Saturday, July 7, 2012

Mbah Maridjan: Kekuatan ‘Arwah’ Dalam Iklan!



1341587813705354960
Mbah Maridjan (alm) bersama Chris John, saat syuting sebuah iklan minuman berenergi (sumber photo: http://www.tribunnews.com/2011/06/04/filipina-dan-negeria-jadi-negara-tujuan-ekspor)
     Ingat Merapi, ingat mbah Maridjan. Ingat mBah Maridjan, ingat sebuah iklan. Minuman berenergi aneka rasa, “Untuk energi ‘roso’ perkasa, minumlah minuman sang pemberani dan perkasa, mbah Maridjan!” Kisah bermula dari fenomena keberanian seorang juru kunci gunung berapi, semangat berapi-api dan keberanian penuh filosofi, manunggal dengan bahasa alam Merapi.

     Namun alam berkata lain. Merapi ‘sakit,’ batuk-batuk mengeluarkan asapa panaswedhus gembel dan ‘muntah-muntah’ menciptakan banjir lahar dingin. Bencana ‘kemarahan’ alam gagal di redam. Jerit korban membumbung ke langit, merenggut banyak nyawa penghuni, tak terkecuali ‘sang juru kunci-pemberani.’

     Mbah Maridjan pergi meninggalkan cerita duka berbaur spirit penuh legenda, tetapi spirit keberanian dan keperkasaan itu tak pernah hilang. Bahkan sampai hari ini ‘arwah’ beliau masih kerap menyapa kita sebagai gambar bernyawa dalam tayangan iklan minuman keperkasaan. Kekuatan ‘arwah’ mbah Maridjan membuatnya masih tetap gagah perkasa beriklan!

     Spirit berani-perkasa-ksatria seorang manusia yang tidak terpenjara oleh usia tua, sebab warisan berharga yang memang dibutuhkan jiwa bangsa ini yang kian hari kian,letoy, lebay dan lemah lunglai. Namun di balik semua cerita ‘legenda heroik’ itu, ada hal ganjil yang mengganjal hati setiap melihat beliau di layar TV dengan penuh spirit semangat-perkasa mengepalkan tangan sambil berteriak lantang, “roso!” Sebab kita semua tahu, sosok itu telah tiada, hanya rekaman gambar masa lalu, sedang sang mbah telah menjadi arwah di alam barzakh.

     Sebaris pertanyaan tak tertahan, elokkah kiranya ‘melibatkan’ arwah, seorang yang telah meninggal sebagai bintang iklan komersial? Sudah habiskah stok manusia hidup di Indonesia yang layak sebagai pengganti figurnya, sehingga harus ‘mengimpor’ arwah untuk kepentingan niaga?

     Mungkin keterikatan klausul kontrak dengan perusahaan produsen minuman berenergi yang menjadi alasannya. Mungkin pihak ahli waris yang memang berhak mengambil alih peran almarhum mewarisi ikatan kontraknya sampai selesai. Atau mungkin mereka berniat mengabadikan keteladanan almarhum agar tetap eksis di dunia pasca kematiannya. Atau sosok ‘sang tua perkasa’ terlalu berharga untuk diabaikan begitu saja pergi tanpa meninggalkan apa-apa. Maka selagi masih bisa menghasilkan pundi-pundi harta dan menguntungkan dunia usaha, ‘arwah’ dipaksa hidup kembali ke dunia nyata untuk sebuah iklan.

   Mbah Maridjan memang luar biasa. Bukan hanya semasa hidupnya menjadi simbol manusia berani dan perkasa, bahkan sudah matipun masih tetap berani dan perkasa. Menembus alam kubur hadir ke alam dunia. Buktinya ‘arwah’ Mbah Maridjan masih terus beriklan. Namun ada sebuah kesan di balik pesan yang ‘membingungkan.’ Sebagai masyarakat yang kabarnya masih menjunjung tinggi adat, tradisi dan etika, sepertinya tidaklah layak bagi kita mengikat ‘hak’ seorang ‘arwah’ untuk beristirahat dengan tenang di alam kuburnya.

     Entah benar atau keliru, tapi bukankah ikatan hukum dunia praktis “putus total” oleh kematian, apapun motif dan alasannya? Dalam aturan hukum pidana saja, seberapapun besar perkara yang dihadapi seseorang sehingga terjerat hukum, maka jerat itu akan finish dan ditutup begitu sang tertuduh, tersangka, terdakwa atau terpidana telah meninggal. Bagaimana bisa berurusan dengan orang mati, sedang orang hidup yang gila saja sudah gugur dari jerat hukum?

     Memang dalam hukum agama (Islam), orang yang meninggal sudah otomatis lepas dari tanggung jawab dengan urusan dunia, kecuali jika ada kaitan hutang, maka barulah ada pelimpahan tanggung jawab kepada ahli warisnya, jika orang yang berpiutang enggan mengikhlaskannya.
13415882381442989850
Mbah Maridjan (alm) saat menandatangani kontrak kerjasama iklan. Inikah yang mengikat ‘arwah’ beliau? (sumber photo: http://www.tribunnews.com/2011/06/04/tingginya-penetrasi-pasar)
     Ataukah mbah Maridjan punya hutang dengan produsen yang mengontraknya, lalu ahli waris tak sanggup membayarnya, sedang pihak produsen enggan ‘mengikhlaskan’ sehingga sang arwah harus menebus sendiri hutangnya dengan ‘terpaksa’ tampil sebagai bintang iklan? Ataukah memang ahli waris menyetujui permintaan perpanjangan kontrak dengan alasan keuntungan hak warisan ‘nama besar’ dan citra keperkasaan yang terlanjur melekat dengan merk produsen? Dua pihak sama-sama untung, kontrak pun dibuat?

    Menjadikan ‘arwah’ untuk kepentingan dunia mungkin berbeda, ia bisa sah-sah saja ketika didarma-baktikan untuk mengusung nilai-nilai suci-spiritual-kemanusiaan universal, karena hanya inilah yang layak dipersembahkan bagi arwah, sebagai ‘royalti’ pahala kebaikan ‘lintas batas alam’ yang sebagian besar dari kita masih meyakininya.

    Namun jika menjual ‘arwah’ untuk kepentingan material-komersial, apalagi bertabrakan dengan tema dan misi pesan yang diiklankan, itu pantas dipertanyakan. Ketika ‘syahwat kapitalisme’ semakin membabi buta, keserakahan perniagaan akhirnya tak lagi mengindahkan nilai-nilai etika dan moral-spiritual, kontradiktif dengan nilai spirit yang beliau wariskan dan citrakan semasa hidupnya.

    Sebuah iklan adalah pesan persuasif untuk menggiring konsumen agar mengikuti ‘cara hidup’ sang bintang. “Pakailah produk ini, saya sendiri sudah membuktikannya!” Pemirsa tertarik dan percaya karena sudah melihat bukti, lalu terpengaruh membeli. Menjadi aneh dan membingungkan, ketika sang bintang berusaha meyakinkan calon pembeli memperolah keperkasaan dengan mengkonsumsi minuman berenergi, sedang sang bintang sendiri tak bisa memberi bukti karena semua tahu beliau sudah almarhum. Mustahil dan omong kosong kan?

    Apalah jadinya jika akhirnya perilaku dunia usaha terbiasa menabrak-nabrak nilai-nilai etika, moral dan agama, ditambah lagi menabrak logika? Lalu bakal ada lagi ‘arwah’ beriklan cara hidup sehat, obat anti penyakit ini-itu, makanan rendah kolesterol, sabun kecantikan atau jamu kejantanan, sedang sang bintang yang berteriak lantang bahkan telah terbujur kaku di dalam tanah tinggal tulang belulang. Bukan hanya kegagalan besar menyebarkan citra dalam propaganda, namun juga ‘kedurhakaan besar’ akan nilai-nilai suci-mulia manusia.

    Bagaimana jadinya jika arwah-arwah terus ‘dipaksa’ gentayangan dalam tayangan iklan hanya karena pesona “citra dan nama besar” yang sangat menjual, lalu demi kepentingan material-komersial ‘mereka’ diperalat untuk kejahatan? Yang pasti, bukannya ketenangan hasil ‘transfer royalti’ pahala kebaikan yang diterima para arwah di alam kubur, justru hanya menambah ‘mereka’ semakin tersiksa dan menderita, karena warisan spirit dan nilai-nilai suci-mulia hanya membuat anak-anak di dunia semakin durhaka. ***

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment