Thursday, August 2, 2012

KPK: Cicak Telah Perkasa, Atau Hanya Utopia?


    Serial epos perjuangan KPK menyuguhkan babak baru yang lumayan mendebarkan, menggemparkan sekaligus menggemaskan. Antara percaya dan curiga, harapan dan putus asa, rasa salut dan cibiran kecut, semua bercampur dalam benak manusia Indonesia ketika melihat, mendengar dan menyaksikan ‘duel maut’ KPK versus Polri.

    Selasa, 31 Juli 2012, KPK menetapkan Gubernur Akpol Semarang ,Irjen Pol Djoko Susilo sebagai tersangka dalam kasus skandal korupsi pengadaan simulator kemudi motor dan mobil di Korlantas Mabes Polri tahun anggaran 2011 lalu. Seperti layaknya ‘film action’ Holywood, pembukaan laga tanpa basa-basi langsung disuguhkan dengan ‘duel pemanasan.’ Kabarnya, 10 anggota penyidik KPK sempat ‘disandera’ di markas Korlantas karena hendak membawa barang bukti ‘misterius.’

    Kita, rakyat, publik sebagai penonton pun antara heran tak heran, antara berani dan takut menebak jalan cerita kelanjutannya. Memori ‘duel klasik’ Cicak vs Buaya 3 tahun silam hadir kembali di benak kepala. Ah, tak ada dari kita yang suka, kita ingin membantah dan sangat-sangat ingin tidak percaya, sangat berharap jangan sampai cerita hari ini hanya sekadar sekuel cerita lama. Jangan sampai ini menjadi Cicak vs Buaya Jilid dua! Tapi apa daya?

   Cicak vs Buaya, cerita cicak yang bertarung melawan buaya, suguhan cerita tragedi sebuah bangsa yang bercita-cita menegakkan supremasi hukum demi tegaknya keadilan di republik. Apa daya cicak, buaya terlalu perkasa! Seribu cicak bahkan sejuta cicak yang berjuang heroik tetap saja tak akan sanggup berbuat apa-apa. Meski masih satu marga sebagai binatang melata, namun cicak mesti patuh ada kodratnya sebagai cicak, melata kecil yang hanya fasih berdecak, antara kagum dan heran menghadapi kenyataan.

    Sementara buaya tetaplah buaya, melata raksasa buas, predator paling berbahaya, gemar hidup di lahan basah meski paru-paru menjadi alatnya untuk mengambil udara. Hanya ada satu cara cicak mengalahkan buaya, mesti ber-evolusi menjadi raksasa. Jika tidak, maka cita-cita hanyalah mimpi kosong di siang bolong, utopia.

  Siapa anak negeri yang suka, jika Polri menjadi ‘mucikari’ perselingkuhan politik antara penguasa dan pengusaha. Siapa yang suka, jika sesama alat penegak hukum ‘saling bunuh’ dan saling sandera. Lalu kepada siapa lagi rakyat menyandarkan harapan terciptanya negara hukum (rechtstaat), bukan negara kekuasaan (machstaat)? Sinergi-chemistry yang diharapkan dari Polri dan KPK, menjadi harakiri-euthanasia karena pengkhianatan salah satunya.

   Bibit-Chandra di masa lalu telah menjadi sindroma, haruskah kali ini tragedi yang sama akan berulang menimpa KPK? Meskipun masih jauh dari harapan dan cita-cita, KPK adalah tinggal satu-satunya lembaga yang diharapkan bisa membuka tabir misteri sumber penyakit akut negeri ini, gurita korupsi. Tiada rotan akarpun berguna. Meski harus berpayah-payah dan berdarah-darah hanya untuk memutus rantai setan korupsi, hanya KPK alat terakhir yang tersisa.

    Tapi begitu berat beban yang dipanggul. Tak hanya menjadi pelanduk yang terjebak di tengah-tengah perang gajah-gajah politik di eksternal lembaga, namun KPK juga dipaksa bertarung internal sesama alat penegak hukum. Apa hendak dikata, balatentara setan korupsi telah menginvasi dan menginfiltrasi seluruh jajaran lembaga negara tanpa kecuali. Legislatif, eksekutif, dan yudikatif, tak ada yang steril dari korupsi. Bangunan negara terancam ambruk, karena pilar-pilarnya lapuk digerogoti rayap-rayap setan secara diam-diam.

