Monday, August 13, 2012

Pilkada DKI Dan Partai “Banal Abal-Abal”


        Riuh rendah pilkada DKI akan sia-sia jika anak bangsa ini gagal memetik buah hikmah dari ruh demokrasi. Pilkada DKI yang ‘nyeleneh’ dari ‘rumus baku’ kalkulasi suara partai politik sebenarnya sudah dipertontonkan setidaknya 5 tahun yang lalu. Ketika itu Adang-Dani yang hanya didukung oleh PKS, meskipun kalah namun mampu memberikan ‘perlawanan sengit’ dengan 40% suara. Padahal seterunya, Foke-Prijatno didukung oleh koalisi 19 parpol.

      Putaran pertama pilkada DKI 11 Juli 2012 yang menyajikan fenomena yang hampir sama. Jokowi-Ahok yang hanya didukung oleh PDI-P dan Gerindra secara spektakuler mendulang 42% suara. Sementara PKS secara spektakuler pula hanya mampu mengais 11% suara, sangat kontradiktif dengan prestasi Pilkada 2007. Fenomena ini semakin menguatkan, bahwa suara partai tidak berbanding lurus dengan suara rakyat (warga ibukota). Apapun alasannya, macet totalnya mesin politik menjadi isyarat tamparan pedas bagi partai politik, bahwa rakyat lebih percaya kepada figur dari pada partai.

     Bahkan berdasarkan beberapa lembaga survei, pemilu 2014, tidak mustahil bakal menjadi momentum buruk bagi partai-partai Islam untuk berjama’ah masuk kuburan. (pilihan-pks-dan-pertaruhan-parpol-islam). Kalau mau bicara jujur, hal yang sama berlaku bagi seluruh parpol secara umum. Bahwa sebenarnya mereka semua telah masuk kuburan dan menjadi ‘jamaah ahli kubur,’ ketika tak dalam kerangka praksis mengejawantahkan sebenar-benar ‘fondasi filosofi Pancasila & haluan Konstitusi UUD 1945’ bagi fokus aras ‘res-publica’ kepentingan umum rakyat.

   Partai politik telah lama kehilangan jati diri nilai-nilai otentik partai sebagai alat politik perjuangan ketatanegaraan. Yang terjadi, pengkhianatan Amanat Penderitaan Rakyat sebagai suara Tuhan yang universal. Elit-elit partai, yang berkoalisi dalam pemerintahan maupun yang beroposisi, semua telah ‘mati suri’ etika dan nurani. Hanya berideologi kepentingan sempit-partikular dan berjangka pendek, berkendaraan politik hanya dalam kerangka ‘kursi kekuasaan.’

     Demokrasi penuh sesak dengan parade partai banal abal-abal bercorak primitif-primordial imitasi, tinggal segelintir saja yang masih konsisten dengan nilai-nilai keadaban dan otentik, yang sayangnya justru miskin suara dan akhirnya tersingkir dari arena. Sutrisno Bachir pernah berkata, “Masuk partai sama saja masuk pusaran ‘kegelapan’ jahiliyah. Keluar dari partai seperti keluar dari kegelapan kepada cahaya (minadzzulumat ilannur)”.

       Tak urung Gus Dur pernah menyindir, bahwa kelas politikus kita adalah kelas banal abal-abal -instingtif, “Kelas Anak TK” yang tak ‘dewasa’, apalagi ‘tua.’ Perpolitikan negeri ini sejauh menjelang 67 tahun merdeka, semakin krisis partai pejuang berkeadaban publik. Nyaris tak tampak lagi partai para pandhita-sarjana sujana-berjiwa nabi yang melayani publik dengan penuh cinta kasih, ‘memberi pada kehidupan bukan mengambil dari kehidupan’, sasmita-bersukma kerakyatan, berkesadaran Ampera dan berjiwa waskita-bijaksana.

        Realitas sosiohistoris bangsa zamrud khatulistiwa ini begitu memprihatinkan, kalau tidak dikatakan mengerikan. Generasi pejuang terputus di tengah zaman yang tengah berjuang. Bung Karno pergi tanpa generasi pelanjut, Gus Dur dan Cak Nur pergi tanpa generasi pelanjut. Kini, bangsa  berfilosofi agung Pancasiladan berkonstitusi agung UUD 1945 gundah gulana, linglung dan bingung, tanpa nahkoda bervisi universal otentik, berkomitmen kebangsaan sejati, berintegritas ‘berdarah-darah’ berjuang untuk tegaknya daulat kepentingan umum umat-rakyat.

         Meminjam kalimat penya’ir Cairil Anwar, negara hilang bentuk, remuk. Kita anak bangsa seakan mengembara di negeri asing, namun kita tak bisa berpaling. Negara tanpa ‘masyarakat warga sejati’ yang berkeunggulan kempetitif peradaban, patriot bangsa, matang SDM demokrasi dengan civic culture madani berkeadaban. 

      Ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang. Bangsa ini semakin minim cendekiawan pandita-sarjana sujana yang eling-mindfull-tercerahkan dan mencerahkan, minim politikus nurani yang memberdayakan eksistensi kemandirian publik pada ranah-ranah kehidupan khas.

     Kita membutuhkan komunitas pejuang dan “nabi-nabi sosial” seperti Romo Mangunwijaya, Romo Sandyawan, Kelompok Akar dan Sayap, Bambang Ismawan, Gus Dur dengan Fordem dan kaum Gus Durian-nya, Cak Nur, entitas Buddha Zsuci, OI-nya Iwan Fals, Slankers’-nya Slank, Masyarakat UKM, Pusat Studi Pancasila Gajahmada, Komunitas Lima Gunung, Komunitas Ekonomi ‘Syariah’ Kerakyatan, Perhimpunan Pedagang Kaki Lima Indonesia.

       Kita merindukan politikus dan politisi pembangun akhlak peradaban yang menggulirkan gerakan ‘transformasi sosial holistik’ yang berpegang pada ideologi ‘sosialisme keadilan universal’ khas bagi bangsanya masing-masing seperti Bung Karno, Imam Khomeini, Nelson Mandela, Lech Walensa, Putin, Morales, Chaves, Pemimpin India-Cina-Vietnam-Jepang-Korea Selatan dan masih banyak lagi dalam catatan sejarah perjuangan bangsa-bangsa besar. 

      Pijar-pijar lilin kecil yang mereka nyalakan bagi bangsa,masih menjadi secercah harapan akan adanya masa depan Indonesia. Semoga modal mahkota kesadaran Rumah Republik Indonesia dan tungku api kebangsaan dari mereka makin membesar dan membesar, hingga mampu membebaskan bangsa Nusantara Indonesia ini dari penindasan penjajah baru ‘Kaum Nekolim-Kekaisaran Korporatokrasi Global-Lokal’ yang daya rusak peradabannya ribuan kali lipat dari penjajah Belanda. Seperti dinubuahkan Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” 

     Semoga mayoritas anak bangsa ini mulai siuman dari tidur panjangnya diselimuti penistaan ‘kegelapan sistemik-kesadaran rendah banal magis’, bertransformasi kepada kesadaran transendensi-sintesa-konsolidasi adonan kebangsaan sejati, kritis-emansipatoris, transformatif dan kesadaran pembebasan untuk hijrah dari dominasi penjajahan Kekaisaran Korporatokrasi Global-Lokal ‘Homo Homini Lupus yang tak berperikeadilan dan tak berperikemanusiaan.

     Pilkada DKI dengan fenomena kepemimpinan bhinneka-otentik semoga menjadi momentum bagi anka bangsa untuk menggugat partai banal abal-abal. Menjelang pemilu 2014, memang masih belum terlihat ‘partai nabi-nabi’, kelompok pejuang sosial, hizbullah, ‘kubu-kelompok’ Allah yang sebenar-benarnya memperjuangkan amanat langit untuk menjadi khalifah bumi.

       Ketika ruang demokrasi kian terbuka, suara Tuhan telah didelegasikan dalam suara rakyat lewat pemilihan Luber-Jurdil, vox populi-vox dei, nasib bangsa ini tergantung dari kesadaran pilihan manusia Indonesia. Tuhan tak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah nasibnya sendiri.

   Figur pemimpin berintegritas-spiritualitas berkerakyatan berketeladanan yang dicontohkan Jokowi dan Ahok semestinya menginspirasi. Bahwa partai banal abal-abal yang tidak berjalan sejajar dengan kepentingan publik sudah selayaknya dikuburkan.

      Sebaliknya, partai yang sejajar, searah dan sebangun dengan figur itu, berbasis ideologi ampera, berfilosofi Pancasila dan berkonstitusi UUD 45, ‘partai nabi-nabi’ sejati, yang berdarah-darah memperjuangkan rakyat, mestinya mendapat tempat untuk menjadi pilar utama kehidupan bertata negara dan bertata bangsa.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment