Thursday, July 5, 2012

Spirit Dekrit Dan Spirit Sandal Jepit




13415040582134316938
Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit pada 5 Juli 1959 (sumber photo: http://kubahidiologis.wordpress.com/2010/12/01/)
    Bulan Juli ternyata datang lagi. Bulan sejarah dua pemimpin bangsa yang senantiasa diterpa kesulitan. Kemelut hidup membelit terlalu rumit. Tiada lagi solusi kongkrit, lalu lahirlah dekrit. 63 tahun silam, Presiden Soekarno dihadapkan pada titik kritis kebingungan menghadapi kemelut bangsa. Trial and error elit penguasa dalam pencarian bentuk bernegara terlalu banyak makan biaya. Rapat, rapat, rapat dan rapat tak kunjung reda, namun hasilnya tetap hampa. Wong alit menjerit, hidup tak cukup dengan makan retorika.

   Sang presiden terpaksa untuk mengambil keputusan ‘gila.’ 5 Juli 1959, dekritpun diberlakukan. Pembubaran Konstituante, pemberlakuan kembali UUD ‘45 dan tidak berlakunya UUDS 1950, dan pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Spirit dekrit menggema. Rakyat Indonesia bersuka cita. Harapan baru kehidupan yang lebih baik setelah sekian lama terhimpit pailit menggelora.

     Waktu berlalu begitu cepatnya. Aneh tapi nyata, begitu cepat pula spirit dekrit menguap ke udara. Wong alit kembali terhimpit. Rakyat kecil kembali terbelit kehidupan sulit. Penguasa tampil begitu kuatnya, hingga lupa pada amanat konsitusi dan Pancasila, berbanding terbalik dengan yang digelar di lapangan wacana. Seperti sandal jepit, nasib orang kecil selalu terganjal dan terjepit, terjungkal dan terhimpit.

    Kaum sandal jepit, hidup selalu terganjal dan terjepit, tubuh kumal dan selalu menjerit, mayoritas lokal namun lingkup geraknya dipersempit, korban kapitalis brutal dan penguasa   yang  ‘sakit,’ tumbal kaum feodal dan ekonominya terpuruk pailit, mulut-mulut yang disumpal dan tangan kaki diapit, dihimpit masalah bergumpal tanpa mampu berkelit, hidup gagal matipun sulit.
13415041972108826745
Presiden Gus Dur mengeluarkan dekrit pada 23 Juli 2001 (sumber photo: Julihttp://manusi4biasa.wordpress.com/)
      Setelah 56 tahun berlalu, perulangan peristiwa datang lagi dengan cerita sedikit berbeda. Presiden Abdurahman Wahid menghadapi situasi sulit. Sepak terjang elit politik membingungkan. Konstituante abad 21, anggota DPR katanya hanya sekelompok anak TK. Sang presiden merasa, Indonesia ditengarai mengarah kepada anarkisme. Konflik kepentingan, intrik kekuasaan, warna lama drama politik dan pemerintahan.

     Apa hendak dikata, 23 Juli 2001, tanpa peduli tanpa basa-basi, terpaksa dekrit dibacakan. Pembekuan DPR/MPR RI, pengembalian kedaulatan ke tangan rakyat dan mengambil tindakan serta menyusun badan yang diperlukan untuk menyelenggaraan Pemilu dalam waktu satu tahun, dan penyelamatan gerakan reformasi total dari unsur-unsur Orde Baru dengan membekukan Partai Golkar sambil menunggu keputusan MA. TNI-Polri harus mengamankan langkah penyelamatan NKRI dan menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang serta menjalankan kehidupan sosial dan ekonomi seperti biasa.

    Entah apa yang terjadi, berbeda dengan dekrit sebelumnya. Sang presiden justru tersingkir dari istana negara. Kaum oposisi yang mbalelo ternyata lebih pintar dan lebih perkasa. Terlepas dari benar-salah cerita panggung percaturan politik, yang pasti di balik keputusan ‘gila’ sang presiden ada spirit suci mulia, mengembalikan negara pada hak semestinya.

    Namun spirit tinggal spirit. Dekrit tinggal dekrit. Pengulangan cerita opera lama menyuguhkan cerita sama. Gonjang-ganjing kaum elit dalam pertarungan kekuasaan, sementara nun jauh di bawah sana kaum alit menjerit begitu kerasnya. Namun karena jeritan orang kecil memang tak selantang orang besar, maka suaranya tak bakalan terdengar. Penyuara di pelosok rimba desa, sedang telinga di balik kurungan gedung istana raja.
13415047881440837986
Sandal jepit, Spirit perjuangan kaum “alit” orang kecil yang terlupakan (sumber photo: http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/)
    Spirit dekrit, spirit sandal jepit, dua spirit yang saling terkait. Dua dekrit perjuangan pengembalian kedaulatan kepada haknya, rakyat. Dua dekrit pembubaran lembaga wakil rakyat yang diyakini menyimpang dari amanat. Dua dekrit spirit perbaikan dengan langkah luar biasa. Namun semuanya beritikad mengembalikan negara kepada cita-cita bersama, kesejahteraan rakyat jelata, pembelaan hak-hak kaum lemah, kaum sandal jepit, tujuan suci Indonesia merdeka.

   Andai sehari saja dicanangkan “Gerakan Sandal Jepit Nasional,” mungkin problem-problem besar bangsa ini akan terpecahkan dan teratasi, karena diskusi dan orasi, seminar dan guyuran rohani, sidang DPR dan rapat-rapat menteri, yang menjejali media massa setiap hari tetap saja tak mengubah situasi. Mungkin sentuhan sandal jepit di kaki akan menjadi spirit yang membangunkan hati, membuka akal sehat, menghidupkan nalar dan menggedor kesadaran nurani.

     Spirit dekrit, spirit sandal jepit, dua spirit dalam sejarah bangsa di bulan Juli, dua tujuan mulia dua orang pemimpin untuk meluruskan penyimpangan jalan elit-penguasa, mengembalikan hak alit-rakyat kecil. Dua spirit dekrit, dua spirit sandal jepit, dua bersaudara tak terpisahkan antara elit dan alit, dua cerita yang semoga menjadi monumen peringatan bersama, ketika kemelut melanda begitu hebatnya, bisa saja diperlukan dekrit ketiga. Demi perjuangan rakyat jelata, kadang seorang “pemimpin besar” butuh keberanian untuk membuat keputusan ‘gila’!

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment