Thursday, July 5, 2012

Korupsi Depag, Tuhan Terdepak: Kutukan Sejarah Memuncak!



13414794231267386057
Al Quran, Kemenag dan Tikus korupsi (sumber photo:
http://www.tipikornews.com/node/420)

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak…



(kutipan dari puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”-Taufik Ismail, 1998)
***


    Inilah kisah terkini dari babak korupsi dalam sejarah negeri. ‘Perang besar’ KPK melawan koruptor di instansi dan birokrasi pusat pemerintahan dan daerah mencapai puncaknya. Kabar terbaru, KPK menemukan dugaan adanya dugaan korupsi proyek pengadaan Al Quran di Ditjen Bimas Islam Kemenag, senilai Rp. 35 miliar dengan dua tersangka, seorang anggota DPR sekaligus anggota badan anggaran periode 2009-2014, dan satunya lagi kerabat atau keluarganya, seorang pengusaha. Tak hanya itu, keduanya juga disebut terlibat pula dalam proyek pengadaan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah di Ditjen Pendidikan Islam tahun anggaran 2012.

     Kitab sucipun telah dikorupsi! Departemen agama telah korupsi! Ironi dan tragedi. Ada apa lagi dengan negeri ini?  Sudah keringkah lahan dunia-materi untuk dijadikan lahan korupsi, sehingga akhirnya harus dijamah pula wilayah paling keramat dan seharusnya tempat paling suci? Benteng pertahanan terakhir yang seharusnya ‘steril’ dari sentuhan tangan kejahatan kini telah jebol tak terhindarkan. Di mana lagi bisa ditemukan secelah ruang di negeri ini yang tak tersentuh korupsi?
1341482207910374752
Gedung yang seharusnya keramat telah terjamah korupsi. Di mana tersisa ruang suci? (sumber photo: http://acehprov.go.id)
     Deretan pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya, namun tidak sulit pula untuk merasakan tamparan panas menyengat di wajah kita, khususnya umat Islam di Indonesia. ‘Gurita’ korupsi telah menjerat begitu kuat di seluruh lini kehidupan, lintas waktu dan ruang, lintas sektoral, lintas batas usia, lintas gender, dan lintas sekuler-agama. Korupsi di Depag menjadi refleksi bersama, kita sebagai umat-bangsa beragama telah ingkar dan durhaka ‘mendepak’ Tuhan dan agama tanpa basa-basi. Inikah kutukan sejarah atas bumi nusantara? Ataukah justru akan menjadi awal dari kutukan besar berikutnya? Ataukah memang “kutukan sejarah” nusantara yang menjadi takdir kita bersama?

     Seperti yang sudah-sudah, kita semua serta merta ‘latah’ untuk mengutuk dengan sumpah serapah. Hujan hujat dan laknat tercurah begitu lebat. Siapa yang dikutuk, siapa yang mengutuk, saling kutuk menjadi tradisi sejarah klasik dari dulu hingga kini. Tiba-tiba semua merasa suci, kutukan pun menghiasi hari-hari. Di negeri ini saling kutuk dan saling hujat sudah menjadi bagian dari ritual keberagamaan, hingga kita sendiri lupa menangkap hikmah dari sebuah peristiwa. Maling teriak maling, setan teriak setan. Anehnya, siapa maling, siapa setan sudah tak jelas lagi sosoknya.

    Kita nyaris alpa untuk refleksi, berdiri di depan cermin, melihat rambut kita yang kusut masam, telapak tangan tebal oleh daki pengkhianatan, wajah menghitam tanpa aura cahaya. Virus ganas yang menggerogoti kesadaran telah mengkontaminasi metabolisme pemikiran dan cara pandang. Maka kita kembali melewatkan kaidah mendasar filosofi terciptanya korupsi sebagai simbiosis mutualisme kesepakatan setan. Bahwa kesepakatan tercipta karena adanya keterlibatan kedua pihak. Ia dapat terhenti dan tercegah jika salah satunya menolak untuk bersepakat.

     Sebuah pertanyaan layak kita lontarkan. Benarkah kita telah beragama? Benarkah kita telah ber-Tuhan? Ataukah jangan-jangan keberagamaan dan ketuhanan kita hanya baru sebatas tekstual, kemasan kulit luar ritual, belum masuk secara ‘kaffah’ integral-substansial, alias agama KTP? Sebuah jawaban logis jika Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sedunia dan negara penyumbang kuota haji terbesar pula, ternyata masih gagal meng-ejawantah-kan nilai-nilai suci agama, bahkan jikapun telah berbolak-balik tujuh kali bertamu ke ‘rumah Tuhan’ Ka’bah di tanah suci Mekkah. Kesalehan suci ritual-seremonial kontradiktif dan kontraproduktif dengan kesalehan budi sosial-nasional.

      Masih teringat jelas, 6 tahun yang lalu bahkan KPK sudah  mengemukakan, bahwa Depag merupakan salah satu lembaga terkorup di Indonesia. Di tahun itu pula, dua nama, yakni mantan Menag Said Agil Husein Al Munawar dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Taufik Kamil telah membayar ‘kutukan’ pidana di penjara akibat ‘mendepak’ Tuhan di Depag dengan korupsi dari Dana Abadi Umat dan penyelenggaraan haji senilai Rp. 100 miliar. “Kutukan sejarah” dalam penjara ternyata belum cukup sebagai pelajaran manusia penjarah untuk jera. Penjarahan semakin merajalela dan justru semakin mengalami penyempurnaan mutasi pola. Padahal sejarah telah mencatat, dua kasus korupsi di Depag bukanlah hal baru.
13414814081535438626
Jika Slogan suci telah terkorupsi, bagaimana umat bisa bisa "IKHLAS BERAMAL"? (sumber photo: http://dc343.4shared.com/img/NC0zrOm-/s7/DEPAG_copy.jpg)
     Bahkan, mestinya kita masih belum perlu terheran, sebab masih konon kabarnya Depag justru menjadi ‘pelopor’ instansi terkorup, jauh  sebelum instansi-instansi lain di negeri ini terjamah siluman korupsi. Menurut budayawan senior Ridwan Saidi, dalam sebuah acara talk show di televisi beberapa hari lalu, tahun 1958, seperti diketahui , NKRI pada masa itu berada dalam kesulitan ekonomi di awal pasca kemerdekaan. Ternyata Depag telah ‘memproklamasikan’ aksi korupsi dengan penyelewengan dana kain kafan sumbangan Jepang. “Kutukan sejarah” korupsi pertama di masa Indonesia merdeka!

     Lebih jauh menengok ke belakang, sepanjang 8 abad gurita korupsi dalam sejarah negeri, bahkan benih-benih korupsi sudah mulai bersemi semenjak abad ke-13, di masa kerajaan Singasari. Babak pertama “kutukan sejarah” korupsi tergelar dalam kisah Mpu Gandring Gate. Serial drama tragedi kudeta kekuasaan dan syahwat cinta-wanita, kental dengan aroma dendam, konspirasi dan pengkhianatan akhirnya menjadi “kutukan sejarah” sang empu yang akhirnya memakan korban tujuh nyawa.

    “Kutukan sejarah” sejarah berlanjut dengan kudeta besar terjadi pada era Majapahit, Demak, dan Banten. Bahkan, dari hasil pengkajian, kehancuran kerajaan-kerajaan besar (Sriwijaya, Majapahit dan Mataram) lebih disebabkan karena perilaku korup sebagian besar para bangsawannya. Sedikit pelajaran sejarah, kesuksesan Belanda menancapkan gurita kolonialisasinya lebih disebabkan oleh kokohnya akar “budaya korup” masyarakat-bangsa Indonesia sendiri, sehingga dengan politik “Devide et Impera” mereka mudah menaklukkan Nusantara. “Kutukan sejarah” adalah lebih sebagai kutukan insting dasar manusia yang ber-evolusi menjadi budaya bangsa, budaya korup khas manusia nusantara.

    “Kutukan sejarah” terus melanda sepanjang zaman, dari masa kolonial sampai masa merdeka. Maka, segala upaya pemerintah untuk memberantas korupsi hingga pasca reformasi di hari ini selalu bernasib sama. Gagal total. Tercatat setidaknya ada 8 lembaga anti korupsi bentukan pemerintah, Paran dan Operasi Budhi di masa orde lama, TPK dan Opstib di masa orde baru, KPKPN , KPPU, TGPTPK  dan KPK di masa orde reformasi. (sejarah korupsi di indonesia-Amin Rahayu, SS).

     Alhasil, korupsi di Depag hari ini adalah puncak dari piramida “kutukan sejarah” korupsi negeri. Jika pada masa lalu hingga masa orde baru, selain teredam dengan belum tereksposnya kasus korupsi oleh media massa, korupsi pada masa itu lebih dilakukan eksklusif  oleh kalangan elit politik-penguasa. Berbeda dengan sekarang, terlebih setelah distribusi kekuasaan menyebar merata ke seluruh daerah, ditambah lagi politik uang akibat “demokrasi biaya tinggi.” Dalam Pesta demokrasi-budaya extravaganza,khususnya bagi warga desa, tercatat setidaknya 5 kali dalam 5 tahun rakyat rutin disuguhi pergelaran pesta. Praktis, hampir setahun sekali rakyat berpesta. Luar biasa! Ruang menganga dengan politik uang membuka peluang seluas-luasnya bagi rakyat untuk ikut ‘berpesta’ korupsi.


1341481752499392104
"Kutukan sejarah" korupsi politik uang pesta demokrasi telah melanda seluruh negeri (sumber photo: http://klimg.com/merdeka.com)

      Menjamurnya partai-partai politik berbasis agama pasca reformasi termasuk ternyata belum juga menolong aktor-aktor politik di republik ini untuk menghindar dari “kutukan sejarah.” Gurita korupsi telah membelit kuat elit politik, pejabat publik dan anggota DPR para ‘wakil Tuhan’ di senayan, dan agama masih tak mampu lagi menjadi perlindungan suci. Mau apa lagi? “Kekuasaan itu cenderung korup,” kata Lord Acton. Tapi ada seseorang yang berkata, “Manusia itu cenderung untuk berkuasa.” So, kita juga bisa berkata, “Setiap manusia cenderung berkuasa dan korup.”

     Konsekuensi logis dalam konsep demokrasi, setiap jiwa dari rakyat punya potensi untuk berkuasa, sekaligus korup. Bukankah regenerasi kepemimpinan sudah menjadi keniscayaan? Dan bukankah wakil rakyat ada karena dipilih oleh rakyat? Caleg menyuap, rakyat menelan suap. Tanpa suap, wakil rakyat gagal menerima mandat. Wakil rakyat korup, rakyat korup. Generasi korupsi silih berganti. Pemimpin korup ‘lengser keprabon,’ rakyat korup ‘naik tahta.’ Pemimpin korup lama kembali menjadi jelata, pemimpin korup baru berkuasa. Rantai lingkaran setan korupsi tercipta!

       Vox populi, vox dei. Suara rakyat suara tuhan. Ketika Tuhan sudah didepak dari hati nurani dalam jiwa, setan-kejahatan berkuasa. Jadilah vox populi, vox ‘dajjali.’ Suara rakyat, suara dajjalOmne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo. Ayam menetas dari telur, telur keluar dari ayam. Pemimpin menetas dari rakyat dan atas pilihan rakyat, (perilaku) rakyat keluar dari (perilaku) pemimpin. Pemimpin cermin rakyat. Rakyat potret pemimpin. Pemimpin korupsi, rakyat korupsi. Rakyat dan pemimpin sama-sama korupsi. Lingkaran konsekuensi menjadi dhamma-karma hukum alam, sunnatullah, siklus abadi hukum kekekalan energi.

     “Kutukan sejarah” menjadi harga mati! Tuhan tak mengubah nasib suatu bangsa sampai kaum-bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Bangsa dan Tuhan ‘menyatu’ dalam satu gerakan. Negara ini benar-benar tengah menerima “kutukan sejarah.” Negara adalah tritunggal dari penguasa berdaulat, wilayah dan rakyat. Penguasa terkutuk, rakyat terkutuk, menyatu dengan kutukan alam nusantara yang sekian lama dizhalimi anak-anak negeri. Garoeda sekarat, Pantjasila menggugat! Nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 45 telah dikhianati. Ibu pertiwi didurhakai, anak-anak negeri layak menerima sanksi. Seperti Malin Kundang terkutuk menjadi batu sebagai karma durhaka kepada sang ibu.

  Inilah fitnah zaman, fitnah dajjal-batarakala-kejahatan, buah khuldi dari pohon syajarahmanusia, lalu kita semua gagal sejarah akibat salah tata tanam, tata ramu, tata olah, dan tata hidang kenegara-bangsaan. Akibat sama yang diterima ketika Adam menjalani ‘pidana’ menebus ‘kutukan’ dengan diturunkan sebagai khalifah-pemimpin-penguasa bumi, sedang iblis sebagai musuh bebuyutan menerima kutukan abadi di neraka akhirat nanti. Bagaimana kita bisa memahami, sebab Al Quran sebagai sumber sejarah dan kebenaran Tuhan telah berjama’ah kita korupsi!

     Alhasil, kacabenggala sejarah penciptaan manusia, paling kurang 800 tahun di nusantara seharusnya telah nyata terbaca. Kisah korupsi di Depag hari ini, buah sekaligus pohon kutukan kita sebagai manusia yang telah mendepak Tuhan dari bumi Indonesia, mungkin tanpa pernah kita sadari. Maka, masihkah kita semua berkenan melakukan refleksi? Lalu membuka ruang bagi Tuhan untuk kembali pada hak-Nya, bukan hanya wacana tekstual ayat-ayat agama dan alat pemuas kelengkapan kehidupan semata? Bagaimanapun, selalu ada waktu untuk ‘mendulang’ mutiara hikmah dan menadah rahmat pengampunan dari-Nya, bagi siapa saja di antara kita yang beritikad kuat menggugah kesadaran diri akan dosa abadi, sebagai seorang hamba, manusia, umat, bangsa dan negara.

      Barangkali memang kiamat negara sudah dekat, namun semoga tidak terlambat jika kita bersegera menggelar ‘ruwatan massal’ tobat nasional melepas “kutukan sejarah” korupsi dari NKRI. Maka kita perlu kembali mengingat petuah mantra seorang pujangga lama, R. Ng. Ronggowarsito”Iki jaman, jamane edan, sing ora ngedan ora keduman. Nanging, sakbegja-begjane wong sing ngedan, luwih begja sing eling lan waspada.” Ini zaman sudah zaman gila. Yang tidak ikut menggila tidak kebagian. Namun, seberuntung-beuntungnya orang yang menggila, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Mawas diri, muhasabah, refleksi, introspeksi. Semoga… ***

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment