Sunday, July 22, 2012

Gus Dur Tergusur, Re(pot)Publik Tersungkur


     Gus Dur dan republik sudah menjadi kesatuan sejarah yang saling terkait. Tepat di hari ini 11 tahun silam, 23 Juli 2001 NKRI benar-benar berada dalam ‘kerepotan nasional.’ Presiden RI ke-4, Gus Dur mengalami masa-masa sulit. Konflik politik kaum elit semakin membelit. Presiden mengeluarkan dekrit.

    Dekrit dan perpolitikan elit menjadi perulangan sejarah republik. Inilah dekrit kedua yang pernah keluar dari istana, setelah 56 tahun sebelumnya Presiden pertama NKRI, Bung Karno menempuh cara yang sama untuk keluar dari ‘kerepotan’ politik yang tak kunjung selesai.

    Berbeda dengan dekrit pertama yang mengukuhkan sang presiden sebagai pemenang ‘pertarungan elit,’ dekrit kedua seakan menjadi senjata makan tuan. Dekrit meluncur, Gus Dur tergusur. Politik memang membingungkan. Atau memang republik ini sedang kebingungan? “Gitu aja kokrepot…,” ikon kerepotan Gus Dur yang populer sepertinya membuktikan kebenaran.

    Di republik repot, siapa yang menjadi sumber kerepotan sudah tak jelas lagi. Bagi seorang Gus Dur, dengan pola pikir ‘langitan’ yang tak terjangkau orang awam, beliau mungkin dianggap sebagai sumber kerepotan elit politik Senayan. Dengan kebijakannya yang tak populer, ‘mbalelo,’ ceplas-ceplos dan sedikit cuek-bebekkerap membawa kontroversi.

    Bagi elit politik, Gus Dur dinilai gagal menjadi presiden. Pada masa pemerintahannya, gerakan separatisme menggelombang di Aceh, Maluku dan Papua. Kasus pemeriksaan dugaan korupsi mantan presiden Soeharto tak menghasilkan apa-apa, kerusuhan SARA di Poso, dan bentrok etnis Dayak dan Madura di Kalimantan menambah runyam suasana.

    Terorisme menggila. Ledakan bom di Kedubes Philipina, Kedubes Malaysia, Gedung BEJ,dan serangkaian bom di malam Natal dalam rentang 4 bulan antara Agustus hingga akhir Desember 200. Terutama tuduhan skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate, serta dihentikannya bantuan moneter dari IMF.

      Republik ini benar-benar kerepotan. Jalinan repot publik yang saling terkait menjadi goro-goro, drama kerepotan publik di negeri republik mesti diakhiri. Dekrit dan impeachmentmenjadi niscaya. Solusi bertata negara hanyalah dua sisi keping koin logika. Bila satu sisi benar, maka sisi lainnya menjadi salah. Kebenaran dan kemenangan tergantung dari sisi mana elit-publik memihaknya. Gus Dur bersama publik pendukungnya di satu sisi dan elit politik bersama pendukungnya di lain sisi.

     Di sisi koin logika Gus Dur, dekrit adalah solusi. Kubu elit yang berkumpul menyerangnya, mereka hanyalah sekelompok anak TK. DPR, wakil rakyat yang terhormat dan mulia, tak lebih dari sekumpulan bocah-bocah bengal yang nakal dan binal, bermain-main politik primordial banal abal-abalPolitik wal-wal kedhuwal, ora kadhal ora gedibal, asal kenyal bakal diuntal. (kadal atau kotoran tanah di kaki asal enak akan ditelan).

13428091861829913312
Gus Dur bersama Amien Rais, ketika masih
      Gus Dur bicara dengan bahasa rakyat yang nyeplostanpa sensor kosa kata. Wakil rakyat terlihat sepertibuto cakil-jahil-gokil di mata rakyat. Baru seumur jagung, reformasi mulai hilang kendali. Sayangnya, kita terlanjur menjadi pandir dan pelupa. Bakteri-bakteri demokrasi menyelinap di balik para pejuang reformasi. Keberhasilan reformasi dijadikan selebrasi, semut-semut politisi berebut remah-remah roti.perebutan kue kekuasaan. Kemarin jadi kawan, hari ini jadi lawan, tergantung kepentingan.

    Lalu ketika Gus Dur berkata, “Gitu aja kok repot. Sampeyan-sampeyan itu yang jadi sumber kerepotan. Dasar anak TK!” Mereka akan serta merta bicara dengan bahasa kekuasaan. Republik menjadi repot publik. Res-publica, kekuasan rakyat publik telah dikhianati elit politik, maka jadilah repot-publica. Lagi-lagi rakyat publik direpotkan penguasa. Daripada repot, bubarkan saja mereka! Dekrit presiden adalah logika bernegara.

     Bubarkan MPR-DPR, kembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan percepatan pemilu dalam 1 tahun, dan bekukan Partai Golkar  sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun putaran roda sejarah memang tak terduga. Gus Dur merepotkan, maka harus digusur! Di hari yang sama, 23 Juli, MPR memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati. Apa hendak dikata. Sudah mesti demikian alur ceritanya.

     Kini telah 11 tahun berlalu. Pasca Gus Dur tergusur, republik ini kian hari kian tersungkur. Spirit reformasi kian dalam terkubur. Ruh demokrasi kian luntur. Nasi telah menjadi bubur. Bagi rakyat, reformasi hanyalah sambel terasi. Panas, sedap dan pedas di lidah beberapa saat, lalu tinggal aroma menyengat di rongga mulut, lalu berakhir dengan perut melilit.

     Inilah Republik Burnaskopen. “Bubur panas kokopen!” (Makanlah bubur panas-panas!). Blunder nasional akibat akumulasi ketidaksabaran, kepandiran bernegara dalam tata tanam, tata olah dan tata hidang, kecerobohan dan keterlanjuran yang menjadi reaksi berantai. Blunder pertama berlanjut blunder kedua dan seterusnya. Kapan kita akan cerdas dan dewasa sebaga sebuah negara-bangsa?

    Gus Dur tergusur, republik tersungkur, reformasi terkubur. Gus Dur dan kerepotannya menjadi catatan sejarah, bahwa seorang ksatria mujahid revolusioner-visioner yang membaktikan sepanjang hidupnya untuk perjuangan pembaharuan. Gus Dur adalah simbol perlawanan terhadap orde baru ketika pada masanya mereka yang sekarang mengaku reformis hanya terpaku dan termangu tanpa keberanian apa-apa.

1342809792178295910
Jenazah Gus Dur di tengah rakyat. Pejuang kaum minoritas telah pergi pada 30 Desember 2009 (sumber photo: http://addriadis.blogspot.com/2012/04)
    Gus Dur adalah ‘reinkarnasi’ dari K.H. Wahid Hasyim, ayahnya, pejuang gerakan nasionalis di masa kemerdekaan dan K.H. Hasyim Asyari, kakeknya, ulama besar pendiri NU. Ada trah kasta ksatria-brahmana mengalir dalam darahnya. Gus Dur adalah simbolspirit, visi, dan komitmen perjuangan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia dan dunia.

      Butuh bagi bangsa ini untuk menyadari arti seorang Gusdur, sebab beliau seolah ‘makhluk asing’ dari masa depan yang dengan mesin waktu datang kepada kita hari ini. Manusia memang selalu terlambat menangkap tanda-tanda zaman. Seperti keterlambatan dunia ketika Galileo Galilei berkata, “Bumi itu bulat” pada tahun 1616, karena bukti kebenarannya baru ditemukan 200 tahun setelah kematiannya.

    Seperti keterlambatan kita memahami wasiat Bung Karno ketika berpesan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” dan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah (bangsa asing), tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri!”, karena mungkin di hari inipun sebagian besar dari kita belum menyadari kebenarannya.

     Seperti pula kita keterlambatan kita lagi menangkap pesan Gus Dur ketika berkata, “Gitu aja kok repot…” sebagai potret asli wajah kita, lebih dari sekadar kata-kata. Nyatanya sampai hari ini pergelaran di negara republik masih dipenuhi kerepotan publik. Pentas percaturan elit politik yang bernuansa feodalis-klasik penuh intrik dan konflik, berbaur dengan KKN-isme sistemik ‘unik’ nan menggelitik.

     Repot, repot, repot. Semuanya tampak sibuk bekerja ekstra, namun realitanya menguap ke udara. Kerepotan elit penuh retorika, hingga res-publica menjadi repot-publica. Rakyat repot, elit-pemimpin-penguasa repot, saling merepotkan anatr seama anak bangsa. Haruskah kita sebagai keluarga besar bangsa Indonesia baru akan memahaminya, setelah datang secara tiba-tiba bencana gagal negara?

Salam…
El Jeffry



sumber photo atas: http://kangnarada.wordpress.com/2012/01/20

No comments:

Post a Comment