   Wajar bila kita mencemaskan batas ketahanan KPK, sebab dari catatan sejarah pemberantasan gurita korupsi dalam negeri, telah lahir 8 lembaga bentukan pemerintah, Paran, Operasi Budhi, TPK, Opstib, KPKPN, KPPU, TGPTPK dan KPK. Namun belum satupun di antaranya yang mencatatkan tinta emas keberhasilan menggembirakan.

   Hingga akhirnya  kita nyaris putus asa dan tergoda untuk meyakini, bahwa korupsi mustahil untuk dimusnahkan dari negeri ini. Mengharapkan melemahnya daya korupsi hanyalah mimpi di siang hari, alias utopia. Berita cicak vs buaya menjadi pembenaran akan pahitnya realita. Alih-alih memperlemah daya gurita korupsi, Polri justru memperlemah daya KPK dengan telikungan berkali-kali sehingga makin menguras energi.

   Tak perlu menghabiskan waktu berdalih dan berkilah atas nama apapun, karena sudah menjadi rahasia umum, Polri menjadi sarang ‘penyamun’ dan ‘markas’ korupsi, dari jalanan, perekrutan personel, hingga korupsi hasil tindak kejahatan dan para petinggi yang menjadi backing para cukong dan pengusaha nakal. Mau membantah dengan cara apa lagi?

   Kita tak ingin curiga, tapi semua itu adalah efek karma dari ‘kebusukan’ yang berlangsung dari masa ke masa hingga akhirnya menjadi budaya. Hingga kadang kita tergoda untuk curiga, mungkinkah ini hanya pengalihan sementara dari kegagalan KPK menuntaskan kasus-kasus korupsi besar yang belum juga terbuka tabir misterinya? Seperti kita ketahui, KPK lebih tampak sibuk mengejar dan membongkar kasus-kasus besar, tapi seringkali berhenti di tengah jalan lalu pudar. Kasus Century, Wisma Atlet dan Hambalang menjadi contoh terkini, betapa  sulitnya kita membongkar kamar rahasia korupsi.

   Namun berharap atau bermimpi, itu lebih baik dari putus asa sama sekali. Tinggal mukjizat yang bisa mengubah utopia menjadi realita. Kadang ada pertarungan tak seimbang yang dengan hasil akhir tak terduga. Seperti kemenangan Daud vs Jaluth (David vs Goliath). Semut kadang bisa mengalahkan gajah. Tentu bagi kita yang masih percaya, bahwa keadilan dan kebenaran, pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

    Kini rakyat sudah terlanjur berpihak dan percaya KPK, setidaknya sudah dibuktikan dengan simpati saweran koin beberapa waktu lalu ketika KPK berseteru dengan eksekutif. Kita menghargai ‘langkah berani’ KPK , untuk kali pertama menyidik kasus korupsi di Polri dengan tersangka seorang elit polisi berpangkat bintang dua dan masih aktif. Semoga keberanian itu benar-benar didasari oleh niat suci perjuangan menegakkan keadilan melawan kejahatan, bukan sekadar mengalihkan perhatian dari intisari persoalan.

   Tak pernah ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan. Ratusan juta do’a rakyat Indonesia yang teraniaya oleh ketidakadilan akan beresonansi di bumi dan langit nusantara, menghimpun energi dalam sebuah lembaga, simbol perlawanan terhadap kejahatan penguasa dan pengkhianatan alat negara. Kini KPK harus terus maju untuk membayar lunas kepercayaan rakyat dan bersegera menjadi cicak dewasa raksasa perkasa, menghancurkan keangkuhan para buaya negara. Semoga saja tak terjadi pengulangan tragedi dengan cerita Cicak vs Buaya Jilid Dua. ***

Salam...

El Jeffry

1 comment:

  1. Sindrome Bibit-Chandra jika berulang kembali, kita tidak perlu heran karena roh dari saling berebut diantara para instansi penegak hukum sangat dirasakan.

    ReplyDelete