Sunday, July 15, 2012

Kagawa Dan Garuda Menggebrak Liga Inggris!


1342328338252256700
Shinji Kagawa (kiri) bersama pelatih MU, Sir Alex Ferguson (tengah). Pemain Jepang ke-5 yang bermain di Liga Primer Inggris. sumber photo: http://www.arenabola.com)
     Sepakbola Jepang kembali menyuguhkan berita spektakuler. Salah satu pemain muda bertalenta, Shinji Kagawa resmi menjadi pemain di klub elit Liga Primer Inggris, Manchester United, setelah sebelumnya bermain di klub besar Jerman, Borussia Dortmunt. Konon kabarnya, bintang muda berusia 23 tahun ini dikontrak MU dengan gaji 6 juta Euro per tahunnya. (sekitar Rp. 6 miliar/bulan dengan kurs 1 Euro= Rp. 12.000).

    Kagawa menjadi pemain kelima Jepang untuk bermain di Liga Inggris setelah Junichi Inamoto (Arsenal dan Fulham), Kazuyuki Toda (Tottenham), Hidetoshi Nakata (Bolton), dan Ryo Miyaichi (Arsenal dan Bolton). Kepindahan Kagawa memang jadi pembicaraan hangat di kalangan para pemain Jepang. Ada yang iri dengan hal itu, ada juga yang termotivasi.

   “Shinji adalah pemain yang sempurna untuk sebuah tim kelas dunia. Sebagai sesama pemain Jepang, saya bangga padanya,” ujar Keisuke Honda. Gelandang CSKA Moskow itu menyebut Kagawa sebagai saingannya untuk mendapat peluang bermain di klub elit Eropa. “Tapi pada saat yang sama sebagai saingan, saya bertujuan untuk bermain di klub besar juga, dan saya pikir saya sama hebatnya dengan dia,” kata Honda.

   Rekan senegaranya yang sama-sama bermain di Liga Primer, Arsenal, menjadikan kehadiran Kagawa sebagai motivasi baginya. “Dia benar-benar bisa bermain dengan baik di sana, dan sebagai nomor Jepang 10, saya pikir dia akan menjadi bagian utama dari tim,” kata Miyaichi, yang mungkin bermain melawan Kagawa di musim berikutnya sebagai anggota skuad Arsenal. “Tapi sebelumnya aku harus bisa menampilkan penampilan terbaikku, aku tak sabar untuk bermain melawan dia,” katanya.

    Seakan tak mau kalah dengan gebrakan para ‘ksatria samurai’ lapangan hijau di Liga Primer Inggris, Garuda Indonesia melakukan hal yang sama. Tapi bukan ‘tim garuda merah putih,’ melainkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Bedanya, jika Kagawa menggebrak sebagai pemain di klub ‘Si Iblis Merah’ MU, maka Garuda Indonesia datang sebagai salah satu sponsor klub elit ‘Si Merah’ Liverpool untuk 3 musim kompetisi sejak musim 2012/2013.

     “Meskipun bukan sponsor utama, promosi Garuda dengan menjadi sponsor Liverpool akan menguntungkan,” ucap Emirsyah Satar, Presiden and CEO Garuda Indonesia, di sela-sela acara pameran kedirgantaraan Farnborough International Air Show di London, Rabu (11/7/2012) waktu setempat. Menurut laporan wartawan Kompas, Agus Mulyadi, dari London, Emirsyah menyebutkan, pilihan dijatuhkan kepada Liverpool karena tim berjuluk “The Reds” itu bagus untuk promosi. Liverpool memiliki banyak penggemar di negara-negara di Asia, termasuk di Indonesia. (Kompas.com-15/07).

     Managing Director Liverpool Ian Ayre mengatakan: “Ini adalah kerjasama yang fantastis bagi kedua belah pihak. Liverpool memiliki fans yang mendunia dan akan bekerjasama dengan Garuda Indonesia di berbagai pasar. Kami berharap mampu membantu pertumbuhan Garuda yang sangat cepat.” (http://olahraga.plasa.msn.coml)

      Kehadiran Kagawa dan Garuda di Liga Primer Inggris adalah sebuah ilustrasi bagaimana kedua negara, Jepang dan Indonesia menyikapi sepakbola sebagai sebuah industri dan prestasi di dunia dengan cara yang sangat jauh berbeda. Jika Jepang telah terbukti sukses sebagai negara industri berteknologi tinggi dan menjadikan sepakbola berprestasi untuk  memperkuat ekonomi, sedang Indonesia lustru lebih menjadikan industri sepakbola untuk memperkuat bisnis dan ekonomi.

      Maka tidak heran jika Indonesia selalu ketinggalan dari Jepang, dalam segala hal, industri, ekonomi maupun sepakbola. Sayang kita enggan belajar dari kesuksesan Jepang, padahal dari segi potensi dan talenta pemain, Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa seharusnya tak kalah dari Jepang. Berbeda dengan Jepang yang telah menerapkan filosofi bahwa segala hal tergantung dari proses untuk mencapai tujuan, maka kita lebih cenderung mengabaikan proses untuk bersegera mencapai tujuan, gemar menempuh jalan pintas dengan cara-cara instan.

      Dalam sebuah wawancara, pelatih timnas U-22 Jepang, Yushasi Yoshida. Ia membeberkan beberapa cara agar sepakbola Indonesia bisa semaju Jepang. Kunci kesuksesan Jepang dimulai dari tim nasional kelompok umur. Federasi Sepak bola Jepang (JFA) memiliki sistem pembinaan untuk beberapa kelompok umur, seperti U-10, U-13, U-14, dan U-16. Para anak akan dididik dan dipersiapkan untuk mencapai level lebih tinggi di timnas senior. Para pemain muda ini dilatih untuk memiliki teknik bermain yang baik dan berlatih setiap hari.

    Selain itu JFA juga membuat sistem kompetisi yang selalu mengadakan pertandinagn setiap minggu, untuk semua kelompok kategori umur. Hal ini dilakukan agar mereka memiliki jam terbang yang banyak, seperti yang juga dilakukan di Eropa. Untuk sistem timnas, ada dua kategori. Tim sepakbola pelajar dan tim yang berasal dari klub. JFA membuat banyak pertandingan yang memungkinkan kedua timnas ini saling bertemu. Ada juga talent scout yang dimiliki oleh setiap klub dan akademi kelompok umur. (Kompas.com-19/07).

     Memang, menghasilkan sesuatu yang besar tidak bisa dilakukan dengan instan. Semua butuh proses panjang, bertahap dan konsisten. Pengiriman pemain ke Belanda, Italia, Uruguay ataupun Brazil mungkin membuat pemain belajar lebih baik, karena langsung belajar ke negeri-negeri yang budaya sepakbolanya kuat. Tetapi hasil yang didapat dari program instan ini terbukti tak banyak meningkatkan prestsai sepakbola Indonesia. Pretasi ‘tim garuda’ tak beranjak alias jalan di tempat. Jangankan untuk bisa berbicara di level dunia atau Asia, bahkan untuk kawasan Asia tenggara saja, seperti Piala AFF dan Sea Games, telah belasan tahun kita masih gagal menjadi juara.

      Kehadiran Kagawa dan Garuda Indonesia di Liga Primer Inggris mestinya menjadi sebuah pelajaran berharga, sebagai refleksi bersama bagaimana kita mesti banyak belajar dari Jepang. Bukan hanya sebagai ‘PR’ besar PSSI untuk kemajuan sepakbola tanah air, tapi dalam segala hal, kemajuan bangsa Jepang layak dijadikan ‘PR’ besar bangsa Indonesia. Karena bagaimanapun juga meski sama-sama bangsa Asia, kita selalu kalah dengan Jepang dalam hal menggebrak dan ‘berbicara’ di arena percaturan dunia. ***

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment