Wednesday, July 18, 2012

Korupsi, Kapan Dong Giliran Saya?



13425576441883284133
"Korupsi, kapan dong giliran saya?" (sumber photo: http://nagapasha.blogspot.com/2011/01)

Tiada hari tanpa korupsi.
Tiada ruang tanpa korupsi.
Korupsi sudah mentradisi.
Menembus segala dimensi, melintas ruang-waktu, mau bagaimana lagi?

Korupsi sudah menjadi lingkaran setan sistemik-endemik, maka ia tak akan bisa dimusnahkan. Saling berkait, saling membelit, saling membutuhkan. Tiada ujung, tiada pangkal. Tiada hulu, riada muara. Tiada daun, tiada akar. Simbiosis mutualisme. Saya suka, Anda suka, korupsi pun ada. Saya butuh, Anda butuh, korupsi tercipta. Mau bagaimana?


“Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua berubah tidak,” kata peribahasa. Peribahasa adalah peribudaya. Peribudaya simbol khas perilaku bangsa. Bila korupsi itu tiada, maka hilanglah budaya dan perilaku khas bangsa, lalu dengan apa dunia mengenal Indonesia?


Si kecil korupsi kecil-kecil, si besar korupsi besar-besar. Kalau sudah terbiasa kecil, lama-lama semakin besar. Koruptor kelas teri, lama-lama menjadi koruptor kelas menteri. Lingkaran setan sistemik-endemik. Karakteristik unik spesifik tradisi klasik. Rantai generasi korupsi, sejarah kisah negeri. Hari ini kita kecil dan terkucil, maka korupsinya hanya bagian kecil, secuil dan sak-upil.


Tiada hari tanpa korupsi.
Tiada ruang tanpa korupsi.
Korupsi sudah mentradisi.
Menembus segala dimensi, melintas ruang-waktu, mau bagaimana lagi?

Konon kabarnya jika korupsi kurang dari 5 juta, kita bisa lolos dari penjara. Aha! Kabar gembira putusan MA! Maka kita bisa mengutuk ramai-ramai koruptor-koruptor besar, sebelum kita mendapat giliran. Toh pada saatnya jika kita punya peluang, tentu akan dapat giliran. Kecil mengutuk, besar terkutuk. Hari ini melaknat, besok lusa terlaknat. Kutuk mengutuk dan laknat melaknat sudah biasa. Tradisi dan budaya, ciri khas nusantara.


Pergelaran, pergiliran, perguliran. Opera korupsi tergelar, mesti sabar jatah bergilir, menunggu momentum segera bergulir. “Kecil umpan besar ikan.” Usaha sedikit hasil besar. Jalan pintas, potong kompas, semua perlu dilibas dan diterabas. Itu akal yang cerdas. Hidup semakin susah, berpayah-payah sudah tak lumrah. “Ke mana angin bertiup, kesitulah condongnya.” Untuk bertahan hidup, pintar-pintar mencari muka. Kutu loncat, politikus jitu mesti pintar meloncat-loncat. Loncatan korupsi, kalau bisa ke angka tertinggi. Sudah tradisi, mau bagaimana lagi?


“Ke mana kelok lilin, ke sana kelok loyang.”Tak perlu idealis pada prinsip, siapa berkuasa dan banyak uang, dialah yang mesti dipegang. Kehendak kucinglah bertemu ikan panggang. Ada ruang, ada peluang, jangan sampai terbuang, koruptor melenggang, duduk santai di kursi goyang.


Tiada hari tanpa korupsi.
Tiada ruang tanpa korupsi.
Korupsi sudah mentradisi.
Menembus segala dimensi, melintas ruang-waktu, mau bagaimana lagi?

Gurita korupsi telah bermutasi di setiap lini. Birokrasi, intitusi, instansi, semua telah terkontaminasi, tanpa kecuali. Bahkan agama pun tak sanggup membendung invasi korupsi. Korupsi tak mengenal kitab suci. Lingkaran setan sistemik-endemik. Karakteristik spesifik tradisi klasik. Memotong rantai generasi, sudah kehabisan nyali.


Kita semua meng‘uri-uri’ pohon korupsi. Tradisi negeri terus abadi. Sesubur tanah air bumi pertiwi, pohon korupsi tumbuh subur. Bagaimana sang pohon bisa mati? Dipangkas daunnya, rimbun lagi. Ditebas rantingnya, rindang kembali. Dipenggal cabangnya, daun baru lebih rimbun dan rindang dari sebelumnya. Ditebang pohonnya? Masih muncul tunas baru, lalu tumbuh pohon lagi, lebih banyak dari sebelumnya.


Dibongkar akarnya? Lha ini baru bisa! Tapi di mana akar itu? Butuh tenaga ekstra, tekad baja, semangat luar biasa. Tak bisa hanya KPK, polisi atau jaksa. Tak bisa hanya hukum, sistem atau budaya. Karena akar itu terlalu banyak, dua ratus empat puluh juta jiwa manusia Indonesia! Semua mesti bergerak bersama, bersinergi, beriring, senada dan seirama. Mana bisa?


Tiada hari tanpa korupsi.
Tiada ruang tanpa korupsi.
Korupsi sudah mentradisi.
Menembus segala dimensi, melintas ruang-waktu, mau bagaimana lagi?


Lingkaran setan sistemik-endemik. Karakteristik spesifik tradisi klasik. Kita telah terjerat di dalamnya. Hanya tinggal menunggu giliran, gelaran dan guliran. Jika hari ini kita mengutuk, melaknat dan mencaci maki, itu hanya karena belum waktunya, karena untuk menembus korupsi kelas menteri, mesti bersabar menunggu suksesi. Sukses berkorupsi. Maka sambil menunggu kita cuma bisa bertanya, “Kapan dong giliran saya?”


“Kecil api jadi kawan, besar ia jadi kawan.” Selagi kecil terasa aman, setelah besar baru persoalan. “Kecil dikandung ibu, besar dikandung adat, mati dikandung tanah.” Pintar-pintarlah beradaptasi dengan keadaan, mengikuti proses alam. Ada hukum, adadhamma, ada karma. “Becik ketitik, olo ketoro.” Baik buruk, pasti jelas kentara. Semua ada balasannya. Tiap-tiap jiwa bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya. Bukan saya, bukan Anda, bukan dia, bukan pula mereka, melainkan setiap jiwa manusia.


Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment