Friday, August 10, 2012

Umumkan Menteri Tersangka, KPK Bergerilya?


       Belum tuntas ‘perang urat saraf’ melawan Polri dalam kasus simulator SIM, KPK kembali membuat panas suhu politik dan hukum dengan sebuah pernyataan mengejutkan. Salah seorang menteri aktif di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II bakal menjadi tersangka. Berita ini disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Bambang Wijoyanto dan dipertegas oleh Ketua KPK Abraham Samad, Kamis, 8/08/2012.

        Apakah ini hanya sebagai upaya KPK untuk bergerilya dalam perang anti korupsi, mengingat kisruh terakhir dengan Polri yang masih menemui jalan buntu? Meskipun berbagai kalangan hukum cenderung lebih memihak KPK ketimbang Polri, namun kekhawatiran akan terulangnya drama Cicak Buaya, tak urung membuat banyak pihak mulai menyadari, bahwa KPK hanya akan membentur tembok baja.

       Mau dibolak-balik bagaimanapun, energi KPK ‘nyaris mustail’ diharapkan sanggup mengalahkan gurita korupsi di negeri ini. Di hadapkan pada makhluk misterius korupsi  sistemik-endemik, lembaga seperti KPK hanyalah sekelompok cicak yang bertarung melawan buaya raksasa. Mungkin akhirnya kita harus realistis, kalau tidak dikatakan pesimis, perjuangan besar dan luhur tak cukup hanya bermodalkan keberanian dan kebenaran, namun juga strategi.

      Abraham Samad mungkin mendapat pencerahan, hukum di negara hukum tidak serta merta bisa ditegakkan. Dalam sengketa terakhir dengan Polri, giliran KPK sudah merasa begitu yakin telah berpijak di atas hukum yang benar, KPK masih terjegal dengan tuduhan etika telah dilanggar. Sungguh pintar akal buaya, cicak hanya bisa berdecak kagum bercampur heran.

         Mungkin Abraham Samad mendapat ‘bisikan khusus’ dari bapak presiden di sela-sela acara berbuka kemarin petang. Memang tak ada yang tahu apa isi rahasia 3 manusia dalam 3 menit ketika SBY-Kapolri-Ketua KPK bicara enam mata Mabes Polri. Jika dilihat dari foto yang beredar di media, sorot mata sang presiden lebih mengarah kepada Abraham Samad. Wajah Abraham sendiri terlihat tertunduk seakan ciut, sebaliknya Kapolri Timur Pradopo lebih terlihat cerah dengan sedikit senyum.

        Bisa jadi, Abraham berhasil menangkap kode bahasa Sang Panglima Tertingi pemberantasan korupsi, yang secara tersirat mengharapkan KPK dan Polri mesti bersinergi dan berkolaborasi, karena keduanya adalah “andalan” negeri ini. Atau diilhami taushiah Wamenag Nasaruddin Umar tentang kisah ‘perang saudara’ anak Adam Qabil-Habil. Kelihatannya Kapolri telah memilih takdir menjadi Qabil yang jahat dan ingkar bakal membunuh Habil yang baik dan taat hukum.

       Semakin kuat iman dan semangat juang Abraham. Kebenaran harus ditegakkan, tapi dengan cerdik dan elegan, bukan menabrak tembok baja. Dalam hukum rimba, untuk bertarung Anda harus bertaring. Tanpa taring, terang-terang Anda akan kalah tersingkir keluar ring. Seperti sejarah perjuangan bangsa ini dalam melawan kompeni Belanda. Kalah senapan dan meriam, bergerilya bergerak di tengah malam dengan bambu runcing. Alhasil, mukjizat membawa Indonesia menjadi negara merdeka.

       Seperti halnya semangat juang demi hak dan keadilan plus strategi gerilya, mukjizat Vietkong menjadikan perang Vietnam sebagai mimpi buruk dan kutukan sejarah arogansi dan egoisme negara adidaya Amerika. David versus Goliath. Daud versus Jalut. Cicak KPK harus cerdas bermutasi menjadi kancil. Dalam mitos, hanya kancil yang bisa mempecundangi buaya.  

       Melawan buaya, KPK mesti mengubah taktik dengan cantik, unik dan tak terduga. Mungkin itu yang tengah dilakukan KPK dengan mengumumkan seorang menteri aktif akan menjadi tersangka. Kita hanya menduga-duga dan kadang terpaksa syak wasangka, seperti halnya anggota Komisi III DPR Ahmad Yani yang ‘dongkol’ melihat tingkah KPK. Yani menilai KPK belum memahami kalau dirinya sebagai institusi penegak hukum dengan membangun opini publik dalam menetapkan tersangka.

       Yani, bisa jadi benar. Dan maklum bila ada pernyataan yang senada dari kalangan DPR. Apa lagi, dua bulan silam ada kisruh serupa antara lembaga itu dengan KPK. Cerita yang hampir sama, soal anggaran gedung baru KPK. keduanya punya argumen sama kuat. DPR menang. KPK kalah tak berdaya. Lalu fenomena ”koin saweran untuk KPK” menjadi simbol simpati rakyat dengan wacana pertarungan opini, hukum dan keadilan antara dua kutub berbeda.

      DPR ‘cemburu buta,’ kenapa ketika DPR mengajukan anggaran renovasi gedung, rakyat rame-rame berunjuk rasa untuk menolaknya? Eh, giliran KPK yang mengajukan anggaran, rakyat justru ‘ngotot’ menekan DPR untuk merestuinya? Di mata DPR, rakyat dungu dan keblinger, mau-maunya saja dimobilisasi turun ke jalanan. LSM dituding memperalat massa untukkepentingan-kepentingan. Bahkan kini KPK dituduh sebagai LSM jalanan!

      Kecemburuan sama yang mungkin dirasakan oleh Polri, kenapa sih rakyat lebih berpihak kepada KPK? Bukankah Polri selama ini sudah menunjukkan komitmen pemberantasan korupsi? DPR, Polri dan lainnya yang mengeluarkan pernyataan serupa sama saja. Terkurung dalam tempurung berpikir, bingung dan linglung sampai-sampai tak sanggup mengeja bahasa rakyat yang sederhana.

      Rakyat butuh bukti dan transparansi, bukan sekadar janji dan bisik-isik di balik lemari besi. Meskipun begitu, rakyat tidak selamanya menuntut bukti matang dengan segera eksekusi mati para koruptor atau kembalinya triliunan uang negara yang dikorupsi. Karena rakyat makin sadar, bahwa lingkaran setan korupsi mustahil bisa diurai dalam ‘hitungan hari.’

     Rakyat, dengan kesabaran ekstra yang hampir tak tertahan, apapun hasilnya, secara realistis melihat itikad baik dan tetesan keringat para pejuang KPK yang benar-benar bekerja. Dan makin lama terbuka simpulnya, bahwa KPK diskenariokan hanya sebagai boneka cantik dari India untuk menghibur hati rakyat agar terlena dari intisari problem sebenarnya.

     Tapi kita masih percaya, mukjizat selalu disediakan Tuhan bagi manusia yang berjuang untuk keadilan. hal sama ketika skenario Fir’aun membunuh setiap bayi laki-laki yang diramalkan bakal mengancam kekuasaannya. Skenario Tuhan di luar perhitungan manusia justru memasukkan Musa bayi ke dalam lingkaran istana Fir’aun. Musuh terbesarnya, adalah orang terdekatnya, anak angkatnya sendiri.

      Mungkin skenario yang sama ketika Abraham Samad yang ‘tidak direkomendasikan’ Pansel KPK karena hanya menempati ranking 5 dari 8 calon, justru didukung oleh DPR, karena mungkin dianggap ‘lebih aman.’ Tapi ternyata di luar dugaan justru Abraham terlalu berani menabrak-nabrak dan ‘gila,’ seperti ‘gila’nya Musa dewasa ketika memukul seorang lelaki yang menganiaya pekerja hingga tewas. Hingga akhirnya Musa keluar dari istana dan bergerilya membebaskan Bani Israel dari perbudakan.

Kita tunggu saja langkah KPK selanjutnya. Soal pengumuman tersangka seorang menteri, apapun alasannya itu sah-sah saja. Itu bagian dari gerilya dan perang urat saraf dengan para koruptor yang tengah berleha-leha tertawa-tawa melihat kisruh simulator. Siapapun dia yang bakal menjadi contoh pertama, akan menjadi pelajaran berharga. Tak boleh ada manusia yang kebal hukum di republik ini. Tak ada koruptor yang lolos dari jeratan hukum, semua tinggal soal waktu.

Semakin KPK ditekan, akan semakin kuat dukungan rakyat. Bila wakil rakyat tak memihak rakyat, maka ia sudah tak layak jadi wakil rakyat. Bila penguasa sewenang-wenang halalkan segala cara, pada akhirnya pasti akan binasa dengan satu cara. Cara tak terhormat dengan hukum rimba tergulung oleh gelombang kemarahan rakyat, atau cara terhormat dengan hukum negara oleh lembaga KPK.

Salam..
El Jeffry

aumber photo: http://entertainmentandgetextramoney.blogspot.com


No comments:

Post a Comment