Sunday, July 15, 2012

Dunia Butuh Pemimpin ‘Gila’!



    Plato adalah filusuf gila pada zamannya. Tapi kegilaannya menjadi ‘ruh’ filsafat yang senantiasa mewarnai pemikiran dan logika manusia hingga kini. Socrates gila ketika menganggap dunia material seperti yang tampak terlihat oleh mata  kita bukanlah dunia nyata, tetapi hanya foto atau salinan dunia nyata. Galileo Galilei menghabiskan  sisa usianya sebagai tahanan rumah ketika ‘dikutuk’ membawa logika sesat dan bid’ah dengan ide-ide heliosentris, kegilaan yang justru mendapat pujian dari Newton dan Einstein, penerus generasi gila di abad sains modern.

    Aristoteles berkata, “Tidak pernah ada seorang jenius tanpa ‘ramuan’ kegilaan.” Kegilaan adalah sebagian dari logika, hanya saja ketika ia tak terjangkau oleh logika mayoritas, maka ia mesti digusur dari sisi keping koin logika kesepakatan zaman untuk dicap sebagai logika gila. Sebagaimana logika sejarah, ia bisa sebagai kebenaran dan bisa pula sebagai kebohongan. Bahkan Napoleon Bonaparte menganggap bahwa “sejarah adalah serangkaian kebohongan yang disepakati.”

     Logika kekuasaan, meski ia minoritas akan menjadi benar ketika ia sejajar dengan sisi koin logika penguasa. Rakyat mayoritas berada di seberang sisi, logika gila. Di saat yang sama, rakyat punya logika berbeda. Penguasa sesat dengan logika gila, karena mereka gila logika dengan paradigmanya sendiri. Logika hukum tekstual yang bertentangan dengan keadilan berubah menjadi berhala yang selalu dijadikan senjata untuk membenarkan kebijakan negara.

     Penguasa berlogika gila karena tergila-gila logikanya sendiri, lalu menabrak logika negara. Thomas Jefferson menafsir demokrasi sebagai vox populi, vox dei, suara rakyat, suara Tuhan. Demokrasi adalah ‘ruh absolut negara,’ agama publik,  bonum commune-bonum publicum. Jika suara rakyat sebagai pijakan logika akal sehat dipinggirkan, maka penguasa sama saja dengan berlogika gila iblis yang melawan ‘logika’ Tuhan.

     Sayangnya, dinamika dunia dimeriahkan oleh orang-orang gila, begitupun dengan negara. Logika negara sama saja dengan logika keluarga dan logika manusia. Maka gagal negara, gagal keluarga, dan gagal manusia berada dalam satu garis logika. Kegagalan diakibatkan oleh berseberangannya dua sisi keping koin, antara elit dan alit. Elit di satu sisi, alit di sisi lain. Penguasa-yang dikuasai, pemimpin minoritas-rakyat mayoritas. Sukses negara baru tercipta jika logika negara pada posisi benar, ketika semua elemen berada pada satu sisi keping koin, satu arah, satu pandangan.

     Jika sisi keping koin dimekarkan ke dunia, logika manusia di dunia pun terbelah dua. Sisi keping koin logika suatu negara sisi   koin logika  negara-negara lain. Obama di sisi logika-waras ala Amerika versus  Osama di sisi logika gila ala teroris-Islam. “Serang teroris sebelum mereka menyerang Amerika!” atas nama keamanan dan HAM, itulah logika Obama. “Hancurkan antek zionis Amerika sebelum mereka menghancurkan Islam dengan cara gerilya!” atas nama perjuangan menegakkan kebenaran, itulah logika Osama.

1342333132426893021
Napoleon Bonaparte. Pemimpin
    Untuk satu sisi keping  koin logika, negara selalu berutang jasa kepada pemimpin-pemimpin gila. Adolf Hitler, Napoleon Bonaparte, Bennedict Mussolini dengan kegilaan ultranasionalisme mengantarkan Jerman, Perancis dan Italia membawa negara itu selalu digdaya. Pun demikian pula kegilaan ‘saudara tua’ Jepang, dengan kegilaan spirit bushidodan samurai, kaisar Meiji dan para pemuda gila pembaharuan sukses merestorasi politik dan sosial-budaya dalam Restorasi Meiji. Kegilaan sebuah bangsa yang akhirnya membawa negeri Sakura maju pesat dalam ekonomi dan teknologi.

     Bahkan dunia berutang jasa pada para pemimpin gila. Ernesto ‘Che’ Guevara, Fidel Castro, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan Bung Karno adalah para pemimpin gila yang tercatat dalam sejarah dunia. Dengan kegilaan mereka mengobarkan api revolusi melawan “imperialisme-kolonialisme-kapitalisme” barat serta spirit cinta kasih dan kerakyatan sebagai ruh perjuangan. Spirit kegilaan itu menjadi inspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk berani bertarung nasib dalam lemparan koin logika, perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan.

      Sejarah nusantara penuh warna para pemimpin gila, dengan kegilaan pemberontakan pada keadaan untuk perubahan. Ken Arok dengan kegilaannya meretas kekuasaan tahta, lalu dari keturunannya lahir raja-raja besar. Kegilaan Raden Wijaya membabat hutan belantara untuk cita-cita mendirikan sebuah negara, lalu mencapai puncak kejayaannya ketika kegilaan Gajah Mada membuatnya bersumpah Palapa untuk menaklukkan dan mempersatukan nusantara.

      ‘Generasi gila’ pemimpi kemerdekaan berganti memainkan peran. Bung Karno, pemimpin besar revolusi, beserta ‘angkatan gila’ pada masanya tergila-gila pada kemerdekaan dan kejayaan bangsa. Mereka menabrak logika Belanda dan mendobrak logika mayoritas rakyat yang berabad-abad lemah tertindas dalam kebodohan. Bagaimana mungkin keris dan bambu runcing mampu mengalahkan senapan, meriam dan persenjataan yang jauh unggul dalam teknologi? Bagaimana bisa menyatukan ekstra keragaman nusantara dengan satu falsafah Pancasila?

   Pada akhirnya, setiap kegilaan pemikiran pada satu zaman akan berubah menjadi kewarasan di zaman lain, setelah manusia terbiasa menyeberang berbolak-balik antara dua sisi keping koin logika. Logika gila dan logika waras hanyalah posisi pada dua sisi koin logika, antara gelap-terang, iblis-Tuhan, sesat-benar, Quraisy-Muhammad, Fir’aun-Musa, DPR- KPKelit-alit, penguasa-rakyat. Manusia bebas untuk memilih sisi yang mana. Ada suatu masa di mana negara benar-benar membutuhkan pemimpin gila. Seperti kegilaan Bung Karno ketika berkata, “Amerika kita seterika, Inggris kita linggis!” Akankah hadir lagi di negeri ini seorang pemimpin revolusioner-visioner ‘gila’, tergila-gila pada harga diri, kejayaan bangsa dan rakyat sejahtera meski kadang harus menabrak dan mendobrak logika? ***

Salam…
El Jeffry

No comments:

Post a Comment