lara, derita orang-orang tertindas dan teraniaya, ketika hukum mengalami ‘disfungsi ereksi,’ gagal dan lemah dalam menegakkan keadilan. Gurita korupsi  masih menghantui penduduk negeri, lebih berefek horor daripada rangkaian teror, carut marut hukum dan politik kotor, perahu negeri retak-retak dan bocor.

     Air mata Hartati, apapun persepsi dan interpretasi, tak berbeda dengan air mata ratusan juta manusia Indonesia yang telah terampas haknya secara semena-mena. Atas nama pembangunan ekonomi, berbaju hukum dan birokrasi, pemiskinan dan pembodohan abadi dalam lingkaran setan korupsi.

    KPK telah terlanjur didaulat menjadi penyelamat rakyat, lewat penegakan hukum demi keadilan dalam ranah pemberantasan korupsi. Akan selalu ada drama dalam setiap peristiwa, air mata kesedihan mereka yang tersangka, terduga dan terpidana tindak kejahatan korupsi. Namun KPK dan kita semua mesti waspada, rekayasa sistemik dan sistematik dari mereka yang bersekutu sebagai musuh negara, hingga kadang memanfaatkan sisi emosional manusia lewat tetesan bulir-bulir air mata.

Hukum harus ditegakkan, kejahatan harus dipertanggungjawabkan, keadilan harus diperjuangkan, hak-hak rakyat harus dikembalikan. Di atas hukum, berlandas hukum, bernafas dengan ruh hukum, tanpa tebang pilih, kosa kata kasta dan penjara label-label bangsawan atau raja. Setiap jiwa dari 250 juta manusia Indonesia sama rata-sama rasa di hadapan hukum. Hanya supremasi hukum yang akan menyelamatkan Indonesia dari kehancuran derita tenggelam dalam air mata, mulai hari ini ini, esok dan selamanya.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment