Monday, August 13, 2012

Refleksi Proklamasi Dan Idul Fitri


    Dua hal berbeda, tapi sesungguhnya proklamasi dan Idul Fitri memiliki dasar falsafah sama. Proklamasi melihat dengan kaca mata negara, Idul Fitri melihat dengan kaca mata agama. Proklamasi dan Idul fitri adalah kelahiran kembali, simbol kemerdekaan, hari kemenangan. Indonesia, memang bukan negara agama, tapi negara yang beragama. Seperti pesan lagu kebangsaan, Indonesia Raya terbangun dari jiwa dan raga. Negara sebagai jasadnya, agama sebagai nyawanya.

    Ironisnya, menjelang usia 67 tahun NKRI merdeka, dan 14 abad agama Islam nusantara, potret buram umat-bangsa dan negara masih terlihat jelas di depan mata. Tanah surga nusantara, zamrud khatulistiwa, negeri gemah ripah loh jinawi, tata titi tenterem kerta raharja, dengan sumber daya kekayaan alam melimpah, pemandangan yang kontras setiap menjelang Idul Fitri dan HUT proklamasi.

    Idul fitri menampakkan wajah asli umat bangsa ini. Realita kemiskinan yang kadang oleh pemerintah hendak disembunyikan, semua menjadi jelas terlihat. Antrean masyarakat berebut zakat yang kerap membawa korban nyawa menjadi salah satu potret buram dalam siklus tahunan. Kemenangan pun layak dipertanyakan. Siapa yang menang, siapa yang kalah, sesungguhnya bisa terbaca, andai kita tidak enggan melakukan refleksi.

    Memang banyak faktor yang turut mempengaruhi kejadian ini. Selain kesenjangan yang menganga antara si miskin dan si kaya, rakyat jelata dan para pengusaha, pemahaman agama pun menjadi sumber dari segalanya. Idul Fitri setidaknya memperlihatkan potret masyarakat yang tergerus pola hedonisme dan keserakahan, bercampur aduk antara kepedulian sosial, ritual spiritual dan unjuk status sosial.

   Di satu sisi, syahwat pamer si kaya telah meminggirkan ajaran agama, bahwa zakat adalah kewajiban. Si kaya merasa dengan mengumpulkan banyak orang lebih afdol untuk memperlihatkan kedermaawanan. Padahal sudah ada peraturan dari pemerintah dan himbauan dan agar zakat disalurkan lewat badan amil zakat yang ada.

  Dalam hal ini kadang muzakki (orang yang berzakat) tidak sepenuhnya salah. Ada ketidakpercayaan terhadap lembaga, khususnya pemerintah. Terlebih sudah bukan rahasia lagi, gurita korupsi telah menjalar di semua lini, tak terkecuali lembaga dan instansi keagamaan.

    Di sisi lain, kadang dari mustahiq (penerima zakat) juga ikut andil memperparah keadaan. Juga sudah menjadi hal yang lumrah, tak berbeda dengan penyaluran subsidi raskin atau BLT yang seringkali terjadi penyalahgunaan. Tak jarang orang yang seharusnya tidak miskin berebut bagian. Keserakahan telah mengalahkan harga diri dan mengabaikan hak-hak orang. Akhirnya orang yang berhak justru tersingkir, keadilan pun menjadi sumir, ajaran suci agama, gagal terealisir.

    Idul fitri dan proklamasi, renaissance NKRI untuk lahir kembali, untuk sementara ini suka tidak suka masih sebatas mimpi dan obsesi. Falsafah puasa seharusnya mendidik jiwa untuk terkendali dengan menahan diri, menjauhi perkara-perkara duniawi untuk lebih mendekat kepada Yang Maha Suci. Kontradiksi dengan meningkatnya konsumtivisme. Belanja, berfoya-foya, hura-hura, sudah menjadi siklus tahunan.

   Alhasil, stabilitas ekonomi kerap terganggu. Inflasi membubung tinggi, kriminalitas meningkat, pencurian, perampokan, penipuan, semua demi menyambut lebaran, Idul Fitri. Puasa sebulan berlapar-dahaga seakan sia-sia. Setan-setan yang konon dibelenggu justru semakin bebas ketimbang bulan-bulan biasa.

    Tradisi mudik tak kurang berkontribusi menyuguhkan tragedi transportasi. Lonjakan harga tiket tak terkendali, maraknya percaloan dan kecelakaan di jalan raya, semakin menambah daftar ironi Idul Fitri. Mannfaat yang didapat dari sedikit distribusi ekonomi, tak sebanding dengan mudharat yang mencuat dibanyak sendi.

     Proklamasi tak kurang menyisakan PR maha berat. Potret buram-muram yang tak kalah memprihatinkan. Merdeka dari kebodohan dan pembodohan, merdeka dari kemiskinan dan pemiskinan, merdeka dari kebohongan dan pembohongan. Perikemanusiaan dan perikeadilan dalam kesejahteraan berkeadaban masih jauh dari impian. Tiga kejahatan luar biasa, narkoba, korupsi dan terorisme  masih menjadi monster menakutkan.

    Apa yang terjadi dengan potret kekinian umat bangsa ini, tetap menjadi bahan penting untuk kita semua berintrospeksi. Ada yang salah dalam kita memahami dua peristiwa penting beberapa hari lagi. Proklamasi kemerdekaan RI ke-67 pada 17 Agustus 2012, yang kebetulan berdekatan dengan hari raya Idul Fitri 1433 pada 19 Agustus 2012.

    Indonesia, sebagai kesatuan umat bangsa beragama dan bernegara, jiwa dan raga, sejatinya masih jauh dari nilai-nilai Idul Fitri dan proklamasi. Umat-bangsa-negara ini masih butuh belajar lebih keras untuk memahami makna hari merdeka, hari kemenangan dan hari pembebasan.  Semoga kali ini kita berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika masih gagal juga, terpaksa harus mengulang lagi di siklus berikutnya, atau entah kapan lagi selama masih ada waktu dan usia tersisa.

Salam...
El Jeffry



No comments:

Post a Comment