Saturday, August 11, 2012

Falsafah Lidah Dalam Blunder Kampanye Foke





        Andai Foke lebih bersabar dan berjalan secara alami, peluangnya sangat-sangat besar sekali untuk bisa memenangi pilkada DKI. Posisinya sebagai incumbent memungkinkan ia bebas berinteraksi dengan rakyat ibukota. Sementara Jokowi dan Ahok tak bisa apa-apa, karena masa kampanye terlalu singkat untuk bisa berbuat banyak di Jakarta. Andai Foke tak terlalu dibebani ‘misi pamrih’ mencari simpati, toh hati manusia tak bisa dibohongi, bisa membedakan antara pengabdian tulus dengan basa-basi.

       Sebelumnya, pada 29 Juli 2012, Bang Haji Rhoma Irama sempat membuat ‘geger’ dengan ceramah bernuansa SARA. Meskipun perkaranya masih dalam penanganan Panwaslu DKI, tak urung efeknya menjalar tak hanya sebatas ibukota, tapi menjadi bahan perdebatan dan wacana nasional. Bang Haji sendiri mengklarifikasi dengan membantah tuduhan sebagai anggota tim kampanye Foke.

       Sementara lupakan Rhoma dan SARA, meskipun butuh waktu untuk meredakan suasana. Toh Foke sendiri sudah menegaskan bahwa di republik ini isu SARA ‘diharamkan’ karena tak selaras dengan nilai-nilai demokrasi Pancasila. Tapi sayangnya, 10 hari kemudian, 08 Agustus 2012, giliran sang kandidat yang membuat ‘geger’ dan kontroversi dengan ‘banyolan konyol.’ Sekarang lo nyolok siapa? Kalau nyolok Jokowi, mending mah bangun (rumah) di Solo aja,” kata sang gubernur.

       Cerita berkembang melebar. Foke sepertinya lupa, bahwa detik-detik ini hingga tanggal 20 September saat putaran kedua pilkada digelar, sosoknya menjadi pusat perhatian 24 jam dalam sehari. Foke sepertinya juga lupa, bahwa sikap dan perilaku pemimpin ibukota harus berbeda dengan manusia biasa. Apalagi pada putaran pertama telah gagal memenuhi target dan kalah suara dibanding lawannya, Jokowi. 

    Jika masih berambisi menjadi gubernur DKI untuk kedua kali, Foke wajib tampil sempurna. Ini yang perlu diinstruksikan juga kepada para pendukungnya, baik tim sukses maupun simpatisan. Tak boleh ada kesalahan sekecilpun. Berdasarkan prediksi di sensasi jokowi menang tipis 54:46, semakin banyak Foke membuat blunder, semakin besar peluangnya untuk terjungkal. Bukan hanya dengan ‘angka mutlak,’ bisa ia kalah ‘KO/TKO.’

     Dalam dua ‘insiden,’ satu dilakukan oleh Bang Haji, dan kini satunya dilakukan oleh Foke sendiri, bisakah dikatakan sebagai manuver? Satu lewat SARA dan satunya lagi lewat guyon di saat warga sengsara? Melihat dari reaksi publik di media massa, alih-alih hendak melakukan manuver, Foke justru melakukan blunder. Meskipun Rhoma menampik tuduhan sebagai anggota tim sukses dan Foke, oleh Jokowi dan Ahok sudah dimaklumi hanya sedang bergurau, namun kedua ‘insiden’ berpotensi merugikan kubu Foke sendiri.

     Lidah memang tak bertulang, ia lebih tajam dari pedang. Lidah adalah senjata, ia bisa membunuh musuh, tapi bisa juga membunuh diri sendiri. Senjata makan tuan! Dua insiden keseleo lidah dari dua tokoh penting. Bedanya, jika Rhoma keseleo lidah terkait akidah, sedang Foke keseleo lidah menyuruh warga pindah. Pindah dan bangun rumah di Solo, guyon yang ‘cerdas’ dan ‘bernas.’ Yang menjadi aneh, bagaimana orang sejenius Foke bisa keseleo lidah?

    Falsafah lidah tak lepas dari kejiwaan manusia. Orang bisa keseleo kaki jika berjalan pecicilan, grusa-grusu, alias tergesa-gesa. Ketergesaan disebabkan oleh ketidaksabaran hati dalam meraih tujuan. Ambisi dan obsesi lepas kendali akan membuat seseorang lupa diri, lupa nilai-nilai etika dan norma, cenderung tergoda mencari jalan pintas. Akhirnya nggragas dan asal tebas.

    Falsafah “burnaskopen,” bubur panas, kokopen! Makan bubur panas-panas. Nikmat, kenyang dan kesehatan yang ada dalam niat, namun justru siksa dan kerusakan organ yang didapat. Ketidaksabaran memang sudah menjadi penyakit kronis negeri ini, termasuk para pemimpin. Akal sehat menghilang dari kepala dan iman-budi pekerti terlepas dari hati. Padahal lidah telah mengajarkan, ketidaksabaran selalu membawa kegagalan, bahkan berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan. (republik-burnaskopen-dan-sindroma-mpu-gandring).

     Andai Foke lebih bersabar dan berjalan secara alami, peluangnya sangat-sangat besar sekali untuk bisa memenangi pilkada DKI. Posisinya sebagai incumbent memungkinkan ia bebas berinteraksi dengan rakyat ibukota. Sementara Jokowi dan Ahok tak bisa apa-apa, karena masa kampanye terlalu singkat untuk bisa berbuat banyak di Jakarta. Andai Foke tak terlalu dibebani ‘misi pamrih’ mencari simpati, toh hati manusia tak bisa dibohongi, bisa membedakan antara pengabdian tulus dengan basa-basi.

    Perbedaan mencolok dibandingkan dengan kepemimpinan Jokowi dan Ahok yang lebih terlihat alami, apa adanya, memang begitu adanya. Dalam falsafah niaga, setiap manusia adalah pedagang. Setiap pedang menjual dirinya sendiri. Jika diri Anda berkualitas dan berintegritas, Anda tak perlu mengumbar kata-kata untuk meyakinkan manusia. Tapi inilah politik. Kata Iwan Fals, politik ibarat adu jangkrik. Kilik sana kilik sisi, lalu kilik-kilikan. Kalu nggak ngilik, politik jadi nggak asyik.

    Air yang tertuang di gelas dari mulut teko, itulah isi dari teko itu sendiri. Meskipun citra bisa terbentuk oleh kemahiran retorika dalam tata strategi kampanye, namun kejujuran dan dusta punya cita rasa jauh berbeda. Jakarta 2007 hingga 2012 telah cukup bagi ‘jurkam alam.’ Jika memang dirasakan warga ibukota sebagai sebuah keberhasilan, tentu tak perlu panjang lebar dijelaskan.

    Justru semakin banyak Foke terjebak dalam prioritas kampanye kata-kata, akan semakin memperbesar peluang melakukan blunder lanjutan. Tak mudah mengubah kepribadian dalam tempo dua bulan. Mungkin akan lebih baik dan mengundang simpati jika Foke tampil apa adanya, mengakui sisi lemah dan kegagalannya. Menyerang lawan dengan membabi buta akan semakin menunjukkan bahwa Sang Gubernur terlalu berambisi hingga kehilangan kendali dan kecerdasan.

    Foke, Jokowi, dan tak terkecuali kita, bisa belajar dari sepotong lidah tak bertulang tapi lebih tajam dari pedang. Jika tak bijak mengendalikannya karena terbawa syahwat-obsesi-ambisi, maksud hati membunuh musuh, tapi tubuh sendiri malah tertikam. Jika Jokowi-Ahok yang menang, bukan karena mereka berdua pintar atau perkasa, tapi karena Foke-Nara dan pendukungnya melakukan blunder tanpa disadari. Jika pun akhirnya Foke-Nara yang menang, kemenangan itu akan sedikit ternoda SARA dan penyalahgunaan wewenang.

    Pepatah berkata, “Lidah orang bijak ada di belakang akal dan hatinya, sedang akal dan hati orang pandir ada di belakang lidahnya.“ Orang bijak berpikir panjang sebelum bicara, sedang orang pandir bicara panjang sebelum berpikir. Tentu kita berharap ibukota negara DKI Jakarta akan berada di bawah pemimpin bijak yang selalu berhati-hati saat berbicara. Bukan pemimpin pandir yang gemar bermanuver namun keblinger menjadi blunder dengan kecerobohan saat berbicara.

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://sindikasi.net/warta/video-sindir-jokowi-tersebar-foke-pilih-bungkam


No comments:

Post a Comment