Monday, July 2, 2012

Kabilah Di Tengah Rimba


Sekelompok kabilah masih terus melangkah, di tengah-tengah rimba. Tanpa kendaraan atau kuda tunggangan, tanpa perbekalan kecuali sedikit saja. Rimba memaksa mereka beradaptasi untuk mempertahankan diri, kelangsungan hidup kebersamaan harus dijaga. Perjalanan masih panjang. Tapi amanat sudah terlanjur dipikul, terpaksa dipikul, sebab mereka tak punya pilihan. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan. 

Ganasnya belantara tak henti mengancam. Hutan kini tak ramah lagi. Kerusakan di darat, laut dan udara. Pohon-pohon meranggas, sungai keruh oleh limbah industri, langit gelap tertutup asap teknologi, tanah-ranah retak-retak pecah, kering terpanggang alam yang marah. Hujan asam silih berganti, air dan udara tercemar radiasi, peradaban sedang melakukan seleksi. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan.

Kabilah masih terus melangkah. Beberapa di kanan dan beberapa di kiri siaga menghunus pedang. Serigala-serigala dengan mata tajam mengintai dari balik semak belukar. Ular-ular berbisa, binatang-binatang melata, jalang lapar berlalu-lalang mencari mangsa, menunggu waktu kabilah lengah, lalu mereka akan berebut menyerang tiba-iba. Tapi kabilah terus berjaga dan harus tetap terjaga, siaga menghadapi ancaman dan marabahaya. Lalai sekejap saja, hancurlah pertahanan mereka, kegagalan akan menjadi petaka. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan.

Beberapa yang di depan terus menebaskan pedang. Semak belukar, bebatuan, aral dan rintangan harus disingkirkan. Duri-duri tajam, ranting-ranting beracun, darah mengalir di lengan-lengan. Keringat dan luka-luka, pedih perih tiada tara. Tapi jalan harus dibuat, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta, tak ada perjuangan yang sia-sia.

Keyakinan dan kesadaran pasti akan menyelamatkan. Tuhan telah mengiringi langkah mereka, mengawal dengan cara yang sempurna. Selama nama-Nya masih disemayamkan di dalam dada, sari pati kekuatan suci menggerakkan tangan-tangan dan kaki-kaki. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan.

Rimba harus diselamatkan. Kerusakan harus dipulihkan. Di tempat tujuan semua akan terjawab seluruh misteri, apa yang sebenarnya terjadi dengan tanah ini. Sebab dulu hutan ini adalah hamparan taman, hijau daun pepohonan penuh kesejukan. Air bening mengalir, udara cerah, kicau burung di kala pagi, senyum riang bocah-bocah bermain di pematang sawah, gemah ripah loh jinawi, keberkahan melimpah ruah.

Surga di antara surga dunia. Sampai tiba-tiba saja semua serba berubah. Manusia telah berganti rupa menjadi binatang-binatang purba. Gegap gempita pertarungan, pergulatan, permusuhan dan peperangan menggelora di antara mereka berabad-abad lamanya. 

Kerusakan tak terelakkan, alam yang semula ramah menjadi marah. Alampun menggugat, menuntut keadilan atas perbuatan manusia. Yang ada kini hanya hamparan hutan rimba raya, semak belukar belantara. Dan hanya tersisa beberapa spesies asli manusia, sekelompok kabilah yang bersembunyi menyelamatkan diri di dalam gua suci. Merekalah yang terjaga dari bencana besar, hanya mereka, tiada lagi selain mereka.

Dan kini mereka mendapat amanat untuk mengembalikan fitrah alam, dalam sebuah pesan. Perjalanan harus dilanjutkan. Pesan harus disampaikan. Misi harus ditunaikan. Entah apa isi pesan itu, biarlah menjadi rahasia. Hanya mereka yang mengerti. Karena hanya mereka yang terpilih dan menyanggupi. Hanya mereka, tiada lagi selain mereka…***

Salam…
El Jeffry







No comments:

Post a Comment