Thursday, August 16, 2012

Mana Wajah Da’i, Penyanyi Dan Politisi?


     Menonton televisi, membaca koran, menjelajah jejaring sosial, aku ingin mencari jawaban. Tapi semakin hari, semakin banyak informasi, semakin membingungkan berita di negeri ini. Aku terkurung dalam bingung, semakin linglung persis lutung bersarung kena pentung. Tuluuung...

     Warta berita kabar peristiwa, gelombang informasi lewat gambar dan suara, perang opini dalam wacana dan kata-kata, lengkap grafik, statistik dan angka-angka. Logika dan anti logika, waras dan gila, bocah dan dewasa, berputar-putar tak jelas ujung pangkalnya.

    Moralitas, spiritualitas, realitas, pergumulan kebenaran dan kebaikan dalam ekspresi dan kreativitas. Manusia semakin pintar berbahasa dan berkata-kata. Namun berputar-putar dalam lingkaran setan retorika. Tiga wajah berubah-ubah tak jelas sketsanya. Da’i, politisi dan penyanyi, tiga elemen penyulut kegerahan negeri.

     Aku menjadi gerah melihat tiga wajah. Gerah mebawa susah, hidup susah semakin susah. Gundah gulana resah gelisah. Semakin lama semakin terasa ingin muntah. Haaah...

    Kulihat sebuah wajah. Wajah seorang da’i. Kupasang telinga bersiap menangkap pesan moral dan spiritual. Tapi malah aku larut dalam suara merdunya. Namun yang kudengar suara nyanyian. Lagu-lagu religius, tapi suara merdu lebih membius. Ternyata suara moral dan spiritual hanya kreasi, bukan ekspresi.

     Kreasi seni membius hati, menyejukkan telinga membuat terpesona. Aku bingung, kukira dia seorang da’i, juru dakwah, muballigh, tukang ceramah, pekerja rohani yang menyampaikan pesan kebenaran dan kebaikan. Ternyata aku lebih pantas sebagai biduan. Bagi seorang biduan, kata-kata adalah kreasi, daya cipta yang lahir hanya sebatas karya.

    Seperti tukang pembuat kursi, berkreasi menciptakan alat duduk bagi orang, tapi si tukang tak wajib menggunakan. Seniman profesional tidak dituntut menjalani apa yang dia ciptakan, seperti tukang kursi, tak wajib memakai apa yang ia ciptakan. Biduan menjual suara, seperti pedagang pakaian, ia selamatkan ketelanjangan manusia, tapi tubuhnya sendiri telanjang tanpa sehelai benang.

    Kini wajah penyanyi yang kulihat. Aku tak peduli dengan isi surat, yang penting sampul indah, membawa mata merasa nikmat. Tapi penyanyi kini berorasi. Kritik politik berapi-api. Suara kebebasan dan kemerdekaan, mengutuk penindasan dan kezaliman. Perjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

     Politisi menggeser wajah penyanyi. Politik menggusur kreasi seni. Suara itu tak lagi indah, tapi lebih berbobot, lebih logis dan lebih berarti. Negeri ini dibentuk oleh politisi. Perjuangan lewat kendaraan strategi, demi sebuah cita-cita proklamasi.

     Tapi kreasi seni turut menyusup ke dalam wajah politisi. Kata-kata adalah kreasi, bukan ekspresi. Karya cipta, bukan ungkap rasa. Hati nurani tak terbawa, orasi politik hanya retorika, seperti tukang kursi, berkarya tapi tak wajib menggunakannya sendiri. karena tukang profesional adalah golongan karya sekaligus penjual.

    Aku kembali bingung, wajah ini bukan seperti wajah yang kukenal. Wajah politisi tak mirip wajah penyanyi dan pekerja seni. Wajah politis juga berbeda dengan wajah seorang da’i. Politisi berjuang dengan strategi demi kemajuan negeri. Penyanyi berjuang dengan nyanyian demi menghibur hati dan segunung royalti. Da’i berjuang dengan kata-kata demi tugas suci memakmurkan isi bumi.

    Politisi bernyanyi, da’i berpolitik, penyanyi berdakwah, politisi berdakwah, da’i bernyanyi, penyanyi berpolitik. Tiga wajah dalam tiga perilaku, bercampur baur menjadi satu. Aku bingung mengenali satu wajah, karena tiga wajah selalu berubah-ubah, kamuflase sejarah.

    Ketika kusangka suara penyanyi, sang wajah berkilah, “Aku bicara sebagai politisi, maka tak harus menghibur dan bernilai seni.”

    Ketika kusangka suara politisi, sang wajah mengelak, “Aku bicara sebagai da’i, maka membantahku berarti melawan Tuhan dan kebenaran. Dan aku independen dari kekuasaan.”

     Ketika kusangka suara da’i, sang wajah berdalih, “Aku bicara sebagai penyanyi, jadi tak penting benar atau salah, yang penting nilai seni hadir dalam suara indah.” Lalu kuikuti sebagai penyanyi, tapi sang wajah kembali berubah, “Kali ini aku sedang bicara sebagai politisi, jadi jangan menuntut seni dan keindahan, karena itu bukan arena kekuasaan.”

    Tiga wajah membuatku bingung dan linglung, lama-lama aku menjadi gila, tertawa terpingkal-pingkla hingga mual. Kadang aku meringis-ringis hingga menangis, atau tersenyum terkagum-kagum dengan raut culun.

    Tiga wajah membuatku gila, hilang akal sehatdan logika, hilang rasa curiga dan percaya. Aku hilang bentuk, remuk. Da’i, politisi an pekerja seni berputar-putar seperti kincir raksasa bersuara hingar-bingar. Mataku juling, otakku jadi miring, indikasi telah mulai sinting.

     Ekspresi dan kreasi bercampur baur dalm dosis ngawur tak teratur. Reaksi kimia nilai-nilai otentik dunia membawa bencana. Kebingungan, ketidakpercayaan, kegilaan. Inikah sebagian dari tanda-tanda akhir zaman?

Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment