Wednesday, July 11, 2012

Koin Logika, Logika Gila Dan Pemimpin Gila


“Hanya orang gila yang menginginkan perubahan,padahal setiap hari ia melakukan hal yang sama!”
(Albert Einstein)
1341944582152618878
Logika manusia ibarat dua sisi berbeda pada keping koin, seperti dua logika DPR-KPK . (sumber photo: http://s0lide0gl0ria.wordpress.com/2008/01/07/gambaran-koin/)
      Dunia tak akan menjadi dunia jika tiada kegilaan manusia pada awalnya. Zaman edan, era gila dan periode abnormal akan selalu mengisi sejarah manusia sepanjang peradaban. Tanpa kegilaan, mungkin manusia tetap tinggal di atas pohon, tak mengeksplorasi perut bumi, apa lagi berkembang biak menyebar memenuhi isi dunia menjadi berbagai macam bangsa.

     Logika menjadi logika karena ada kata gila. Adanya orang gila karena ada logika. Logika, akal sehat, penalaran, perhitungan, pertimbangan, cara pandang manusia atas kehidupan dan keberadaan, ia ada dari pengetahuan. Logika membawa manusia mengenal kebenaran, poros dari peradaban. Lalu tiba-tiba dunia terbelah menjadi dua, seperti sekeping koin yang dilemparkan ketika KPK berseberangan dengan DPR.

    Koin logika menjadi cermin kewarasan akal pikiran manusia. Dengan koin ini manusia membedakan waras dan gila, masuk akal-tidak masuk akal, logis-tidak logis, normal-edan. Lalu logika menjadi berhala, manusia tergila-gila pada akal sehat dan pengetahuan, bahkan tanpa pernah menyadari bahwa ternyata kesehatan akal sendiri mulai layak dipertanyakan, kemurnian pengetahuan juga mulai diragukan. Kegilaan manusia pada logika menjadi bumerang, manusia berlogika dengan logika gila.

     Seperti koin yang dilemparkan oleh wacana dalam cerita ‘perseteruan’ DPR-KPK, logika hanyalah sekeping koin dengan dua sisi berbeda. Akal sehat berada di satu sisi koin, lalu akal tak sehat di sisi lain. Kedua sisi sama-sama berhak atas label logika, klaim kebenaran tergantung di sisi mana ia berada. Jika Anda waras, saya ayng gila. Jika saya waras, Anda yang gila. Masing-masing sisi akan selalu bersikukuh padatruth claim. Maka demi keadilan kedua sisi keping koin, kewarasan dan kegilaan memiliki peluang yang sama untuk mendapat pengakuan.

1341942302910494692
Ronggowarsito, pujangga abad 18 yang meramalkan adanya "zaman edan" (sumber photo: http://www.antaranews.com/berita/1326260894/gurihnya-mistik-jawa-2012)
 Logika zaman akhirnya tergantung dari mayoritas-minoritas, terbiasa-luar biasa, lumrah-tak lumrah. Logika Ronggowarsito menganggap bahwa zaman ini zaman edan, itu karena menurutnya zaman menyimpang dari kebiasaan nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. Sang pujangga berada di sisi koin kebenaran-kewarasan, lingkungan berada di lain sisi koin kesesatan-kegilaan.

    Namun di sisi keping koin yang lain, logika ditentukan oleh mayoritas-minoritas. Karena zaman sebagai mayoritas-terbiasa-lumrah, maka logika zaman menjadi benar dan waras, sedang Ronggowarsito sebagai minoritas-tak terbiasa-tak lumrah, maka logika sang pujangga menjadi salah dan gila. Itulah logika zaman dari masa ke masa. Logika minoritas dan mayoritas dipisahkan oleh cermin cekung, saling melihat gambar terbalik. Salah-gila jadi benar-salah, dan sebaliknya. Siapa yang salah-gila dan siapa yang benar-waras akhirnya menjadi bias.

   Inilah ‘alur skenario’ kehidupan alam dunia. Pohon sejarah logika tumbuh sejak awal penciptaan manusia. Kalau bukan karena kegilaan, manusia batal menghuni bumi. Logika iblis berseberangan dengan ‘logika’ Tuhan. Ketika ia diperintahkan ‘bersujud ‘ sebagai simbol penghormatan kepada Adam, iblis melawan ‘logika’ Tuhan. Kegilaan iblis membuatnya terkutuk dengan ancaman neraka, lalu perseteruan kebenaran-logika menjadi cerita abadi manusia hingga kiamat tiba.

   Logika gila iblis versus ‘logika waras’ Tuhan, seperti dua sisi keping koin yang selalu berseberangan. Kegilaan logika Adam ada karena pengaruh bisikan iblis, “Makan buah khuldi membuatmu hidup abadi di surga.” Logika keabadian Adam berseberangan dengan logika Tuhan, Adam disebut gila. ‘Logika’ Tuhan harus dimenangkan! Adam dihukum, turun ke bumi untuk menebus kegilaan karena menyimpang dari ‘logika’ Tuhan.

     Cerita berlanjut berabad-abad, pertempuran dua sisi keping koin, keping logika, logika gila. Akal sehat, otak, akal pikiran denga ransum pengetahuan sebagai alat bantu memilih sisi koin logika, manusia tinggal memutuskan akan berada di sisi yang mana. Logika iblis dan kesesatan sudah disetting untuk eksis sebagai mayoritas, sedang logika Tuhan dan kebenaran sebagai minoritas.

1341943175390652073
Thomas A. Edison, dengan kegilaan eksperimen menemukan bola pijar. (sumber photo: http://careersearchtoday.com/motivational-quotes/motivational-quote-thomas-edison-genius/)
    Thomas Edison pernah berkata: “Pemikir sejati hanya 5% di dunia, 10% lainnya sadar dirinya harus berpikir, sedang sisanya, merasa lebih baik mati dari pada disuruh berpikir.” Artinya, mayoritas manusia (85%) menjadi tanggung jawab minoritas (15%). Edison berpikir, “Bagaimana caranya aku mengubah malam gelap-gulita menjadi siang terang-benderang?” Mayoritas (85%) manusia menganggapnya gila! Lewat kegilaan 1000 kali eksperimen, akhirnya ia temukan bola pijar. Ketika teknik-logika Edison menjadi teknologi memberi bukti, dunia berubah pikiran!

   Kegilaan nabi-nabi menjadi koin logika pada tiap zaman, tiap generasi, tiap bangsa. Nuh gila ketika membuat perahu raksasa dimusim kemarau. Musa dianggap penyihir gila karena logikanya dan adu argumen berseberangan dengan logika Fir’aun, maka Musa harus dibunuh! Yesus-Isa Al Masih dianggap gila karena mengaku sebagai raja, maka logika mayoritas penguasa harus menyalibnya!

     Muhammad datang dengan logika baru ke alam logika jahiliyyah bangsa Quraisy. Penya’ir, penyihir dan tukang tenung gila! Logika baru-minoritas menabrak logika lama-mayoritas. Lalu setelah logika baru menang, dunia berubah pikiran, ternyata beliau adalah pemimpin besar sepanjang zaman. Perubahan logika zaman yang sama kepada Yesus-Isa, Musa, Nuh dan Adam. Busur logika melemparkan anak panah menembus kuantum zaman. Logika gila dan gila logika terus bertarung nasib pada sekeping koin, koin logika.

   Plato adalah filusuf gila pada zamannya. Tapi kegilaannya menjadi ‘ruh’ filsafat yang senantiasa mewarnai pemikiran dan logika manusia hingga kini. Socrates gila ketika menganggap dunia material seperti yang tampak terlihat oleh mata  kita bukanlah dunia nyata, tetapi hanya foto atau salinan dunia nyata. Galileo Galilei menghabiskan  sisa usianya sebagai tahanan rumah ketika ‘dikutuk’ membawa logika sesat dan bid’ah dengan ide-ide heliosentris, kegilaan yang justru mendapat pujian dari Newton dan Einstein, penerus generasi gila di abad sains modern.

13419417661180267160
Bung Karno dan Che Guervara, dua pemimpin 'gila' yang menginspirasi revolusi dunia (sumber photo: http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2011/11/che-guevara-saksikan-riwayat-trans-tv.html)
  Aristoteles berkata, “Tidak pernah ada seorang jenius tanpa ‘ramuan’ kegilaan.” Kegilaan adalah sebagian dari logika, hanya saja ketika ia tak terjangkau oleh logika mayoritas, maka ia mesti digusur dari sisi keping koin logika kesepakatan zaman untuk dicap sebagai logika gila. Sebagaimana logika sejarah, ia bisa sebagai kebenaran dan bisa pula sebagai kebohongan. Bahkan Napoleon Bonaparte menganggap bahwa “sejarah adalah serangkaian kebohongan yang disepakati.”

   Logika kekuasaan, meski ia minoritas akan menjadi benar ketika ia sejajar dengan sisi koin logika penguasa. Rakyat mayoritas berada di seberang sisi, logika gila. Di saat yang sama, rakyat punya logika berbeda. Penguasa sesat dengan logika gila, karena mereka gila logika dengan paradigmanya sendiri. Logika hukum tekstual yang bertentangan dengan keadilan berubah menjadi berhala yang selalu dijadikan senjata untuk membenarkan kebijakan negara.

     Penguasa berlogika gila karena tergila-gila logikanya sendiri, lalu menabrak logika negara. Padahal bapak negarawan Amerika Thomas Jefferson menafsir demokrasi sebagai vox populi, vox dei, suara rakyat, suara Tuhan. Demokrasi adalah ‘ruh absolut negara,’ agama publik,  bonum commune-bonum publicum. Jika suara rakyat sebagai pijakan logika akal sehat dipinggirkan, maka penguasa sama saja dengan berlogika gila iblis yang melawan ‘logika’ Tuhan.

    Sayangnya, dinamika dunia dimeriahkan oleh orang-orang gila, begitupun dengan negara. Logika negara sama saja dengan logika keluarga dan logika manusia. Maka  gagal negara, gagal keluarga, dan gagal manusia berada dalam satu garis logika. Kegagalan diakibatkan oleh  berseberangannya dua sisi keping koin, antara elit danalit. Elit di satu sisi, alit di sisi lain. Penguasa-yang dikuasai, pemimpin minoritas-rakyat mayoritas. Sukses negara baru tercipta jika logika negara pada posisi benar, ketika semua elemen berada pada satu sisi keping koin, satu arah, satu pandangan.

     Jika sisi keping koin dimekarkan ke dunia, logika manusia di dunia pun terbelah dua. Sisi keping koin logika suatu negara sisi koin logika negara-negara lain. Obama di sisi logika-waras ala Amerika versus  Osama di sisi logika gila ala teroris-Islam. “Serang teroris sebelum mereka menyerang Amerika!” atas nama keamanan dan HAM, itulah logika Obama. “Hancurkan antek zionis Amerika sebelum mereka menghancurkan Islam dengan cara gerilya!” atas nama perjuangan menegakkan kebenaran, itulah logika Osama.

     Untuk satu sisi keping logika,  negara selalu berutang jasa kepada pemimpin-pemimpin gila. Adolf Hitler, Napoleon Bonaparte, Bennedict Mussolini dengan kegilaan ultranasionalisme mengantarkan Jerman, Perancis dan Italia membawa negara itu selalu digdaya. Pun demikian pula kegilaan ‘saudara tua’ Jepang, dengan kegilaan spirit bushido dan samurai, kaisar Meiji dan para pemuda gila pembaharuan sukses merestorasi politik dan sosial-budaya dalam Restorasi Meiji. Kegilaan sebuah bangsa yang akhirnya membawa negeri Sakura maju pesat dalam ekonomi dan teknologi.

     Bahkan dunia berutang jasa pada para pemimpin gila. Ernesto ‘Che’ Guevara, Fidel Castro, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan Bung Karno adalah para pemimpin gila yang tercatat dalam sejarah dunia. Dengan kegilaan mereka mengobarkan api revolusi melawan “imperialisme-kolonialisme-kapitalisme” barat serta spirit cinta kasih dan kerakyatan sebagai ruh perjuangan. Spirit kegilaan itu menjadi inspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk berani bertarung nasib dalam lemparan koin logika, perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan.

13419427021447028025
Gajah Mada, kegilaan ksatria pada persatuan nusantara dengan Sumpah Palapa. (sumber photo; http://majapahit1478.blogspot.com/)
    Sejarah nusantara penuh warna para pemimpin gila, dengan kegilaan pemberontakan pada keadaan untuk perubahan. Ken Arok dengan kegilaannya meretas kekuasaan tahta, lalu dari keturunannya lahir raja-raja besar. Kegilaan Raden Wijaya membabat hutan belantara untuk cita-cita mendirikan sebuah negara, lalu mencapai puncak kejayaannya ketika kegilaan Gajah Mada membuatnya bersumpah Palapa untuk menaklukkan dan mempersatukan nusantara.

   Generasi gila pemimpi kemerdekaan berganti memainkan peran. Bung Karno, pemimpin besar revolusi, beserta angkatan gila pada masanya tergila-gila pada kemerdekaan dan kejayaan bangsa. Mereka menabrak logika Belanda dan mendobrak logika mayoritas rakyat yang berabad-abad lemah tertindas dalam kebodohan. Bagaimana mungkin keris dan bambu runcing mampu mengalahkan senapan, meriam dan persenjataan yang jauh unggul dalam teknologi? Bagaimana bisa menyatukan ekstra keragaman nusantara dengan satu falsafah Pancasila?

    Pada akhirnya, setiap kegilaan pemikiran pada satu zaman akan berubah menjadi kewarasan di zaman lain, setelah manusia terbiasa menyeberang berbolak-balik antara dua sisi keping koin logika. Ada saatnya manusia, bangsa, negara dan dunia berada pada kewarasan logika, ada saat pula berada pada ketidakwarasan logika.Zaman edan selalu ada di setiap kaum, bangsa, di seluruh benua di setiap era peradaban. Apakah Indonesia hari ini sebagai umat-negara-bangsa sedang berada di era gila, zaman edan?

      Logika gila dan logika waras hanyalah posisi pada dua sisi koin logika, antara gelap-terang, iblis-Tuhan, sesat-benar, Quraisy-Muhammad, Fir’aun-Musa, DPR- KPK,elit-alit, penguasa-rakyat. Manusia bebas untuk memilih sisi yang mana. Ada suatu masa di mana negara benar-benar membutuhkan pemimpin gila. Seperti kegilaan Bung Karno ketika berkata, “Amerika kita seterika, Inggris kita linggis!” Akankah hadir lagi di negeri ini seorang pemimpin revolusioner-visioner gila, tergila-gila pada harga diri, kejayaan bangsa dan rakyat sejahtera meski kadang harus menabrak dan mendobrak logika? ***

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment