Sunday, August 5, 2012

Jangkrik-Jangkrik Politik Jelang Pemilu 2014


      Pemilu 2014 masih menyisakan waktu 600 hari lagi. Waktu yang cukup panjang dan lapang untuk bersiap menjelang perhelatan akbar 5 tahunan ‘pesta demokrasi’ fiesta -ekstravaganza. Percaturan politik di panggung republik. Jangkrik-jangkrik mulai nyaring mengerik. Krik krik krik... saling beradu dan saling mengadu. Elit-alit (rakyat kecil),  petinggi-jelata, pemimpin-rakyat tengah merenda ornamen tata negara lewat suara.

     Dunia politik, papan catur republik demokratik menjadi hiburan eksentrik, unik, estetik, ciamik dan menggelitik. Blaiiiik.... panggung politik gegap gempita dalam sorak sorai euforia. Tuhan berbicara lewat suara, vox populi, vox dei. Republik, res-publica, kedaulatan rakyat atas nama demos-cratein, demokrasi Pancasila.

     Dunia politik semakin penuh intrik, polemik dan konflik. Jangkrik-jangkrik beradu demi meraih predikat terbaik, lalu berkuasa mengelola negara, Republik Indonesia. Calon-calon pemimpin berhamburan lalu lalang seperti bocah-bocah sekolah tawuran di jalanan. Tawuran jangkrik, siapa kuat dan nyaring mengerik, akan tampil sebagai jagoan terbaik.

     Yang mana jangkrik, yang mana suporter dan bandar pertunjukan, bercampur baur simpang siur. Waktu berputar, era berganti, reformasi membalik konstelasi politik. Di masa lalu rakyat kecil dijadikan permainan elit sebagai jangkrik-jangkrik kecil untuk tontonan. Seperti halnya domba-domba dungu yang dengan lugu rela beradu, demi kepuasan elit mengisi waktu.

     Reformasi bergulir, kaum alit semakin cerdas meniru ‘ajaran politik’ orde baru. Kini alit jelata kadang justru yang pintar mengadu para elit yang mengadu nasib meraih jabatan lewat Pemilu. Maju tak gentar, membela yang bayar. Suara semakin mahal, banyak kesempatan dalam lima tahunan. Ada pileg, pilpres, pilgub, pilbuta (pemilihan bupati-walikota) dan pilkades.

     Pesta demokrasi fiest- extravaganza. Demokrasi biaya tinggi demi kebebasan warga negara. Setiap suara sangat berharga. Zaman edan, sing ora ngedan ora keduman. Yang tidak ikut-ikutan menggila tidak kebagian harta. Edan-edanan sekalian. Alit-rakyat jelata sekarang mulai punya kuasa juga. Yang menghendaki tahta harus membayar maharnya, bayar kepada rakyat. Politik uang menjadi budaya. Supply-demand, penawaran-permintaan, ada pemberi, ada penerima. Ada penyuap, ada tersuap. Sudah hal biasa, praktek suap menjadi budaya.

     Demokrasi adalah bisnis luar biasa. Proyek bertebaran, tender yang lumayan. Spanduk, poster, kertas dan kotak suara, papan iklan, kaos dan jaket, stiker, kartu nama, selebaran, kartu undangan, biro iklan. Kampanye demokrasi menjadi lahan bisnis menggiurkan. Jangan khawatir, semua pasti kebagian. Pengusaha, pengacara, artis, selebriti, reporter dan wartawan, hingga ulama dan pemuka agama, popularitas adalah aset berharga. Warung kopi hingga kafe, pasar loak hingga mal, kantor kepala desa hingga istana negara, semua pasti kebagian. Demokrasi biaya tinggi tak boleh diganti menjadi demokrasi rendah kalori.

      Elit-elit kini juga bisa gantian dipaksa menjadi jangkrik. Rakyat mengilik-ngilik, agar jangkrik-jangkrik nyaring mengerik. Rakyat kecil semakin cerdik, hasil dari transformasi strategi-ilmu politik. Dalam politik, kalau nggak ada intrik, polemik dan konflik, maka jadi nggak asyik. Semakin dikilik semakin seru panggung politik. Krik krik krik...Jangkrik-jangkrik mabuk kilikan, semakin nyaring mengerik kesurupan.

     Jangkrik-jangkrik terlena dan mengira suara nyaringnya menakut-nakuti tikus-tikus negara. Koruptor semakin pintar bersandiwara, suara jangkrik telah tertebak cara kerjanya. Kadung sudah tak dipercaya,kepalang tanggung, tikus dan jangkrik sekalian bekerja sama. Di eksekutif, legislatif, yudikatif, jangkrik dan tikus bercampur baur saling kooperatif. Trias politika dagelan canda tawa, republik terbalik, demokratik tercekik. Blaiiik...

     Jangkrik-jangkrik mengilik republik demokratik. Para elit cekakak cekikik di belakang tertawa asyik. Paraalit juga tertawa terpingkal-pingkal di luar sana ikut bersandiwara. Sama-sama sadar, sama-sama tahu, sama-sama mau. Lingkaran setan korupsi sistemik endemik stadium lima, penyakit lama budaya bangsa yang tiada obatnya. Bertameng hukum, korporatokrasi lokal-global menggelora. Apa hendak dikata?

      Partai politik menjadi jangkrik. Parpol-parpol berhamburan bermunculandalam 10 kali pemilu yang berlangsung sejak merdeka. Kontestan bertarung dalam jumlah kembang kempis, kadang mengembang kadang mengempis. Pernah hanya 3 kontestan di sepanjang 5 kali pmilu 1977-1997, pernah pula hingga lebih dari 40 partai pada pemilu terakhir pada 2009. Entah berapa lagi jumlah parpol kontestan yang bakal tampil di pemilu 2014. Yang jelas terdengar,  jangkrik-jangkrik mengerik lantang di panggung politik republik demokratik.

     Namun cita-cita res-publica belum juga terlihat nyata. Negara masih terjebak dalam tempurung golongan dan kelompok kepentingan parsial-partikular. Golongan kekaryaan telah bersuara lantang dan selalu memenangi pertarungan, namun masih gagal membawa negara adi karya kreasi cipta, minimnya lapangan kerja, pengangguran meraja lela. Ada yang nyaring menyuarakan demokrasi, namun masih gagal membawa spirit demokrasi. Bicara demokrasi, namun langkahnya berkhianat terhadap nilai-nilai demokrasi.

      Ada yang bersuara lantang demi kebangkitan bangsa, namun bangsa ini semakin tenggelam dalam keterpurukan nyaris binasa. Ada yang menyuarakan persatuan dan pembangunan, namun bangsa ini masih jauh dari persatuan dan kemajuan. Ada yang bersuara lantang berjiwa demokrat, namun yang lebih terlihat para birokrat dan teknokrat. Ada yang bersuara tentang amanat, namun kenyataannya lebih banyak muncul elit-elit yang berkhianat.

      Ada yang mengusung suara keadilan dan kesejahteraan, namun yang dirasakan justru semakin menggunung ketidak adilan dan penderitaan rakyat. Ada yang bersuara lantang tentang hati nurani rakyat, tapi semakin jauh cara-cara politik berhati nurani etika dan jeritan suara hati nurani rakyat semakin tal  terdengar. Ada yang nyaring menyuarakan gerakan Indonesia Raya, namun berharap negara menjadi besar dan berjaya seakan mimpi indah di kala senja.

     Jalan masih panjang, waktu masih lapang. Jangkrik-jangkrik bersuara nyaring dan lantang. Menjelang pemilu 2014 dalam 20 bulan ke depan, kita merindukan berubahnya keadaan. Membuka ruang kesadaran bersama, elit-publik, penguasa dan jelata, pemimpin dan rakyat, untuk tidak menjadikan negara hanya sebagai ajang adu jangkrik dan kontes suara mengerik. Jangkrik-jangkrik, dari spesies dan kelas manapun akan menghadapi seleksi alam. Siapa yang merusak demos-cratein res-publica, kedaulatan rakyat, sudah semestinya terkubur saja.


Salam...
El Jeffry



No comments:

Post a Comment