Wednesday, July 11, 2012

Logika Gila Dan Gila Logika


13419874661191801108
Kegilaan Adam pada keabadian "khuldi" atas bisikan kegilaan iblis. Logika gila pertama manusia (sumber photo: http://www.godandscience.org/youngearth/evil_adams_sin.html)
    Pohon sejarah logika tumbuh sejak awal penciptaan manusia. Kalau bukan karena kegilaan, manusia batal menghuni bumi. Logika iblis berseberangan dengan ‘logika’ Tuhan. Ketika ia diperintahkan ‘bersujud ‘ sebagai simbol penghormatan kepada Adam, iblis melawan ‘logika’ Tuhan. Kegilaan iblis membuatnya terkutuk dengan ancaman neraka, lalu perseteruan kebenaran-logika menjadi cerita abadi manusia hingga kiamat tiba.

  Logika gila iblis versus ‘logika waras’ Tuhan, seperti dua sisi keping koin yang selalu berseberangan posisi. Kegilaan logika Adam ada karena pengaruh bisikan iblis, “Makan buah khuldi membuatmu hidup abadi di surga.” Logika keabadian Adam berseberangan dengan logika Tuhan, Adam disebut gila. ‘Logika’ Tuhan harus dimenangkan! Adam dihukum, turun ke bumi untuk menebus kegilaan karena menyimpang dari ‘logika’ Tuhan.

   Cerita berlanjut berabad-abad, pertempuran dua sisi keping koin, keping logika, antara logika sehat dan logika gila. Akal sehat, otak, akal pikiran denga ransum pengetahuan sebagai alat bantu memilih sisi koin logika, manusia tinggal memutuskan akan berada di sisi yang mana. Logika iblis dan kesesatan sudah disetting untuk eksis sebagai mayoritas, sedang logika Tuhan dan kebenaran sebagai minoritas.

   Kegilaan nabi-nabi menjadi koin logika pada tiap zaman, tiap generasi, tiap bangsa. Nuh gila ketika membuat perahu raksasa dimusim kemarau. Musa penyihir gila karena logikanya berseberangan dengan logika Fir’aun! Yesus-Isa Al Masih gila karena mengaku sebagai raja, logika mayoritas penguasa harus menyalibnya! Muhammad penyihir -penya’ir gila oleh logika jahiliyyah Quraisy. Lalu setelah logika baru menang, dunia berubah pikiran, ternyata Adam, Nuh, Musa,Yesus-Isa dan Muhammad adalah orang-orang pilihan untuk mengembalikan kewarasan peradaban logika manusia.

   Busur logika melemparkan anak panah menembus kuantum zaman. Logika gila dan gila logika terus bertarung nasib pada sekeping koin, koin logikaUntuk satu zaman dan bangsa, demokrasi menjadi benar dan logis. Namun di lain zaman dan lain bangsa, demokrasi menjadi salah dan tidak logis. Monarki bagi demokrasi adalah logika gila. Maka monarki harus dihapuskan. Monarki di satu sisi koin, demokrasi di lain sisi. Dua sisi saling berseberangan, dan perang ideologi menjadi keniscayaan. Yang memenangi perang ideologi dialah yang berhak untuk mengklaim kebenaran.

    Penguasa berlogika gila karena tergila-gila logika kekuasaan-monarki, bahwa yang berkuasa itu absolut benar, alias logis. Maka yang tidak berkuasa harus salah dan sesat, alias tidak logis. Jika di suatu negara telah bersepakat memilih logika demokrasi, maka logika kekuasaan-monarki berarti menabrak logika negara. Penguasa monarki adaah penguasa berlogika gila, maka harus diwaraskan agar logis bagi negara. Thomas Jefferson menafsir demokrasi sebagai ‘ruh absolut negara,’ agama publik, bonum commune-bonum publicum, vox populi, vox dei, suara rakyat, suara Tuhan.

   Meski logika demokrasi pada dasarnya juga logika gila, sebab tergila-gila pada logika mayoritas, namun dalam kebenaran relatif negara, mayoritas adalah prasyarat untuk absahnya kebenaran. Kebenaran negara adalah kebenaran kesepakatan, konsensus, muyawarah untuk mufakat. Ketika kekuasaan tidak mewakili suara mayoritas, maka penguasa telah menabrak logika. Bakteri-bakteri demokrasi dengan logika gila selalu hadir sebagai penyakit logika negara, seperti logika gila iblis melawan ‘logika’ Tuhan.

    Di bagian lain, ide-ide dan pemikiran akan menjadi logis bila sejalan dengan mayoritas pada zaman dan bangsa tertentu. Maka bila bertentangan, menyimpang, melawan arus, aneh dan asing dikatakan tidak logis, melawan logika, alias berlogika gila. Para pemikir besar yang jumlahnya hanya segelintir di dunia selalu tergila-gila pada idealisme pemikirannya.

    Pertarungan panjang pemikiran menjadi keniscayaan untuk membuktikan kebenaran ide dan pemikiran gila. Kemenangan ideologi liberalisme atas komunisme di zaman ini menjadikan Amerika relatif benar dan logis dalam peradaban dunia. Ia menjadi salah dan tidak logis jika muncul ideologi gila yang sanggup menggusurnya, tentu lewat pertarungan besar ideologi dunia untuk membuktikannya.

    Untuk satu sisi keping koin logika,  suatu negara relatif berutang jasa kepada pemimpin-pemimpin gila mereka. Adolf Hitler, Napoleon Bonaparte, Bennedict Mussolini dengan kegilaan ultranasionalisme  mengantarkan Jerman, Perancis dan Italia membawa negara itu selalu digdaya. Kegilaan ‘saudara tua’ Jepang, dengan kegilaan spirit bushido dan samurai, kaisar Meiji dan para pemuda gila pembaharuan sukses merestorasi politik dan sosial-budaya dalam Restorasi Meiji. Kegilaan sebuah bangsa yang akhirnya membawa negeri Sakura maju pesat dalam ekonomi dan teknologi.

   Dunia pun berutang jasa pada para pemimpin gila. Ernesto ‘Che’ Guevara, Fidel Castro, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan Bung Karno adalah para pemimpin gila yang tercatat dalam sejarah dunia. Dengan kegilaan mereka mengobarkan api revolusi melawan “imperialisme-kolonialisme-kapitalisme” barat serta spirit cinta kasih dan kerakyatan sebagai ruh perjuangan. Spirit kegilaan itu menjadi inspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk berani bertarung nasib dalam lemparan koin logika, perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan.

   Maka sebaiknya kita tidak tergila-gila pada logika yang telah ada dan  menjadikannya sebagai berhala, lalu menganggap orang yang berlogika berbeda tidak waras, tidak logis  alias gila. Bisa jadi hari ini logika kita benar dan waras, namun besok pagi logika yang kita puja-puja terbukti salah dan sesat, maka kita berubah posisi menjadi orang gila. Sebaliknya, tak perlu cemas bila kita hari ini dianggap gila karena berlogika gila dengan idealisme yang menyimpang dari mayoritas. Bisa jadi suatu hari justru mereka yang hari ini waras akan berdesakan memenuhi Rumah Sakit Jiwa. Yang pasti, gila dan waras dalam berlogika hanya terletak pada sekeping koin logika. ***

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment