Sunday, July 15, 2012

Jokowi, Jokowisme Dan Siklus Sejarah Bangsa


  Fenomena Jokowi dan ‘jokowisme’ dalam pilkada DKI semakin menarik untuk diperbincangkan. ‘Kemenangan’ Jokowi pada putaran pertama 11 Juli mengalahkan Foke lebih dari sekadar ‘kemenangan’ pilkada. Ini adalah kemenangan ‘psikologis’ wong cilik-ndeso-pembaharuan atas  birokrat-kota-kemapanan. Entahndilalah (kebetulan) atau sudah menjadipakem ‘alur cerita’ darisononya, Jokowi dan PDIP tak lepas dari kemiripan sejarah PNI dan Bung Karno, beserta catatan peristiwanya dalam sejarah bangsa. Fenomena Jokowi seakan menjadi pembuka akan adanya perulangan dalam siklus 70 tahun sejarah nusantara.

   Pada 28 Oktoer 1928 Kongres Pemuda II di Batavia diketuai oleh Sugondo Djojopuspito menerima Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Inilah awal revolusi kemerdekaan berlandaskan kebangsaan dengan peran utama pemuda terpelajar, ‘ruh’ pembaharuan yang manabrak logika zaman. Suatu hal yang mustahil melihat kolonialisme Belanda yang telah berabad-abad mencengkeram bumi nusantara. Di tahun ini pula, PNI (Partai Nasional Indonesia) muncul sebagai partai, setelah sebelumnya didirikan pada 4 Juli 1927 oleh Bung Karno dan dr. Tjiptomangunkusumo dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia.

    Seakan usia manusia yang butuh waktu 17 tahun untuk meraih pengakuan kedewasaan, baru pada 17 Agustus 1945 proklamasi membuka gerbang Indonesia merdeka. Impian dan kemustahilan para pemuda 1928 tiba-tiba menjadi realita. “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa…” Indonesia bisa merdeka. Mukjizat telah menabrak logika. Bahkan kalau saja bukan karena ‘penculikan-paksa’ beberapa pemuda dalam peristiwa Rengasdenglok, mungkin Bung Karno sendiri belum tentu meyakini bahwa hari itu adalah momen terbaik untuk proklamasi. Momentum datang, kesempatan tersedia plus ‘nekad,’ sejarah akhirnya mencatat.
13422866217379091
Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, Jilid 1 revolusi Indonesia merdeka.(sumber photo: http://www.exelbyte.com/pemerintahan)
   Berselang 70 tahun sejak Sumpah Pemuda, perulangan sejarah terjadi. Gelombang reformasi menggelora pada 1998, kembali dimotori oleh pemuda-mahasiswa. Runtuhlah rezim orba setelah 32 tahun berkuasa, ditandai dengan turunnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Sejarah reformasi tak lepas dari sejarah PDIP. Setelah mengalami gonjang-ganjing dan berjuang ‘berdarah-darah’ melawan penindasan rezim orde baru, Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan PDIP, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,  pada 14 Februari 1999 setelah sebelumnya bernama PDI.

    Perjalanan reformasi tak seindah yang dibayangkan. Seperti kisah sejarah sebelumnya, ‘mukjizat nasional’ runtuhnya rezim orde baru ternyata hanyalah euforia sesaat. Empat belas tahun berlalu, sayup-sayup gema pembaharuan makin menghilang. Reformasi tinggal wacana. Nyaris tak lagi terdengar, lenyap, senyap, sepi ditelan hari. Gelombang harapan kandas, tinggal buih-buih dan riak kecil di tepian. Senada dan seirama dengan nasib mayoritas penghuni wilayah tepian, kaum marjinal yang terpinggirkan.

   Harta, nyawa dan kekeluargaan bangsa yang sempat terguncang gagal ditebus dengan harga yang layak dan sepadan. Reformasi, tak lebih dari  sambel terasiPedas, panas dan sedap terasa di lidah dalam sesaat, hanya tersisa aroma terasi yang masih sedikit menyengat hidung, itupun hanya ketika uap dari mulut dihembuskan ke udara. Seperti itulah aroma reformasi, tak lebih kata-kata bersejarah, sisa-sisa aroma tajam di hidung rakyat, hanya sesekali dihembuskan di pinggir halaman koran, tapi cita rasa dan manfaat nyata bagi rakyat kecil nyaris tak tersisa.

13422869911561245864
Proklamasi 17-8-1945, 17 tahun setelah sumpah pemuda 1928. (sumber photo http://listofhenri.blogspot.com)
    Ternyata alur sejarah tak bisa diduga. Realita tak selamanya terjadi sesuai dengan rencana, perhitungan logika dan analisis berdasarkan data-data statistik semata. Kini bangsa ini sedang terkurung lingkaran setan ‘kebingungan’ nasional. Bahkan bangsa ini telah kehilangan logika. Agama telah kehilangan logika. Negara telah kehilangan logika. Dalam logika-gila-dan-gila-logika, manusia tak lagi bisa membedakan mana yang logis dan mana yang tidak logis. Waras dan gila sudah tak ada lagi batasnya. Tak ada orang gila yang mengakui kegilaannya.

     Kita memasuki era “zaman edan.” Di zaman edan, semua manusia ‘merasa’ waras, meski faktanya tak waras. Ketika manusia telah ‘gila’ logika, semua peristiwa hanya diukur dengan logika dangkal, bahkan tanpa pernah menyadari bahwa logika yang dipakai sebenarnya logika gila, tidak logis, tidak masuk akal, alias pikiran edan. Hingga akhirnya ketika kegilaan pada logika masih saja gagal menyelesaikan carut-marut berbagai problema, masih saja hampir seluruh anak bangsa ‘keukeuh’ memakai logika lama dan tidak berusaha memutar arah dan cara berlogika.

    Negeri edan di zaman edan menjadi satu realitas sosiohistoris Republik“burnaskopen”masyarakat homo homini lupus nusantara yang memprihatinkan. Lingkaran setan sistemik ‘negara gagal’, rusaknya lingkungan alam dan lingkungan kehidupan, hancurnya tata keadaban publik, rusak ngeblangsak tata masyarakat, tata bangsa dan tata negara, kepandiran berpikir dan kegagapan bersikap, kekalahan peradaban, kesadaran ‘banal-magis’ elit-alitmatinya hukum dan keadilan, jurang kesenjangan menganga lebar-dalam, pola hidup hedonisme-materialisme dengan wabah endemik watak elit poly-tikus politik berpolitik  transaksional ‘banal abal-abal’ pragmatisme sempit-pendek partaikular-partambal sulam.

    Kini fenomena Jokowi dan Jokowisme bercampur aduk antara cerita rakyat, dongeng, legenda, mitos dan sejarah menyentak publik dan ‘kenyamanan’ politik. Ketika ‘spirit kebangkitan Jokowi’ menohok logika dalam ‘kemenangan’ sementara di  pilkada ibukota, banyak orang masih belum percaya meski sempat terkesima. Itu hanya kebetulan belaka! Maka ketika sebagian besar rakyat kecil banyak berharap fenomena Jokowi dan Jokowisme menjadi “momen-momentum” perubahan-pembaharuan  mendasar dan holistik bagi masyarakat-bangsa-negara Indonesia yang saat ini dalam keadaan ‘sakit parah,’ tetap saja belum cukup menggugah kesadaran dan logika.

     Ternyata tak gampang untuk melakukan revolusi mental bangsa yang sudah terlanjur sekian lama  berkesadaran ‘magis-banal‘ tanpa kesadaran ‘kritis emansipatoris transformatif, apalagi liberatif’. Kata Romo Mudji Sutrisno, kesadaran pembebasan bangsa ini telah lumpuh dan mati-beku. Di realitas dunia maya saja (mungkin termasuk Kompasiana) yang terlihat hanya ekspresi masyarakat nggrundel-mengeluh (fret society) yang fatalis-pesimis-permisif dan ‘au ah gelap.

    J. Kristiadi juga pernah berkata, “Masih jauh panggang dari api.” Dalam 10-15 tahun ke depan dengan sistem demokrasi prosedural abal-abal tanpa ’sukma demokrasi’ belum akan melahirkan elit otentik, negarawan bersukma kerakyatan. Tak akan lahirleader, yang ada cuma ‘dealer, agen atau broker politik berkepentingan partikular sempit-pendek bercorak transaksional-dagang sapi, lagi-lagi mengkhianati amanat penderitaan rakyat.
13422872911798692629
Reformasi 1998, perulangan sejarah revolusi-pembaharuan 70 tahun setelah Sumpah Pemuda 1928. (sumber photo: http://www.shnews.co)
    “Tanpa visi dan pemimpin otentik berintegritas-berkomitmen kebangsaan sejati, publik-rakyat akan menjadi liar.” Reformasi 1998 tak ada anasir-anasir itu semua, Andrinof Chaniago mengibaratkan nasi setengah matang yang gagal tanak dan tak didukung elemen golongan publik yang matang SDM demokrasi-nya. Bahkan Amin Rais saja sebagai salah satu pelopor reformasi, 5 tahun lalu telah mengatakan “Reformasi telah mati sebelum sempat tumbuh.”

    Namun memang alur sejarah tak selamanya bisa diduga. Realita tak selamanya terjadi sesuai dengan rencana, perhitungan logika dan analisis berdasarkan data-data statistik semata. Semua akan tergantung pada rakyat dan Tuhan, “Vox Populi Vox Dei, Suara Rakyat Suara Tuhan”. Tangan rakyat tangan Tuhan. Bila Tuhan telah ‘menghadiahkan’ momentum, rakyat cerdas menangkap kabar langitan, seharusnya 2015 waktu yang tepat untuk menggugah kesadaran rakyat untuk perubahan. Karena jika momentum itu terlewatkan, mungkin kita harus menunggu siklus berikutnya 70 tahun lagi di tahun 2085.

     Spirit revolusi kebangsaan pemuda pada 1928 melihat Indonesia merdeka sebagai hal yang logis pada 17 tahun setelahnya, di tahun 1945. Maka spirit reformasi mahasiswa juga mungkin akan melihat Indonesia ‘benar-benar’ merdeka sesuai tujuan reformasi sebagai hal yang logis pada 17 tahun setelahnya, di tahun 2015. Ini seperti pengulangan sejarah, “Indonesia merdeka jilid 2.” Dalam ramalan satrio piningitRonggowarsito, satrio pertama adalah Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, pemimpin yang akrab penjara dan tokoh pemimpin tersohor di seluruh dunia. Bung Karno, sang proklamator telah membuka gerbang pertama.

    Dan satrio ke-7, satrio pinandhito sinisihan wahyu, presiden RI ke-7 bakal tampil pada 2014, setahun menjelang 70 tahun usia NKRI merdeka, 2015. Jayabaya menyebutnya sebagai “ratu adil” yang akan membawa nusantara mencapai kejayaan, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. Ia yang akan menumbangkan penguasa feodal-ningrat-birokrat arogan, para elit raksasa buta betara kala. Siklus 70 tahun dalam sejarah memang misterius, tapi momentum 70 tahunan akan selalu ada, percaya atau tidak, tak jelas bedanya, seperti ketidakjelasan batas waras pada koin logika.

      Apa arti sebuah ramalan? Bukankah itu hanya mitos, dongeng sebelum tidur untuk mengusir rasa bersalah atas kegagalan? Ramalan hanya diperuntukkan bagi wong edan! Tapi di zaman edan, siapa yang berhak mengklaim diri masih waras? Waras-edan hanyalah keberpihakan pada salah satu di antara dua sisi keping koin logika. Sepekan sebelum pilkada digelar, mungkin ketika ada yang berkata, “Jokowi akan memenangi putaran pertama!” kita akan menganggapnya gila. Bahkan ketika dikatakan gubernur DKI adalah Jokowi? Ngimpi!. Apalagi jika ada yang berkata, Jokowi bakal menjadi presiden Indonesia pada 2014 atau 2019, mungkin akan keluar pernyataan yang sama. Gila, edan, sinting, ngimpi!

    Baru ketika Jokowi-Ahok berhasil menohok ‘kepintaran’ para analis politik dan berbagai lembaga survei yang lebih menjagokan Foke-Nara pada pilkada 11 Juli, tiba-tiba semua menjadi logis, masuk akal. Ternyata para ‘peramal edan’ kembali memperoleh predikat kewarasan. Fenomena Jokowi di pilkada DKI dan gelombangJokowisme adalah suluk dan indikasi bahwa saat itu hampir tiba, kebangkitan wong cilik, kaum sandal jepit-rakyat kecil lemah tertindas dan tergilas zaman, zaman edan di negara edan yang kebingungan.

1342287879161148551
Spirit Jokowi dan jokowisme semoga menjadi pembuka RI1-7 pada 2014, 17 tahun pasca reformasi dan 70 tahun Indonesia merdeka pada 2015 (sumber photo: http://yangcocok.blogspot.com)
    Takdir sejarah tak selamanya secara matematis dan logis bisa dihitung. Gelombang perubahan, bila riaknya telah terlihat tak akan bisa dibendung. Siklus sejarah selalu berulang sepanjang zaman. Dan hanya ‘wong-wong edan’yang bisa meyakini akan adanya perulangan. Apakah itu ‘wangsit,’ ilham, wahyu, atau de javu, ada hal-hal misterius yang tak bisa terjangkau dengan logika, apalagi jika logika itu juga sudah menabrak dan melabrak otentitas logika negara dan spiritualitas republik-demokrasi Pancasila.

    Lalu bagaimana ketika ada sebuah ramalan: “Akan (telah) ada seseorang di suatu kota di tanah Jawa yang ‘merintis’ kasta dari orang biasa (sudra), ‘naik kelas’ ke kasta pengusaha (waisya) sebelum kemudian ‘naik kelas’ lagi memakai ‘baju’ ksatriyamemimpin sebuah pemerintahan kota dengan melepaskan ikatan ke-waisya-sudra-annya. Dengan ikhlas ia persembahkan ‘kerajaan kecil’ bisnisnya untuk kepentingan masyarakat tanpa secuilpun menerima ‘upah materi’ dari pengabdian ke-ksatriya-annya di pemerintahan.

    Jika ia tetap berjalan di atas jalur pakem firah caturwarna dalam ‘perjalanan spiritual’-nya, maka tidak mustahil ia akan terus meretas ‘kenaikan kelas’ kasta demi kasta, hingga kasta meraih tertinggi sebagai lakon utama sejarah “satrio pinandhito sinisihan wahyu,” ksatriya berwatak brahmana yang mengemban amanat ‘perintah langitan’ untuk tampil sebagai salah satu daftar pemimpin terbaik bangsa-negara.“ (bait terakhir Sudra Berkuasa, Kiamat Negara!)

    Biarlah sejarah menjadi sejarah, biarlah ramalan menjadi ramalan, dan biarlah yangedan tetap edan. Jokowi jadi gubernur DKI atau tidak, jadi presiden RI atau tidak, jadi pedagang atau budak, Jokowi tetaplah Jokowi, inspirasi jokowisme, simbol pembaharuan dan perlawanan terhadap kejenuhan zaman. Yang penting adalah kita tak di’haram’kan berharap akan munculnya ‘Jokowi-Jokowi’ baru yang selalu dirindukan rakyat dan jokowisme yang akan menjadi ideologi dan spirit menjelang jilid 2 perulangan sejarah bangsa, mewujudkan cita-cita reformasi 1998, semoga di tahun 2015 Indonesia benar-benar telah merdeka. ***

Salam…
El Jeffry

1 comment:

  1. http://angkasabolaaa.blogspot.com/2017/06/merinding-ini-pesan-terakhir-jupe-yang.html


    http://angkasabolaaa.blogspot.co.id/2017/06/heboh-anggota-fpi-dicegat-disuruh-buka.html



    http://mynewgooger.blogspot.co.id/2017/06/blog-post_10.html



    AGEN JUDI ONLINE TERBESAR DAN TERPECAYA SEASIA

    WWW.ANGKASABOLA.COM

    HANYA DENGAN 1 USHER ID SAJA SUDAH BISA BERMAIN DAN MENIKMATI KEMENANGAN BESAR DI SEMUA GAMES KAMI SEPERTI ;

    1. SPORTBOOK
    2. TOGEL
    3. TANGKAS
    4. KENO
    5. SLOT
    6. POKER
    7. 855CROWN
    8. GD88
    '
    DAN KAMI JUGA MEMPUNYAI BONUS YANG MENARIK BOSKU

    1. BONUS CASHBACK 5%'

    BONUS CASHBACK INI DIDAPATKAN APABILA BOSKU MENGALAMI KELAHAN DALAM GAME SPORTBOOK DIATAS 500 RB DALAM 1 MINGGU

    2. BONUS REFFERAL 2,5%

    BONUS REFFERAL DIDAPATKAN APABILA BOSKU MENGAJAK TEMAN BOSKU BERMAIN DISINI DAN MENDAFTARKAN TEMAN BOSKU MENAJDI REFFERAL BOSKU SERTA TEMAN BOSKU YANG DIDAFTARKAN MENJADI REFFERAL MENGALAMI KEKALAHAN DALAM GAME SPORTBOOK MAKA BOSKU AKAN MENDAPATKAN BONUS REFFERAL 2,5%

    3. BONUS ROLLINGAN CASINO 0,8 %

    BONUS ROLLINGAN CASINO DIDAPATKAN KAN LANGSUNG JIKA BOSKU MELAKUKAN BETTING DAN PERTUKARAN MEJA YAH BOSKU



    ANGKASABOLA JUGA MEMILIKI BEBERAPA KEUNGGULAN LOH SEPERTI :


    1. LANGSUNG DILAYANI OLEH CS KAMI YANG CANTIK ,PROFFESIONAL DAN RAMAH

    2. PROSES DEPO&WD CEPAT TIDAK SAMPAI 1 MENIT

    3. FAST RESPON LIVECHAT 24 JAM

    4. SELALU MENDOAKAN MEMBERNYA AGAR WD BESAR

    5. KEPUASAN MEMBER ADALAH PRIORITAS UTAMA KAMI


    JANGAN DITUNGGU LAGI , LANGSUNG SAJA JOIN BERSAMA KAMI DI WWW.ANGKASABOLA.COM

    INFO KAMI LANGSUNG :


    BBM : 7B3812F6
    TWITTER : CSANGKASABOLA
    INSTAGRAM : CS1ANGKASABOLAA
    FACEBOOK : ANGKASA BOLA
    LINE: ANGKASABOLA

    ReplyDelete