Wednesday, August 8, 2012

SBY-Kapolri-Ketua KPK Bicara Enam Mata



    Di sela-sela acara buka bersama di Mabes Polri, Presiden SBY berdiskusi singkat dengan Kapolri Timur Pradopo dan ketua KPK Abraham Samad. Acara ini dihadiri oleh jajaran kabinet, Wapres Boediono dan semua pimpinan lembaga tinggi negara.  Menurut Ruhut Sitompul yang juga hadir dalam acara itu, suasana perbincangan yang hanya berlangsung tiga menit itu berlangsung akrab dan santai.

    SBY duduk di tengah-tengah, Kapolri duduk di sebelah kiri, sedang Abraham di sebelah kanan. Sepertinya pembicaraan enam mata ini sebagai upaya SBY mendamaikan konflik antara KPK dan Polri dalam kasus Simulator tak kunjung reda. Belum diketahui apa isi pembicaraan itu, sebab Abraham Samad sendiri belum mengeluarkan pernyataan.

   Namun kita semua berharap, kisruh simulator antara KPK dan Polri yang sudah berlangsung sepekan ini segera diakhiri. SBY sebagai ‘orang tua’ sekaligus ‘panglima tertinggi laskar anti korupsi’ diharapkan oleh banyak kalangan untuk turun tangan mencari solusi terbaik agar konflik tidak berlarut-larut dan menjadi preseden buruk bagi upaya pemberantasan korupsi di negeri ini.  

    Seperti diketahui, kedua lembaga penegak hukum KPK dan Polri ‘terjebak’ dalam kompetisi penyidikan yang tidak sehat. Masing-masing ‘ngotot’ dalam hal kewenangan dengan dalih masing-masing. KPK berdalih sesuai hukum, sedang Polri berdalih sesuai dengan MoU. Sengketa keduanya memunculkan kekhawatiran banyak kalangan bakal menyuguhkan drama Cicak vs Buaya jilid dua.

    KPK di mata Polri telah melanggar etika, sedang Polri di mata KPK dan para pakar hukum telah melanggar hukum (UU). Entah siapa yang benar, mungkin tak akan pernah mencapai hasil yang kita harapkan. Yang jelas, siapapun yang benar dan menang, sengketa drama “jeruk makan jeruk,” akan merugikan keduanya. Yang paling rugi adalah negara. Dan yang paling diuntungkan adalah para koruptor.

    Ketika segala jalan terasa buntu, mungkin hanya dengan mengambil hikmah dari ajaran agama disaat membuka jalan untuk menemukan solusi terbaik. Tak salah jika dalam acara itu, Wamenag Nasarudin Umar menyampaikan taushiah soal sengketa antara Qobil dan Habil.

    Dikisahkan dalam Al Qur’an, Ketika Adam dan Hawa turun ke bumi, Hawa lalu melahirkan Habil dengan kembarannya perempuan, lalu Qabil dengan kembarannya perempuan juga. Dalam aturannya, antara Habil dan Qabil harus dikawin silang.

     Namun terjadilah ketegangan, Qabil menolak menikahi pasangan Habil karena tua dan tidak cantik. Ketegangan bertambah  ketika Allah menerima zakat Habil dan menolak zakat Qabil. Karena terbakar ego dan dendam, maka Qabil membunuh Habil.

      Kisah ini secara simbolik mengajarkan, Habil adalah simbol anak ideal, taat orang tua, taat hukum, simbol bagi jasa-jasa baik dan simbol manusia ideal. Sementara Qabil adalah simbol keangkuhan, enggan taat hukum dan simbol egoisme tanpa mau mendengarkan hati nurani.

     Kisah ini bisa dijadikan inspirasi solusi sengketa antara KPK dan Polri. Bagaimanapun keduanya adalah saudara kandung ‘anak-anak’ negara yang lahir dari hukum untuk kepentingan penegakan hukum.

Jika hukum sebagai ‘orang tua’ pengayom kita bersama, mestinya KPK dan Polri patuh kepada hukum, betapapun pahitnya konsekuensinya. KPK dalam posisi sekarang kita yakini memiliki landasan hukum yang kuat, di posisi yang benar sebagaimana Habil.

      Dan Polri bebas mengambil pilihan. Bersikukuh pada ego dan ‘dendam’ menjadi Qabil lalu membunuh KPK seperti Qabil membunuh Habil saudaranya. Lalu negara ini menangis dan bakal tertimpa bencana karena hukum sudah tak lagi menjadi penyelamat negara.
Atau Polri bersegera bertobat membuka kesadaran, patuh hukum, betapapun sakit memerangi nafsu-ego pribadi, dan pembunuhan akibat perang saudara bisa tercegah selagi masih dini.

    SBY yang menjadi simbol ‘bapak negara’ telah duduk di tengah-tengah dua anak kembarnya. Kapolri di kiri, mungkin itu sebuah simbol posisi yang keliru, Abraham di kanan, bisa jadi simbol dari posisi yang benar. Meski hanya tiga menit, kita semua rakyat Indoensia berharap, tiga hati manusia akan menyatu dengan damai menemukan solusi terbaik.

    Pembicaraan enam mata semoga mengembalikan ‘dua saudara kembar’ alat penegak hukum untuk bersinergi demi tegaknya hukum dan tuntasnya pemberantasan korupsi. Karena bagimanapun, kita masih percaya, KPK dan Polri, Abraham Samad dan Timur Pradopo adalah orang beragama yang masih percaya pahala-dosa dan surga-neraka, sama-sama sebagai orang Islam akan patuh pada hukum Tuhan yang tertulis dalam Al Qur’an.

Salam...
El Jeffry

Sumber: detikNews 08/08
Sumber photo: http://www.tempo.co/read/news/2012/08/08/078422248/Di-Mabes-Polri-SBY-Panggil-Ketua-KPK-dan-Kapolri



No comments:

Post a Comment