Sunday, August 5, 2012

Simulator, SARA Dan Olimpiade: 3 Skandal Kompetisi


      Dua pekan ke depan kita bersiap menjelang dua peristiwa besar bersejarah, penghabisan bulan suci Ramadhan dan peringatan 67 tahun proklamasi kemerdekaan, 17 Agutus bakal beriringan dengan hari lebaran. Kontradiktif dengan harapan keberkahan dari dua ‘keramat sejarah’ agama dan negara, sepekan terakhir kita dihadapkan pada 3 ‘berita duka,’ dalam bidang hukum, politik dan olahraga.

      Kisruh Polri dan KPK dalam penyidikan kasus simulator SIM Korlantas menyuguhkan carut-marut “kompetisi” antar lembaga penegak hukum dalam upaya pemberantasan anti korupsi. Drama ‘jeruk makan jeruk’ antara KPK dan Polri membuktikan betapa tebalnya tembok  lingkaran setan korupsi mengurung kita, hingga rasanya hampir mustahil harapan supremasi hukum akan bisa ditegakkan di negeri ini.

       Sampai detik ini, Polri yang oleh kaca mata publik terlihat egois dan arogan masih tetap bersikukuh untuk melanjutkan ‘pertarungan’ sampai titik darah penghabisan. Tragedi masa silam, skandal kasus Cicak-Buaya jilid dua bakal terulang, di depan mata buram-muram hukum semakin jelas terbayang.

      Kisruh isu SARA dalam kampanye pilkada DKI tak kunjung reda. Pasalnya, suara dihembuskan oleh seorang tokoh ternama, Bang Haji Rhoma Irama. Carut-marut “kompetisi” dalam dunia politik perebutan pimpinan ibukota membuat sebagian elit gelap mata. Jokowi Ahok-versus Foke-Nara, lebih nampak sebagai pertarungan agama dan negara. Kebhinnekaan yang disimbolkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai prototip kolaborasi muslim-non muslim dan Jawa-Tionghoa, dianggap mengancam ibukota, kontradiktif dengan semangat kebangsaan dan demokrasi Pancasila.

       Barometer kriteria penyulingan saripati kepemimpinan terancam mengalami kemunduran. Prasyarat kepemimpinan lebih ditentukan oleh sentimen emosional-irrasianal seagama-seiman, seetnis-segolongan. Padahal di era global-modern yang ekstra kompetitif plus pengalaman historis bangsa-bangsa di dunia, seharusnya kriteria kepemimpinan ditentukan oleh sentimen faktual-rasional. Pembuktian nyata bisa dilihat lewat  rekam jejak calon pemimpin dalam berjuang, mengabdi, membela rakyat kecil-dluafa, berkomitmen keadilan dan berjiwa ksatria otentik bernurani etika.

       Carut-marut kompetisi bergensi bertaraf internasional dalam Olimpiade London di cabang bulu tangkis melengkapi kisruh ketiga dan semakin memperkeruh suasana. Akibat main sabun melanggar Code of Conduct,” Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mendiskualifikasi pasangan ganda terbaik kita Greysia Polii-Meiliana Jauhari (bersama 3 pasangan lainnya dari China dan Korsel).

      Dengan alasan strategi berkompetisi tanpa mengindahkan nilai-nilai etika-sportivitas, kita terpaksa memakan ‘buah karma.’ Harapan medali emas pun hilang, bulutangkis bakal pulang dengan kekalahan dan kesalahan memalukan. Untuk kali pertama dalam 20 tahun PBSI gagal membawa emas dari Olimpiade. Tamparan keras menyakitkan, prestasi olahraga nasional menukik di titik nadir.

       Buah karma sejarah yang sama ketika tim garuda di masa silam terlibat skandal ‘sepakbola gajah’ melawan Thailand di Piala Tiger (sekarang piala AFF). Pemain dihukum FIFA, PSSI pun akhirnya gagal menjadi juara. Strategi abai etika-nurani, terlalu sering menjadi contoh berakhir dengan kepahitan. Tapi kita selalu gagal memetik hikmah peringatan sejarah, mudah tergoda ambisi berkompetisi dan lupa pada nilai-nilai mendasar dari tujuan kompetisi.

     Drama skandal terkini di negeri terakumulasi dari 3 lini, hukum, politik dan olah raga. Skandal berdalih strategi dalam 3 komoditi, simulator SIM, SARA dan bulu tangkis sabun. Skandal kompetisi dari 3 lembaga, masjid, Polri dan PBSI yang menyeret 3 tokoh elit ksatria pemuda bernama Djoko; Djoko Sworo, Djoko Susilo dan Djoko Santoso.

     Djoko Sworo adalah Jaka Swara, sebuah kisah film perjuangan tahun 90-an karya Darto Joned yang menampilkan tokoh ksatria bersuara merdu, Rhoma Irama. Kisah perjuangan seorang ksatria Jaka menegakkan ‘amr ma’ruf nahi munkar mengusir penindasan kolonial Portugal.

     Djoko Susilo adalah seorang jenderal berbintang dua, Gubernur Akpol Semarang. Sebagaimana Jaka Swara, beliau juga seorang ksatria pembela kebenaran, penegak keadilan, pengayom masyarakat dari kesewenang-wenangan para penjahat. Djoko Susilo adalah guru bagi para joko (pemuda) putra bumi pertiwi lewat ‘kawah candradimuka’ pendidikan akademi agar kelak menjadi prajurit-prawira-ksatria dengan spirit suci mengabdi bagi negeri.

      Sedang Djoko Santoso adalah ksatria utama tertinggi organisasi bulutangkis negeri, Ketua Umum PBSI. Di pundaknya terpikul tanggung jawab atas nama negara untuk menunjukkan prestasi bulu tangkis nasional di arena internasional. Djoko Susilo telah gagal memboyong Piala Thomas dan Uber terakhir, namun bersikukuh tetap memimpin meski ada desakan publik agar segera ‘mundur.’

     Kisruh drama dalam 3 kompetisi sepekan terakhir menyisakan sederet pertanyaan. Masihkah ada harapan di masa depan, jika para pemimpin di negeri gagal menangkap sinyal-sinyal hikmah, di paruh pertama bulan Ramadhan, dan separu bulan menjelang proklamasi kemerdekaan? Kompetisi, perlombaan, pertarungan, pergulatan, pertandingan dan pertempuran, baik dalam hukum, politik maupun olah raga, sejatinya memiliki ruh dan spirit yang sama. Nilai-nilai sportivitas yang diajarkan dalam olah raga seharusnya menjadi nilai-nilai mendasar kaidah hukum alam-sunnatullah-dhamma, standar pijakan hukum universal.

      Aplikasinya dalam kehidupan nyata mestinya sejajar, sama kongruen dan sebangun antara perilaku dengan nilai-nilai etika-nurani prawira-ksatria-mujahid, proses perjuangan penuh strategi dalam bentuk kendaraan politik. Semuanya memiliki tujuan sama, menjadi yang terbaik dengan cara yang baik dan berbuah kebaikan, bukan hanya untuk pribadi, sekelompok etnis, agama, suku dan golongan, namun untuk satu komunitas manusia sebagai keluarga besar bangsa dan negara.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment