Thursday, July 12, 2012

Sebulan Berpuasa, Korupsi Tetap Leluasa


Ramadhan hampir tiba. Bulan suci umat Islam di depan mata. Seperti biasa, bulan penuh berkah ini selalu disambut dengan suka cita. Kedatangan bulan puasa selalu menjadi fenomena keberagamaan Indonesia. 

Di balik berita gembira ini, ada yang aneh dengan keberagamaan di negeri ini. Namun karena keanehan sudah menjadi hal biasa, maka ia tak lagi dilihat aneh. Ala bisa karena biasa. Salah kaprah bener ora lumrah. Karena sudah terbiasa maka menjadi lumrah adanya, tradisi akhirnya menjadi budaya.

Fenomena unik, menarik sekaligus menggelitik. Bulan puasa tiba, namun energi korupsi tetap prima. Lho, kok bisa?Puasa dan korupsi, dua hal yang sangat-sangat-sangat kontradiktif, kontraproduktif dan kontraindikatif! Ternyata bulan puasa tak sanggup menghalangi umat untuk berkorupsi! Sepertinya, belum ada data yang menunjukkan bahwa di bulan puasa angka korupsi menurun secara signifikan, apalagi menghilang.

Setiap bulan puasa tiba, energi korupsi masih tetap prima. Di negeri mayoritas muslim, tentunya para koruptor itu juga muslim, tentunya juga berpuasa jika Ramadhan tiba. Tapi nyatanya, berlapar-lapar dan berdahaga-dahaga belum mampu menahan jiwa-jiwa korup dari kerakusan, keserakahan yang menjadi ‘unsur hara utama’ kejahatan, termasuk kejahatan luar biasa, “korupsi.” Uang, jabatan, kekuasaan dan pesona dunia telah menjadi berhala. Sudah biasa, sudah tradisi dan budaya, apa hendak dikata?

Ada yang keliru dalam umat beragama (baca: pelaku agama) di negeri ini menangkap makna agama. Sepertinya kita, para pelaku agama lupa, bahwa agama adalah agem-ageman kang utama, pakaian yang utama. Pakaian setidaknya berfungsi sebagai pelindung badan untuk menjaga kesehatan, sebagai penutup aurat dan aib untuk membedakan manusia dengan hewan, dan sebagai penghias penambah keindahan.

Agama pada hakikatnya adalah pakaian jiwa. Orang beragama  mestinya terjaga kesehatan jiwanya dari sifat dan  perilaku merusak, terjaga aibnya, perilaku binatang yang tak berakal pikiran dan terjaga dari perilaku jahat. Bila orang beragama tidak terjaga dari perilaku tersebut, sejatinya ia belum beragama (atheis), dan lebih ekstrem lagi telah kufur-kafir-kufar alias ingkar! Ia sama saja dengan berjalan di keramaian hanya mengenakan pakaian dalam. Dan pada titik terendah, bahkan seperti orang telanjang tanpa sehelai benang! Primata modern yang pintar berbahasa Indonesia.

Ramadhan adalah bulan khusus “hadiah” Tuhan bagi umat muslim. Setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat. Kejahatan dipenjara ketat. Tapi hadiah adalahhidayah, pemberian khusus untuk menunjukkan kedermawanan Tuhan Allah Ar-rahman. Tak ada hadiah yang gratis di dunia ini. Bahkan Tuhan juga tak begitu bodoh untuk memberikan hadiah kepada orang yang tak layak menerima hadiah! Ternyata setan-setan masih bebas berkeliaran. Sebulan kita berpuasa, korupsi masih tetap menggelora.

Hadiah hanya diperuntukkan bagi hamba-Nya yang disukainya karena ketaatan total tanpa menduakan. Hadiah juga diberikan sebagai bentuk dukungan agar si penerima hadiah berbuat lebih baik di masa mendatang. Puasa tahun ini mesti lebih baik dari puasa tahun kemarin, dan puasa tahun depan mesti lebih baik dari puasa tahun ini. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tentu hadiah akan distop! Lalu bagaimana kita tahu bahwa hadiah itu pasti kita terima disetiap hari raya, sehingga dengan penuh suka cita merayakannya dengan berpesta?

“Lebaran extravaganza, lebaran euforia!” Banyak dari kita tertipu oleh “kepandiran beragama.” Agama telah kehilangan logika. Manusia tanpa logika, tak lebih baik dari binatang ternak, mamalia. Ketika kesalehan ritual-seremonial berbanding terbalik dengan kesalehan sosial-komunal, maka umat manusia terperangkap dalam kesalahan massal. Ghurur, tertipu, keblingerBlingerisme dan blingerisasi telah sedemikian parahnya melanda!

Evolusi terjadi, dulu oelama, kemarin ulama, dan kini ‘ulama.’ Di masa tempo doeloeilmu masih terjaga, lalu seiring zaman ilmu mengalami pembelokan makna, dan kini ilmu mengalami pembalikan makna dengan grafik tapal kuda. Grafik paradigma menyimpang terlalu jauh dari fitrah agama! Pinter keblinger. Berilmu, tapi tertipu. Semakin berilmu, semakin cenderung menjadi penipu. Ilmu agama dan ilmu dunia sama kongruen dan sebangun dalam mengalami pembelokan dan pembalikan makna. Kejahatan di dominasi orang berilmu, ‘ulama’-alim jahat dan intekek-intelek kualat.

Di negeri “Koruptor dan agama KTP”, agama tak lebih dari label formal di atas selembar kartu identitas. ‘Ruh’ agama gagal menghidupkan jiwa untuk mencegah maraknya kejahatan luar biasa, korupsi. Korupsi Al Qur’an di Depag beberapa hari belakangan ini menjadi bukti, bahwa keilmuan seseorang tidak identik dengan kesalehan sosial, kadang justru menjadi ‘pintu neraka’ kesalahan massal.

Dalam sejarahnya, sangat ironis ketika ternyata Depag sebagai simbol lembaga tersuci dari seluruh lembaga dunia ternyata sudah tak steril dari belitan gurita korupsi. Lebih gila na’udzubillah lagi, Depag menjadi salah satu lembaga terkorup di NKRI!Tuhan telah terdepak dari Indonesia!, kutukan sejarah menjadi niscaya, dhamma-karma dari hamba dan bangsa yang ingkar kepada agama dan durhaka kepada Tuhannya.

Bukan salah siapa- siapa.Yang menulis telah benar,
yang membaca juga telah benar
tapi ruh bacaan menghilang,huruf-huruf tersapu angin menguap ke langit tertangkap satelitlalu satelit menyampaikannya kepada manusia dalam kadar yang samaSatelit pun bersyi’ar, agama langit telah ber-evolusi menjadi agama satelit.

Ramadhan hampir tiba. Tentunya kita telah bersiap meraih pintu surga. Tapi, jika kita enggan melakukan refleksi  “keberagamaan dan keislaman” untuk sedikit ‘waras’ daripada tahun-tahun sebelumnya, maka surga yang kita impikan hanyalah berupa surga imajiner, surga di atas kertas, hanya surga prediksi tanpa dalil dan kalkulasi tanpa data.

Ketika puasa kita belum mampu meredam ‘syahwat’ korupsi dari dalam jiwa, maka surga yang kita impikan, neraka yang bakal Tuhan hidangkan. Surga hanya berhak diharapkan oleh jiwa-jiwa tenang, nafs-al-muthmainnah, bukan jiwa-jiwa ’monster’ koruptor, tikus-tikus kantor yang berenang di sungai yang kotor. Bukan pula jiwa terkontaminasi konspirasi manusia-rayap-setan dengan insting jahat buas, nggragastak kenal puas.

Ramadhan hampir tiba. Bisakah kita me-‘revolusi agama’ (Islam) agar kembali pada hakikatnya? Agar geriap riak gelombang ritual agama yang begitu indah mempesona berbanding lurus dengan nilai-nilainya, meng-eja wantah dalam keseharian umat-bangsa. Andai saja ramadhan tahun ini umat muslim di Indonesia bisa berpuasa dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya sesuai ajaran otentik Nabi Muhammad, niscaya satu bulan menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk melepaskan bangsa-negara ini dari lingkaran setan problema, seberapapun besarnya.

Dengan spirit kembali kepada fitrah kesucian di hari raya Idul Fitri, berapa banyak harta negara yang selamat dari kejahatan korupsi. Sebab mayoritas di antara kita yang terlibat di dalamnya adalah muslim, yang juga tentunya berpuasa, mendambakan surga. Berapa ribu triliun rupiah uang rakyat yang kembali karena para koruptor bertaubat demi hak surga, sebab para saksi, tersangka dan terpidana akan kooperatif terhadap KPK. Maka berapa banyak pula kasus-kasus besar misterius terungkap dan terbuka.

Berapa banyak energi negeri yang selama ini terkuras dalam perang melawan korupsi terhemat, sehingga bisa dialihkan kepada kesejahteraan umat. Berapa banyak kejahatan tercegah sehingga produktivitas meningkat secara signifikan oleh terciptanya ketenteraman. Berapa banyak ekonomi nasional terbantu dengan terjaganya inflasi, karena puasa mengajarkan kesederhanaan dan berlapar-lapar sebagai pelatihan melepas ketergantungan kepada nafsu-syahwat materi-duniawi.

Berapa banyak berkah dan kebaikan Tuhan curahkan di bumi nusantara, prototip surga di dunia, zamrud khatulistiwa, merasakan barang sebulan cita rasa gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kertaraharja, hanya dengan spirit berpuasa. Ramadhan hampir tiba. Untuk sekali saja semoga tahun ini kita dapati bulan suci yang sedikit meredam energi korupsi di negeri ini. Aamien… ***

Salam…
El Jeffry

Sumber photo: http://nbasis.wordpress.com/2009/08/20

No comments:

Post a Comment