Saturday, August 11, 2012

Duo Edan Jokowi-Abraham Robek Zona Nyaman


Indonesia butuh pemimpin ‘gila!’ Bisa jadi itu benar bila menyitir sya’ir pujangga Jawa abad abad ke-19, R. Ng. Ronggowarsito.

Ukuman Ratu ora adil 
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil 
Akeh kelakuan sing ganjil 
Wong apik-apik padha kapencil
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman

(Hukuman Raja tidak adil, banyak pejabat jahat dan ganjil, banyak ulah-tabiat ganjil, orang yang baik justru tersisih. Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik-pasal 28-31 dan pasal 11 jangka-jayabaya)

Zaman terbolak-balik. Negara, republik dan demokrasi terbolak-balik. Hukum dan politik kehilangan nilai-nilai otentik. Benar-salah, baik-buruk, lurus sesat, berputar arah 180 derajat. Koin logika menjadi pemilahan paradigma. Logis-tak logis, masuk akal-tak masuk akal, gila-waras, tergantung dari sisi mana manusia berada. Di zaman edan, negeri edan, yang waras di anggap edan, yang edan justru di anggap waras.

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

(Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia-Taufik Ismail-1998)

Hukum dan politik di zaman edan terbalik-balik. ‘Ruh’ hukum dan ‘ruh’ politik tingal setitik. Penegakan hukum makin menggelitik. Percaturan politik penuh intrik dan konflik, lahirlah pemimpin-pemimpin berbaju republik, namun isinya jauh dari nilai-nilai republik, res-publica, daulat rakyat atas negara.

Di zaman edan inilah muncul dua tokoh edan dalam ranah kekinian. Jokowi, dengan ‘kepemimpinan edan’ ‘ menabrak dogma-dogma perpolitikan feodalis-imitasi. ‘Corak edan’ Jokowi dengan ruh kerakyatan-otentik secara fenomenal mengubah kota kecil Solo secara fenomenal.

Gaya ‘kepemimpinan edan’ bersahaja-katro-ndeso melepas ego primordial ternyata membuat rakyat kecil yang selama ini terabaikan menjadi ikut ‘edan.’ Tergila-gila dan bermimpi kepemimpinan edan Jokowi menjadi teladan pemimpin-pemimpin ‘waras’ di negeri ini.  

Jokowi nekad bertarung dalam kompetisi demokrasi menjadi pemimpin Jakarta. Alhasil ‘edanisme’ Jokowi menebar ancaman bagi orang-orang ‘waras.’ Suara Jakarta terguncang keras. Peta politik susah diprediksi berputar ngulik terbolak-balik. Jokowi dan jokowisme membuka mimpi rakyat untuk mendobrak kemapanan dengan pembaharuan. Dengan ‘cara edan’ yang kadang meresahkan orang-orang waras. Tangkas melibas nafas-nafas buas, para pencari dan pencuri kekuasaan lewat jalan pintas.

Peta politik terbolak-balik, pertanda zaman akan membalik. Jokowi edan telah merobek zona nyaman. Hasil akhir akan ditentukan rakyat, mana yang lebih dominan, ‘kelompok edan’ yang merindukan perubahan atau ‘kelompok waras’ yang bersikukuh mempertahankan zona nyaman.

Energi Jokowi beresonansi di tempat yang sama, ibukota DKI Jakarta. Amplitudo acak Jokowi di dunia politik dan demokrasi melebar ke dunia hukum pemberantasan korupsi. Joko edan dari Makassar nyasar ke lembaga KPK. Konon kabarnya, gurita korupsi yang menggila tak bisa ditaklukkan. Abraham Samad dengan edan-edanan menyanggahnya. 

Dalam wawancara ia melayani tantangan wartawan.

Jangankan nama-nama yang kamu sebut itu, saudara saya pun kalau dia korupsi saya gantung. Saya ini semenjak mendaftar menjadi pimpinan KPK, saya sudah berkomitmen untuk mewakafkan diri saya untuk bangsa dan negara untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Jika saya dalam mewakafkan diri saya kemudian menemui ajal, maka saya akan mati secara terhormat. (http://fokus.vivanews.com).

Abraham ‘edan’ ketularan Jokowi ‘edan.’ Hanya orang gila yang mau menggantung saudara sendiri bila terbukti korupsi. Seperti ‘gila’nya sabda Muhammad Saw dalam penegakan hukum saat hendak meruntuhkan zaman edan-jahiliyyah jazirah Arab 15 abad silam,”Jika Fathimah anak Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya!”

Abraham kini menebar ancaman kepada para koruptor. Beberapa bulan ke depan, KPK bakal umumkan seorang menteri sebagai tersangka. Abraham gila, bagaimana bisa cicak menaklukkan buaya? Bagaimana bisa menegakkan keadilan di negeri yang akhlaknya telah rubuh, hukum tak tegak, doyong erderak-derak?


Taufik Ismail malu, rakyat malu, Jokowi malu, Abraham malu, kita yang masih waras malu menjadi orang Indonesia. Sebab Indonesia bukan disetting seperti ini 67 tahun yang lalu. Negeri telah dimerdekakan, negara telah didirikan, konstitusi telah dirumuskan, dasar dan falsafah negara telah dikristalkan. Namun pengkhianatan demi pengkhianatan telah merusak cita-cita luhur kemerdekaan.

Para pendiri bangsa menangis di alam kuburnya. Harta, keringat, air mata dan darah perjuangan telah sia-sia. Ada apa denganmu wahai generasi penerusku? Di mana hukum, republik dan demokrasi kini berada. Zaman edan telah merubah semuanya, membolak-balik tak karuan hingga tatanan hidup menjadi pelik.

Dunia butuh pemimpin ‘gila’! Negara butuh pemimpin ‘gila’! Jokowi datang dari Solo dengan gaya ‘gila.’ Abraham datang dari Makassar dengan spirit ‘gila.’ Mereka berdua datang untuk mewaraskan Indonesia, lewat sebuah titik di ibukota, dalam pentas potik dan hukum semestinya.

Di zaman edan negara edan, yang waras dianggap edan, yang edan mengklaim diri sebagai waras. Maka hanya ‘orang edan’ yang bisa mewaraskan negara edan. Dengan segala pertaruhan, harga yang layak bagi perjuangan. 
Duo edan, Jokowi-Abraham telah datang mengusik zona nyaman. Resonansi energi dua manusia akan membahana di bumi nusantara. Membalikkan keadaan agar benar dan waras seperti sedia kala, ketika 67 tahun silam pertama kali dibacakan teks proklamasi Indonesia merdeka.

Salam...

El Jeffry

No comments:

Post a Comment