Sunday, July 29, 2012

Hari, Bakrie, Kurcaca Dan Kurcaci


13435738761975170278
PENYESALAN: Hari Suwandi di acara talk shaw TV One pada 25 Juli. (sumber photo: http://bola.viva.co.id)
        Ada apa dengan Hari Suwandi?
Kemarin ia berteriak lantang dan berani. Tanah Porong, Sidoarjo telah berubah menjadi lautan lumpur, ‘kaum kurcaci’ desa menjadi korban bencana dan keserakahan ‘kaum kurcaca’ pengusaha raksasa kota. Atas nama perjuangan menuntut keadilan Hari menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Hari berjalan kaki 827 km selama 25 hari dari ‘desa kurcaci’ Porong ke Jakarta dari kamis, 14 Juni hingga Minggu, 8 Juli.

      Apa yang terjadi dengan Hari Suwandi?Kemarin ia melangkah tegap penuh idealisme layaknya ksatria. Berunjuk rasa 15 hari di Jakarta, di depan Wisma Bakrie dan depan Istana Negara. Ia tetap teguh setiap kali ada yang menuding aksinya hanyalah rekayasa, sebab Hari bukan warga Sidoarjo, untuk apa memperjuangkan warga yang bukan tanggung jawabnya?Hari pantang mundur sebelum mendapat jawaban pasti. Ia baru akan berhenti dan pulang jika sudah mendapat infomasi pasti bahwa semua urusan ‘kurcaci desa’ sudah teratasi.

      Suatu hari pada 25 Juli, tiba-tiba berbalik 180 derajat alur cerita, saat Hari berwawancara  di sebuah televisi. Hari yang semula ‘mencaci maki’ Aburizal Bakrie selayaknya Merpati yang selalu ingkar janji, kini dengan diiringi tangis penyesalan justru memuji setengah mati sebagai ‘dewa’ yang mampu menyelesaikan masalah, khususnya korban Lumpur Lapindo, eh korban Lumpur Sidoarjo.

      Apa yang telah dilakukan Aburizal Bakrie?
Hari yang semula hendak menuntut ketegasan kepada presiden agar mendesak pihak Bakrie untuk membayar tunai ganti rugi ‘para kurcaci desa,’ kini berbalik menganggap pemerintah yang mesti bertanggung jawab atas semuanya. 
Hari yang ada di hari ini bukan seperti Hari yang ada di hari-hari lalu.

     Harto Wiyono yang juga mendampinginya dalam perjalanan dari Porong ke Jakarta pun terheran tak mengerti. Hari hanya pamit ingin membelikan susu untuk cucunya, tapi ternyata malah wawancara di televisi. Hari di hari ini bukan Hari di hari-hari kemarin, Hari yang mengakui bahwa dia hanya diperalat dan aksinya selama ini adalah akibat provokasi pihak-pihak tertentu.

13435740021252265415
KURCACI DAN KURCACA. Ada apa dengan Hari dan Bakrie? (sumber photo: http://www.facebook.com/KOMPAScom)
    Ada apa dengan Hari Suwandi dan Aburizal Bakrie?
Hari makin membingungkan, hari-hari makin membingungkan. Harto yang menjadi saksi aksi Hari terheran-heran, padahal setahu Harto, justru Hari lah yang punya murni gagasan, tanpa tekanan dan paksaan. Tapi kini Hari telah puas.Aset istrinya dan ganti ruginya sudah terbayar lunas. 

     Bakrie memang memiliki komitmen yang tinggi untuk menyelesaikan masalah dengan korban lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Memang Hari adalah manusia biasa yang tak luput dari salah, tapi hari ini kita tak bicara soal benar atau salah. Kita tak tahu siapa yang salah, Hari, Bakrie, Harto, televisi, atau mungkin kita yang salah mendengar informasi. Semua bisa saja salah, sebagaiaman semua bisa saja benar. Lahipula, salah dan benar sudah tak jelas lagi sekatnya di negeri ini.

     Hari Suwandi sudah tak jelas lagi, apakah ia murni memperjuangkan keadilan untuk warga ‘kurcaci desa’ teraniaya, ataukah memang alat permainan pihak-pihak yang hendak mempolitisasi bencana dan derita untuk menjatuhkan langkah politisi Aburizal Bakrie menjelang pilpres 2014. Lalu kembali menjadi permainan pengusaha ‘kurcaca kota’ berlimpah harta atau politisi yang tengah bertarung dengan penguasa. Atau hanya sekadar korban komoditi warta berita dalam lingkaran bisnis informasi di televisi.

       Ada apa dengan Aburizal Bakrie?
Kini dia juga sudah tak jelas lagi, apakah murni memperjuangkan partai politik dan kekuasaan untuk pengabdian pada kesejahteraan rakyat kebanyakan, atau hanya seorang ‘kurcaca kota’ pengusaha yang berusaha mempertahankan kerajaan bisnis dari kerugian. Atau hanya korban politisasi elit politik lawan lewat tragedi semburan lumpur dalam bencana. Atau justru menjadi dalang dari semua bencana dan aktor politisasi ‘kurcaci desa’ lewat teknologi informasi di televisi, demi memenuhi hasrat keserakahan pada kekayaan dan ambisi mendaki tahta sebagai presiden RI.

1343574209359774152
TUNTUT HAK: Hari Suwandi tiba di Kota Semarang, Kamis siang (21/6). (sumber photo: suaramerdeka.com)
      Ada apa dengan televisi?
Ia juga sudah tak jelas lagi, apakah hanya efek logis dari gempuran kapitalisme dalam peradaban, ataukah sebagai sarana politik dan politisasi demi kepentingan segelintir orang untuk meraih kekuasaan. Atau hanya terlupa fungsinya sebagai alat perjuangan menegakkan kebenaran, keadilan dan kemaslahatan. 

   Yang jelas, independensi televisi mulai dipertanyakan. Semakin banyak kita menelan informasi, semakin bingung kita dengan kesimpang-siuran. Warta berita yang menabrak-nabrak tembok logika dan nurani etika, semakin remang titik dan garis problematika.

    Hari Suwandi, Aburizal Bakrie dan politisasi informasi televisi, merupakan potret buram kekinian wajah kita sebagai bangsa. Kematian dan pembunuhan ruh idealisme perjuangan para ‘kurcaci desa,’ ambisi dan keserakahan para ‘kurcaca kota’ pada harta dan kekuasaan, pengkhianatan mereka yang mempolitisasi bencana demi kepentingan pribadi dan kelompok semata dan terkikisnya independensi televisi dan media informasi sebagai alat pemersatu dan pencerdasan bangsa.

     Lumpur Lapindo atau lumpur Sidoarjo hanyalah sebuah pesan singkat peringatan alam, bahwa ada yang keliru dalam kita memperlakukan tatanan kehidupan. Lumpur pekat, hitam dan dalam telah mulai menenggelamkan kesadaran nilai-nilai nurani etika sebagai sebuah keluarga besar bangsa. Jika kita tak bersegera retrospeksi, refleksi, introspeksi, rekontruksi dan rehabilitasi menyeluruh, maka gugatan alam tak akan tertolakkan, lalu Indonesia akan benar-benar tenggelam dan hilang dari peradaban.

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment