Sunday, July 29, 2012

Mental Tempe, Krisis Kedelai Dan Ringkik Keledai

1343497878307247722
Krisis kedelai mengancam kelangsungan usaha tempe. (sumber photo: http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/foto-kedelai-mahal-perajin-perkecil-ukuran-tempe)
     Dalam sebuah pidato, Bung Karno pernah mengatakan, “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudra agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi cita-cita.

     Krisis tempe melanda negeri beberapa hari belakangan ini. Melambungnya harga kedelai sepekan terakhir ini berpotensi mengancam kelangsungan usaha tahu-tempe. Pasalnya, suplai komoditas kedelai sedang terganggu akibat Amerika Serikat sebagai pemasok utama kedelai dalam negeri tengah dilanda kekeringan dan gagal panen. Sudah menjadi hukum pasar, ketika stok kedelai internasional menurun, harga melambung tinggi.

    Akibatnya, harga kedelai impor dalam negeri pun meroket. Suatu hal yang logis,  karena 70% dari pemenuhan kebutuhan kedelai nasional berasal dari hasil impor, sementara produksi kedelai dalam negeri masih jauh dari mencukupi. Ironisnya, untuk kebutuhan produksi tahu-tempe saja menyerap lebih dari 80% kedelai impor ini.

     Seperti biasa, kegagapan dan kegugupan pemerintah selalu terlihat setiap kali menghadapi permasalahan di negeri ini. Solusi jangka pendek menjadi pilihan utama. Kabarnya, pemerintah telah memutuskan untuk membuka keran impor sederas-derasnya dalam jangka pendek. Mulai 1 Agustus hingga akhir Desember tahun ini, bea masuk kedelai impor, yang tadinya sebesar 5%, akan diturunkan menjadi 0% (Kompas.com. 27/07).

134349894887540735
Presiden SBY dan Wapres Boediono memimpin rapat untuk mengatasi krisis kedelai. Solusi instan? (sumber photo: http://www.tribunnews.com/2012/07/27)
  Langkah pemerintah ini membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk impor kedelai secara langsung, sehingga kenaikan harga kedelai saat ini bisa ditekan dan produksi tahu-tempe tidak terhenti. Pemerintah seakan tidak berpikir panjang, bahwa kebijakan itu justru bisa memicu semakin merebaknya praktek kartel.

    Meskipun, presiden SBY menegaskan penegakan hukum jika ternyata ditemukan adanya kejahatan yang dilakukan kartel, tetap saja langkah instan ini membuka peluang pemasok kedelai impor yang jumlahnya hanya segelintir untuk mempermainkan harga. Jika akhirnya harga kedelai naik berlipat-lipat tak terkendali, lagi-lagi para pengusaha tahu-tempe yang didominasi kalangan usaha kecil akan menjerit.

    Solusi sesaat biasanya cenderung membuat ‘tersesat.’  Mental tempe, di kalangan elit pemerintahan seakan memang sudah melekat. Terlalu pendek dalam melihat sebuah permasalahan, seperti kata pepatah jawa, “Esuk dhele, sore tempe.” Pagi kedelai, sore berubah tempe. Solusi praktis, cepat dan instan, layaknya ‘sulapan’ produksi tempe yang hanya butuh waktu setengah hari lewat proses peragian. Tak hanya itu, inkonsistensi juga menjadi ciri khas mental tempe elit pemerintahan, atau bisa jadi ciri khas bangsa ini. Esuk dhele sore tempe, statemen mencla-mencle gemar ingkar janji. Lain pagi, lain sore, hanya manis di bibir, mung manis-manis lambe. Lain di mulut, lain di hati, lain pula di aksi.

     Padahal, persoalan tempe hanyalah riak kecil dari gelombang gunung persoalan di negeri ini. Salah satunya adalah persoalan kedelai. Kelangkaan kedelai bukan sekali ini saja terjadi, tetapi siklus tahunan yang sebenarnya selalu berulang. Namun setiap kali siklus datang, pemerintah terlihat seakan begitu kelimpungan, gagap dan gugup, lalu gegap gempita mengumbar janji memperbaiki tata niaga kedelai. Padahal gunung persoalan dari riak krisis kedelai ini adalah karena tidak adanya swasembada kedelai. Setiap tahun hampir dipastikan muncul persoalan yang sama, karena begitu ketergantungannya kita pada kedelai impor.

1343498366105905267
Bung Karno bersama kaum marhaen. Potret kepedulian pada petani miskin dan menderita (sumber photo: http://kopibiru.blogspot.com/2012/06/bung-karno-dan-kakek-marhaen.html)
    Inilah yang dikatakan Bung Karno, bahwa kita seharusnya menjadi “bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi cita-cita.” Bangsa bermental tempe tak akan sanggup menderita berpayah-payah untuk meciptakan kemandirian bangsa, lepas dari ketergantungan pada bangsa asing.

  Bangsa bermental tempe cenderung menyukai jalan pintas praktis-‘siap saji’ dan rekayasa ‘karbit ragi,’ sehingga hasilnya  tak lebih dari kematangan magical irrasional, penuh ilusi tak masuk akal. Karena kematangan natural menuntut konsistensi tinggi penuh kesabaran dan penderitaan untuk mencapai tujuan.

    Memang benar, sejak 2010, pemerintah telah menetapkan sejumlah program terkait produksi komoditas pangan. Swasembada kedelai telah ditargetkan tercapai pada 2014. Namun, pada prakteknya, berbagai upaya yang telah dilakukan dalam menggenjot produksi kedelai nasional masih jauh panggang dari api. Menurut catatan BPS, sejak tahun 2009 hingga kini, produksi kedelai nasional terus menurun. Seperti itulah ciri khas mental tempe. Tanpa konsistensi, sesempurna apapun sebuah rencana dan program, tak pernah menghasilkan buah matang yang benar-benar memuaskan.

    Alih-alih mencari akar persoalan untuk pembenahan, pemerintah lebih menampakkan kepandiran seperti ringkikan keledai. Pemerintah berkilah, kegagalan disebabkan karena terjadi kompetisi antara tanaman kedelai dan jagung di lapangan. Pasalnya, kedua komoditas ini ditanam pada lahan yang sama sehingga terjadi trade off: petani akan menanam jagung karena lebih menguntungkan dari pada kedelai. Ringkikan keledai yang semakin menunjukkan kepandiran pemerintah di mata rakyat, khususnya petani.

    Padahal, tak berbeda dengan sektor pertanian lainnya, kegagalan program lebih dikarenakan tiadanya dukungan dan keperpihakan pemerintah kepada petani. Pemerintah seakan tidak mengetahui, atau memang tidak peduli, bahwa akar dari permasalahan pertanian adalah karena tidak rasionalnya antara biaya produksi dan harga jual hasil pertanian. Sementara, sebodoh-bodohnya petani kedelai tentu lebih pintar dari seekor keledai. Hanya pekerja rodi atau romusha saja yang masih mau bekerja tanpa mengharapkan upah atau laba.

      Sudah menjadi ‘penyakit lama,’ seperti lamanya sejarah kisah tempe di nusantara yang konon telah menyelamatkan pejuang Indonesia ketika ditawan Jepang pada Perang Dunia II dan menyelamatkan jutaan rakyat dari ancaman gizi buruk dan busung lapar pada era 1945-1960. Bukan hanya kedelai, termasuk pada padi yang masih menjadi sumber energi utama bahan pangan mayoritas masyarakat Indonesia, petani selalu menjadi tumbal empuk bagi kelangsungan hidup bangsa. Ironis dan memprihatinkan, petani Indonesia ibarat “sekumpulan anak ayam di lumbung padi mati kelaparan.” Sedangkan kita semua paham benar, dengan potensi kesuburan tanahnya yang mengundang eksodus kolonial Eropa berabad-abad silam, zamrud khatulistiwa nusantara lebih cocok sebagai negeri agraris yang mestinya menjadikan sektor pertanian sebagai soko guruperekonomian nasional.
  
13434984841573778956
Pak Harto bersama Ibu Tien di sebuah sawah petani. Prestasi swasembada beras pada 1984. (sumber photo: http://kangkombor.multiply.com/journal/item/465/Blog-Kang-Kombor-Klompencapir)
   Sekadar mengingat sejarah, dua orang presiden RI terdahulu, Bung Karno dan Pak Harto, sangatgandrung dan dekat kepada tanah, petani dan pertanian. Inspirasi marhaenisme Bung Karno muncul dari keprihatinan pada nasib petani kecil pemilik bangsa yang hidup miskin dan menderita.

    Di era Pak Harto, pertanian mendapat perhatian yang cukup besar dengan berbagai programprogram seperi intensifikasi massal (inmas), bimbingan massal (bimas), membangun lahan-lahan percontohan, membentuk kelompok petani yang biasa disebut Klompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) di setiap desa untuk mengikuti bimbingan dari para penyuluh pertanian melalui inmas dan bimas.

     Alhasil, pada tahun 1984 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan produksi sebesar 25,8 ton dan Indonesia sempat mendapatkan penghargaan dari FAO pada tahun 1985Meski tak bisa dipertahankan pada tahun-tahun sesudahnya, namun bagaimanapun itu adalah sebuah prestasi pertanian yang belum pernah dicapai oleh seorangpun presiden RI.

     Krisis tempe dan kelangkaan kedelai mestinya mengingatkan kembali kita untuk refleksi bersama. Bagi pemerintah, krisis tempe metinya membuka kesadaran untuk membangun ekonomi kerakyatan dengan keberpihakan pada pengusaha kecil. Kelangkaan kedelai mestinya menjadi warning untuk mengembalikan ‘fitrah nusantara’ sebagai negara agraris dengan memprioritaskan sektor pertanian. Tempe, di balik simbol kelemahan mental yang melekat padanya, bagaimanapun merupakan makanan nasional berkelas internasional berprotein tinggi yang mestinya menunjang kecerdasan akal manusia Indonesia.

      Jika kita, khususnya pemerintah sebagai pihak yang berkompeten gagal menangkap ‘pesan loehoer sedjarah’ lewat krisis tempe dan kedelai, maka kita akan selamanya menjadi bangsa keledai yang hanya bisa meringkik keras dengan suara parau merusak telinga. Kepandiran berulang-ulang dalam menyikapi persoalan akan menjadikan kita benar-benar sebagai bangsa tempe yang tidak konsisten dan enggan bekerja keras penuh kesabaran. Akhirnya, kita akan selalu menjadi bangsa kuli yang tergantung kepada orang asing tanpa pernah punya keberanian mental untuk sedikit menderita demi sebuah cita-cita kemandirian bangsa.

Salam…
El Jeffry

2 comments:

  1. Pemerintah apa tidak punya perencanaan yaa? apa tidak melakukan langkah2 menghadapi gagal panen di AS? sungguh ini tanda2 ketidak pedulian atau bahkan sudah dicegah oleh Kartel kedelai

    ReplyDelete
    Replies
    1. seperti biasanya sdr Ordni. Krisis kedelai dihadapi dengan ringkik keledai. Kepandiran dan kegugupan tak akan mampu membawa penyelesaian...Salam...

      Delete