Sunday, August 5, 2012

Duet Parto-Tukul Di Pilpres 2014


    Menyaksikan perkembangan perpolitikan-hukum dan hukum-perpolitikan nasional, lama-lama hanya membuat perut mual. Dibilang dagelan, tidak lucu, akhirnya ingin tertawa pun gagal. Di bilang serius, yang ada hanya opera lelucon yang tiada habisnya, alur cerita tertebak, skenario lama masih saja nampak. Tertawa tidak, menangis tidak. Sudah nasib terjebak dalam di negara kethoprak.  

    Maka sedikit mengusir putus asa, rasanya kita perlu menggagas sebuah ide gila, bagaimana kiranya jika Parto dan Tukul berduet maju dalam pilpres 2014 dan berhasil memimpin negara? Parto sebagai presiden, dan Tukul Arwana sebagai wakilnya. Pasti luar biasa!

   Siapa yang tak kenal Parto? Bicara kapasitas, pelawak satu ini terbilang cukup sukses dalam sebuah acara teve, Opera Van Java. Rasanya pengalaman sebagai dalang mbambung akan banyak berguna jika ia memimpin negara. Indonesia kiranya sudah tak butuh orang pintar untuk menjadi pemimpin. Siapapun yang tampil sebagai pemimpin sudah pasti bukan orang bodoh, tapi nyatanya, untuk sukses memimpin tak bisa mengandalkan hanya dengan pintar.

     Sudah saatnya kita di pimpin oleh orang yang pandai berkelakar. Lelucon yang membuat tertawa terpingkal-pingkal, setidaknya bisa mengusir perut lapar. Itu masih lebih baik daripada kita menyaksikan dagelan yang tak lucu. Sepertinya para elit pemimpin tak punya rasa humor. Semua serba tanggung, lucu tidak, serius tidak. Mau tertawa, hati sesak, mau menangis, tapi ceritanya lucu.

    Jika Parto menjadi presiden, seperti presiden dalang di Opera Van Java, materi cerita sudah tak penting lagi. Kita sudah kadung berada di republik membingungkan. Semua serba salah. Multilematis. Muju salah, mundur salah, diam juga salah. Kebingungan massal-nasional. Rakyat bingung, pemimpin bingung. Lebih baik dijadikan opera dagelan sesuai motto sang presiden Parto. Di sini gunung, di sana gunung, tengah-tengahnya pulau Jawa. Penonton bingung, pemainnya bingung, dalangnya juga bingung, yang penting semua bisa tertawa.

    Kita butuh tertawa, pemimpin butuh tertawa, rakyat butuh tertawa, presiden butuh tertawa, negara butuh tertawa. Kadang dengan tertawa, tiba-tiba tanpa diduga tahu-tahu hilanglah segala problema. Hahaha...! kalau presiden Parto sedang kehabisan ide untuk membuat Indonesia tertawa. Wakil Presiden Tukul Arwana bisa mengambil alih peran utama. Siapa tak kenal Tukul? Wong katro-ndeso yang sukses juga dalam membuat tertawa para selebriti dan orang-orang pintar di acara televisi.

         Kapasitas Tukul telah terbukti. Untuk sukses membuat nyaman dan suasana gembira, tak butuh pintar-pintar amat. Justru keluguan, kepolosan dan kejujurannya mengakui kebodohan, itu lebih dari cukup untuk membuat tamu-tamu dan penonton senang. Manusia lebih suka melihat sesuatu dengan apa adanya. Tanpa terlalu banyak basa-basi, rekayasa dan retorika. Natural, alami, asli, orisinil, otentik. Bukankah kita sudah bosan dengan kepura-puraan?

     Gaya kepemimpinan Tukul dalam memandu acara berhadapan dengan orang-orang pintar layak dijadikan teladan. Dan itulah yang menjadi sumber kekuatan. Kalau memang tidak tahu persoalan, ya tanya saja pada yang lebih tahu. Meski pemimpin acara, jika tamu lebih paham masalah yang dibicarakan, kenapa harus gengsi untuk bertanya. Toh lagi pula ada tim yang membantu di belakng layar. Kalau suasana buntu, buka saja buku panduan, kembali ke laptop! Sederhana, kan?

     Duet Parto-Tukul sebagai presiden RI akan menjadi duet pemimpin negara terlucu di dunia. Itu kan prestasi yang belum pernah ada? Indonesia bisa semakin populer dan banyak teman. Kerjasama antar negara akan mudah dan lancar, karena semua teman tentu akan suka, banyak tertawa dan bergembira. Ha-ha. Dan untuk urusan kabinet, tak perlu juga khawatir. Masih ada ribuan pelawak nasional bertalenta. Sejarah akan mencatat, kabinet pelawak pemerintahan Parto-Tukul sebagai kabinet terlucu di dunia, rekor sepanjang sejarah peradaban manusia. Luar biasa!

     Bisa dibayangkan, bila presiden pintar membuat rakyat tertawa, wakilnya juga punya kapasitas yang sama, para menteri di kabinetnya juga jago membuat ide-ide segara untuk memancing tawa, pasti akan menjadi prestasi luar biasa. Republik dagelan terbesar di dunia. ‘Kepemimpinan tertawa’ akan menginspirasi pemimpin-pemimpin di negeri ini untuk bisa melakukan hal serupa. Produktivitas meningkat. Karena dalam suasan gembira, kinerja manusia akan optimal. Iklim usaha yang nyaman dan riang, akan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

     Kriminalitas mungkin akan berkurang, karena setiap kali seseorang akan berbuat kejahatan, nafsu itu bisa diredam dengan lelucon dan tawa gembira. Narkoba akan kekurangan pasar, karena orang tak butuh pelarian ketika hidupnya sudah senang. Tertawa akan mengubah Indonesia. Dan tertawa akan mengubah dunia.

      Tapi partai mana yang akan meminang Parto dan Tukul untuk mengusung maju sebagai kandidat capres-cawapres di pilpres 2014? Sepertinya juga tak perlu terlalu dicemaskan. Dengan popularitas keduanya, bisa saja Parto-Tukul maju sebagai calon independen. Dan bisa jadi mayoritas dari rakyat Indonesia akan mendukung mereka berdua. Siapa manusia di dunia ini yang tak suka bergembira dan tertawa?

      Masalahnya, mesti ada peraturan baru yang membuka ruang bagi calon independen di pilpres 2014, karena peraturan yang ada sekarang belum memungkinkan? Jadi tertutupkah kans Parto-Tukul untuk bisa menjadi RI1-2 di 2014? Waktu masih panjang, semua bisa terjadi. Kalau kita setuju untuk sekali-kali hidup bergembira dan tertawa, lepas dari himpitan masalah dan derita, cukuplah kita bersama berdo’a.

     Mudah-mudahan ada partai yang berminat meminag duet Parto-Tukul sebagai kandidat capres-cawapres 2014. Siapa tahu elit partai juga sudah bosan dengan kesuntukan dan mengingkan perubahan, mengubah suasana carut-marut dan buram-muram menjadi nyaman senang riang gembira. Kita butuh tertawa, rakyat butuh tertawa, pemimpin butuh tertawa, negara butuh tertawa. Itu lebih baik daripada terkurung linglung dalam kebingungan yang tiada habisnya.

Salam...
El Jeffry 

sumber photo: http://soto-sopan.blogspot.com/2010/08/aziz-gagap-pekerjaan-sambilanya-kapolri.html

No comments:

Post a Comment