Friday, September 28, 2012

Quo VadiSolo, Joko Widodo Dan Joko Tripitono



       Solo, atau Sala, yang dalam konteks formal dikenal dengan nama Surakarta, adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang kental dengan sejarah sepanjang masa. Surakarta, yang memiliki kaitan sejarah erat dengan Kartasura, sebagai nama dari dua kata sura dan karta. Sura yang berarti keberanian, filosofi agung karakteristik para ksatria-prawira-pejuang, dan karta yang berarti karya, pencapaian pekerjaan, dan setelah mengalami pergeseran semantik dalam bahasa Jawa Kuno berarti makmur, maju, sedang berkembang, ulung, sempurna.

     Surakarta, sebagai sebuah nama do’a bagi kota “yang maju dan makmur di atas perjuangan keberanian” penghuninya. Sedang eksistensi Solo sendiri muncul dari sebuah nama desa Sala di tepi Bengawan Solo, yang sejarahnya dimulai sejak kepindahan kedudukan raja Kesultanan Mataram dari Kartasura ke wilayah itu pada 17 Februari 1745. Secara de facto tanggal 16 Juni 1946 terbentuk Pemerintah Daerah Kota Surakarta yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sekaligus menghapus kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran.

      Solo menjadi setitik tuah di antara garis sejarah nusantara, saksi politik dari masa ke masa, sejak homo erectus era purbakala hingga homo homini lupus era modern. Homo soloensis 50.000 tahun yang lalu, subspesies yang juga kerap disebut Javanthropus atau Phitecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak). Dan di ranah kekinian Solo masih menjadi saksi pertarungan kekuasaan pergulatan perjalanan kebangsaan manusia yang konon elah berperadaban. Adagium politik homo homini lupus menjerat negeri ini, manusia kera ‘bermutasi’ menjadi manusia serigala yang saling memangsa di rimba politik-kekuasaan nusantara.

      Solo masih menjadi legenda, kota bersejarah sebagai Vorstenlanden atau swapraja di masa kolonial Belanda, sebagai Kochi atau daerah istimewa pada masa pendudukan Jepang, sebagai daerah istimewa bersifat kerajaan di NKRI pasca kemerdekaan, hingga akhirnya menjadi karesidenan sebagai bagian wilayah provinsi Jawa Tengah, dan kini sebagai kota madya di bawah pimpinan seorang walikota. Solo, atau Surakarta, tetaplah menjadi kota perjuangan yang penuh kobaran api ruh keberanian.

     Solo selalu menjadi legenda dan pusat budaya, sumber inspirasi sang maestro Gesang yang mencipta lagu legendaries Bengawan Solo pada 1940-an, pusat khazanah budaya klasik dalam karya batik Solo, termasuk simbol kesempurnaan wanita idaman nan lemah-lembut Putri Solo. Tarian tradisional Bedhaya dan Srimpi yang cantik, artisistik dan penuh etstetik, pusat keanggunan bahasa tata-krama Jawa dan sumbangsihnya dalam perjalanan bahasa Indonesia.

      Solo adalah produk pahlawan bangsa. Sederet nama menghiasi pustaka sejarah Indonesia, Albertus Soegijopranoto (Uskup Agung Semarang), Dr.Muwardi, Kiai Haji Samanhudi ( pendiri Sarekat Dagang Islam), R. Maladi (Menteri Penerangan, Menteri Pemuda dan Olahraga dan Ketua PSSI), Jenderal GPH Djatikusumo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949), Muljadi Djojomartono ( Menteri Sosial dan tokoh Muhamaddiyah), Achmad Baiquni (ahli atom indonesia), Dr. Suharso (ahli ortopedi), Dr. Supomo (Menteri Hukum dan HAM, dan salah satu arsitek UUD 1945), Ir.Sedyatmo (pencipta struktur cakar ayam), Ir. Sutami (Menteri Pekerjaan Umum dan insinyur gedung DPR/MRP), dan Slamet Riyadi.

     Dari bidang politik terdapat antara lain mantan ketua MPR Amien Rais dan Wiranto, sedangkan dari bidang seni dan sastra ada sederet tokoh, antara lain Basuki Abdullah, Luluk Purwanto, Radjiman Wedyodiningrat, Rangga Warsita, Rendra, Teguh Srimulat, Waljinah,Wahjoe Sardono,Nunung,Yasadipura I, dan Yasadipura II. Dari bidang olahraga terdapat petenis Wynne Prakusya, pelari tercepat di Asia Tenggara Suryo Agung, pembalap Rio Haryanto, grandmaster Edhi Handoko, serta pebulutangkis Icuk Sugiarto,Rudy Gunawan, dan Bambang Suprianto.

    Solo 2012, dalam beberapa pekan terakhir menyuguhkan berita yang cukup fenomena dan melegenda. Adalah dia Ir. H. Joko Widodo, yang lebih familiar dengan nama Jokowi, yang secara fenomenal mengubah kota Solo semenjak menjabat sebagai walikota berpasangan dengan F.X. Hadi Rudyatmo dalam dua masa kali periode 2005-2015. Dan hari ini el-phenomenon itu tengah memasuki detik-detik bersejarah bersiap memikul amanat terberat memimpin ibukota DKI Jakarta 2012-2017, setelah bersama pasangan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) melewati perjalanan panjang dan melelahkan dalam pertarungan bersejarah yang konon paling demokratis dan ekstra kritis sepanjang gelaran pilkada Indonesia.

     Di bawah kepemimpinan Jokowi dan Rudy, Solo mengalami perubahan yang pesat. Para pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dapat direlokasi hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka. Investor diberi syarat untuk mau memikirkan kepentingan publik. Komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) diadakan secara rutin dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman.

    Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008.”

     Jokowi, sebagai seorang yang berbasic pedagang-pengusaha telah mampu ‘menyihir’ kebobrokan mental feodal-borokrat, mendobrak ‘zona nyaman’ kekuasaan dan melabrak dogma-dogma kepemimpinan dan hegemoni kekuasaan dari dominasi elit partai-partai politik, menghembuskan nafas pembaharuan bagi bangkitnya kesadaran berpolitik bernurani-berkeadaban yang mengedepankan prioritas rakyat-publik-wong cilik. Energi perjuangan seorang Jokowi tak hanya mampu mengaktualisasikan kota Solo, sebagai “The Spirit of Java,” namun juga ber-resonansi di langit nusantara sebagai “The Spirit of Indonesia.”

     Secara kebetulan, di garis waktu yang berhimpitan, seakan ‘memeriahkan’ momentum Jokowi dan Solo, serangkai peristiwa kekerasan bernama terorisme menyeruak membuat mata terbelalak. Terakhir, mencuat nama Joko Tripitono, alias Joko Parkit, seorang peternak burung parkit yang melengkapi deretan panjang penangkapan wong Solo yang diduga sebagai teroris. Joko Parkit hanyalah salah satu dari simbol seorang joko (jajaka-pemuda) yang oleh penguasa dianggap sebagai teroris yang mengancam kehidupan bersama bangsa dan negara. Joko Parkit, dalam satu sisi menjadi anomali dari karakterisitik wong Solo-Jawa yang dikenal sebagai barometer kelemah-lembut-santunan, kehalusan budi pekerti dan pradigma klasik manusia Jawa yang berpegang teguh pada norma tata-krama, nrimo ing pandum (ikhlas menerima bagian), tepo seliro (tenggang rasa) dengan kemengalahan yang jarang ditemui pada kultur lain di luar Jawa.

     Namun, di sisi lain, Joko Parkit adalah seorang manusia, bukan hanya wong Solo, juga manusia Indonesia, yang jika kita ingin mengenalnya, tentu akan kembali menyuguhkan berlembar-lembar cerita di balik berita, apa sebenarnya yang ia lakukan. Terorisme, memang salah satu dari tiga kejahatan luar biasa selain korupsi dan narkoba, yang menjadi agenda utama musuh negara, mesti diperangi dan dicabut hingga ke akar-akarnya.

      Meskipun nampak berseberangan dan bertolak belakang, namun antara Joko Widodo dan Joko Parkit, apalagi sebagai sesama wong Solo, tetap saja memiliki kesamaan, perjuangan. Perjuangan dan pemberontakan, pembelaan dan pemberontakan, pahlawan dan teroris, ibarat dua sisi mata uang. Kita akan melihatnya sebagai kebenaran tergantung dari sisi mana kita berdiri dan berpihak. Pahlawan atau teroris hanyalah produk sejarah antara kekuasaan yang absah atau tidak sah, pengakuan dan kesepakatan, kepentingan, motif dan tujuan.

     Bagi Joko Widodo dan Joko Tripitono, keduanya pasti yakin dengan pilihan hidupnya, bahwa apa yang dilakukan mereka hakikatnya adalah mutlak perjuangan, hanya saja mereka menempuh dengan cara yang berbeda. Cerita yang hampir sama ketika kita dihadapkan pada ‘pertarungan’ antara Bung Karno dengan SM Karto Soewirjo, dua ksatria ‘seguru seilmu’ murid HOS Tjokroaminoto. Keduanya sama-sama memperjuangkan keyakinan demi tujuan mulia, kehidupan kebangsaan Indonesia, dengan jalur berbeda. Bung Karno berdiri di jalur NKRI, Karto Soewirjo berdiri di jalur NII, lalu keduanya ‘terpaksa’ memenuhi karma dengan lakon masing-masing, bertarung hidup-mati untuk ideologi.

      Kisah Solo dan babad Surakarta, sebuah kota dari kota-kota di seluruh nusantara mungkin tak akan pernah berhenti menjadi sejarah dan legenda,. Kisah Joko Widodo dan Joko Tripitono hanyalah sepenggal kisah dari dua orang anak manusia yang berdiri di sisi berbeda, dengan prinsip berbeda, dengan cara berjuang berbeda. Maka meski tidak terlalu nyambung dengan judul di atas, kita hanya bisa melontarkan sebuah istilah, quo vadis, yang dalam frasa Latin berarti “Ke mana engkau akan pergi?” Atau dalam konteks ini, Quo VadiSolo, adalah simbol pertanyaan, “Akan engkau bawa ke mana Solo?”

     Dan lebih luas akan menjadi pertanyaan besar jika melihat fragmen kekinian NKRI yang masih bergelut dengan carut-marut problem tak kunjung sirna, rusaknya tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, Quo Vadis Indonesia? Akan engkau bawa ke mana Indonesia? Sekadar komparasi, gurita korupsi yang masih mencengkeram negeri ini dan disinyalir tak akan punah dalam 1-2 generasi, memiliki daya rusak ribuan kali lipat dibanding dengan terorisme, meski keduanya sama-sama sebagai Extra Ordinary Crime.

     Jika seorang teroris memakan korban hanya puluhan orang tak berdosa, namun dia berani menjemput kematian demi sebuah tujuan dengan penuh keyakinan, maka seorang koruptor (kelas kakap dengan nilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah) memakan korban ribuan bahkan jutaan orang tak berdosa,  dan dia tak akan sanggup menghadapi kematian karena tak punya tujuan demi keyakinan dan memang koruptor mengejar kesenangan dan kemewahan harta-tahta materi-keduniaan.

     “Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia akan dikalahkan oleh kebijaksanaan, kasih sayang, dan kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri. Joko Tripitono dan Joko Widodo, biarlah menjadi percontohan duo lakon perjuangan sebagai kacabenggala bersama. Solo, The Spirit Of Java, semoga membakar The Spirit Of Indonesia. Untuk refleksi bersama lewat frasa Quo VadiSolo, Quo Vadis Indonesia, hendak si bawa ke mana Solo, hendak di bawa ke mana Indonesia...???



Salam Pembaharuan...
El Jeffry
Referensi:

-http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surakarta

-http://www.tribunnews.com/2012/09/23




Wednesday, September 26, 2012

10 Artikel Terpopuler Saya Di Kompasiana



1348636294584055045
Jokowi: Calon Gubernur DKI Dan Sumber Inspirasi. (sumber photo: http://www.jakartapress.com)

Mengisi masa rehat menulis di Kompasiana, kali ini saya ingin berbagi sedikit ulasan tulisan pribadi. Sekadar berbagi informasi, memasuki hari ke-110 akun saya nongkrong di blog ini, berdasarkan data statistik, tak terasa telah tertulis 162 artikel dengan 559 tanggapan. Kali ini tak perlu lah membahas HL, hl (highlight), dan “ter-ter” karena memang saat-saat ini saya sedang cooling down setelah beberapa pekan terakhir segenap pikiran tersita oleh tema aktual dan ‘berat memforsir jidat’ lewat eksplorasi ulasan politik dan hukum republik terkini.

Tanpa bermaksud unjuk pamer, ada catatan menarik bagi saya pribadi, khususnya mengenai 10 artikel terpopuler yang saya anggap sebagai ekspresi (bukan kreasi) terbaik hasil pembelajaran freelance ‘kuliah terbuka’ dengan beragam ilmu sumbangan 9 guru saya di Kompasiana. Sayangnya, rubrik politik masih mendominasi artikel dengan 7 tulisan, kebetulan terkait pilkada DKI, sisanya tentang filsafat, sejarah dan hukum. Dari ke-10 artikel, 3 di antaranya kebetulan masuk HL, dengan jumlah ‘orang nyasar’ (klik baca)  antara 2.075-5.125 klik, total 31.463 atau rata-rata klik halaman 3.146, plus 182 komentar.

Gubernur DKI Jokowi? Ngimpi...!!! secara khusus bagi saya pribadi memiliki nilai sejarah tersendiri. Disamping untuk saat ini tercatat sebagai rekor terpopuler dengan 5.125 klik, tulisan ini juga merupakan tulisan pertama saya dari 25 artikel politik yang terkait pilkada DKI dengan tanggapan terbanyak 110 tanggapan.  (boleh tengok: Ramalan 9 Agustus: Jokowi Menang 54:46). Sejujurnya, tulisan ini terinspirasi oleh 7 alasan menolak Jokowi menjadi DKI-1 karya teman tercinta Mr. Sutarno.

‘Artikel bersejarah’ ini, meski tidak masuk HL selanjutnya menjadi rujukan saya pribadi dalam mengulas hampis seluruh tulisan selanjutnya terkait pilkada DKI dengan tema sentral Jokowi di dalamnya. Dan mungkin menjadi ciri khas tulisan saya dengan gaya menulis yang ngacak-ngadul, ngalor-ngidul, agak ngawur dan mbalelo, menabrak kaidah-kaidah ‘ilmu tulis-menulis’ dan tata bahasa, sesekali membawa falsafah Jawa dan berbau ndeso. Prinsip saya, yang penting ekspresi tertuang tuntas, eksplorasi sebisa-bisanya kemampuan diri, massage kampungan tersampaikan, dan paling utama, ledakan pembaharuan jiwa dan pikiran tersalurkan.

Sedangkan tulisan yang paling berkesan ada pada artikel Membaca Dilema Di Balik Air Mata Rhoma. Bukan hanya karena menempati rekor ke-2 jumlah klik baca dengan angka 4.513, tanggapan terbanyak dengan 110 tanggapan dan penilaian terbanyak pula dengan 28 dari 37 kompasianer menilai aktual. Namun ‘sejarah penulisan’ artikel ini hampir menguras segenap energi diri, pergulatan pemikiran, analisis, imajinasi, yang melibatkan emosi dan penyelaman filsafat sejauh yang saya miliki. 

Secara khusus saya memang mengerahkan banyak waktu, mungkin persiapan penulisan terlama, edit dan revisi terbanyak berkali-kali sebelum saya klik kolom publih di dashboard. Selain itu, saya pribadi memang sudah mengenal Bang Haji sejak saya berusia 5 tahun, dengan memori khusus lagu Begadang yang saya sudah hapal liriknya pada tahun 1979. Bagi saya pribadi, tulisan ini saya anggaps sebagai tulisan terbaik saya selama saya menulis artikel, termasuk di Kompasiana ini.

Ada lagi yang menarik mengenai jumlah pembaca, pada tulisan berjudul RI1-2014, Satrio Piningit Dan Tuah Angka-7. Saat pertama kali terbit pada 8 Juni 2012, karena posting ini tidak masuk HL, hl, tidak ‘ter-ter ‘dan semula saya anggap sebagai ‘tulisan yang gagal’ ternyata tak saya sangka justru dibaca oleh lebih dari 500 pembaca. Pada saat itu, karena belum genap sebulan saya bergabung di Kompasiana,  jumlah itu menjadi rekor tersendiri dan menjadi energi yang membuat saya semangat menulis lagi. Padahal sebelumnya sempat minder dan nyaris putus asa untuk ‘kabur’ dari Kompasiana.

Yang ‘menakjubkan,’ seiring waktu berjalan, hingga hari ini jumlah pembaca yang ‘tersesat’ meng-klik halaman tersebut merangkak naik secara signifikan dan menggeser judul-judul lain yang semula lebih dahulu populer. Hari ini bahkan menempati urutan ke-5 terpopuler dengan 3591 klik, meningkat 3.000-an pembaca selama 3 bulan.  Artinya, rata-rata sekitar 30 pembaca/hari masih terus ‘tersesat’ meng-klik-nya. Mungkin karena tulisan itu terbantu oleh pernah beberapa kali saya cantumkan sebagai MY FEATURED ARTICLEatas terobosan Kompasiana yang konon selalu berinovasi, di samping bantuan mesin pencarian Google, Yahoo, Alexa atau entah apa saya kurang paham dengan teknologi internet.

Sekadar berbagi informasi, karena saya sendiri terilhami dari tulisan seorang kompasianer, (saya lupa judul dan penulisnya), bahwa Anda tak perlu khawatir tulisan yang hari ini Anda buat jika sepi pembaca. Karena selama tulisan itu tidak dihapus dari google, maka ia ibarat ‘harta simpanan’ khazanah pengetahuan yang berpeluang dibaca oleh milyaran manusia di dunia. Jika hari ini tulisan Anda hanya dibuka oleh 100 pembaca, bisa jadi bulan depan bertambah menjadi 1.000 pembaca, tahun depan 10.000 pembaca, dan 10 tahun lagi tak mustahil menjadi 1 juta pembaca. Lebih-lebih jika tulisan itu linats waktu dan lintas ruang, maka karya usang pun akan selalu aktual dan selaras dengan setiap zaman.

Seperti biasa, kembali saya tegaskan, bahwa tulisan ini bukan pesan, peringatan, pengajaran, atau pemberitahuan, namun   sekadar mengisi kekosongan waktu saya dalam rangka ‘cooling down,’ pembebasan energi yang tersumbat setelah sekian hari tercurah dalam eksplorasi masalah-masalah pelik, njelimet dan ruwet. Politik dan hukum yang selama ini menguras energi yang menegangkan saraf, untuk sementara breakpasca kemenangan Jokowi di hitung cepat lembaga survei. Maka saya ingin menghadirkan tulisan ‘ringan-melayang’ semata-mata memenuhi ‘karma’ Kompasiana untuk sharing-connecting, berbagi-berinteraksi. Semoga kita semua memperoleh secuil manfaat darinya, meski lewat tulisan ngawurmbalelo, nyeleneh, ndeso dan sedikit urakan dalam penyampaian.

Masih mohon maaf dan permisi, di bawah ini saya sertakan daftar 10 artikel terpopuler saya secara lengkap, siapa tahu ada yang berkenan sebagai wahana pembelajaran. Kritik, saran dan masukan selalu saya terima dengan dada terbuka, dari seluruh kompasianer, khususnya yang telah menjalin pertemanan dengan saya, dan yang kerap kali hadir di beranda untuk sekadar menanggapi, menilai, maupun berbagi inspirasi.

