Friday, August 3, 2012

Hartati Murdaya Hanya Korban Pemerasan



    Apa jadinya jika semua tersangka pelaku korupsi di negeri ini ternyata hanya korban, bukan pelaku kejahatan? Hartati telah diperiksa KPK sebagai tersangka, dan ia tetap bersikukuh mengaku sebagai korban pemerasan Bupati Buol. Lalu bagaimana dengan Yani Ansori, anak buahnya yang menyerahkan uang sebesar Rp. 3 miliar itu kepada Bupati? Akankah dia juga hanya korban dari permainan perusahaan. Dan bagaimana pula jika ternyata Sang Bupati Amran Batalipo juga merasa sebagai korban keadaan?

      Kalau semua merasa dan mengaku sebagai korban, lalu siapa yang menjadi pelaku tindak kejahatan? Apalagi kasus korupsi (dan kolusi-suap), yang sudah pasti dilakukan secara diam-diam seperti siluman. Kalau terang-terangan, itu namanya bukan korupsi, mungkin perkara akan lebih gamblang dan jelas. Tapi korupsi (dan kolusi), yang kadang tak ada bukti dan saksi, bagaimana kita bisa membongkar agar tidak abadi menjadi misteri?

      Hartati merasa dan mengaku sebagai korban pemerasan kekuasaan. Nazarudin mengaku sebagai korban permainan politik. Anas juga merasa dan mengaku sebagai korban. Lalu Miranda Gultom, Arthalita Suryani, Angie, Mindo, Neneng, Nunun, Andi Malarangeng, Zulkarnaen Djabar, Emir Moeis, Djoko Susilo, dan masih sederet daftar nama-nama besar yang pernah diduga, disangka, dan didakwa hingga dipidana, semua mengaku dan merasa sebagai korban. Lalu siapa pelaku sebenarnya?

   Mungkinkah jin dan dhedhemit setan siluman dari alam lain yang menjadi pelaku kejahatan korupsi? Sementara semua manusia, bahkan yang sudah terbukti nyata tertangkap tangan masih saja berkilah, “Bukan aku pelakunya, aku hanya korban...” Ilmu korupsi memang sakti karena mereka mengadopsi ilmu ototomi seperti gurita, cicak, kadal dan kepiting. Dalam keadaan terdesak, mereka bisa mahir memutuskan lengan, ekor atau capit sendiri, lalu bergegas kabur dan bersembunyi, menunggu tumbuhnya lagi organ yang baru dan lebih fresh dan lebih bertenaga dari sebelumnya.

    Begitu banyak calon-calon koruptor tertangkap, tapi begitu banyak pula yang kemudia terlepas lagi. Ah, konsekuensi dari negara hukum yang berpegang pada asas praduga tak bersalah. Kita tak boleh sembarangan memvonis seseorang jika pengadilan belum menjatuhkan vonis bersalah. Jika sudah bersalah pun, sang pelaku kejahatan masih berhak untuk lolos dari jeratan hukum. Naik banding, pengadilan negeri, pengadilan tingga, hingga kasasi.

     Selalu ada cara untuk menuntut keadilan, sebanyak itu pula cara untuk pelaku keahatan meloloskan diri dari jerat hukuman. Sayang seribu sayang, hukum di negeri ini mudah dipermainkan, sebab setan korupsi tak mengenal batas dimensi, lintas ruang, waktu, gender, usia, dan lintas lembaga, termasuk lembaga peradilan, lembaga penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan. Apa hendak dikata? Konon, hukum bisa dibeli. Bila Anda punya uang berlimpah, mampu membayar pengacara profesional dan jenius, Anda bisa lolos dari jerat hukum, sekaligus bisa menjebloskan orang tak bersalah untuk dijadikan korban pengganti. Aduhai malangnya hidup di negeri ini.

    Apalagi dikenal pula kaidah dasar hakim dalam memutuskan perkara, “Lebih baik melepaskan 10 orang bersalah daripada mengukum 1 orang tak bersalah.” Lebih baik melepaskan 10 koruptor daripada menghukum 1 orang yang bukan koruptor. Lalu kita tak menyadari, bahwa mayoritas manusia di negeri ini mendapatkan harta dengan cara-cara korup. Fenomena zaman edan, orang jujur sudah ketinggalan zaman. Sangat-sangat-sangat jarang ditemukan, seorang pengusaha dan penguasa ‘tersucikan’ dari virus korupsi.

     Dan kita tak akan sanggup percaya, bahwa mungkin 99% pengusaha dan penguasa kaya memperoleh harta dengan cara tidak jujur, alias korupsi. Dan dunia kehakiman masih tetap berpegang, lebih baik melepaskan yang 99% itu daripada harus keliru menghukum yang 1%. Sangat tidak realistis, tidak rasional dan tidak proporsional. Lalu kita hanya tercenung dengan kening berkerut dan dada terurut karena sejak sepuluh langkah kaki kita keluar pintu rumah untuk mengais rezeki, seketika itu pula terpaksa melewati jalan-jalan penuh duri korupsi, setiap langkah, setiap nafas, setiap hari.

Salam...
El Jeffry

Sumber photo: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/339839-kpk-kembali-periksa-hartati-murdaya

No comments:

Post a Comment