Wednesday, August 15, 2012

Ridwan Saidi: Betawi Kok Dukung Jokowi?



        Cukup mengherankan mencoba memahami pandangan orang-orang pintar di negeri ini dalam menyikapi isu SARA pilkada DKI. Setidaknya itu bisa dilihat dalam acara ILC TV One Selasa, 14/08/2012. Padahal, acara talk show yang dipandu Karni Ilyas bertajuk “Rhoma Menggoyang SARA” ini seharusnya diharapkan menjadi ‘pencerahan politik’ bagi publik. Tapi, yang muncul justru ‘kebingungan publik,’ jauh dari mendidik untuk membuka kesadaran pemikiran dan kedewasaan berpolitik.   

      Kehadiran ‘tokoh-tokoh besar,’ elit politik, ulama, praktisi hukum, termasuk Bang Haji ‘Raja SARA’ dan Jokowi yang berkesempatan ber-tele conference masih jauh dari kesan ‘mencerahkan.’ Yang nampak justru perdebatan berputar-putar tak jelas ujung pangkalnya. ILC tiba-tiba seolah menjadi ‘ajang pertarungan’ pilkada dengan komoditi SARA.

      Yang sangat disayangkan adalah pandangan yang disampaikan oleh kalangan ulama, dan elit partai “pro SARA” yang masih saja terkesan ‘ngotot’ membenarkan SARA sebagai senjata yang ‘halal’ dalam kampanye. Tampak jelas mereka masih terjebak dalam ambivalensi beragama dalam negara.

      Rhoma sendiri yang menjadi tokoh sentral masih jauh dari dikatakan bijak dan alim layaknya kesantunan seorang ulama. Dalam kesempatannya berdialog langsung dengan Jokowi, masih saja Raja Dangdut ini keukeuh dengan ego kebenarannya. Bahkan ketika sudah terbukti ‘memfitnah’ orang tua Jokowi sebagai Kristen, Bang Haji masih punya alasan untuk mengelak dari ‘kekhilafan.’

      Alasan yang terlalu terkesan berputar-putar hanya untuk tidak mau ‘jatuh pamor,’ dengan mengatakan bahwa yang dimaksud orang tua adalah ayah Jokowi, bukan ibunya. Bahkan ketika Jokowi menegaskan bahwa ayah beliau dan saudara-saudaranya sudah haji dan hajjah semua, Rhoma masih berkilah bahwa dia mengambil sumber ‘tuduhan’ itu dari media sosial, FB, twitter dan BBC London. Termasuk isu bahwa ayah Jokowi adalah Tionghoa, semua sumber itu diyakini sebagai hujjah valid.

      Jokowi sendiri akhirnya jadi terlihat jauh lebih bijak dan ‘sepuh’ dengan mengungkapkan bahwa dia dan ibundanya telah memaafkan Rhoma. Kalau pun akhirnya Rhoma meminta maaf kepada ibu Jokowi, terlihat jelas raut wajah keterpaksaan karena tersudut oleh situasi dan ‘kekalahan diplomasi.’

     Mungkin satu-satunya yang menarik, dan mendidik adalah pernyataan dan pandangan budayawan betawi Ridwan Saidi yang menyiratkan dukungan pada Jokowi. Menurutnya, kampanye SARA justru akan menjadi bumerang bagi Foke. Ridwan Saidi memberikan contoh sejarah ketika di masa Orde Baru, PPP pernah menggunakan strategi untuk mendongkrak suara PPP yang sempat merosot, dengan isu SARA.

      “Yang tidak mencoblos PPP, kafir!” hasilnya justru kontradiktif, PPP semakin turun drastis. Budayawan betawi ini, yang pada dasarnya netral karena ‘jagoannya’ Alex-Nono sudah tumbang di putaran pertama, malah terkesan memberikan dukungan kepada Jokowi. Menurutnya, ‘kemenangan moral’ Jokowi adalah simpati rakyat dengan strategi ‘memelas’ setiap kali ‘digempur bertubi-tubi.’ Termasuk di dalamnya blunder ‘keseleo lidah’ Foke beberapa hari lalu saat mengunjungi korban kebakaran warga.

     Menanggapi isu SARA, berbeda dengan kalangan ulama dan intelek yang lebih terkesan ‘berputar-putar’ untuk mencari pembenaran, Ridwan Saidi justru menggunakan bahasa sederhana yang lebih gamblang dicerna logika awam. Bahwa kontroversi SARA hanyalah berkisar pada linguistik dalam politik. Bahwa SARA adalah fakta yang tak bisa dibantah, itu adalah benar. Namun ketika hal itu diungkapkan, maka menjadi tidak benar dan bisa berakibat penistaaan, pelecehan atau penghinaan.

      Contoh kecil, Anda memiliki teman yang pincang, itu adalah fakta. Tetapi ketika Anda berkata, “Hei pincang, sini loe!” ini sudah menjadi penghinaan yang merendahkan martabat orang. Hal aneh melihat orang-orang pintar, termasuk Ahmad Yani yang juga hadir dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR yang mendudukkan SARA dalam koridor berbeda.

      Kalangan elit-tokoh agama seakan terjebak dalam kebingungan hanya dalam memahami masalah sederhana. SARA sebagai fakta, dan fakta harus dibuka selebar-lebarnya agar tidak ada pembohongan publik tentang identitas calon pemimpin. Elit-tokoh agama ‘mengurung’ paradigma agama tanpa logika, bahkan bertabrakan dengan nilai-nilai agama itu sendiri.

      Dalam Al Qur’an dijelaskan, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya manusia saling mengenal, dan yang terbaik di antara manusia adalah yang paling bertakwa. Paradigma yang terbangun di kalangan agama, dalam konteks pilkada, perbedaan suku bangsa (SARA) adalah fakta dan kebenaran, maka harus dijadikan pegangan dan wajib disampaikan. Mereka abai maksud dari konteks ayat bahwa Tuhan menciptakan perbedaan sebagai keniscayaan, namun tujuan akhirnya adalah toleransi dan menjadikannya spirit untuk berkompetisi menjadi yang terbaik.

     Sebagaimana kecenderungan ego manusia untuk lebih suka berinteraksi dengan orang yang memiliki kedekatan emosional berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan, itu adalah fakta berdasarkan naluri. Tapi bukan berarti sebagai pijakan, melainkan untuk ‘diperangi,’ setidaknya dikurangi, sebab Tuhan juga memerintahkan untuk menghargai orang berdasarkan kualitas takwa sebagai kriteria universal.

       Ridwan Saidi sebagai Betawi dan muslim adalah fakta, namun ketika beliau melihat Jokowi-Ahok lebih memenuhi kriteria kepemimpinan di atas nilai-nilai Islam yang universal, maka konsekuensinya, etnis dan agama harus dikesampingkan. Masalah jadi lebih mudah dicerna logika karena sinkron antara ajaran agama dengan logika dan realita.

      Pandangan Rhoma bisa menjadi barometer pandangan para elit-tokoh agama (ulama) dalam memandang SARA yang mengundang ‘dilema internal-batin’ karena tabrakan logika dan tumpang tindih paradigma. Rhoma menyampaikan, bahwa kriteria kepemimpinan sesuai teladan Nabi adalah STAF, shidiq (benar), tabligh (menyampaikan), amanah (terpercaya) dan fathanah (cerdas).

      Seharusnya ini lebih baik dan lebih logis, karena keempat kriteria ini lebih bersifat umum (universal), yang bisa diterjemahkan dalam agama manapun sebagai integritas, komunikatif-diplomatis, kredibilitas dan intelektualitas.  

      Tabrakan logika terjadi ketika Rhoma mengungkapkan bahwa dalam hal hubungan sosial, Bang Haji sangat toleran dengan non muslim, namun dalam hal kepemimpinan, ada kriteria pengecualian. Padahal di sisi lain diyakini pula bahwa ajaran Islam berlaku secara umum, tak ada pemisahan antara agama dan negara. Logika yang aneh dan membingungkan. Akhirnya tertangkap kesan kuat bahwa dalil-dalil agama hanya digunakan untuk kepentingan yang menguntungkan.

     Konsistensi yang hilang akan selalu menimbulkan kebingungan, yang ketika terucap dari figur seorang tokoh (ulama), maka umat yang akhirnya menjadi korban. Akan lebih terhormat bagi seorang Karto Suwirjo yang bertarung dengan Bung Karno karena perbedaan ideologi yang diyakini masing-masing, bukan atas kepentingan sesaat dan sempit. Jika tak setuju dengan begara republik-demokrasi Pancasila dan lebih meyakini negara Islam sebagai kebenaran, itu lebih bermartabat daripada mencampradukkan keduanya tanpa alasan yang logis-ideologis.

     Kembali ke ILC, perdebatan antara pemikiran tokoh agama dan nasionalis memanas ketika aktivis Ratna Sarumpaet sempat mengkritisi fenomena para koruptor yang mayoritas  didominasi kaum muslim. Itu menjadi bukti, bahwa agama bukan jaminan untuk berbuat baik dan benar, melainkan lebih kepada perilaku manusianya.

     Namun alih-alih membuka logika dan kesadaran kelompok agama, justru perempuan yang juga seniman ini malah dituduh ‘menyimpang’ dan diminta istighfar. Terlihat jelas ada komunikasi yang nggak nyambung dari kalangan ulama sehingga Ratna pun enggan menanggapi lebih lanjut.

      Entah kita yang terlalu dangkal untuk memahami agama ini, atau memang kalangan elit agama yang enggan ‘membuka diri,’ yang jelas semua hanya soal tafsir fiqh agama. Setidaknya itu yang diungkapkan oleh cendekiawan muslim Azyumardi Azra yang turut hadir sebagai nara sumber. Tentu saja pandangan beliau ‘dikeroyok’ oleh mayoritas kubu “pro SARA,” dan lebih baik tak diperpanjang, karena akan sia-sia belaka ketika kita berhadapan dengan orang yang sudah merasa paling benar dan enggan membuka sedikit celah kebenaran dari ‘kaca mata’ tafsir lain, dalam beragama, bernegara maupun berlogika.

     Yang pasti, penyampaian sederhana Ridwan Saidi tentang isu SARA di pilkada DKI dengan lebih mendukung Jokowi, sedikit memberi pencerahan berarti. Beliau menilai isu SARA isu sara tak menghalangi kemenangan Jokowi. Apalagi beliau meyakini pula bahwa Jokowi-Ahok bakal memenangi pilkada DKI putaran kedua September mendatang dengan mematok angka 63,5%. Di ILC itu pula sempat meminta kepada Jokowi agar menjaga kelestarian budaya betawi, jika memenangi pilkada DKI.

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://panel.mustangcorps.com

7 comments:

  1. Ulama sudah seharusnya faham akan Politik...tapi tidak Untuk Berpolitik....TITIK...!!!!

    ReplyDelete
  2. setuju sekali Echa. Titik. Trims atas kehadirannya. Salam...

    ReplyDelete
  3. Sayangnya, ketika PILKADA DKI ini masih berlangsung, masih juga banyak Ulama yang tidak Umaro, atau Umaro 'pemimpin" yang sok Ulama, terutama Para ulama yang pro incumbent.
    Kesadaran dalam berbudaya politik yang cerdas, beretika, santun dan bermartabat, memang bukan hal yang mudah, dan nampaknya ber-politik di negeri kita ini masih memerlukan banyak orang-orang atau analis yang sehat cerdas tidak berpihak, Mungkin Mas Handoyo adalah salah satunya.

    Bravo Mas, saya orang awam tentang hal yang disampaikan tetapi saya sangat suka analisa Mas Handoyo

    Bravo. teruslah berpihak pada kebenaran.

    Salam hormat

    ReplyDelete
  4. Gak tau mau komentar apa, cuman mau bilang tulisan yang sedap di baca. Panjang tapi dibaca sampai akhir... Thank dah bro

    ReplyDelete
  5. Indonesia ini lucu, gak boleh lihat orang yang agamanya dangkal tapi banyak massa,piara janggut, hafal beberapa ayat langsung dicap Alim. Orang Alim itu adalah orang yang mengerti hukum2 agama dan menjalankan agama sebaik mungkin serta memiliki kapabilitas untuk berijtihad untuk mengeluarkan hukum2 dari Syariat. Ini Rhoma Irama yang hidupnya jauh dari kehidupan Islami sayangnya sudah terlanjur di "Alim"kan oleh publik.

    ReplyDelete
  6. Tak terasa sudah di bait terakhir bacaannya.. anda termasuk penulis narasi tapi bercerita spt komik.. penilaian sy bhw itu semua krn anda berbudi luhur memandang keINDONESIAan... salut bung!!

    ReplyDelete