Salam Kompasiana...El Jeffry

Daftar 10 Artikel Terpopuler Saya Di Kompasiana:
Masa kampanye Pilgub DKI memasuki hari terakhir. Enam ksatria terhebat Indonesia masa kini selama 14 hari bertarung opini berebut simpati rakyat DKI, ‘mengadu nasib’ untuk ...
OPINI | 7 July 2012 18:31
 5125    110   dibaca 8 dari 25 (Kompasianer) menilai menarik

Belum reda ‘badai’ kontroversi drama perpolitikan ibukota dengan hembusan isu SARA, raja dangdut Rhoma Irama kembali membuat ‘drama’ lanjutan yang tak kalah hebatnya. Air mata ...
REP | 7 August 2012 02:50
 4513    110   dibaca 28 dari 37  menilai aktual


Cukup mengherankan mencoba memahami pandangan orang-orang pintar di negeri ini dalam menyikapi isu SARA pilkada DKI. Setidaknya itu bisa dilihat dalam acara ILC TV One ...
OPINI | 15 August 2012 15:44
 4402    28   dibaca 4 dari 9 menilai menarik

Alkisah, negeri “antah berantah” makin resah oleh naiknya suhu percaturan politik dalam perpolitikan catur saat bidak-bidak berkompetisi promosi menjadi raja. Kegelisahan bertambah-tambah karena tingkah ‘para perwira’ semakin hilang ...
OPINI | 8 June 2012 19:56
 3591    16   dibaca 2 dari 2 menilai menarik

Seperti perulangan takdir sebagai partai kunci kemenangan sebagaimana pada pilpres 2009, PKS kali ini terjebak dalam takdir kebingungan serupa. Setelah tersingkirnya Hidayat-Didik dari pertarungan Pilkada ...
HL | 30 July 2012 23:02
 2594    36   dibaca 9 dari 10 menilai menarik

Pertarungan dua kandidat calon gubernur DKI masih menyisakan ‘partai final’ putaran ke-2 September nanti. Perang iklan tak terelakkan. “Jokowi siapa yang punya?” versus “Fokelah kalau ...
OPINI | 19 July 2012 02:41
 2543    27   dibaca 5 dari 7 menilai aktual

Rumor politik tentang dukungan Nasdem terhadap Pasangan Jokowi-Ahok di pilkada putaran dua kembali berhembus. Beberapa waktu lalu, ...
OPINI | 21 August 2012 01:56
 2288    22   dibaca 7 dari 12 menilai menarik

Borobudur, sebuah candi megah yang berdiri di sebuah bukit yang terletak kira-kira 40 km di barat daya Yogyakarta, 7 km di selatan Magelang, Jawa Tengah, ...
HL | 17 July 2012 02:54
 2233    27   dibaca 7 dari 19 menilai menarik

Belum tuntas ‘perang urat saraf’ melawan Polri dalam kasus simulator SIM, KPK kembali membuat panas suhu politik dan hukum dengan sebuah pernyataan mengejutkan. Salah seorang ...
HL | 10 August 2012 02:10
 2098    29   dibaca 22 dari 24 menilai aktual

“Desa mawa cara, negara mawa tata.” Adanya desa karena adanya cara, dan adanya negara karena adanya tatanan. Tanpa tata, bangunan akan porak poranda, tumpang tindih, ...
OPINI | 16 August 2012 01:55
 2075    74   dibaca 18 dari 37 menilai inspiratif

Menulis Untuk Membebaskan Energi


Malam ini aku ingin menulis, tapi menulis apa. Malam ini aku ingin membaca, tapi membaca apa. Malam ini aku ingin berpikir, tapi berpikir apa. Mengulas, mengupas, membahas, tapi mengulas, mengupas dan membahas apa? Aku sedang tak ingin membaca apa-apa, menulis apa-apa, mengulas, mengupas dan membahas apa-apa.

   Aku sedang tak ingin bicara tentang logika. Aku sedang ingin bicara tentang apa saja, menulis apa saja, asal tidak menguras pikiran hingga berkerut dahi yang semakin keriput sebelum waktunya, Atau rambut beruban di usia relatif muda.

   Aku hanya ingin menulis apa yang hati ini inginkan, lewat jari-jari di atas papan ketik. Apa saja hingga berakhir di titik terakhir. Aku hanya ingin mengalirkan energi yang lama tersumbat di saraf seluruh anatomi, dari kepala hingga kaki.

   Malam ini, tepat di tengah malam, aku ingin membiarkan emosi mengalir sendiri, dari benak hingga ujung jari. Tanpa tema, tanpa rekayasa, tanpa arah seperti biasanya, tanpa pilihan kosa kata, tanpa banyak tanya, tanpa ragam problema.

    Emosi, emosi, emosi. Biarlah kebencian yang mengisi hari-hari belakangan ini rehat barang sesaat. Biarlah keresahan akan keadaan kuhempaskan barang sebentar. Biarlah perasaan beban dan tanggung jawab kehidupan kusampirkan sementara. Biarlah emosi berganti.

    Aku ingin menuangkan dengan emosi malam ini. Emosi cinta dan keberserahan jiwa atas segala yang ada. Rasa lelah memaksa kepala untuk pasrah. Tidurlah benak, tidurlah otak, tidurlah angka-angka dan kalkulasi, analisis dan statistik, prediksi dan memori.

   Tengah malam, 26 September 2012, emosi mengalir dalam diriku, tertuang dalam tulisanku, tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa keinginan, kecuali hanya menulis. Apa yang kutulis, apa yang kubaca, apa kuulas, kukupas dan kubahas, sudah tak penting lagi.

   Aku hanya ingin membebaskan energi yang lama tersumbat di dalam diri, merusak sebagian fungsi anatomi beberapa bulan terakhir ini. Aku hanya ingin mengikuti saran seorang teman, “Bila engkau sedang tak berdaya, jadikanlah aktivitas menulis sebagai terapi, niscaya engkau akan kembali memperoleh energi yang sempat pergi.”

    Dan ternyata memang aku mulai merasakan hingga paragraf terakhir tulisanku ini, pada saat titik terakhir memaksaku harus berhenti, mungkin esok atau lusa masih ada daya untuk mengulang lagi, itupun bila hari-hari, hati dan emosi masih sanggup memberi inspirasi.

Salam...
El Jeffry  

Tuesday, September 25, 2012

Sucikan Dan Sterilkan Rahimmu, Ibu




aku berharap padamu wahai para ibu
sucikan rahimmu, suci sesuci-sucinya
sterilkan dari bakteri ideologi dan virus teknologi
sterilkan dari hama dan penyakit perusak religi
sterilkan dari kuman birokrasi dan jamur konspirasi
sterilkan dari radiasi korupsi dan kolusi
sterilkan dari polusi komunikasi dan endemi globalisasi
sterilkan dari infeksi kebendaan duniawi materi 

sucikan dan sterilkan, sesuci-sucinya dan sesteril-sterilnya
persiapkan rumah cinta, rahmah alam semesta
sebagaimana Aminah bersiap untuk ruh Muhammad
ketika Tuhan hendak menitipkan cahaya bagi dunia
persiapkan rumah cinta, kasih lembut manusia
sebagaimana Maryam bersiap untuk ruh Isa
ketika Tuhan hendak menterjemahkan kasih-Nya

aku berharap padamu wahai para ibu
rahim dari rumah bangsa, rahmah bumi nusantara
ibu pertiwi menunggu amanat suci
seperti janji-Nya yang masih engkau yakini
seorang juru selamat, dewa pembawa berkat
satrio piningit atau imam mahdi
ketika kegelapan jahiliah mencapai titik kulminasi
ketika harapan nyaris terkunci mati
ketika cengkeraman dajjal tak sanggup terlepas lagi

aku berharap padamu wahai para ibu
ibu suri, simbok, biyung, mak, umi
sucikan rahimmu, sterilkan rumahmu
yang suci mesti lahir dari yang suci
misteri Ilahi yang maha suci
engkau tak tahu siapa yang akan terseleksi
satu di antara ratusan juta penghuni negeri
akan jadi alat lahirnya pencerah bumi

Salam...
El Jeffry

Saturday, September 22, 2012

Jokowi (Harus) Tetap Menjadi Jokowi!



   Pilkada DKI telah usai. Sambil menunggu ‘peresmian’ hasil penghitungan KPU DKI 28 September mendatang, sudahi euforia dan pesta gembira atas kemenangan Jokowi hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei. Kita, tak hanya warga ibukota, telah melewati satu fase terberat dari proses demokrasi ibukota. ‘Duel final’ dari rangkaian pertarungan panjang dan melelahkan, nyaris menyita seluruh tenaga, ‘berdarah-darah’ hingga sebagian besar ‘muntah darah’ hanya untuk mempertaruhkan masa depan bersama. 

    Pembelajaran seleksi kepemimpinan yang bergelut dan bergulat di rimba politik-kekuasaan, mencari bentuk ideal tatanan kemasyarakat-negara-bangsaan. Ribuan aral dan godaan, tarik ulur kepentingan dan kebutuhan, gelar-gulung pemikiran dan pandangan, gali-timbun formasi dan formula kesepakatan, hanya untuk satu tujuan, menempatkan salah satu pemimpin terbaik republik di salah satu pilot projek politik paling pelik dan unik, DKI Jakarta, prototip terkini negara-bangsa Indonesia.

     Kita baru saja lulus dan ‘jihad kecil’ pilkada damai dan bernurani etika, meski masih menggunung catatan kaki dan luput sana-sini. Dan selamat datang kepada perang sesungguhnya, ‘jihad besar’ ketika Ir. H. Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (jika tak ada perubahan hitungan antara hasil hitung cepat dengan hasil resmi), bakal memikul amanat terberat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017.

     Sensasi Jokowi telah membabar pelajaran sejarah kepemimpinan bangsa, lengkap dengan segala pernak-pernik peristiwa rekam jejak semenjak 2005. Kita berharap agar itu tidak menjadi antiklimaks ‘perjalanan spiritual’ bocah kecil dari sebuah desa di Solo. Jokowi telah ‘didaulat rakyat’ sebagai contoh kecil pejuang-pemimpin otentik khas anak negeri, yang telah berhasil secara fenomenal mengubah ornamen perpolitikan pusat kota dan Indonesia pada umumnya. Babad sejarah dalam pertarungan ‘berdarah-darah’ paling bersejarah telah dicontohkan dengan gamblang oleh dua sosok sentral ksatria yang berlaga. 

     Dan kini, Dr. Ing. H. Fauzi Bowo telah secara ksatria dan legowo menerima akhir kekuasaan dan kepemimpinan. Hari-hari menanti sang pengganti, Jokowi untuk bersiap menduduki ‘kursi panas’ DKI1, dalam 5 tahun ke depan. ‘Perang kecil’ koalisi rakyat vs koalisi partai, pedagang vs birokrat, pembaharuan vs kemapanan, wong ndeso vs orang kota, kini usia sudah. Jokowi, dengan kawalan Ahok, sudah terlanjur memenuhi takdir demokrasi, kini tinggal memenuhi karma perjuangan yang diayunkan di hari-hari silam dalam kampanye, orasi hingga berdebat-diplomasi, rakyat ibukota telah membeli janji.

     Maka Jokowi harus bersama kita kawal, lindungi, sekaligus kritisi, agar tetap memikul janji atas nama vox populi vox dei. Dan untuk itu, kita meminta, Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, hari kemarin, hari ini, hari esok dan paling kurang 5 tahun ke depan, di mana perjanjian rakyat-pemimpin telah dipikul di pundak lewat pilkada. Selama ini kita mengenal Jokowi sebagai seorang pemimpin bersukma kerakyatan yang selalu nguwongke wong (memanusiakan manusia) dengan berdekat-dekat dengan rakyat. Maka di hari esok kita tidak rela jika Jokowi melanggar karma sejarah dirinya, jangan sampai meninggalkan rakyat atau menjaga jarak, lalu malah berdekat-dekat dengan bangsawan-birokrat.

    Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, pemimpin yang kita kenal sebagai pemimpin sederhana dan jujur apa adanya, tak terjebak dalam retorika gaya mayoritas pemimpin kita. Kederhanaan tanpa mengumbar kesempatan dan jabatan, menghindari fasilitas ekstra nyaman dan kemewahan, menjauhi pola perintah-perintah ala pemerintah adigang-adigung-adiguna (jumawa). Kesederhanaan kita harapkan menginspirasi para pemimpin di negeri ini untuk melakukan hal sama, ketika keterpurukan bangsa menuntut kita untuk menghemat dan bersahaja.

      Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, pribadi berprinsip luhur dan berintegritas, merdeka dari belenggu kepentingan partai politik pengusungnya, lengkap dengan segala atribut politik yang penuh kebohongan dan dusta. Tak mudah, namun tak mustahil, terlebih sang wakil Ahok juga kita kenal sebagai pribadi merdeka dengan loyalitas lebih kepada rakyat daripada kepada partai. PDIP dan Gerindra sendiri telah menegaskan, bahwa ketika telah terpilih sebagai pemimpin ibukota, mereka berdua bukan lagi milik partai, tapi milik warga DKI Jakarta. Jokowi harus siap menanggalkan ‘baju kotak-kotak’ dan menggantinya dengan ‘baju aneka motif-warna’ ibukota yang bhinneka.

     Memang tak sedikit yang melontarkan prediksi miring dan meragukan kemampuannya mempertahankan kemerdekaan kepribadian, bahwa Jokowi akan dikelilingi dan dikepung oleh para pengusaha hitam, politisi oportunis, makelar proyek, birokrat pelacur dan segunung manusia sampah lainnya. Namun dengan melihat rekam jejak selama 7 tahun catatan sejarah kepemimpinan di daerah, kita tetap percaya, sekaligus juga tetap mengawalnya, agar Jokowi tidak terjebak dalam ‘pusaran beliung kekumuhan politik’ di ibukota, tetap kukuh untuk tak terpenjara dalam pragmatisme jeruji kepentingan politik dan ekonomi mereka.

     Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, meski kelak mesti terperangkap dalam sarang macan, mengingat mayoritas suara, 72%  DPRD DKI Jakarta merupakan partai pendukung pasangan Foke. Jokowi harus tetap menjadi Jokowi yang berprinsip teguh, meski perampasan hak dan aksi goyang menggoyang sudah dan sedang berlangsung dan ditetapkan sebagai nilai dan ‘kode etik menggelitik’ di negeri ini.

     Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, menjadi diri sendiri dan sebaiknya tak melibatkan mantan gubernur kelak, Fauzi Bowo sebagai penasehat. Jokowi adalah figur pembaharu, bukan figur penerus. Maka ‘putuskan rantai’ pemikiran dan gagasan para mantan gubernur DKI dan sepenuhnya menangani DKI dengan sentuhan khas Jokowi yang baru, berbeda dan lebih artistik-kreatif-produktif, bukan plagiat dan pengekor nilai-nilai lama yang terbukti gagal fungsi memperbaiki segalanya.

      Jokowi hanya diberi amanat selama 5 tahun saja. Dan kita ingin melihat model dan gaya kepemimpinan yang sedikit ‘edan’ dan nyeleneh dari pakem tradisi kebiasaan yang salah kaprah, menjemukan dan membosankan. Mari kita dukung sepenuhnya, agar Jokowi mengerahkan kemampuan guna memperjuangkan tegaknya daulat hak-hak asasiah kewargaan-res publica kepentingan umum rakyat Jakarta. Selamat datang pemimpin baru, selamat datang spirit pembaharuan. Dan semua itu hanya bisa tercapai selama Jokowi sendiri tidak berubah. Apapun yang terjadi, Jokowi harus tetap menjadi Jokowi.

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://foto.okezone.com

Thursday, September 20, 2012

“Ramalan” 6 Agustus: Jokowi Menang 54: 46!



13481359371923229258
JOKOWI-AHOK: Siap Memimpin DKI Jakarta. (sumber photo: http://www.rimanews.com)

    Enam pekan silam, tepatnya 42 hari lalu, pada 9 Agustus 2012, saya menulis sebuah artikel ‘ramalan’ bahwa pada putaran kedua pilkada DKI 20 September, Jokowi-Ahok bakal menciptakan sensasi memenangi ‘kwartuel’ (baca: duel 4 ksatria) atas Foke-Nara dengan angka tipis 54:46.


    Di paragraf kedua saya tulis: ”Ini analisis memang hanya sembarang analisis, tapi inilah analisis cara praktis, ekonomis dan higienis. Tanpa perlu banyak pertimbangan kotak-katik angka matematis dan uji klinis. Bolehlah kalau dibilang rada mistis, yang penting optimis dan sedikit realistis. Pasalnya, yang sudah-sudah, banyak analisis para ahli secara metodologis, tetap saja keblinger dan terjungkir balik habis.” (boleh baca: sensasi Jokowi: menang tipis 54:46).

    Hari ini, dari hasil hitung cepat (quick count) beberapa lembaga survei sepertinya menunjukkan kenyataan yang nyaris tepat dengan ‘ramalan’ saya. Sampai berita ini saya tulis, dari empat lembaga survei telah mencapai perhitungan yang hampir 100%, dan diyakini sudah cukup signifikan untuk menyimpulkan hasil akhir dari hitung cepat. Dari informasi siaran televisi, keempatnya menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda dengan kisaran angka ‘ramalan’ saya dan semuanya memenangkan pasangan Jokowi-Ahok.

       MNC Media-SMRC yang menjadi rujukan RCTI, Global TV dan MNC Teve, memberikan angka 47,09% suara untuk Foke-Nara dan 52,91% suara untuk Jokowi-Ahok. Lingkaran Survei Indonesia yang bekerja sama dengan TV One melaporkan perolehan suara 46,32% untuk Foke-Nara dan 53,68 untuk Jokowi-Ahok. Lembaga Survei Indonesia bersama SCTV dan Indosiar melaporkan angka 46,19% untuk Foke-Nara dan 53,81% untuk Jokowi-Ahok. Sedang Litbang Kompas bersama Kompas TV dan TVRI menyuguhkan angka 47,03% untuk Foke-Nara dan 52,97% untuk Jokowi-Ahok.

    Dengan pembulatan, maka hasil hitung cepat keempat lembaga survei menyuguhkan angka perolehan Foke-Nara: Jokowi-Ahok dengan angka 47: 53, 46: 54, 46: 54 dan 47: 53. Tentu boleh dikatakan, hasil ramalan saya praktis nyaris mendekati tepat, dalam angka 46: 54. Dengan kata lain, Jokowi berhasil menciptakan sensasi dengan kemenangan angka tipis 54:46.

    Kebetulan? Ya, memang bisa jadi memang kebetulan, namanya juga ramalan. Tebak-tebakan cuma sekadar meramaikan suasana pemilihan agar kita tidak jenuh dalam mengikuti pemberitaan. Analisis praktis, ekonomis dan higienis, hanya saya membungkus bahasa agar tidak terlalu terlihat ngawur dalam menebak-nebak angka. Padahal, kalaupun dikatakan analisis, pedoman analisis ini sederhana saja, malah bisa dikatakan asal dan dangkal.

     Dasar ‘ramalan’ suara saya sederhana. Jokowi punya modal 42% suara di putaran pertama, Foke punya 34% suara, saya ‘ramal’ tak berkurang atau bertambah. Koalisi partai tak berpengaruh pada pilihan warga, DPT baru diabaikan, golput diasumsikan tak ada perubahan (pada kenyataannya memang suara golput relatif tak berubah). Penentuan pemenang tergantung dari sisa suara 24% dari 4 pendukung pasangan yang gugur di putaran pertama, terbelah dua secara merata, 12% lari ke Jokowi-Ahok sehingga menjadi 54, 12% lari ke Foke-Nara sehingga menjadi 46. Jadilah kemenangan sensasional Jokowi dengan angka 54:46.  

     Sensasi kemenangan Jokowi, memang hanya sementara, baru pada hasil survei hitung cepat. Karena kemenangan sesungguhnya tetap harus menunggu hasil resmi penghitungan KPU DKI beberapa hari ke depan. Namun berdasarkan pengalaman, hasil hitung cepat sudah terbukti secara akurat dan biasanya tak ada perbedaan signifikan dengan hasil penghitungan manual. Karena itu tak ada salahnya, sebagai salah satu pendukung Jokowi-Ahok untuk menjadi pemimpin ibukota, saya mengucapkan selamat atas kemenangan sementara ini.

    Tulisan ini, secara kebetulan menjadi tulisan ke-22 dari rangkaian tulisan saya mengenai pilkada DKI Jakarta, yang kebetulan pula kali ini saya turut mendukung Ir. H. Joko Widodo untuk menjadi gubernur DKI. Saya sendiri bukan analis, bukan pula menulis untuk kajian akademis, karena saya memang bukan akademisi. Rangkaian tulisan tentang Pilkada DKI yang mulai saya tulis di blog ini pada 7 Juli 2012 dengan tajuk Gubernur DKI Jokowi? ngimpi!!!, tak lebih dari ekspresi hati nurani orang pinggiran yang ingin keluar dari ‘gua kegelapan’ dan mengelupasi ‘lumut kebosanan.’

Mimpi Jokowi adalah wakil dari mimpi saya, mungkin mimpi warga Dki, dan tak mustahil mimpi warga NKRI yang ingin melihat harapan ke depan dengan momentum perubahan. DKI Jakarta adalah ibukota negara yang sangat secara simbolik diharapkan menjadi prototip dari Indonesia. Karena saya hanya sekadar berbagi pemikiran, pendapat, dan pandangan yang mungkin dalam banyak hal berbeda dengan Anda yang selama ini telah berkenan menjalin interaksi sebagai teman, sahabat, saudara dan guru saya secara pribadi.

Karena itu sekadar berbagi, di bawah ini saya ikutkan 20 artikel yang terkait dengan Pilkada DKI, jika Anda berkenan menengok ‘penglihatan dan mata’ saya dalam memandang Jokowi dan Pilkada DKI Jakarta. Apapun hasilnya, siapapun yang terpilih sebagai gubernur DKI periode 2012-2017, kita semua patut bersyukur. Sebagai bangsa yang tengah belajar bertata-negara lewat demokrasi Pancasila, satu tahap kita ‘lulus’ sempurna dengan gelaran pilkada damai tanpa halangan berarti, meski sempat diguncang prahara sana-sini.

Siapapun yang terpilih dan secara legitimasi diakui setelah keputusan resmi PKU DKI nanti, kita berharap, jika Jokowi digariskan untuk menjadi pemimpin ibukota, semoga menjadi spirit dan momentum kebangkitan dan kesadaran anak bangsa untuk hari esok yang lebih baik baik. Bukan hanya warga ibukota, tapi untuk semua warga negara Indonesia.

Salam...
El Jeffry



Tuesday, September 18, 2012

Debat Kandidat: Trial And Error Demokrasi?


13479466052007997046
DEBAT KANDIDAT. (sumber photo: http://jakarta.tribunnews.com)



     Pilkada DKI tinggal tiga hari lagi. Tiga hari masa tenang, setelah tiga hari masa kampanye yang ditutup dengan dua kali debat kandidat cagub-cawagub, konon kabarnya, fase penajaman visi-misi. Rangkaian panjang perjalanan politik dan kekuasaan ibukota, manifestasi dari demokrasi di negeri republik ini.

     Hingar-bingar, hiruk-pikuk, pontang-panting, pertarungan dua kekuatan menjelang “The Final Round” putaran dua 20 September mendatang. Menarik, mengusik, kadang menggelitik, juga memikat, menjerat, dan kadang menghipnotis kesadaran rakyat, sebagai trial and error bersama, pembelajaran anak bangsa yang tengah mencari bentuk sejati tatanan demokrasi negara khas nusantara.

    Khusus mengenai debat kandidat calon pemimpin sebagai arena ‘perebutan’ tahta-kekuasaan secara sah dan legitimated, boleh kiranya kita sedikit telaah bersama, berkaitan dengan manfaat dan mudharat yang ada di dalamnya. Plus-minus, positif-negatif, kelebihan-kekurangan, kebaikan-keburukan, sehingga kita yang memang sedang dalam proses trial and error demokrasi bisa mengambil pelajaran darinya.

       Debat kandidat sejatinya baru kita kenal sejak pilpres 2004, pemilihan presiden  dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat pertama kali sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Tradisi baru yang mengadopsi dari demokrasi liberal ala barat dengan kiblat Amerika Serikat. Tradisi demokrasi ini pada awalnya tak urung menuai pro-kontra, mengingat “budaya” demokrasi ala Barat belum tentu selaras dengan budaya demokrasi khas nusantara yang berfalsafah Pancasila.

      Hakikatnya, pemilihan presiden secara langsung sendiri, oleh sebagian dinilai ‘menyimpang’ dari falsafah dasar Pancasila, yang khusus tersirat dalam sila ke-4, sebagai “hikmah-kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Bung Karno, sang penggali ‘ruh’ Pancasila secara khusus bahkan telah mengkristalkan nilai-nilai demokrasi sebagai “gotong-royong.” Ini sejajar dengan falsafah sila pertama Ketuhanan yang secara mendasar menterjemahkan demokrasi dan kekuasaan-kepemimpinan-pemerintahan di atas kaidah “musyawarah mufakat.”

     Namun, dalam gerak sejarah “trial and error” perjalanan bangsa, demokrasi mulai sedikit ber-‘evolusi’ dengan mulai dikenalnya voting, pemungutan suara bila mufakat gagal dicapai dalam musyawarah. Belakangan, voting yang menjadi ciri khas demokrasi barat yang liberal lebih memikat permainan catur perpolitikan kita karena lebih dinamis, dan mungkin, lebih seru dan lebih greget. Musyawarah mulai perlahan dinomorduakan, kalau tidak dikatakan ditinggalkan.

    Pemilihan langsung, pilpres, pilkada dan pilkades senafas-sehembusan dengan debat kandidat. Sehingga pada akhirnya perdebatan calon pemimpin seakan menjadi agenda wajib dalam ritual kampanye pemilihan calon presiden, kepala daerah, dan mungkin suatu saat, kepala desa.

Memang, dari debat kandidat, para calon pemimpin itu bisa terlihat kepribadian aslinya. Dari perdebatan itulah rakyat, calon pemilih mengenal kapasitas dan karakter calon pemimpin, dalam kaitan dengan kemampuan berdiplomasi, penguasaan mental dan emosional dalam berkomunikasi. Inilah sebagian dari manfaat-nilai positif debat kandidat.
Namun, di sisi lain, debat kandidat juga tak bebas dari sisi mudharat-nilai negatif. Salah satunya adalah calon pemilih, apabila kurang mempelajari track record secara mendalam figur kandidat, akan tertipu oleh kemenangan perdebatan dia yang memiliki keunggulan berkata-kata, diplomasi dan retorika.

       Sedikit meminjam pepatah Jawa, kualitas seseorang yang terbaik dalam urusan profesi dan kepemimpinan adalah, sepi ing pamrih, rame ing gawe (sedikit bicara, banyak bekerja). Sebagian dari pemimpin yang berhasil masih berpegang teguh pada falsafah ini, sehingga bagi mereka, prestasi dan keberhasilan bukan diukur dari kemahiran berbicara (retorika-orasi-diplomasi).

    Paradigma kepemimpinan yang keliru dalam mentransformasi nilai-nilai demokrasi tak kurang menjangkiti mayoritas pemimpin bangsa ini pada saat ini. Kepemimpinan diukur dari kemahiran mengemas olah kata, alias diplomasi. Maka muncullah falsafah rame ing pamrih, sepi ing gawe. Pemimpin yang hanya pintar bicara, tapi hampa dalam kerja nyata, alias NATO (no action talk only), omdo (omong doang), retorika yang hanya berobsesi pada citra.

      Pemimpin NATO atau omdo, dalam banyak hal sanggup memenangi perdebatan, meski pada prakteknya nol besar, karena memang manusia tipe ini terlatih untuk berdiplomasi. Jika kebetulan yang tampil dalam debat kandidat calon pemimpin jenis ini, ditambah kepandiran calon pemilih dalam mengenal dalam-dalam dan gagal menganalisa, maka rakyat bakal mengalami ‘ketertipuan paling berbahaya.’

      Dalam kosmologi ajaran Islam (dan mungkin agama lain), perdebatan justru sebagai hal yang ‘diharamkan’ dalam berbagai urusan, karena tak akan membawa kebaikan sedikitpun. Perdebatan hanya akan membuahkan permusuhan, amarah, kebencian dan dendam, dan ini sangat kontradiktif dengan tujuan kepemimpinan untuk menciptakan kekeluargaan, persaudaraan, cinta dan persatuan.

      Musyawarah, yang memang secara tata bahasa berasal dari bahasa arab (Alqur’an), yaitu syura, dan telah berakulturasi dalam budaya masyarakat Indonesia berabad-abad lamanya. Karena itu musyawarah yang menjadi salah satu mutiara kristal filosofi khas budaya nusantara ditancapkan oleh founding fathers dalam sila ke-4 Pancasila. Budaya rembug, berdiskusi, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar terbaik dari berbagai persoalan dilandasi semangat gotong-royong dan kekeluargaan. Ini jauh berbeda dengan perdebatan, perbantahan dan pertengkaran yang secara prinsipil berupaya saling mengalahkan, menjatuhkan dan menghancurkan lawan.

     Menang tanpa ngasorake, menang tanpa menghinakan, sebagai falsafah luhur warisan leluhur kini memang mulai luntur. Padahal falsafah ini pada dasarnya menjadi pijakan utama penyelesaian sengketa, memenangkan semua pihak yang bersengketa, win-win solution. Liberalisasi demokrasi nyatanya semakin tak terbendung. Mungkin kita terlalu mengagungkan demokrasi ala Barat dengan menelan bulat-bulat, tanpa filtrasi dan adaptasi dengan nilai-nilai asli khazanah bangsa sendiri.

      Kita sebagai bangsa, termasuk dalam berdemokrasi memang tengah dalam proses trial and error, mencoba dan salah, sampai menemukan masa di mana kesalahan dalam percobaan semakin berkurang dan berkurang sehingga mendekati kebenaran dan ketepatan ideal. Mungkin kita masih butuh belajar dan terus belajar, bagaimana mentransformasi nilai-nilai asing yang sudah terlanjur kita adopsi agar selaras dengan nilai-nilai asli pribumi.

     Sejatinya, secara sosiohistoris ‘kitab dasar’ rujukan berbangsa dan bernegara telah diwariskan oleh para priyayi-pandhita-ulama-brahmana nusantara. Ramuan mistik-eksentrik-unik dengan karakteristik khas Indonesia telah digodok dalam ‘kawah candradimuka’ dengan kematangan sempurna oleh kaum terbaik bangsa. Ruh demokrasi Pancasila, spirit Bhinneka Tunggal Ika, konstitusi UUD 45, sebagai fondasi filosofi terbaik rumah-ramah-rahmah surga dunia.

     Kini tugas kita tinggal mensinergi-sintesakan antara nilai-nilai otentik bangsa dengan dinamika kekinian, hingga menjadi paduan keselarasan dalam tananan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Pilkada DKI, dengan segala hiruk-pikuk, ekspektasi publik dan euforia warga ibukota dan rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya debat kandidat, biarlah menjadi pelajaran berharga bersama. Wajar dalam mencari bentuk terbaik negara-bangsa, butuh proses panjang dan melelahkan, kadang tanpa disadari harus memakan korban tak terhindarkan.

     Trial and error, mencoba dan salah, menelan pil pahit dari percobaan dan kesalahan, termasuk debat kandidat cagub-cawagub DKI, di balik manfaat dan mudharatnya, anggap saja bagian dari pendewasaan berdemokrasi. Sebagai penutup, ada sebuah pesan dari seorang teman, ”Jangan pernah tertipu dengan perkataan seorang diplomat. Jika ia berkata “pasti!,” itu berarti mungkin. Jika ia berkata “mungkin,” itu berarti tidak. Dan jika ia berkata “tidak,” itu berarti ia bukan diplomat, karena seorang diplomat tak pernah berkata “tidak!”

Salam...
El Jeffry