Wednesday, August 8, 2012

Remehkan Jokowi, Amien Rais Masih Reformis?


    Memasuki tahun ke-14 pasca bergulirnya reformasi 1998, Pilkada DKI menjadi momentum ‘ujian nasional’ bagi bangsa ini. Masihkah api ‘ruh’ reformasi itu menyala, meskipun redup, ataukah benar-benar akan padam dan mati? Pilkada DKI bukan sekadar pilkada. Hiruk-pikuk berbagai persoalan dan gesekan terasa semakin memanas, terutama ketika akhir-akhir ini cukup kencang hembusan ‘beliung’ isu SARA telah cukup memporak-porandakan ‘rumah ibukota.’

      Dalam perkembangannya, gelagat dan geliat elit-elit partai politik yang cenderung merapat ke kubuincumbent, terlihat tak searah dengan arus suara rakyat yang cenderung menginginkan pembaharuan. Mungkinkah api reformasi terancam padam? Kekhawatiran yang tidak berlebihan, salah satunya terlihat dari pernyataan dukungan Dewan Penasihat PAN yang juga tokoh reformasi Amien Rais ke kubu Foke-Nara, termasuk komentarnya akan prestasi Jokowi.

        Amien Rais menilai bahwa prestasi Jokowi belum spektakuler, baru pada taraf lumayan. Pernyataan itu disampaikan oleh Amien di Rumah Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (6/8/2012) malam."Menurut saya Solo itu perubahannya tidak terlalu banyak. Jadi, tetap banyak daerah yang masih kumuh, gelap di waktu malam kurang penerangan, dan macet di berbagai sektor perkotaan," kata Amien. (news.detik.com/2012/08/06)

       Menurutnya, Pilkada DKI Jakarta tergolong unik. Masing-masing calon telah berhasil lepas dari kangkangan citra partai atau kelompok. "Kalau si calon memang cukup beautiful biasanya dia akan menang. Sehingga masing-masing harus pandai mematut dirinya supaya mendapat simpati dari rakyat," kata Amien. "Semula PAN mendukung pasangan Hidayat-Didik, karena Didik tokoh PAN. Tapi, beliau (Foke) dalam tarawih ini datang ke PAN," jelas Amien. (Okezone.com/ 2012/08/07)

       Amien bahkan menganggap bahwa Jokowi lumayan berhasil dari segi pencitraan dengan begitu banyak pemberitaan yang menyatakan kesuksesan Jokowi. Untuk itulah Amien mengimbau kepada warga Jakarta menggunakan hak pilihnya dengan cerdas. (merdeka.com/07/08)

     Pernyataan dan pilihan Amien Rais seakan menyiratkan ambivalensi reformasi. Dia mengakui independensi figur calon pemimpin dari ‘kurungan’ citra partai dan kelompok, baik Jokowi-Ahok maupun Foke-Nara. Artinya, Amien juga mestinya mengakui, bahwa kemenangan spektakuler Jokowi–Ahok yang menjungkir-balikkan banyak pengamat yang semula lebih mengungglakan Foke-Nara, bahkan ada yang meyakini bakal memenangi lebih dari 50% suara sehingga pilkada cukup satu putaran saja.

       Bahwa kini pilihan rakyat lebih didasarkan kepada keunggulan kualitas personality figur daripada partainya. ‘Nilai plus‘ Jokowi-Ahok telah ditunjukkan oleh keduanya saat memimpin di daerah lebih dikarenakan oleh kepemimpinan ‘gaya baru’ yang berani ‘nyeleneh’ dari kepemimpinan‘gaya lama.’ Kepemimpinan pembaharuan inilah yang mestinya menjadi prototip dari kepemimpinan reformasi.

        Mungkin Amien Rais punya pertimbangan tersendiri ketika memilih mendukung Foke-Nara. Tapi menjadi aneh dan kontradiktif bagi pilihan seorang yang dikenal sebagai tokoh sentral reformasi. Artinya, di mata Amien, Foke-Nara lebih reformis dan berjiwa pembaharuan ketimbang Jokowi-Ahok. Pilihan Amien yang dikuatkan dengan penilaiannya yang terkesan ‘meremehkan’ prestasi Jokowi semakin menegaskan, bahwa Jokowi, di mata Amien belumlah layak dinilai sebagai tokoh pembaharuan.

       Padahal di suatu kesempatan, ketika menyikapi merebaknya isu SARA  Amien sendiri pernah menyatakan, ia menyayangkan isu SARA yang menerpa pasangan Jokowi-Ahok. Menurut dia, Jokowi bukan tipe pemimpin yang diskriminatif. Itu telah ditunjukkan oleh Jokowi selama tujuh tahun memimpin Solo. Bersama wakilnya, FX Rudyatmo, pemerintahan Jokowi tidak bersikap diskriminatif, termasuk kepada umat Muslim. 


         Pernyataan Amien menjadi terlihat membingungkan dan terkesan tidak konsistensi. Lalu apa kriteria kepemimpinan terbaik yang layak dinilai sebagai reformis? Amien, kini terlihat seakan bukan Amien yang dulu, sebelum tahun 1998. Bisa jadi ada perubahan cara berpikir Amien dalam 14 tahun belakangan ini, atau bisa pula itulah diri Amien yang sebenarnya, sisi lain yang seharusnya kita tak bisa percaya. Bagaimana bisa seorang Amien Rais, cendekiawan agamis berjiwa reformis seakan begitu dangkal membuat barometer keberhasilan kepemimpinan.

     Dia lebih melihat ‘buah matang’ ketimbang ‘perjuangan menanam.’ Bahwa sebuah perubahan seperti sulapan, bukan proses panjang berkesinambungan. Nampaknya Amien belum menyadari, bahwa rakyat tidak selamanya melihat ‘buah matang’ siap saji, tapi itikad baik, keberpihakan, kepedulian kaum kecil, kesederhanaan, natural-otentik-apa adanya, serta pengabdian tulus pada masyarakat, seperti ditunjukkan Jokowi dengan enggan menerima ‘upah kerja’ dan fasilitas mewah pemerintah.

     Amien seharusnya bisa belajar dari kedekatan emosional Jokowi dengan rakyat, bukan sekadar melihat sisi kegagalan dari pembangunan materi. Rakyat tidak menuntut terlalu banyak, apalagi kultur nusantara, khususnya kultur Jawa yang cenderung nrimo ing pandum (baca: pemaaf). Bahkan kegagalan masih bisa disambut dengan legowo, asalkan sang pemimpin telah membuktikan upaya maksimal bahwa ia telah berjuang sekuat tenaga.

     Bukan hanya Solo, mungkin di Jakarta pun kalaupun Jokowi kelak terpilih menjadi Gubernur, belum ada jaminan dalam tempo singkat segera terjadi perubahan revolusioner, mengingat sebagai ibukota megapolitan dengan ragam problematik yang nyaris mustahil terpecahkan. Kemacetan, banjir, premanisme, menjamurnya mal dan minimarket, trotoar dan pedestrian, ormas anarkis dan anak putus sekolah.

       Mungkin masalah-masalah itu tak akan segera tuntas dan mungkin rakyat tak menuntut itu, tapi lebih pada keseriusan dan kesungguhan meneteskan keringat sebagai bukti menunaikan amanat. Rakyat sudah terserang penyakit kronis 3M, “mual-mulas-muntah” melihat gaya kepemimpinan yang identik dengan “pemerintah,” bisanya cuma tunjuk-tunjuk telunjuk memberi komando “perintah.” Rakyat ingin melihat pemimpin yang benar-benar memimpin, “ngayomi, ngayemi dan ngayami,” melindungi, menenteramkan dan memelihara.

       Lalu bila dibandingkan dengan kepemimpinan Amien Rais sendiri sejak menjabat sebagai Ketua MPR selama 5 tahun (1999-2004), apa yang telah dihasilkan? KKN yang menjadi 3 pilar utama barometer keberhasilan reformasi, bukan menunjukkan harapan membaik, justru semakin memburuk tanpa ada pertanda menggembirakan.

      Sedangkan prediksi Amien bahwa kemenangan akan ditentukan oleh calon yang cukup beautiful dan pandai mematut diri untuk menarik simpati, jadi lebih mirip dengan pola pikir elit politik selama ini. Setali tiga uang dengan paradigma Foke yang menganggap kegagalan kubunya menyudahi pilkada cukup satu putaran lebih karena kesalahan strategi. (Jokowi vs Foke: Personality vs Strategi). Politik lebih disikapi sebagai ‘permainan’ ketimbang cara berjuang, penyakit akut kepemimpinan feodalistik khas orde baru.

      Seperti janji seorang pemuda jatuh cinta dan bermaksud merebut hati sang gadis, “Aku akan melakukan apa saja seperti yang kaupinta.” Lalu tiba-tiba berubah cara hidupnya secara drastis. Alhasil, sudah menjadi cerita lama, janji tinggal janji, sumpah menjadi sampah. Setelah sang gadis resmi dinikahi, karakter asli muncul kembali. Gelora syahwat pada 3ta; harta-tahta-cinta memang menjadi sumber energi yang akan secara revolusioner mengubah seseorang, tapi biasanya tak akan bertahan lama.

      Pencitraan rekayasa ber-casing so beautiful, sementara fiturnya masih mesin lama. Burisrawa operasi plastik bertukar wajah Arjuna, tampilan rupa pria penuh pesona, tapi hatinya tetap buto-raksasa. Andaipun Foke-Nara sukses mengemas strategi jitu sehingga mengubah citra secara revolusioner dalam dua bulan dan berhasil menaklukkan ‘cinta’ warga ibukota, bukankah justru akan menjadi aneh? Wajah aslikah ini, atau sudah operasi plastik, atau ganti casing, atau pakai ajian penakluk cinta suara semar mesem?

      Yang jelas, wajah reformasi telah berubah. Tapi elit, khususnya politik, masih kental dengan jiwa banal-feodalistik. Tak terkecuali Amien Rais. ‘Gelombang pembaharuan’ yang didayung rakyat dengan contoh kecil pilkada DKI, terancam ‘ditenangkan,’ ironisnya, oleh seorang tokoh pejuang reformasi sendiri.

       Lalu kepada siapa rakyat awam mesti belajar meningkatkan kecerdasan berpartisipasi tata negara, jika satu persatu simbol-simbol pembaharuan rontok di tengah jalan dan sebagiannya melebur ke dalam lingkaran tiran kekuasaan, sementara ‘ongkos reformasi’ yang terlalu mahal belum lunas terbayar?

      Di mana 10 wajah pada pagi 19 Mei 1998 yang meminta Pak Harto mundur atas nama rakyat dan mahasiswa membuka gerbang pertama reformasi Indonesia? Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Nucholish Madjid, Ali Yafie, Prof Malik Fadjar, Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja dan Ma'ruf Amin. Dua dari tokoh reformasi telah tiada, Gus Dur dan Cak Nur. Sisanya, sibuk dengan urusan masing-masing, dan entah ke mana lainnya, sebab suaranya kini tak terdengar lagi.

      Kita tak pernah tahu, dan mungkin tak perlu tahu, kenapa gema reformasi begitu saja lenyap ditelan bumi. Reformasi hanyalah sambel terasi. Pedas, panas dan sedap terasa di lidah dalam sesaat, kini hanya tersisa aroma terasi sedikit menyengat hidung, itu pun hanya ketika uap dari mulut dihembuskan ke udara. Aroma reformasi tak lebih dari kata-kata bersejarah, sisa-sisa aroma tajam di hidung rakyat, hanya sesekali dihembuskan di pinggir halaman koran, tapi cita rasa dan manfaat nyata bagi rakyat kecil nyaris tak tersisa.

       Pilkada DKI tinggal 45 hari lagi. Namun mimpi Jokowi, mimpi DKI dan mimpi NKRI akan contoh reformasi terancam ‘mati suri.’ Bukan hanya isu SARA yang berpotensi mengembalikan jarum jam demokrasi berputar mundur dan mengancam kebhinnekaan, namun juga salah satu tokoh reformasi terlihat seakan melawan balik arus rakyat akan hausnya pembaharuan.

     Pernyataan Amien Rais menjadi ‘sinyal kebakaran,’ bahwa ada yang ‘tak beres’ dengan pola pikir para pemimpin di negeri ini. Berselisih jalan dalam menyikapi permasalahan politik dan perpolitikan masalah antara elit-publik, pemimpin-rakyat.

       Pilkada DKI akan menjadi pertaruhan bersejarah, bukan pertarungan para pemimpin dan penguasa, tapi lebih kepada pertarungan rakyat. Pertarungan suara antara warga ibukota yang cerdas, dewasa dalam berdemokrasi Pancasila, melawan warga yang kekanak-kanakan dan pelupa.

       Bila yang pertama  lebih unggul, maka Jokowi-Ahok akan berduet memimpin ibukota, Foke-Nara sayonara. Dan elit politik tak perlu malu-malu belajar dari wong cilik-alit, rakyat kecil, bagaimana caranya merenovasi diri 2 tahun ke depan untuk menuai simpati menyongsong Pemilu 2014.

      Namun jika yang kedua lebih unggul, maka Foke-Nara akan berkuasa, Jokowi Ahok pulang ke kampungnya. Dan harapan reformasi terpaksa dikubur dalam-dalam, akan butuh waktu panjang untuk bangsa ini memahami arti perjuangan. Keadaan akan tetap stagnan dalam ‘zona nyaman,’ mungkin dalam 5-10 tahun ke depan baru akan melihat jelas efek domino dari blunder sinergik pemilihan kepemimpinan.

      Akankah berulang lagi siklus sejarah pembaharuan, ataukah kembali pada nuansa lama ‘kebosanan,’ warga ibukota yang memutuskannya.  Yang jelas hari ini telah tercatat, salah seorang tokoh reformasi telah memberi teladan terbaik bagaimana memadamkan kembali api reformasi yang sempat menyala 14 tahun silam di negeri ini.

Salam…
El Jeffry

sumber photo: merdeka com.


3 comments:

  1. amien rais yang inkonsisten...yang sebenarnya terlihat sejak awal reformasi dan pada saat ini semakin menampakkan secara jelas siapa sebenarnya amien rais...reformsis sejati ataukah orang yang berlagak reformis untuk mengejar kedudukan dan popularitas.

    ReplyDelete
  2. Sebutan Pencitraan terhadap Jokowi hanyalah sebuah ungkapan kegelisahan..., tetapi semua itu terwujud melalui sebuah PROSES dari Jiwa Kepemimpinan Seorang Jokowi.., yg Murni dari Lubuk Hati. - Salam Revolusi -

    ReplyDelete
  3. layaknya seorangpahlawan kesiangan, salah jika amien adalah tokoh sentra reformasi. mahasiswalah tokok sentra reformasi tanpa amien kami yang dulu tetap akan berjuang

    ReplyDelete