Saturday, July 7, 2012

Gubernur DKI Jokowi? Ngimpi...!!!


13416600081485574051
Jokowi berpose bersama becak, tokoh pilihan Tempo 2008 yang tengah merajut mimpi di DKI (sumber photo: http://www.jakartapress.com/detail/read/8163/pdip-dki-ngotot-pertahankan-jokowi-cagub)
     Masa kampanye Pilgub DKI memasuki hari terakhir. Enam ksatria terhebat Indonesia masa kini selama 14 hari bertarung opini berebut simpati rakyat DKI, ‘mengadu nasib’ untuk bisa sah menjadi ‘raja ibukota.’ Setelah rehat 3 hari dalam masa tenang, barulah akan digelar pertarungan final, tepat 11 Juli nanti. Diantara nama-nama Jokowi, Faisal Basri, Fauzi Bowo, Alex Nurdin, Hidayat Nurwahid dan Hendardji, semuanya layak untuk jadi ‘sang jawara ibukota,’ DKI1.

     Saya bukan warga DKI, bukan simpatisan parpol pengusung calon, bukan analis politik, bukan dukun, peramal atau paranormal. Tapi berdasarkan ‘wangsit’ dan rumus hitung rahasia wong ndeso, plus sedikit ‘bisikan’ suara hati khas rakyat kecil, saya berani bertaruh khusus untuk satu nama, Jokowi. So, menjagokan Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI? Ngimpi...!!!

     Lho, kok? Ya jelas kok. Lha wong orang yang satu ini secara de jure gak ada ‘potongan’ jadi pemimpin besar, kok berani-beraninya gumrandhah ‘bertamu’ mencalonkan diri memimpin daerah paling besar problemnya dari seluruh provinsi di Indonesia. Namanya saja DKI, Daerah Khusus Ibukota, yang bisa menangani ya tentu saja harus orang khusus wa bil khusus, bukan orang sembarangan.

  Sang insinyur memang, konon kabarnya sukses dengan segudang prestasi semenjak menjabat sebagai walikota Solo untuk dua kali masa bakti, 2005-2015. Tapi ibukota negara, kota metropolitan, jelas beda dengan kota Solo, hanya sebuah kota kecil dengan wilayah kecil lagi terpencil di daerah Jawa Tengah. Memang sih, secara de facto Jokowi ini banyak membuktikan diri sebagai pemimpin progresif.

    Tapi ya sementara maklum saja, namanya juga kabar berita, benar tidaknya hanya sejarah yang bisa  membuktikannya. Tak ada salahnya sedikit menengok rekam jejak sejarah perjalanan hidup seorang Jokowi yang akhir-akhir ini melegenda. Masih konon kabarnya, sejarah hidup sang kandidat penuh warna perjuangan. Berjuang mendaki ‘kasta’ dari sudra wong cilik yang miskin penuh kepedihan, pernah digusur dari bantaran kali tanpa pesangon di tahun 70-an, lalu perlahan terjun ke dunia usaha, ‘ngawulo’ pada usaha mebel pamannya sebelum naik kasta waisya sebagai pengusaha mebel sukses, sampai akhirnya naik kasta ksatria sebagai walikota Solo.

     Perjalanan sejarah yang luar biasa. Bila itu benar, memang suatu pencapaian spiritual fenomenal yang jarang dilakoni para pemimpin di republik ini. Tapi, layakkah kesuksesan mengelola kota kecil dijadikan modal untuk mengulang kesuksesan di kota besar seperti Jakarta, dengan 1001 problem yang begitu rumit dan besar tiada tara?

     Ini Jakarta lho, mas, bukan Solo. Kalau diperbandingkan dengan empat kandidat lain, mungkin masih bolehlah Jokowi bergigi. Kalaulah ada yang lumayan kuat dalam pengalaman, hanyalah Alex Nurdin, Gubernur Sumatera Selatan sejak 2008 dan sebelumnya telah ‘kenyang’ pula sebagai Bupati Musi Banyuasin dalam 2 peroide, 2001-2006 dan 2007-2012 (mengundurkan diri tahun 2008 dalam pencalonan pilgub 2008). Sedang  Faisal Basri, Hidayat Nurwahid dan Hendardji, ketiganya masih ‘miskin pengalaman’ dalam memimpin pemerintahan.


13416602311055915330
Sang Incumbent dan tuan rumah, Fauzi Bowo. Bersiap mengubur mimpi Jokowi? (sumber photo: http://skalanews.com/baca/news/2/34/109571/megapolitan/survei-puskaptis-unggulkan-foke-dibanding-jokowi.html)


    Tak salah kiranya jika Foke menantang lawan dengan mengkampanyekan pentingnya pengalaman. “Jakarta butuh pemimpin experience, bukan experiment.“ Nah mau adu titel dan pengalaman dengan Foke? Ini baru berat. Dr. Ing. H. Fauzi Bowo, tuan rumah yang tahu seluk beluk Jakarta samapi ke lubang-lubangnya, usia 64 tahun, 13 tahun lebih tua dan berpengalaman memimpin Jakarta selama 5 tahun plus menjadi wagub selama 5 tahun pula. Bisakah Jokowi menandingi lawan yang satu ini? Ngimpi!

     Jika ada orang yang lama berkuasa dan lebih berpengalaman, untuk apa beresiko dengan figur baru? Pembaharuan dan terobosan yang Jokowi sukses terapkan di kota Solo nggak bakalan cocok untuk kota sebesar Jakarta. Ibukota nggak butuh pembaharuan! Lagian warga ibukota mestinya sudah puas dengan keberhasilan yang telah dicapai gubernur lama. Kan sudah menjadi tradisi negeri ini, zona nyaman lebih mengasyikkan daripada harus bereksperimen dengan hal-hal baru yang tentu saja selalu beresiko. Ibukota kok buat coba-coba. Kalau salah dan gagal, gimane cing?

    Kita kan memang sudah terlalu lama terbentuk menjadi generasi mapan stagnan, pun demikian pula dengan warga DKI, stok lama yang sudah ketahuan langkah dan hasilnya pasti lebih disukai daripada pendatang baru yang penuh visi dan misi pembaharu. Meski pada kenyataannya yang sering terjadi justru para pendatang baru (perantau) ini lebi sukses daripada warga tuan rumah sendiri. Buktinya, kaum betawi pribumi sudah makin hilang ditelan bumi. Apa lagi yang hendak ditawarkan Jokowi sebagai ‘perantau’ untuk ‘zona nyaman’ warga DKI?

     Jokowi  memang terbukti sukses branding kota Solo dengan slogan "Solo: The Spirit of Java". Tapi bisakah ilmunya diterapkan di DKI, branding Jakarta dengan slogan “Jakarta: The Spirit of Indonesia”? Lagi-lagi ngimpi! Jakarta tak butuh branding dan slogan. Jakarta lebih butuh realita. Sudah 12 gubernur dalam sejarah DKI semenjak proklamasi 45, Suwirjo, Sjamsuridjal, Sudiro, Soemarno, Henk Ngantung, Ali Sadikin, Tjokropranolo, R Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Surjadi Soedirja, Sutiyoso, dan Fauzi Bowo, tapi tak ada satupun yang mampu menjadikan Jakarta sebagai kota impian.

    Jakarta lebih cocok sebagai kota problema! Lalu bagaimana caranya Jokowi akan berjuang mengatasi 7 permasalah ibukota sebagaimana program kampanyenya? Kemacetan, banjir, masalah premanisme, masalah menjamurnya mal dan minimarket, trotoar dan pedestrian, ormas anarkis yang meresahkan warga DKI dan masih banyaknya angka anak putus sekolah? Dari ‘doeloe’ sampai kini, Jakarta kan sudah identik dan akrab dengan masalah-masalah itu. Nyatanya tak satupun Gubernur yang mampu memberesi dengan tuntas-tas! Warga Jakarta sudah kehilangan mimpi indah karena terlalu lama terkurung dalam mimpi buruk. Lalu Jokowi jadi Gubernur DKI menawarkan mimpi untuk membenahi? Sekali lagi, ngimpi!

      Kalau Jokowi terbukti bisa membenahi 7 permasalahan serupa dan sama di kota Solo, itu baru reality! Kan sekarang untuk membuat orang percaya harus melalui barang bukti, dan bukti itu harus sama, bukan sekedar analogi dan visi-misi! Prestasi Jokowi memang tercatat dalam sejarah pernah mendapatkan 5 kali penghargaan personal. Salah satu dari “10 tokoh 2008” oleh majalah Tempo, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award, Bung Hatta Anticorruption Award (2010), Charta Politica Award (2011) dan Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011).

     Malah, beliau juga saat ini (5/7) masuk dalam daftar “10 tokoh terpopuler ke-4 ala google bersama Dahlan Iskan, SBY, Prabowo, Boediono, Megawati, Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum, JK dan Hatta Rajasa. Dari daftar ini memang hanya Jokowi satu-satunya cagub yang paling ngetop di dunia maya. Tapi untuk menjadi gubernur DKI, pentingkah sejarah perjuangan dan popularitas? Tak cuma warga DKI, wong rasanya seluruh warga NKRI saja sudah tak menganggap penting sejarah perjuangan bangsa. Kalau popularitas itu baru semua orang berlomba-lomba dengan segala cara.

      Sejarah hanyalah cerita lama, tak lebih dari kurikulum tambahan pelajaran sekolah dan mata kuliah, dongeng indah untuk mengantar tidur seorang bocah. Selebihnya hanya tumpukan arsip dan catatan tebal di museum perpustakaan nasional. Sejarah sudah tak penting lagi. Kalaupun sedikit penting, paling-paling juga hanya sebatas wacana dan nostalgia yang mampir sesaat di kepala lalu cepat terlupa. Kita kan memang bangsa pelupa, kalau tidak, tentu bangsa ini tidak terpuruk sedemikian hebatnya mengulang kesalahan sejarah yang sama bertahun-tahun lamanya. Ya toh?  

   Sebagaimana halnya dengan sejarah Jokowi yang konon kabarnya penuh dengan perjuangan darma bakti bagi rakyat kecil layaknya seorang prawira-ksatria. Wajar saja jika kita sudah tak mudah untuk percaya. Di zaman edan ini mosok sih ada pak walikota yang tak pernah mengambil gaji jabatan selama 2 periode? Padahal sudah menjadi budaya bahwa jabatan dan kekuasaan adalah ‘lahan basah’ untuk mengumpulkan harta. Mosok di jaman ini ada pejabat yang menolak fasilitas bagus yang memang secara sah disediakan oleh pemerintah? Bukankah yang ada justru budaya memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi?

    Jangan-jangan itu hanya kabar angin yang dibikin-bikin untuk sekadar cari sensasi. Kalaupun memang benar, itu berarti Jokowi ini sudah nggak berbudaya, alias ‘menyimpang’ dari budaya kita, budaya korup dan kemaruk! Bagaimana nanti kalau Jokowi terpiih jadi gubernur DKI? Jangan-jangan ada perombakan budaya besar-besaran di kalangan pejabat pemerintahan? Oalah, mana ada yang mendukung kalau begitu. Maka dengan keanehan perilaku budaya ini, menjadikan Jokowi sebagai gubernur DKI adalah ngimpi!


13416604151404168105
Kepemimpinan merakyat 'nguwongke wong' ini mampukah memperbaiki DKI? Atu hanya mimpi? (sumber photo: http://arsipberita.com/show/jokowi-jelaskan-kartu-sehat-ibuibu-antusias-393531.html)

     Lalu apa lagi yang layak diandalkan seorang Jokowi untuk membuat warga DKI jatuh hati? Kesederhanaan seperti kalau beliau sedang berkeliling daerah dengan sepeda onthel? Kepemimpinan andhap asor seperti saat berembug dengan warga miskin agar berkenan dibantu pindah dari bantaran Bengawan Solo? Bersikap dermawan dengan memberikan kredit ringan pembangunan rumah bagi warga tak mampu? Keprihatinan berlebihan kepada hak kesehatan warga miskin untuk mendapatkan pengobatan? Memindahkan pedagang kaki lima tanpa pakai satpol PP?

     Apa semua cara itu bakalan disukai warga Jakarta yang sudah terbiasa hidup di bawah pemimpin arogan-jumawa, mengedepankan pendekatan kekuasaan ketimbang pendekatan kemanusiaan? Beda dengan Solo, warga Jakarta sudah terbiasa bertarung dengan kekerasan dan benturan, bukan tempat yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai welas asih dan nguwongke wong. Pola kepemimpinan seperti itu sepertinya hanya cocok diterapkan di daerah Jawa Tengah. Ibukota lebih cocok budaya hantam kromo, bukan toto kromo! Maka bila Jokowi bermaksud mentransformasi nilai-nilai kejawen dengan kelemah-lembutan, sekali lagi, masih ngimpi!

    Cukup sudah ngimpi Jokowi! Seorang Jokowi hanyalah figur ilusi yang nyeleneh dari zaman edan di negeri ini. ’Anomali’ dari nilai-nilai moral, budaya dan tradisi bangsa yang sudah keblinger, tererosi dan terdegradasi sedemikian hebatnya. Membawa Jokowi sebagai pemenang dalam pilgub DKI adalah mission impossible, sebab warga Jakarta sudah tak lagi punya mimpi. Namun, bagaimanapun, sedikit agak berbeda dengan warga Jakarta, sebagai anak bangsa yang merindukan tampilnya sosok ksatria teladan bagi pembaharuan, saya justru tetap akan bermimpi. Toh saya bukan warga Jakarta. Baik buruknya ibukota Indonesia tergantung dari pilihan warga Jakarta, bukan tergantung saya.

    Apakah seorang Jokowi hanya tetap menjadi impian, harapan dan do’a rakyat jelata, ataukah benar-benar menjadi nyata bagi impian panjang kota metropolitan, akan ditentukan pada 4 hari ke depan. Yang pasti saya akan selalu dan selalu bermimpi, meski 240 juta manusia Indonesia telah enggan lagi bermimpi. Dan untuk pak Ir. Joko Widodo, tetaplah panjenengan ngimpi! Saya percaya pada sebuah filosofi, bahwa nilai kesuksesan sejati seorang ksatria-prawira adalah ketika ia berani bermimpi, lalu berjuang ‘berdarah-darah’ mewujudkannya menjadi nyata, termasuk untuk ibukota DKI Jakarta! ***


Salam...

El Jeffry

5 comments:

  1. mantap ulasannya mas..sepertinya mimpi ini sebentar lagi akan terwujud, Jokowi untuk Gubernur Jakarta :)

    ReplyDelete
  2. Setidaknya Masih ada Impian itu D'tengah Sengatan Panasnya Aroma Kekuasaan D' Ibukota..., Stidaknya Semua Impian itu dapat D'wujudkan dgn kebulatan Tekad Massa yg Progresif..., Stidaknya Harapan itu masih ada D'tengah Gelap Gulitanya K'rakusan Kekuasaan Para Elite Politik. - Salam Revolusi -

    ReplyDelete
  3. Saya nggak tahu kemana arah penulis ini apakah menghujat Jokowi atau membela Foke, kok akhirnya foke juga di katakan tidak berhasil dari deretan gubernur DKI dari jaman dulu, bukankah semakin jelas pesimis yang justru muncul dan rasa khawatir yang tinggi dari penulis, yang terjadi dalam cerita kehidupan bukan sekedar kehenak manusia bang, ingat Tuhan juga mempunyai kehendak yang mutlak bagi kita....kemudian jika sekarang Tuhan menghendaki Jokowilah yang mendapat amanat DKI apa masih berlaku hujatan yang mestinya tidak perlu kita munculkan..salam damai...Amiin

    ReplyDelete